Kamp 4 in 1: Menggenggam Setiap Kesempatan

Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Pusat), Marianie (He Qi Utara 1), Fotografer : Anand Yahya, Joe Suati (He Qi Utara 2), Aditia Saputra (RSCK)


Kamp pelatihan relawan 4 in 1 yang diadakan pada tanggal 18 - 19 Agustus 2018 membutuhkan banyak tangan para Bodhisatwa dalam menyukseskan kegiatan yang mengusung tema Sutra Makna Tanpa Batas.

Master Cheng Yen selalu mengingatkan murid-muridnya bahwa sudah tidak ada waktu lagi, sehingga hal terbaik yang harus dilakukan adalah terus menggenggam kesempatan untuk melakukan kebajikan. Kamp pelatihan relawan 4 in 1 yang diadakan pada tanggal 18 - 19 Agustus 2018 membutuhkan banyak tangan para Bodhisatwa dalam menyukseskan kegiatan yang mengusung tema Sutra Makna Tanpa Batas.

Tangan-tangan tersebut adalah para insan Tzu Chi yang terlibat dalam kepanitiaan yang telah bekerja mulai dari persiapan hingga hari pelaksanaan. Mereka melayani sebanyak 515 peserta yang merupakan relawan Tzu Chi yang tersebar di seluruh Indonesia. Di antaranya relawan Jakarta, Batam, Medan, Pekanbaru, Makassar, Bandung, Surabaya, Singkawang, Lampung, Padang, Biak, Palembang, Bali, Tanjung Balai Karimun, dan Sinar Mas.

Menerima Tanggung Jawab Dengan Sukacita


Charlie (tengah) melakukan tanggung jawabnya sebagai koordinator penginapan pada kegiatan kamp pelatihan relawan 4 in 1.

Pada 28 Juli 2018 lalu, Charlie (32) sedang sibuk mengajar di Trisakti tiba-tiba mendapat panggilan telepon dan ajakan dari relawan Fungsional Pelatihan He Xin, Like Hermansyah untuk ikut meeting di kantor Tzu Chi yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Tanpa berpikir panjang, Charlie menerima undangan tersebut. Di dalam meeting yang diselenggarakan oleh Tzu Chi membahas pembentukan panitia Kamp 4 in 1. Like Hermansyah memberikan tanggung jawab dan kepercayaan tugas penginapan kepada Charlie. “Awalnya kaget, walaupun Feranika, Shijie saya sudah pengalaman, namun tidak pernah dikasih tahu tugasnya apa saja. Like Shijie hanya memberitahu belajar saja, jalani saja, pasti bisa,” terang Charlie yang  menjadi relawan Tzu Chi pada Desember 2017 ini. Berkat dorongan semangat Like Hermansyah, akhirnya Charlie mau mengemban tugas penginapan dengan sukacita.

Tugas penginapan merupakan pengalaman baru baginya. Ia pun banyak belajar dari insan Tzu Chi lainnya. Namun, Charlie tidak sendiri ada relawan Tzu Chi lainnya yang turut membantu. “Seperti Gerry, Willy, Ernawaty. Walaupun mereka sudah memiliki tugas di pos masing-masing, saat mereka tahu di pos penginapan ada kesulitan, mereka langsung care (peduli) datang bantu. Ada kesulitan apa, diselesaikan bersama,” kata Chalie.


Relawan tim konsumsi saling bergotong royong menyiapkan konsumsi. Sebagian dari mereka memotong sayur kemudian memasaknya.

Setiap tugas memiliki tanggung jawab tersendiri. Seperti tugas penginapan ini, selain mengkoordinir setiap He Qi untuk mengirimkan relawan Tzu Chi datang membantu membersihkan kamar penginapan, dan memasang sarung atau seprai di masing-masing kamar, Charlie tetap datang membantu untuk memastikan kesiapan relawan. Ia juga memeriksa kebersihan dan perlengkapan tidur di kamar penginapan bagi para peserta yang mengikuti pelatihan.

Sehari menjelang kegiatan berlangsung, Charlie memastikan kembali apakah ada perlengkapan yang belum rapi di setiap kamar. “Ternyata ada 1 kamar yang belum dipasang sarung, tetapi relawan sudah pulang. Berdua dengan adik saya memasang sarung, merapikan dan menyusun kembali,” tukasnya.

Pekerjaan pun tak berhenti di situ saja, malam itu Charlie menerima keluhan dari peserta luar kota yang sudah menginap. Beberapa keluhan tersebut air conditional (pendingin ruangan) tidak dingin, lampu kurang terang, dan ada semut di kamar tidur. “Awalnya mau emosi, tetapi ingat kata Master bahwa Tzu Chi adalah tempat pelatihan diri. Setiap kegiatan Tzu Chi merupakan suatu bentuk pelatihan diri, melatih dan mengkondisikan batin kita agar lebih bijaksana,” kata Charlie. Ia pun datang ke Tzu Chi untuk memeriksa pendingin ruangan (ac), lampu kamar, dan membersihkan serta mengepel lantai kamar.


Adapula relawan yang mengelap piring dan mangkuk usai peserta makan. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati dari tiga He Qi: He Qi Barat 1, He Qi Utara 2, dan He Qi Pusat.

Charlie bersama timnya telah menyiapkan 85 kamar yang ditempati oleh 663 relawan Tzu Chi termasuk relawan Tzu Ching yang saat itu juga mengadakan kegiatan Kamp Tzu Ching. “Bila berbuat kebajikan dengan sepenuh hati, dengan sendirinya tentu akan diberkahi” adalah salah satu Kata Perenungan Master Cheng Yen yang menjadi motivasi bagi Charlie.

Adapula Lynda Suparto yang menerima tanggung jawab dibagian konsumsi. Relawan konsumsi yang terdiri dari relawan He Qi Barat 1, He Qi Utara 2, dan He Qi Pusat ini saling bergotong royong menyiapkan konsumsi sarapan pagi, break pagi, makan siang, break siang, dan makan malam selama kegiatan berlangsung. Ada bagian yang memotong sayur, memasak, dan mengelap piring tanpa mengenal lelah. Bahkan pada beberapa hari sebelum kegiatan, relawan bagian ini sudah menyiapkan keperluan konsumsi. “Kami berusaha semaksimal mungkin menyiapkan makan yang cocok untuk dinikmati semua relawan,” jelas Lynda Suparto.


Sufiani Aboegani yang akrab disapa Acen benar-benar fokus untuk mengatur relawan bagian pelayanan dalam menghidangkan makanan.

Tidak hanya mengoordinir konsumsi agar berjalan lancar, Lynda juga sering memperhatikan relawan-relawan yang bertugas setiap kali berpapasan. Ia selalu menanyakan sudah makan belum? Apa ada kendala? dan perhatian lainnya. Ternyata perhatian yang diberikan Lynda telah memberikan suntikan semangat tersendiri bagi relawan konsumsi dalam melayani peserta kamp.

Lain halnya dengan Sufiani Aboegani yang akrab disapa Acen. Ia mendapatkan kepercayaan mengatur bagian pelayanan. Relawan komunitas He Qi Pusat ini benar-benar fokus untuk mengatur relawan lain dalam menghidangkan makanan untuk snack saat break dan makan. Apalagi jeda waktu makan dan break tergolong cukup singkat. “Sebenarnya saya masih takut-takut untuk ambil tanggung jawab ini, seperti saat masakan agak telat membuat saya panik namun karena banyak relawan yang bergotong royong membuat semua selesai pada waktunya,” ujarnya tersenyum. “Saya sangat gan en sama relawan yang sudah saling membantu dan saling mendukung. Semoga relawan Tzu Chi yang ikut training 4 in 1 dapat mendalami Dharma Tzu Chi dengan baik dan makin banyak yang bergabung di Tzu Chi,” Harap Acen.

Editor: Metta Wulandari

Adapula relawan yang mengelap piring dan mangkuk usai peserta makan. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati dari tiga He Qi: He Qi Barat 1, He Qi Utara 2, dan He Qi Pusat.


Artikel Terkait

Kamp 4 in 1 2019: Menumbuhkan Lingkaran Kebajikan

Kamp 4 in 1 2019: Menumbuhkan Lingkaran Kebajikan

29 Juli 2019
Menjadi relawan adalah pilihan. Ketika pilihan sudah ditetapkan maka pantang untuk ditinggalkan. Beragam kisah kesungguhan relawan dalam kemanusiaan terangkum dalam materi-materi Kamp 4 in 1 kali ini, Sabtu dan Minggu, 27-28 Juli 2019.
Kamp 4 in 1 2017: MelatihDiri, MenenangkanBatin

Kamp 4 in 1 2017: MelatihDiri, MenenangkanBatin

29 September 2017
Selamaduahari, 16 dan 17 September 2017, 786 relawan Tzu Chi yang datangdariberbagaikota di Indonesia mengikutiPelatihan 4 in 1 di Aula Jing Si, Tzu Chi Center, Jakarta. Jikasehari-harinyarelawan Tzu Chi terusbergerakbersumbangsihmembantu orang lain yang membutuhkan, makapelatihan yang mengusungtema “Sutra MaknaTanpa Batas” itudigunakanuntuk me-rechargebatindenganmenyelami Dharma Master Cheng Yen.
Kamp 4 in 1: Terus Menciptakan Jalinan Jodoh Baik

Kamp 4 in 1: Terus Menciptakan Jalinan Jodoh Baik

21 Agustus 2018
Dalam kehidupan, setiap manusia mengalami berbagai fase, lahir, tua, sakit, dan mati. Namun di luar itu, ada pula jalinan jodoh yang membuat proses hidup bisa berlangsung. De Ni Shifu menjelaskan bahwa, proses kehidupan berlangsung melalui 12 jalinan jodoh.
Dengan kasih sayang kita menghibur batin manusia yang terluka, dengan kasih sayang pula kita memulihkan luka yang dialami bumi.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -