Karena Panggilan Hati
Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto|
|
| ||
Berawal Pembangunan Aula Jing Si Kala itu Suripto bertugas mengawasi pengerjaan pembangunan Aula Jing Si, dari sisi mutu bahan, kualitas pengerjaan, hingga penyelesaian akhir. Tidak ada niat sedikit pun pada waktu itu baginya untuk menjadi salah satu sub kontraktor pembangunan Aula Jing Si. “Tadinya relawan aja, kita nggak ada tujuan untuk dapetin kerjaan. Cuma kita lihat ternyata kerjaan saya dibandingkan dengan yang ada, kualitasnya masih bisa saya samakan,” ujarnya. “Kemudian Abun Shixiong dorong saya “maju”, tapi saya bilang jangan, kita di Tzu Chi tujuannya mau amal, bukan nyari keuntungan.” Tapi, karena dorongan dari relawan lainnya maka Suripto pun mencoba masuk, dan nyatanya kualitas hasil kerjanya memuaskan banyak pihak, termasuk para pimpinan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Belajar Memahami Para Pengungsi
Keterangan :
Jika di tahun 2013, Suripto terjun sebagai bagian dari Tim Tanggap Darurat maka dalam banjir kali ini ia didapuk untuk menjadi Koordinator Lapangan dan juga Pengungsi Banjir di Aula Jing Si. “Saya kebetulan saat bencana banjir tahun ini ngikutin dari awal. Meeting hari Jumat, terus survei ke Kapuk Muara. Karena relawan-relawan lain yang lebih senior berangkat ke Manado, jadi nggak ada orang, jadi saya ditugaskan jadi koordinator lapangan di Kapuk Muara,” terangnya, “kalo pengungsi ya sekalian kita yang tanggung jawab, pengungsi dari Kapuk Muara karena kita yang bawa dia ke sini, jadi kita dampingin terus.” Pengungsi yang diprioritaskan sendiri adalah anak-anak kecil, Balita, dan Lansia. “Cuaca di sana (pengungsian Kapuk Muara di lapangan kosong-red) ekstrim, siang hujan, malam banyak angi, jadi kita tawarkan untuk ngungsi,” sambungnya. Mendampingi para pengungsi memberi pengalaman tersendiri baginya. “Ada satu pengalaman tersendiri, kadang-kadang kita lihat pengungsi begini, ada perasaan iba. Kita bersyukur ada tempat tidur enak, mereka tidur di pengungsian, dingin dengan alas tikar seadanya. Yang bisa saya dapat hikmahnya itu membuat saya lebih peka terhadap sesama. Kita di posisi sekarang merasa jauh lebih bersyukur dengan kondisi kita,” tegasnya. Rumah Suripto sendiri cukup aman dan terhindar dari banjir sehingga ia dapat leluas bergerak membantu sesama. Sebagai penanggung jawab, Suripto harus memastikan kebutuhan para pengungsi di Aula Jing Si terpenuhi seluruhnya. Selain makan dan minum, para pengungsi, khususnya Balita dan Lansia perlu perhatian khusus. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana memperhatikan kebutuhan sosial mereka. “Karena itulah interaksi dengan para pengungsi sangat penting agar mereka tak larut dalam kejenuhan. kita berinteraksi dengan mereka supaya mereka di sini merasa seperti di rumah sendiri,” kata Suripto. Mereka tidak kita ungsikan, terus kita lepas begitu, kita membina satu hubungan batin, dimana sambil membantu kita ajarkan ajaran Tzu Chi, Master Cheng Yen bahwa kita harus bersyukur dan jangan tergantung dengan orang lain, marilah kita memberi, lebih baik memberi daripada menerima.” | |||
Artikel Terkait
Mencintai Bumi dengan Memilah Sampah
18 Agustus 2016Delapan relawan yang tergabung dalam indorelawan turut hadir dalam kegiatan pemilahan sampah daur ulang di Depo Pelesatrian Lingkungan Tzu Chi Cengkareng. Selain melakukan pelestarian lingkungan, mereka juga diajak mengenal lebih dekat Tzu Chi dengan mengikuti sosialisasi Tzu Chi pada 7 Agustus 2016.
Keharmonisan Menyongsong Tiga Hari besar
05 Mei 2015 Pada peringatan 3 hari besar 10 Mei 2015 nanti, Tzu Chi Medan akan membentuk formasi berupa tulisan Tzu Chi dan Daun Bodhi yang diperkirakan akan melibatkan 11.560 peserta.Benih Kebaikan untuk Masa Depan Siswa-siswi
06 November 2018Setelah program Ayo Belajar SMART! berjalan selama tiga tahun di SDN 100880, Hutabaru Nangka, Langga Payung Estate, Sumatera Utara, relawan berkumpul untuk melaksanakan kegiatan penutupan. Kegiatan pada 27 September 2018 ini sebagai penanda bahwa modul program Ayo Belajar SMART! ini telah diterima oleh para siswa.








Sitemap