Nova mengukur lingkar kepala Azmi yang masih malu-malu.
“Seberapa banyak cinta kasih yang anda sumbangkan, sebanyak itu pula cinta kasih yang akan anda dapatkan.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)
Azmi Faiz Almaheer, balita berusia 2 tahun 6 bulan yang lahir dengan sindrom Down (DS) dan kelainan jantung bawaan mengalami stunting. Tubuhnya lebih kecil dan lebih pendek dari anak lain seusianya. Ia juga belum bisa berjalan. Relawan Tzu Chi di Xie Li Bangka Belitung dari Perkebunan Tanjung Rusa Estate berkolaborasi dengan Puskesmas Membalong memberikan bantuan makanan tambahan (PMT) serta dukungan dan perhatian untuk Azmi dan keluarganya.
Berkolaborasi dengan Puskesmas Membalong, Relawan Dharma Wanita (Dhawa) unit Tanjung Rusa Estate memberikan bantuan makanan tambahan berupa telur ayam dan susu formula khusus untuk balita stunting. Kegiatan ini dilaksanakan selama 90 hari dengan tiga kali interval pemberian. Selama tiga bulan, relawan Dhawa mengunjungi rumah penerima bantuan, mengantarkan 60 butir telur dan 1600gr susu setiap bulannya sambil mengukur pertumbuhan mereka mulai dari tinggi badan, berat badan dan lingkar kepala.
Azmi mulai mengenali relawan yang datang membawa susu dan telur.
Setelah mengukur tumbuh kembang anak, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi dari dr. Rahmad kepada orang tua mengenai dampak dari stunting, cara pencegahan stunting serta cara pemberian susu khusus untuk balita stunting. Orang tua juga bisa bertanya langsung mengenai permasalahan yang dialami anak-anak mereka. Tak jarang, kegiatan ini diisi orang tua yang curhat mengenai usahanya yang dirasa belum menunjukkan tumbuh kembang anak seperti yang diharapkan.
“Inilah anak spesial saya pak dokter, kenapa berat badannya segitu-segitu saja ya pak? Tiap posyandu pasti angkanya muter di situ-situ saja,” keluh Muslihah (45).
Selain edukasi dari dr. Rahmad, para Dhawa juga selalu memberikan dukungan moril di setiap kunjungan. Mendengarkan cerita Muslihah mengenai kegiatan harian Azmi di rumah untuk membangun kedekatan emosi antara relawan dan penerima bantuan. Pada kunjungan pertama (19/11/2025) terlihat Azmi masih takut berjumpa dengan relawan. Dia tidak mau jauh dari ibunya dan protes ketika Riezka, salah satu relawan mengajaknya menimbang berat badan dan mengukur tingginya. Azmi yang duduk dipangkuan ibunya hanya diam mendengarkan percakapan antara ibunya, dr. Rahmad dan relawan yang hadir.
Namun hal yang berbeda terjadi pada kunjungan kedua (19/12/2025). Azmi sudah mau digandeng dan digendong relawan. Setelah pengukuran selesai, relawan mengajak Azmi bermain menggunakan measuring tape, alat ukur lingkar kepala. Azmi juga terlihat sumringah ketika relawan membawakan kotak susu berwarna ungu. Tangannya menjulur, hendak menggapai kotak susu dari tangan Yan Iko dan mau digendong Femmy Kusuma Wardhani.
Azmi dibantu ibunya, Muslihah mengukur tinggi badannya bersama relawan.
Pada kunjungan ketiga (19/1/2026) Muslihah cerita dengan penuh semangat. Ia mengabarkan jika Azmi sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan. “Alhamdulillah Bu, tanggal 27 kemarin (27/12/2025) tahu-tahu dia sudah keluar kamar sendiri, Bu. Kami lihat dia jalan dua tiga langkah jatuh terus berdiri lagi. Begitu terus Bu sampai ke dapur” ceritanya penuh semangat.
Tidak ada keluh kesah selama pertemuan hari itu. Binar bahagia terlihat dari wajahnya menceritakan anak spesialnya sudah bisa berjalan di usia 2 tahun 6 bulan. “Mamak tunggu-tunggu loh dek, walaupun telat tapi Alhamdulillah ya Nak sudah bisa jalan,” ceritanya mengulang kalimat yang diucapkannya kepada Azmi saat pertama kali melihat anaknya berjalan.
Belum selesai sampai di situ, kejutan berupa kenaikan berat badan dari 7.65 kg menjadi 9.4 kg dalam kurun waktu dua bulan. “Padahal tiap ke posyandu itu paling naiknya enggak sampai setengah kilo Bu, ini kok hampir sekilo sebulan ya Dek” ucapnya lirih sambil mengelus kepala Azmi.
Dokter Rahmad pun merespon cerita Muslihah dengan doa dan harapan baik untuk Azmi. “Ini susu terakhir yang dokter antarkan, semoga ke depannya kamu sehat selalu, pertumbuhan dan perkembangannya semakin baik, lahap makannya dan bisa mengejar ketinggalan dalam berat dan tinggi badannya ya Azmi,” ucap dr. Rahmad.
Azmi berjalan-jalan dengan relawan di halaman depan rumahnya.
Sebelum pulang, Yan Iko dan Rika mengajak Azmi bermain dan berjalan-jalan di halaman rumahnya. “Ibu nanti sering-sering ajak Azmi jalan di halaman tanpa sandal ya Bu, setiap pagi kalau bisa. Itu membantu stimulasi anak juga,” Pesan Yan Iko kepada ibu Azmi.
Sore itu, Azmi berdiri di sebelah ibunya membuka pintu rumah untuk menyambut relawan yang datang berkunjung untuk keempat kalinya. “Ini Bu, Azmi mau tunjukkan ke ibu kalau langkahnya udah mulai banyak. Sudah sampai ke dapur dia sendirian, kalau mamak-nya lupa kunci pintu bablas masuk kamar mandi mainan air,” ujar Muslihah.
Pada kunjungan keempat (19/2/2026), sungguh menghangatkan hati relawan yang hadir. Muslihah berpesan jika relawan ada yang kebetulan lewat rumahnya atau ada keperluan di kampungnya jangan sungkan untuk mampir, sekedar bersilaturahmi dan menjenguk Azmi.
Melihat kenaikan berat badan dan perkembangan Azmi, Karinda Apriyani (23) petugas puskesmas Membalong yang mendampingi selama 90 hari ini, merasa senang bisa bekerja sama. “Kami sangat berterima kasih dengan adanya perhatian dari Tzu Chi kepada anak-anak di wilayah kerja kami khususnya di Desa Perpat, bukan hanya bantuan susu dan telur saja yang diberikan, tetapi kasih sayang dan perhatian ibu-ibu tzu chi bisa saya rasakan. Bahkan Azmi dari yang sebelumnya belum bisa berjalan sekarang sudah bisa berjalan sendiri” ucapnya dengan senyum tipis dan sorot mata teduh. Ia pun mendoakan semoga orang tua Azmi tetap semangat dalam mengasuh dan memberikan makanan bernutrisi baik serta tinggi kalori secara rutin.
Editor: Khusnul Khotimah