Harapan untuk Eka (Bag. 1)
Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto
|
| |
Semakin Parah Melihat kondisi ini, Ngatijo dan Subarni pun kemudian membawa Eka ke dokter di sebuah klinik 24 jam di dekat tempat tinggal mereka di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Oleh dokter kemudian diberi obat, dan sakit kepala serta rasa kesemutan Eka mulai berkurang. Tidak lama kemudian, Eka kembali mengeluh, “Bu, kok Eka makin sering kesemutan kaki dan tangan?” “Mungkin itu karena Eka tidurnya kakinya ke atas,” jawab Subarni menenangkan putrinya. Tapi ternyata kondisi Eka makin parah, hingga pada Februari 2011 kaki Eka pincang jika digunakan untuk melangkah dan berjalan.
Keterangan :
Tak ada perbaikan terhadap kakinya, maka Eka pun kembali dibawa ke Klinik 24 jam dan di sana oleh dokter disarankan untuk dilakukan rontgen kaki di rumah sakit, mengingat di klinik itu hanya ada fasilitas untuk rontgen dada. Subarni pun menurut. Di RSUD Cengkareng, Eka disarankan untuk dilakukan CT-Scan. Subarni sempat “ciut” hatinya tatkala mengetahui biaya untuk CT-Scan secara keseluruhan mencapai 550 ribu rupiah. “Misalnya nanti bisa nggak, Dok?” tanya Subarni pada sang dokter. “Ini harus segera ditangani Bu,” tegas dokter mengingatkan. Kedua orangtua Eka bukannya tinggal diam, namun kondisi keuangan menyebabkan mereka selalu berpikir 2 kali untuk membawa Eka berobat. Pekerjaan Ngatijo sebagai kenek di sebuah perusahaan swasta hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari Eka dan kedua adiknya: Fenty Apriliani (kelas 1 SD) dan Nia Andriana (3 tahun). Sementara tambahan penghasilan Subarni dari mencuci pakaian di 2 rumah digunakan untuk biaya sewa rumah dan kebutuhan lainnya — sejak Eka sakit Subarni hanya dapat mencuci di 1 rumah saja. Tapi karena kondisi Eka sudah sangat mengkhawatirkan maka keduanya pun segera membawa putri mereka ke rumah sakit. Apalagi saat itu Ngatijo terkena rasionalisasi karyawan di perusahaannya, sehingga ia memperoleh pesangon yang bisa digunakannya untuk berobat putrinya. Dari hasil CT-scan yang lengkap itulah kemudian diketahui jika Eka terkena tumor otak. Tanpa berpikir dua kali, Ngatijo dan Subarni pun memutuskan untuk mengobati penyakit Eka hingga tuntas. Berbekal uang pesangon tersebut Eka pun kemudian menjalani operasi. Efek dari operasi ini membuat Eka pelan-pelan kehilangan penglihatannya, dan bagian belakang kepalanya pun membesar. “Dokter memang bilang kalau tumornya sudah menyebar ke organ lain,” kata Subarni. Setelah operasi, Eka pun disarankan untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Karena kondisi keuangan sudah menipis – operasi pertama menghabiskan puluhan juta rupiah – membuat Subarni pasrah akan nasib anaknya. “Waktu itu saya nggak ngerti kalau bisa pakai SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu-red),” kata Subarni. Bersambung ke Bagian 2
| ||
Artikel Terkait
Kisah Tabungan Batu Bata
16 Juni 2014 Mimpi yang dibangun di atas niat dan keyakinan seketika berubah menjadi nyata. “Kami seperti menabung batu-bata,” ujar Ustaz Azhari. Rumah mereka yang dulunya tak layak huni kini telah berubah menjadi indah. Impian mereka yang dulu terasa sangat tinggi kini sudah mampu tergapai. Luapan sukacita tergambar dari setiap senyum yang tergurat di wajah mereka.
Body and Soul, Harmoni Antara Tzu Chi dan Taichi Dumai
18 Maret 2026Relawan Tzu Chi di Dumai dan grup Taichi Dumai bersinergi dalam acara Tea Gathering bertema Menciptakan Kehidupan yang Bernilai. Melalui senam, pengenalan filosofi, dan ramah tamah vegetarian, kedua komunitas ini merajut harmoni.
Gempa Aceh: Perhatian untuk Para Pengungsi
10 Desember 2016Relawan Tzu Chi Medan memberikan bantuan sandang dan pangan di 5 posko yang berbeda, yaitu: Desa Kemesjidan Rhieng, Mesjid Attaqwa, Gampong Mesjid Tuha, Desa Meue, dan Gampong Mee Pang Wa pada Jumat, 9 Desember 2016.








Sitemap