Gefryn Urbanus dan Florensia Uba Ruron, Tim Medis TIMA Indonesia, bertanya dan memeriksa para warga dalam baksos kesehatan bagi masyarakat yang terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Keduanya merupakan putra dan putri kelahiran Flores Timur, NTT.
Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia yang ikut terjun untuk memberikan layanan kesehatan juga menjadi bagian penting dari rangkaian bantuan tahap ke-2 yang diberikan Tzu Chi Indonesia bagi korban gempa NTT. Beberapa anggota Tim Medis TIMA Indonesia yang juga putra dan putri dari Nusa Tenggara Timur ikut terpanggil dan bergerak membantu para warga di wilayah-wilayah terdampak gempa NTT.
Gefryn Urbanus (29), asal Flores Timur, NTT, merasa bersyukur diberikan kesempatan untuk ikut membantu korban gempa di tanah kelahirannya. Gefryn awalnya adalah mahasiswa beasiswa karier Tzu Chi. Setelah lulus, ia kemudian bekerja di Tzu Chi Hospital dan menjadi anggota TIMA Indonesia. Ia pun berusaha untuk berkontribusi dengan ilmu keperawatan yang ia dapatkan untuk kegiatan-kegiatan Tzu Chi.
Bagi Gefryn, penugasan ke NTT adalah kesempatan langka dan momen penuh emosi. “Kita dapat penugasan khususnya sebagai putra-putri Flores yang merantau untuk mengabdi di daerah tempat kita lahir, belajar, tumbuh. Tentunya sebagai penerus dari NTT kita juga mau ambil bagian untuk teman dan saudara kita di Manggarai yang terdampak gempa,” ungkapnya.
Selain bertanya dan memeriksa kondisi kesehatan, Gefryn Urbanus juga membersihkan luka salah satu anak yang tinggal di tenda pengungsian di Dusun Nudang, Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT.
Pada saat melayani warga terdampak gempa, Gefryn tampak cekatan. Baik, lansia, orang dewasa, dan anak-anak dilayani dengan baik. Ia pun merasa bersyukur bisa mendapatkan ilmu keperawatan berkat Tzu Chi. Saat berkuliah, ia juga mendapatkan materi tentang penanganan dalam kondisi bencana dan kegawatdaruratan yang akhirnya dapat diaplikasikannya dalam kegiatan Tanggap Darurat Tzu Chi Indonesia.
“Kita waktu kuliah juga mendapat materi tentang tanggap darurat jika ada bencana. Jadi, tantangan di sebagian besar sudah tahu, seperti jarak ke lokasi yang jauh, karena kita dari desa dulu terbiasa berjalan kaki jauh dan paham kondisi geografis Flores. Mungkin faktor cuaca yang harus kita antisipasi karena siangnya panas dan malamnya dingin,” ungkap Gefryn.
Karyawan Tzu Chi Hospital ini juga tidak menampik bahwa kehadiran Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia dan Tim Medis TIMA Indonesia bisa sampai ke lokasi-lokasi yang sulit untuk membantu dan melayani warga terdampak gempa NTT.
Bagi Gefryn, ada penghargaan tersendiri untuk bisa menjadi bagian dari Tzu Chi, terlebih dalam kegiatan tanggap darurat bencana. “Kesannya pasti sangat senang, bangga bisa bergabung dengan Tzu Chi. Karena kita menjangkau sampai ke pelosok-pelosok yang jauh dan mendaki seperti di wilayah Reo Barat, Tzu Chi sampai di sana. Tentunya bersyukur karena ini momen berharga,” kata Gefryn.
Di sela-sela baksos kesehatan bagi warga terdampak gempa NTT, Florensia Uba Ruron juga menyempatkan diri membantu lansia yang kesulitan berjalan untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Begitu pula dengan Florensia Uba Ruron (30), anggota TIMA Indonesia, yang menjadi salah satu bagian dari tim medis yang ikut berkeliling memberikan layanan kesehatan. Wanita kelahiran Larantuka (Flores Timur), Nusa Tenggara Timur ini ikut merasakan duka yang menimpa masyarakat NTT yang terdampak gempa. Setelah melihat kondisi warga dari laporan tim medis yang terjun pada tahap pertama, Florensia ikut ambil bagian setelah adanya informasi pembagian bantuan Tzu Chi tahap kedua bagi korban gempa NTT.
Lahir dan tumbuh besar di Flores, membuat Florensia sedikit banyak tahu bahasa serta kebiasaan masyarakatnya. Tentunya hal tersebut membantu proses komunikasi dengan para warga yang terdampak gempa saat melakukan pemeriksaan kesehatan. Walaupun dalam beberapa kesempatan, ada juga bahasa yang tidak ia mengerti, khususnya ketika memeriksa kondisi lansia.
“Sebenarnya mudah karena hampir semua bisa berbahasa Indonesia, tetapi kadang ada kendala ketika lansia yang sehari-hari hanya berbicara bahasa daerah saat ditanya kondisi kesehatannya. Walaupun sama-sama Flores, tetapi beda daerah ada kosa kata yang berbeda juga kita minta bantu warga lokal untuk menerjemahkan,” cerita Florensia.
Ketika memulai perjalanan untuk memberikan layanan kesehatan, ada hal yang menyentuh nuraninya. Florensia melihat bangunan rumah yang harusnya menjadi tempat paling aman, kini sudah hancur akibat gempa. Ia pun tak bisa berkata-kata melihat kondisi warga di tenda pengungsian yang tinggal dan tidur dalam bayang-bayang gempa susulan.
“Sampai di lokasi baksos kesehatan, sebenarnya kesedihannya itu kita banyak melihat mama-mama, anak-anak, lansia mengeluh susah tidur karena takut adanya gempa susulan. Belum lagi bagaimana keadaan kalau tidur di tenda karena waktu malam itu dingin sekali di beberapa wilayah Kabupaten Manggarai,” ungkap Florensia.
Bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan, Tim Medis TIMA Indonesia juga ikut membantu relawan TTD Tzu Chi Indonesia mempersiapkan paket bantuan logistik bagi warga terdampak gempa NTT.
Sambil memeriksa kondisi pasien, tak lupa Florensia juga menyemangati masyarakat yang terdampak gempa agar tetap bersemangat dan segera bangkit dari keterpurukan akibat bencana gempa di NTT. “Harapannya dari kami, tenaga kesehatan Tzu Chi, semoga masyarakat yang sudah dibantu tidak lagi sakit-sakitan dan menjaga kesehatan. Walaupun kondisinya masih sulit, mereka harus tetap kuat, tetap bertahan, tetap memohon perlindungan Tuhan,” harap karyawan Tzu Chi Hospital bagian IT Medical Support ini.
Bukan hanya menangani kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak gempa, Tim Medis TIMA Indonesia juga menghibur warga dengan bernyanyi bersama dan ikut membantu mempersiapkan paket bantuan logistik bersama Relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia sebelum dibagikan kepada masyarakat terdampak gempa NTT.
Dukungan dan Kolaborasi Membantu Korban Gempa
Selain memberikan pelayanan kesehatan keliling bagi warga di lokasi-lokasi terdampak gempa, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga memberikan bantuan logistik yang terdiri dari selimut Tzu Chi, beras, tikar, mi instan, ranjang darurat, air mineral, pembalut, dan sereal kepada Rumah Sakit Lapangan Ruteng yang berada di Jl. Satar Tacik, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur pada Jumat, 18 September 2026.
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia memberikan bantuan kepada Rumah Sakit Lapangan Ruteng untuk menunjang layanan kesehatan. Relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia, Ricky Budiman menyerahkan secara simbolis bantuan kepada Ns. Jenny, S.Kep., Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan RSUD Ruteng.
Rumah Sakit Lapangan Ruteng ini awalnya merupakan RSUD Ruteng yang menjadi rujukan pasien dari wilayah Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Tetapi gempa NTT pada 15 Agustus 2026 lalu membuat bangunan rumah sakit tersebut rusak parah dan tidak bisa difungsikan. Sehingga untuk melayani dan mempertimbangkan kondisi keselamatan serta kedaruratan, lokasinya dipindahkan dan diubah menjadi rumah sakit lapangan.
“RSUD Ruteng, bangunannya sudah rusak. Kita mulai pertama kali pada tanggal 2 September 2026 di wilayah ini setelah dua kali berpindah lokasi dan estimasinya sampai 5-6 bulan ke depan,” kata Ns. Jenny, S.Kep., Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan RSUD Ruteng.
Bantuan pun terus berdatangan dari pihak pemerintah maupun pihak nonpemerintah untuk mendukung operasional Rumah Sakit Lapangan Ruteng, salah satunya dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
“Kami sangat bersyukur karena ada bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Tadi kami menerima bantuan selimut, mi instan, beras, air mineral, dan tikar yang sangat membantu pasien-pasien kami. Karena Ruteng itu kalau malam suhunya bisa sampai 11-12 derajat, jadi ini sangat membantu. Terutama air mineral juga kita butuhkan untuk membantu keluarga pasien. Di sini kita merawat juga pasien gempa baik dari Reo maupun area sekitar Ruteng,” jelas Ns. Jenny, S .Kep.
Edi Sheen, relawan TTD Tzu Chi Indonesia, memberikan selimut Tzu Chi kepada salah satu korban gempa yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Ruteng.
Bantuan berupa selimut Tzu Chi, tikar, beras, mi instan, dan air mineral ini diberikan karena melihat kondisi iklim Ruteng yang berada di dataran tinggi serta belum maksimalnya dapur umum di Rumah Sakit Lapangan Ruteng.
“Selain bantuan air mineral dan logistik lainnya, yang kita bagikan adalah selimut Tzu Chi, karena cuaca di Ruteng itu dingin sekali saat malam hari. Selain itu, rumah sakit darurat ini adalah rumah sakit rujukan bagi korban gempa karena gedung sebelumnya (RSUD Ruteng) sudah hancur saat terjadinya gempa,” ungkap Edi Sheen, relawan TTD Tzu Chi Indonesia.
Editor: Anand Yahya