dr. Dewi Mustika memeriksa Mbah Tiwi.
“Ketulusan dalam memberi bukan hanya membawa manfaat bagi penerima, tetapi juga menumbuhkan kebahagiaan bagi mereka yang berbagi.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)
Hujan deras mengiringi bakti sosial kesehatan umum di SDN Giling 03, Desa Giling, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati pada Sabtu (7/2/26). Meski jalanan basah dan udara pegunungan terasa dingin, warga dari berbagai desa mulai berdatangan. Dengan mengenakan jas hujan, para relawan menyiapkan layanan, memastikan setiap warga dapat terlayani dengan tertib dan aman.
Bakti sosial ini menjadi kegiatan besar perdana bagi relawan Tzu Chi di Xie Li Pati. Sepekan sebelumnya relawan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk membagikan kupon kepada warga yang tersebar di empat desa yaitu, Desa Giling, Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, dan juga Desa Payak, serta Desa Ngawen yang berada di Kecamatan Cluwak. Tak kurang 400 kupon dibagikan oleh relawan yang dibagi menjadi beberapa kelompok.
Budiyono memayungi salah satu warga menuju meja pendaftaran.
Suasana meja pendaftaran sebelum pemeriksaan tensi dan ke ruangan dokter.
Meski diiringi hujan lebat, Dwi Hariyanto, Ketua Xie Li Pati bersyukur bakti sosial bisa tetap berjalan lancar. Ia mengakui sempat muncul kekhawatiran mengenai kelancaran acara, tetapi tetap berusaha berpikir positif dan berharap kegiatan berjalan dengan baik.
“Yang saya khawatirkan adalah cuaca, yang mana beberapa pekan terakhir ini di kabupaten Pati ini selalu dilanda hujan deras dan lebat. Kemudian dan pada hari ini, pagi tadi sudah cuaca bagus, tiba-tiba pasien datang cuacanya menjadi berubah, hujan lebat. Nah itulah yang kami khawatirkan. Walaupun cuaca begitu semangat relawan dan semangat bapak-ibu yang datang ke sini luar biasa. Kami sangat bersyukur di sini,” ujar Dwi yang pernah aktif menjadi relawan di Tanjung Balai Karimun.
Tampak drg. FX Ganny, Ketua Harian TIMA Indonesia, menjelaskan alur pemeriksaan bakti sosial kepada Sutrimo, Kepala Desa Giling.
Dwi Hariyanto, Ketua Xie Li Pati bersama relawan memapah seorang warga yang akan memeriksakan kesehatannya.
Sutrimo, Kepala Desa Giling yang meninjau langsung pelaksanaan bakti sosial mengapresiasi layanan kesehatan yang dilakukan relawan. Bagi Sutrimo bakti sosial ini mendekatkan layanan kesehatan ke warganya yang tinggal di lereng pegunungan.
“Ini sangat-sangat bermanfaat karena di sini sangat jauh dari kota atau dari tempat kesehatan. Dengan adanya bakti sosial dari Yayasan Buddha Tzu Chi ini dapat membantu masyarakat kami yang seharusnya datang jauh ke tempat kesehatan kecamatan di wilayah Gunungwungkal. Tapi hari ini didatangi jadi mereka tidak usah datang jauh-jauh, tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Giling,” ucapnya.
Kegiatan yang didukung TIMA Indonesia, Keluarga Sehat Hospital (KSH) Tayu, Puskesmas Gunungwungkal, dan Garda Dhammikasena ini berhasil melayani 375 orang pasien. Salah satunya Tiwi (62) dari Dukuh Jaten, Desa Jrahi. Ia datang bersama rombongan warga lainnya yang difasilitasi perangkat desa setempat. Nenek Tiwi tinggal bersama cucunya, suaminya sudah meninggal dunia empat tahun yang lalu.
Nenek Tiwi datang dengan beragam keluhan, mulai dari gula, asam urat, lambung, hingga penglihatannya yang tak lagi awas. Ia bersyukur mendapat layanan pemeriksaan dari dokter. “Saya senang sekali ada layanan ini, mudah-mudahan saya bisa sembuh, bisa kerja. Sekiranya ada yang dimakan kalau bisa kerja,” ujarnya.
Nenek Tiwi mengeluhkan sakit gula, asam urat, lambung, hingga penglihatannya yang kurang jelas.
Sutowo (baju pink) diperiksa darah oleh Kistianingsih, relawan yang sehari-hari bekerja di Puskesmas Gunungwungkal.
Sutowo (60) warga Desa Giling juga bahagia mendapat pengobatan gratis. Ia yang sehari-hari bekerja sebagai petani mengeluhkan sakit pada lututnya. “Saya sangat senang sekali dan bangga dengan diadakan baksos seperti ini, mudah-mudahan setiap tahun diadakan semacam ini lagi itu lebih bagus. Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada bapak-ibu dokter dan semua relawan Tzu Chi yang ikut berpartisipasi dalam baksos seperti ini,” ucapnya bahagia.
Di tengah cuaca yang menantang, bakti sosial ini kembali menegaskan bahwa kepedulian tak selalu hadir dalam kondisi ideal. Justru dari hujan deras dan medan yang tidak mudah, nilai kemanusiaan menemukan maknanya untuk hadir, melayani, dan menemani. Dan ketika hujan perlahan mereda, satu hal tetap tinggal yaitu rasa syukur dan senyum warga yang telah terlayani. Di Desa Giling, hari itu, kepedulian benar-benar mengalir tanpa henti.
Editor: Khusnul Khotimah