Internasional: Merasa Lebih Bersyukur
Jurnalis : Huang Peiyi , Fotografer : Huang Peiyi
|
| ||
Keterbatasan dalam Melihat, Berbicara dan Bergerak Membuat Para Murid Merasakan Ketidaknyamanan Salah satu pejuang dalam kehidupannya, Nike yang tidak mempunyai tangan dan kaki tetapi bisa menyelam, berenang, memancing, bermain sepak bola dan memiliki kehidupan asmara. Nike berkata, ”Salah satu hal yang paling utama dalam kehidupan ini adalah rasa syukur dan menghargai apa yang dimiliki sekarang.” Mereka itu semua membuat sebuah sejarah dalam kehidupannya yang ditulis dengan penuh kepercayaan diri dan rasa puas diri sehingga kita hendaknya bisa belajar dari mereka semua. Ket : - Murid-murid tidak bisa melihat dan hanya mengandalkan indra peraba serta mengalami kesulitan sewaktu makan. Ini juga mengajarkan hendaknya kita bisa membantu orang lain sewaktu mereka membutuhkannya. Permainan di sore hari bertajuk “Jalan yang Panjang dan Laut yang Dalam”. Dalam permainan ini, mata tidak bisa melihat sehingga mengandalkan indra peraba. Ini akan membangkitkan niat untuk membantu orang lain yang memiliki kekurangan tersebut. Permainan “Mengandalkan Tangan dan Kaki, Membaca Gerak Bibir” ini melatih bagaimana setiap murid tidak diperbolehkan berbicara sehingga membuat mereka kesusahan. “Satu Tangan Merangkai Mutiara, Mulut Dijadikan Andalan” adalah permainan dimana setiap murid merangkai mutiara dengan satu tangan dan mulutnya serta dengan kaki mencoba menulis namanya sendiri sehingga mereka menyadari betapa sulitnya menjadi orang yang serba kekurangan dalam segi fisik. “Berperahu di Atas Tanah” adalah permainan di mana murid-murid diharuskan berjalan menggunakan kursi roda dan menelusuri rintangan. Salah satu murid kelas IV, Zhan Youqing berkata, ”Mempunyai sepasang kaki untuk berjalan adalah mudah tetapi sewaktu duduk di atas kursi roda untuk berjalan dan menghindari rintangan sungguh sulit.” Murid kelas IV lainnya, Xu Chaoyuan mengatakan,”Saya sangat bersyukur karena orang tua saya memberikan tubuh yang sehat kepada saya. Saya sangat beruntung dan saya harus benar-benar menghargai diri sendiri.” Murid kelas I, Su Huixuan berkata,”Tunanetra tidak mempunyai penglihatan, sewaktu makan, nasinya berjatuhan, dan sewaktu berjalan mudah terjatuh. Di masa yang akan datang, harus membantu mereka.” Akhirnya guru Hong Shufen berkata, ”Dalam membantu orang lain hendaknya kita mengerti orang yang kita bantu. Kita juga hendaknya bisa benar-benar menghargai tubuh kita sendiri dan senantiasa bersyukur kepada orang tua adalah bentuk bersyukur dan membalas budi.” (Sumber: Website Tzu Chi Taiwan, tanggal 03 Maret 2010, diterjemahkan oleh: Leo Samuel Salim) | |||
Artikel Terkait
Satu Hati, Satu Langkah Menuju Satu Juta Cinta Kasih
09 Desember 2016Sebanyak 106 relawan Tzu Chi Cabang Sinar Mas yang berasal dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia berkumpul di Jing Si Tang, Tzu Chi Center. Selama tiga hari, ratusan relawan ini menjalani beragam kegiatan, mulai dari pelatihan, lomba, hingga merayakan puncak acara Xie Li Gathering dengan penuh sukacita.
Hasil Karya Luar Biasa
25 September 2017Sebanyak 23 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat menjalin jodoh baik dengan 50 orang umat Katolik wilayah Agatha Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Perumahan Budi Indah yang melakukan kunjungan ke Tzu Chi Center di Pantai Indah Kapuk pada hari Kamis, 21 September 2017.
Sepenggal Kisah Wulandhari yang Merawat Nadia
11 Desember 2019Tim medis RSCK bersama relawan Tzu Chi mengunjungi seorang pasien di Legok, Banten. Mereka menempuh perjalanan dua jam membelah kemacetan dan cuaca hujan menuju rumah seorang anak bernama Nadia, penderita atrofi cerebri.








Sitemap