Drama Tentang Kasih Sepanjang Masa

Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Tim dan Relawan 3 in 1 Tzu Chi Jakarta
 
 

foto Begitu anak dilahirkan dengan seketika seorang ibu melupakan derita dan rasa sakitnya. Kasih ibu sungguh luas dan tak terbatas.

Saat saya berusia belasan tahun seorang bhiksu muda yang pandai ceramah menyarankan saya untuk membaca sebuah wejangan Buddha yang berisikan semua kebaikan dan budi orang tua dalam mengasuh anak-anaknya. Wejangan yang indah itu dikenal dengan sebutan Sutra Bakti Seorang Anak yang menurutnya wajib diketahui oleh anak-anak muda seusia saya – seorang remaja yang beranjak dewasa dengan segala tingkah polah dan pikiran yang terus melambung mencari kebebasan dan jati diri.

Tapi waktu itu saya begitu muda untuk memahami arti bakti dan begitu bodoh untuk tidak mau membaca sutra itu. Kini setelah bertahun-tahun yang lalu, saya mendapat kesempatan kedua untuk memahami Sutra Bakti Seorang Anak yang telah diadaptasi dalam bentuk drama. Sulit membayangkan bagaimana sebuah sutra yang panjang dapat dipentaskan dalam sebuah drama berdurasi 50 menit. Tapi menurut teman saya, drama ini dimainkan dengan sepenuh hati oleh para relawan Tzu Chi tanpa mengurangi makna yang terkandung dalam isi sutra itu. ”
                                                                                               
Sabtu 29 Januari 2011 drama musikal itu dipentaskan di JITEC Mangga Dua Square, Jakarta. Saat saya tiba di lokasi, suasana begitu riuh dipadati pengunjung dan relawan Tzu Chi yang bertugas sebagai pelaksana. Di ruang serba guna yang luas, ribuan bangku telah tersusun rapi saling bersejajar yang terpusat pada panggung besar dengan dekorasi sederhana. Satu persatu pengunjung memasuki ruangan itu, menempati tempat duduk, dan menunggu momen yang paling dinanti, yakni pementasan drama musikal Sutra Bakti Seorang Anak. Saat lampu mulai dipadamkan, saat itulah drama musikal dimulai pada babak pertama yang mengisahkan kasih orang tua sepanjang hayat yang tak terbelenggu meski musim silih berganti.

Ketika hari semakin senja dan kisah semakin bergulir, seorang wanita muda yang duduk di barisan belakang terlihat tersedu sedan dengan air mata yang terus berlinang. Nampaknya ia begitu menikmati setiap adegan sampai-sampai air mata yang terus mengalir membuatnya terisak-isak dan menahan sebagian nafasnya. Saat saya dekati, wanita yang bernama Mariani Chen itu berkisah, kalau tayangan itu telah membuatnya teringat pada sang ibu. Tayangan itu juga membuatnya terkenang pada saat ia mengandung putri pertamanya –Lauren Setiawan– 3 tahun lalu. Kehamilan tidak hanya membuatnya begitu gembira, tapi juga mengalahkan rasa lelah dan menggantikannya dengan harapan cemerlang. Namun di balik kegembiraan yang meletup-letup tersimpan kekhawatiran yang terus menghujam kalbu. Mariani terus menghawatirkan keselamatan janin yang dikandungnya.

foto   foto

Keterangan :

  • Hari demi hari benih yang ada dalam rahim seorang ibu terus tumbuh menjadi janin yang terus membesar hingga banyak menyita waktu dan tenaga ibu. (kiri)
  • Kasih orang tua sepanjang masa. Itulah pesan yang disampaikan dalam drama musikal Sutra Bakti Seorang Anak. (kanan)

Menurut Mariani satu-satunya kekhawatiran itu berpusat pada kandungannya yang semakin besar dan waktu kelahiran yang segera datang. Ketakutan dan kegelisahan dalam menanti kelahiran sulit untuk dikisahkan dalam sebuah pengandaian. Ia juga membenarkan ketika drama musikal itu mengisahkan sulitnya seorang ibu saat mengandung selama 9 bulan 10 hari. Menurutnya tiada kegembiraan lain, selain memberikan asupan gizi yang baik bagi kandungannya dan tiada kesenangan lain, selain merasakan gerakan janin dan mengelus-elus perutnya yang semakin membusung.

Mariani mengaku, sepanjang menjalani kehidupan, pengalaman yang tak mudah dilupakan dan paling menegangkan adalah ketika masa kelahiran itu tiba. Bagi Mariani, setiap detik yang ia lalui bagai perjuangan antara hidup dan mati. Tetapi dalam kondisi yang kelelahan ia tidak pernah menyerahkan nasibnya pada keadaan. Seletih dan selemah apapun yang ia alami, bayi yang dikandungnya harus tetap dilahirkan dengan selamat.  Karena itu sambil menitikkan air mata Mariani berkata kepada saya kalau ia benar-benar terpesona dengan kisah yang ditampilkan dalam Drama Sutra Bakti Seorang Anak. Hari itu ia tidak sekadar merasakan sebagai orang tua –lelahnya mengandung, cemasnya merawat kehamilan, tetapi juga merasakan sebagai anak yang telah menerima kasih orang tua yang indah sepanjang masa.

Adegan-adegan dalam drama itu telah menyentuh sanubari Mariani hingga membuatnya terkenang pada masa euforia menyambut kelahiran sang jabang bayi.  Ketika bayinya lahir dengan selamat, seketika itu pula rasa haru meletup-letup.

foto  foto

Keterangan :

  • Sepanjang seorang anak mengingat orang tuanya dan sepanjang itu pula kebahagiaan yang tak ternilai bagi orang tua. (kiri)
  • Sejak pertama menyaksikan drama musikal, Mariani tak kuasa menahan air matanya. Ia terkenang akan ibunya dan perannya sebagai orang tua. (kanan)

Semua ini adalah episode dalam kehidupan yang dialami oleh banyak orang tua, namun tidak sedikit dari anak-anak yang melupakan budi orang tua setelah mereka dewasa. Setelah dewasa kebanyakan anak-anak hanya mampu melihat sesuatu dari hasrat tertinggi yang ingin mereka capai dan menganggap orang tua sebagai penghalang. Bahkan seringkali terjadi di mana seorang anak kemudian menjadi di luar kendali ataupun di luar harapan orang tua. Mereka seolah menjadi orang yang  ”asing” dan seringkali membuat pusing orang tua.

”Mengenang budi orang tua sebenarnya mengenang keberadaan diri sendiri,” kata Mariani. Sambil menyeka air matanya, ia menerangkan kalau ia terharu ketika menyadari, bahwa ia terlahir dan tumbuh dari sebuah kasih sayang. Ia pun dilepas untuk berkeluarga dengan kasih sayang. Makanya ia berpesan sebelum terlambat dan menyesal segeralah mengasihi orang tua karena di setiap desah nafas dan langkah orang tua selalu tersirat kasih yang mendalam pada anak-anaknya.

Hari itu, saya tidak hanya melihat indahnya sutra yang diadaptasi dalam sebuah drama musikal, tetapi juga menjumpai seorang ibu yang berani berterus-terang mengungkapkan apa yang telah ia rasakan setelah menyaksikan drama musikal itu. Rasanya tak berlebihan bila Tzu Chi selaku panitia berharap sekitar 4.300 pengunjung yang hadir dapat mengenang budi orang tua dan dapat berbakti kepada orang tua sebelum terlambat. Cinta kasih orang tua adalah sepanjang masa dan sudah sepatutnya juga dikenang sepanjang masa. ”Saya rasa bila anak saya sudah lebih besar ia harus menyaksikan drama ini agar ia tahu cinta orang tua yang sepanjang masa,” kata Mariani.

  
 

Artikel Terkait

Bekal untuk Merayakan Lebaran

Bekal untuk Merayakan Lebaran

11 September 2009
Pagi hari sebelum berangkat ke tempat pembagian, hujan turun dengan lebat. Tetapi hujan lebat bukanlah halangan bagi para relawan untuk memperhatikan kaum papa. Setelah hujan reda, para relawan bergegas memasukkan barang ke mobil.
Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: BFI Dukung Penanganan Bencana Sumatera Melalui Tzu Chi

Bantuan Bencana Banjir di Sumatera: BFI Dukung Penanganan Bencana Sumatera Melalui Tzu Chi

09 Desember 2025

Buddhist Fellowship Indonesia menyalurkan donasi sebesar Rp1 miliar untuk Sumatera melalui Tzu Chi karena melihat respons cepat dan luasnya jaringan relawan Tzu Chi di Indonesia.

Grateful, Respect, Love

Grateful, Respect, Love

13 Juni 2012 Tanggal 8 Juni 2012 merupakan hari yang bersejarah bagi siswa-siswi K2 (TK B) TK Tzu Chi Indonesia. Di hari itu, mereka untuk pertama kalinya menjalani upacara wisuda kelulusan dari TK. Mereka adalah siswa/i tahun ajaran 2011/2012 dan merupakan lulusan pertama sejak sekolah ini diresmikan pada 10 Juli 2011.
Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -