Germana Siti Aminah (baju kuning) sedanb memasak bersama beberapa warga Dusun Nundang yang masih tinggal di tenda pengungsian karena masih trauma kembali ke rumah. Selama 1 bulan pascagempa, mereka hidup di tenda pengungsian dengan kondisi seadanya.
Sudah satu bulan lamanya Germana Siti Aminah (60) warga Dusun Nundang, Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) tinggal di tenda pengungsian. Pascagempa Magnitudo (M) 7.0 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 lalu, ia dan warga lainnya masih enggan kembali ke rumah karena trauma.
Dusun Nudang sendiri berjarak sekitar 50 hingga 65 kilometer (ditarik garis lurus udara ke arah barat daya) dari pusat gempa utama NTT. Pada saat kejadian pun kondisi dusun tersebut juga mencekam karena berada di dataran tinggi dan diguncang gempa.
“Waktu kejadian saya masih tidur karena pagi sekali. Begitu terasa gempa langsung saya terbangun tapi tidak bisa buka pintu, lalu saya berteriak ‘tolong buka pintu’, sama anak saya langsung dibuka. Saya dan keluarga berlari menuju jalan, kami berpelukan berteriak dan menangis dengan warga lainnya,” cerita Germana menceritakan saat terjadinya gempa NTT.
Pascagempa, banyak warga tidak ada yang berani kembali ke rumah karena banyak sekali gempa susulan yang terjadi. Mereka hanya kembali untuk mengecek kondisi rumah yang rusak akibat gempa. Akhirnya secara swadaya, warga Dusun Nundang membangun tenda pengungsian untuk warga dan salah satu yang tinggal hingga saat ini adalah Germana dan keluarga.
“Sudah dari tanggal 15 Agustus tinggal di pengungsian. Awalnya ada 17 keluarga, sekarang sisa 7 keluarga termasuk saya bersama 5 anggota keluarga,” ungkap Germana.
Lokasi Dusun Nundang, Desa Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, NTT yang berada di dataran tinggi. Wilayah NTT sendiri didominasi dengan kondisi geografis gunung dan perbukitan.
Salah satu dokter dari Tim Medis Tzu Chi (TIMA) Indonesia memeriksa kondisi Germana Siti Aminah yang mengeluhkan beberapa kondisi kesehatan selama tinggal di tenda pengungsian.
Besar keinginan Germana untuk kembali ke rumahnya, tetapi rasa trauma dan takut akibat gempa membuatnya mengurungkan niatnya tersebut. Tenda pengungsian kini adalah pilihan terbaik untuk ia tinggali bersama keluarga sembari menghilangkan rasa traumanya. “Tinggal di tenda ya mau bilang tidak bagus tapi gimana, mau bilang dingin tapi gimana juga. Yang penting aman karena saya trauma, masih belum siap balik lagi ke rumah karena kondisinya retak-retak, kami takut karena kalau kita sentuh ya goyang temboknya,” ungkapnya.
Selama tinggal di pengungsian tentu kebersihan kurang terjaga, banyak debu serta kotoran yang membuat warga mudah terserang penyakit seperti batuk, pilek, gatal, dan penyakit akibat kecemasan dan rasa takut. Saat diperiksa dokter dari Tim Medis Tzu Chi, Germana pun mengeluhkan sering pilek, batuk berdahak, badan pegal, dan nyeri pinggang. “Tadi pas diperiksa, (kondisi saya cukup) baik kata dokter, saya juga diberikan beberapa obat untuk keluhan saya,” kata Germana.
Kehadiran Tim Medis TIMA Indonesia di Dusun Nundang menjadi salah satu harapan yang dinantikan warga. Kesempatan ini juga digunakan warga untuk berkonsultasi serta menanyakan tentang kondisi badan dan cara menjaga kesehatan. “Berguna dan penting, karena selama ini kami takut dan terserang penyakit. Begitu dokter datang kami lega, mudah-mudahan dengan ini kami nanti sehat. Terima kasih buat dokter dari Yayasan Buddha Tzu Chi sudah datang jauh-jauh dari Jakarta sana hanya untuk memperhatikan kami, memberikan kasih sayang, memberi kesembuhan kami,” ungkap Germana dengan mata berkaca-kaca.
Tim Medis Tzu Chi mengadakan baksos kesehatan umum bagi warga terdampak gempa di Desa Barang dan Dusun Nundang.
Dr. Vera (dokter TIMA Indonesia) memeriksa salah satu warga yang mengeluhkan kesehatan yang berlokasi di Rumah Adat Gendang Kina, Desa Barang.
Karena berada di dataran tinggi dan akses jalan yang cukup sulit untuk menuju Dusun Nundang, bantuan yang dialokasikan ke wilayah ini juga termasuk minim. Sedangkan kebutuhan warga penyintas gempa akan logistik dan layanan kesehatan menjadi salah satu hal pokok. Masalah inilah yang dijawab Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia saat mengirimkan dan membagikan bantuan bagi korban gempa NTT tahap ke-2. Bantuan logistik dan layanan kesehatan kemudian dialokasikan ke dusun ini.
Patrisius Sunardi, PJ Kepala Desa Barang, juga merasa bersyukur karena ada bantuan pelayanan kesehatan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bagi warganya. "Saya atas nama bapak, mama, adik, dan kakak di Desa Barang khususnya Dusun Ngundang, mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang pada hari ini telah memberikan kasihnya terutama dalam layanan kesehatan," ungkap Patrisius Sunardi.
Datang dan Menjawab Kebutuhan Penyintas Gempa
Desa Barang dibagi menjadi 3 dusun dan salah satunya adalah Dusun Nundang. Di dusun ini, Tim Medis TIMA Indonesia berhasil memberikan layanan kesehatan 118 warga yang masih bertahan di pengungsian dan yang sudah berani pulang ke rumah pada Rabu, 16 September 2026. Setelah selesai, Tim Medis TIMA Indonesia kemudian berpindah menuju Desa Barang untuk memberikan layanan kesehatan bagi warga yang berada di Rumah Adat Gendang Kina dan berhasil memberikan layanan kesehatan kepada 171 warga.
Penyakit yang diderita warga di dua lokasi tersebut didominasi oleh hipertensi, ISPA, dan gerd. "Paling banyak keluhannya batuk, pilek, dan demam. Sama banyak yang nyeri-nyeri badan, pinggang, dan masalah perut juga. Penyebabnya mungkin karena debu, stres, dan penularan karena tinggal ramai-ramai di pengungsian," jelas dr. Vera, salah satu Tim Medis Tzu Chi.
Dengan penuh syukur, relawan Tanggap Darurat Tzu Chi Indonesia membagikan selimut dan beberapa bantuan logistik lainnya kepada warga Dusun Nundang.
Warga Dusun Nundang memeluk erat dan mengucapkan terima kasih kepada relawan TTD Tzu Chi Indonesia yang telah memberikan bantuan logistik dan layanan kesehatan di dusun mereka.
Menjelang sore hari, giliran relawan Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi Indonesia membagikan bantuan logistik di Dusun Nundang. Sebelumnya pada saat memberikan layanan kesehatan, relawan TTD Tzu Chi Indonesia juga membagikan kupon paket bantuan logistik kepada warga yang telah didata. Sebanyak 161 paket bantuan logistik berupa terpal, selimut Tzu Chi, mi instan, beras, dan air mineral kemudian dibagikan kepada warga.
Banyak warga yang tak bisa menahan haru dan air mata setelah menerima paket bantuan logistik dari Tzu Chi. Warga seperti dikunjungi oleh keluarga sendiri yang membawakan bantuan, layanan kesehatan, dan trauma healing dengan bernyanyi bersama. Saat relawan TTD Tzu Chi Indonesia berpamitan, tak segan para warga menjabat erat, mendoakan, serta memeluk erat para relawan.
Osiana Dika (39), salah satu warga Dusun Nundang tak bisa menahan air mata haru karena merasa tersentuh dengan kasih sayang dan bantuan dari relawan Tzu Chi.
“Saya merasa terharu karena begitu banyak cinta kasih dari relawan-relawan yang sudah hadir di desa kami. Dapat terpal, selimut, mi, beras, air. Selimut ini sangat berguna soalnya setiap malam kami tidur di tenda kedinginan, angin kencang, belum lagi kalau turun hujan. Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah memberikan cinta kasihnya kepada kami masyarakat Kampung Nundang,” ungkap Osiana Dika, warga Dusun Nundang penuh haru.
Editor: Hadi Pranoto