Indahnya Hidup Berbagi

Jurnalis : Susilawati Ng (Tzu Chi Medan), Fotografer : Pieter Chang (Tzu Chi Medan)
 
foto

Anak-anak mencatat keterangan foto-foto keluarga kerajaan yang terdapat di Istana Maimun.

Sebanyak 40 anak asuh Tzu Chi dari tingkat SD hingga SMU didampingi insan Tzu Chi melakukan study tour ke Istana Maimun Medan pada hari Minggu (12/4) yang lalu. Tujuan dari kunjungan ini untuk menambah pengalaman, pengetahuan, dan wawasan mereka, serta untuk menjalin silaturahmi dengan para orangtua anak asuh.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul 07.30, para orangtua dengan semangat mengantar anak mereka ke Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Perwakilan Medan. Para anak asuh yang sudah melakukan pendaftaran ulang diarahkan membentuk barisan rapi oleh para ketua regu. Penuh keceriaan anak-anak naik ke bus yang akan membawa mereka menuju Istana Maimun di Jl. Brigjen Katamso Medan.

Sembari menunggu kepulangan anak mereka dari kegiatan ini, para orangtua anak asuh juga tak kalah semangat melakukan kegiatan daur ulang di Posko Daur Ulang Tzu Chi.

Setibanya di Istana Maimun, anak-anak berbaris rapi dituntun oleh para ketua regu. Masing-masing regu memasuki ruangan istana didampingi oleh pemandu dari Istana Maimun. Mereka dengan penuh perhatian mendengarkan kisah Istana Maimun, salah satu bangunan bersejarah di Tanah Deli ini. Selanjutnya, anak-anak diajak melihat-lihat foto-foto keluarga Sultan, perabot rumah tangga peninggalan Belanda kuno, dan berbagai jenis senjata, termasuk kursi singgasana raja dan ratu. Para anak asuh tampak sibuk mencatat semua keterangan yang diberikan oleh pemandu serta keterangan-keterangan yang terdapat di foto keluarga Sultan. Anak-anak asuh sangat bergembira ketika diijinkan berfoto duduk di singgasana bak sang raja dan ratu.

foto  foto

Ket : - Saat menjalankan tugasnya melindungi masyarakat Medan, meriam ini meledak menjadi 2 bagian.
           Salah satu pecahannya terlempar hingga Tanah Karo. (kiri)
         - Bagi anak-anak asuh, mengunjungi tempat bersejarah memberi mereka pelajaran sekaligus rasa syukur
           bahwa berkat jasa para nenek moyang, maka di hari ini kehidupan yang mereka alami aman dan tenteram.
           (kanan)

Setelah berkeliling lebih kurang satu setengah jam, para anak asuh diajak berkunjung ke Meriam Puntung yang lokasinya tidak jauh dari Istana Maimun. Mereka dengan seksama mendengarkan kisah Meriam Puntung yang diceritakan oleh juru kuncinya. Dinamakan Meriam Puntung karena bentuk meriam tersebut tidaklah lengkap seutuhnya. Konon menurut dongeng karena larasnya sangat panas karena menembak terus-menerus, akhirnya meriam itupun pecah menjadi dua bagian, dimana satu bagian ujung meriam yang terpecah melayang jatuh di Kampung Sukanalu, Kecamatan Jahe Barus, Tanah Karo. Sampai saat ini pecahannya masih berada di Tanah Karo.

Hari pun menjelang siang dan para rombongan kembali untuk makan siang bersama. Kemudian, para anak asuh diajak beristirahat sambil menyaksikan sebuah video tentang anak-anak di daerah Gansu, Tiongkok yang sulit mendapat kesempatan untuk mengeyam pendidikan. Dalam himpitan kesulitan hidup mereka, anak-anak ini terpaksa menulis dengan pensil yang hanya berukuran 1 cm. Usai menonton, anak-anak diberi kertas dan pensil berukuran 1 cm untuk merasakan hal yang sama dengan anak-anak di daerah Gansu.

foto  foto

Ket : - Pensil bukan perlengkapan belajar yang tergolong mahal, namun bagi anak-anak di Gansu, pensil seperti
           harga yang harus dihargai hingga potongan terakhir. Para anak asuh coba merasakan pengalaman
           anak-anak Gansu tersebut. (kiri)
         - Di akhir acara, relawan meminta anak asuh untuk membagikan perasaannya mengikuti kunjungan
           sepanjang hari tersebut. Seorang anak mengaku merasakan banyak manfaat. (kanan)

“Melalui kegiatan ini, wawasan dan pengetahuan saya bertambah. Saya sebagai anak Medan menjadi tahu bahwa di kota Medan ini, ternyata ada satu bangunan sejarah dengan arsitektur yang megah dan legenda meriam puntung yang penuh dengan tanda tanya,” ujar Citra Dewi, salah seorang anak asuh dalam acara sharing. Kegiatan ditutup dengan peragaan isyarat tangan Satu Keluarga dan pembagian sejumlah bingkisan kecil kepada para anak asuh beserta keluarganya. Kegiatan semakin meriah ketika para anak. Wajah mereka tampak penuh sukacita. Ternyata hidup saling berbagi begitu indah, bahagia, dan menyejukkan perasaan.

 

Artikel Terkait

Bersatu Hati Mengucap Syukur

Bersatu Hati Mengucap Syukur

29 Januari 2019

Satu tahun telah terlewati dengan baik. Tiba saatnya seluruh relawan Tzu Chi Biak berkumpul bersama memanjatkan doa atas tahun yang penuh berkah dan kebaikan. Cuaca yang cerah pun membuat  relawan Biak dapat melangkahkan kaki dengan ringan dan lancar ke Aula Vihara Buddha Dharma Biak, Sabtu 26 Januari 2019 dalam rangka Pemberkahan Akhir Tahun 2018.

Bibit Bodhisatwa Baru

Bibit Bodhisatwa Baru

31 Maret 2011 Jodoh antara Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Perwakilan Medan dengan Sekolah Wiyata Dharma bertemu lagi, setelah tanggal 26 Februari lalu mengadakan kegiatan donor darah. Kali ini di hari Minggu pagi tanggal 13 Maret 2011, pukul 08:00 WIB sebanyak 20 relawan Tzu Chi mulai hadir di Sekolah Wiyata Dharma.
Sehat Badan dan Membantu Orang

Sehat Badan dan Membantu Orang

10 Juni 2009 Suyati Koriah (35) atau yang akrab dipanggil Kori, telah lama ingin mendonorkan darahnya. “Pengin cari, (tapi) kesempatan seperti itu gak ada,” kata Kori. Tapi siapa nyana, justru tanggal 6 Juni 2009 tidak jauh dari rumahnya di Pademangan Barat, Jakarta Utara, diadakan donor darah. Tepatnya di Puskesmas Pademangan Barat.
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -