Hangatkan Hati Penerima Bantuan di Bulan Waisak

Jurnalis : Vincent Salimputra, Lestin Trisiati (He Qi Pluit), Fotografer : Lestin Trisiati (He Qi Pluit)

Rudy Darwin, dengan penuh semangat menyampaikan informasi mengenai peringatan Waisak yang digelar oleh Tzu Chi, sebuah momen untuk refleksi diri dan mempererat ikatan dalam semangat Dharma.

Suasana penuh kehangatan menyelimuti basement Gedung DAAI pada Minggu pagi 4 Mei 2025 saat 36 relawan dari komunitas He Qi Angke dan He Qi Pluit menggelar kegiatan Gathering Gan En Hu. Acara ini mempertemukan para relawan dengan para penerima bantuan dalam suasana kekeluargaan, dipenuhi tawa dan kebersamaan.

Gathering ini terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan Waisak, momen reflektif bagi umat Buddha untuk memurnikan hati dan memperkuat niat menebar kebaikan. Dalam kesempatan tersebut, Rudy Darwin mengundang para penerima bantuan untuk turut hadir dalam peringatan Hari Waisak yang akan digelar pada Minggu, 11 Mei 2025, di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk.

Selain mempererat hubungan antar-individu, gathering ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan Teratai Digital Festival 2025. Disampaikan oleh Kelly, festival yang akan berlangsung pada 20 Juli mendatang itu ditujukan bagi anak-anak asuh Tzu Chi dari tingkat SD hingga SMA. Festival ini bertujuan menanamkan kecakapan digital yang beretika, sekaligus memperkuat nilai-nilai moral dan sosial.

Kelly memperkenalkan Teratai Digital Festival 2025 kepada para peserta, menjelaskan bagaimana ajang kreatif ini menggabungkan kecakapan digital dengan nilai-nilai budi pekerti.

Beragam kompetisi telah disiapkan, mulai dari lomba video bertema kemanusiaan, poster digital pelestarian lingkungan, hingga relay logika dan diskusi digital yang melatih daya pikir kritis. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk tak hanya terampil dalam teknologi, tetapi juga bijak dan bertanggung jawab saat menggunakannya. “Mereka tidak hanya belajar membuat konten,” jelas Kelly, “tetapi juga belajar menyampaikan pesan yang bermakna dan membangun kebiasaan digital yang sehat.”

Selain perlombaan, festival ini juga menghadirkan talkshow edukatif yang membahas isu-isu penting seperti etika bermedia sosial, keamanan digital, hingga peran generasi muda dalam menciptakan konten positif. Harapannya, anak-anak asuh Tzu Chi terinspirasi untuk menjadi agen perubahan, yang menyebarkan kebaikan di dunia digital dengan semangat welas asih dan kepedulian yang telah mereka pelajari selama ini.

Celengan Bambu Membawa Semangat Tanpa Pamrih untuk Sesama
Di tengah hangatnya suasana dan tawa yang bersahutan dalam acara hari itu, sebuah momen sederhana justru mencuri perhatian. Seorang ibu perlahan menghampiri meja donasi, menggenggam celengan bambu yang mereka bawa dari rumah. Ia adalah Cicih, ibu dari Muhamad Reihan Efendi (16), remaja yang sejak kecil hidup dengan cerebral palsy, kelumpuhan otak yang membatasi gerak dan koordinasi tubuhnya.

Cicih, ibu dari Muhamad Reihan (16), menggenggam celengan bambu dan menuangkan isinya ke dalam kotak donasi.

Sebelum pulang, Cicih membuka celengan itu dengan hati-hati, lalu menuangkan isinya ke dalam kotak donasi, bercampur antara koin dan lembaran uang. Bukan jumlahnya yang menyentuh hati, tetapi bagaimana celengan itu diisi. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, dengan niat tulus yang tak pernah putus. “Biasanya Reihan yang mengingatkan saya,” ucapnya, tersenyum hangat.

Meski tak bisa berbicara jelas, Reihan menyampaikan banyak hal lewat tindakan. Ia kerap mendorong ibunya menyisihkan uang ke dalam celengan. Sebuah ajakan berbagi yang tidak menunggu kelimpahan, tidak menanti waktu yang tepat. Ia mengajarkan bahwa untuk memberi, seseorang tak perlu sempurna, cukup dengan hati yang peduli dan niat yang tulus.

Perjalanan hidup Reihan bukanlah jalan yang mudah. Namun kisahnya jauh dari kata putus asa. Sejak awal, Cicih hadir sebagai cahaya yang setia mendampingi, berjuang bersama anaknya agar bisa tumbuh dengan semangat dan mandiri. Hari-harinya dipenuhi terapi, pendampingan, dan doa yang tak pernah berhenti. Dalam diam, Reihan terus tumbuh. Setiap gerak kecilnya adalah pencapaian besar, dan senyumnya menjadi cahaya bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Liong Soang Tjioe (78), relawan komunitas He Qi Angke, tetap semangat melayani di mini bazar meskipun usia telah senja. Dedikasinya yang tak lekang oleh waktu menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitar.

Tak jauh dari mereka, di sudut, tampak seorang lansia berdiri teguh meski usia telah senja. Liong Soang Tjioe (78), relawan komunitas He Qi Angke, dengan semangat yang tak lekang waktu masih setia melayani. Di tempat lain, sang anak, Loka Virya, tengah sibuk di pos pembagian bantuan biaya hidup. “Kalau saya lelah atau malas, saya lihat mama. Malu rasanya kalau menyerah duluan,” ucap Loka. Ia menunduk sejenak, lalu menambahkan pelan, “Semoga Mama bisa jadi teladan untuk kita semua.”

Dalam kesunyian yang menyentuh, dua kisah pun saling berpaut: seorang anak yang belajar memberi meski tubuhnya terbatas, dan seorang ibu yang menyalakan semangat pengabdian tanpa suara lantang. Dari Reihan dan Cicih, dari Liong Soang Tjioe dan Loka Virya, kasih itu mengalir turun-temurun dari hati ke hati, dari keluarga ke dunia. Di antara langkah-langkah tulus yang mungkin tak terdengar gemuruhnya, sesungguhnya mereka tengah mengubah dunia, satu kepedulian kecil pada satu waktu.

Rohana, dengan penuh rasa syukur, mengantarkan penerima bantuan ke lokasi menggunakan kursi roda. Senyumnya yang tulus mencerminkan kebahagiaan dalam membantu sesama.

“Setiap orang hendaknya menyadari berkah, menghargai berkah, dan menciptakan berkah kembali,” demikian perenungan Master Cheng Yen yang tercermin indah dalam gathering ini. Para penerima bantuan tidak lagi sekadar menerima, tetapi mulai menyadari dan menghargai berkah yang mereka terima, lalu mengubahnya menjadi tindakan kebaikan, seperti Reihan yang mengajak ibunya berbagi, atau Liong Soang Tjioe yang kini mengabdi sebagai relawan. Kebaikan yang diterima tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi disebarkan kembali dengan penuh syukur, menciptakan siklus berkah yang terus mengalir dan mengubah kehidupan banyak orang.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Sukacita Imlek bersama Gan En Hu dan Anak Teratai

Sukacita Imlek bersama Gan En Hu dan Anak Teratai

14 Februari 2023

Tzu Chi Pekanbaru berbagi sukacita Tahun Baru Imlek bersama para Gan En Hu dan juga anak-anak Teratai (penerima bantuan pendidikan dari Tzu Chi) pada Minggu, 5 Februari 2023.

Awal Tahun, Tzu Chi Medan Tanamkan Nilai Positif bagi Generasi Muda

Awal Tahun, Tzu Chi Medan Tanamkan Nilai Positif bagi Generasi Muda

07 Januari 2026

Tzu Chi Medan mengadakan kegiatan kepulangan para penerima beasiswa dan bantuan dengan menghadirkan edukasi bahaya narkoba, kegiatan kreatif, serta aktivitas peduli lingkungan.

Berbagi Bantuan di Hari Kasih Sayang

Berbagi Bantuan di Hari Kasih Sayang

15 Februari 2016
Bertepatan dengan Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari 2016, relawan Yayasan Buddha Tzu Chi dari komunitas He Qi Timur mengadakan pembagian bantuan kepada para Gan En Hu (sebutan penerima bantuan) di Depo Pelestarian Lingkungan Kelapa Gading, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara.
The beauty of humanity lies in honesty. The value of humanity lies in faith.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -