Kembalinya Intan

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Anand Yahya
 
 

fotoIntan dengan ditemani ayahnya kembali mengikuti Baksos Kesehatan Tzu Chi di Singkawang. Sebelumnya, pada tahun 2008, mata sebelah kiri Intan dioperasi dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi.

Dua tahun lalu, tepatnya bulan Agustus 2008, sebelah kiri mata Intan Sari (16) yang terkena katarak dioperasi dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-51 di Singkawang, Kalimantan Barat. Kala itu sang ayah, Jong Thian Kong  bukan hanya membawa Intan saja untuk berobat, tetapi juga istrinya Ratifah dan anaknya yang lain, Desi Ratnasari yang juga terkena katarak.

Dari 5 anak Jong Thian Kong (57) dan Ratifah (51), yaitu: Joni Jong (26), Jodi Jong (23), Dedi Dores (20), Desi Ratnasari (18), dan Intan Sari (16), hanya anak-anak laki-laki dan ayah mereka saja yang terbebas dari penyakit katarak. Entah mengapa, semua wanita anggota keluarga ini memiliki penyakit yang sama: katarak.

Perjuangan Memperoleh Kesembuhan
Desi bahkan tidak dapat melihat dengan normal sejak usia 6 tahun. Ibunya, Ratifah terkena katarak di kedua matanya pasca melahirkan Intan, adik Desi yang berselisih umur 2 tahun.  Seperti ibu dan saudarinya, Intan pun akhirnya mengalami katarak yang membuatnya tak dapat menjalani hari-hari dengan penglihatan yang normal dan jelas. Dari ketiganya, kondisi sang ibulah yang terparah. Ratifah sama sekali tak dapat melihat, bahkan benda yang ada di depan matanya. Intan masih dapat bersekolah – sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA – seperti anak-anak lainnya, namun kakaknya Desi yang sejak usia 7 tahun terkena katarak terpaksa harus putus sekolah karena tak lagi dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. “Sebenarnya Desi itu anaknya juga pintar,” sesal  Jong Thian Kong. Derita ketiganya hilang ketika mereka akhirnya dioperasi dalam Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-51 di yang dilaksanakan di RS Harapan Bersama Singkawang. Kehidupan mereka pun menjadi lebih baik dan dapat menjalani kehidupan dengan penglihatan yang lebih baik.

Sabtu, 29 Oktober 2010, Jong Thian Kong datang kembali ke Baksos Kesehatan Tzu Chi. Tetapi kali ini ia tidak membawa istri dan Desi putrinya, ia hanya membawa Intan putri bungsunya ke RS Tentara Singkawang untuk mengikuti Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-71 yang kembali diadakan di Kota Seribu Kuil ini. Jika dua tahun lalu mata kiri Intan yang bermasalah, kali ini mata kanan Intan yang terkena katarak. “Dia sering ngeluh penglihatannya agak kabur kalau di sekolah,” terang Jong. Karena itulah Jong yang berprofesi sebagai petani ini tak menyia-nyiakan kesempatan ketika mendengar kabar akan adanya baksos kesehatan lagi dari saudaranya yang tinggal di Kota Singkawang. Setelah dinyatakan lolos screening seminggu sebelumnya (tanggal 22 Oktober 2010), akhirnya pada tanggal 29 Oktober 2010 mata kanan Intan dioperasi kataraknya. “Tak terkiralah senangnya. Anak dan istri saya kan sekarang dah bisa lihat semuanya,” ungkap Jong, “banyak-banyak terima kasih sama Tzu Chi, dah menolong keluarga saya.”

Minggu, 30 Oktober 2010, Intan menjalani pemeriksaan pascaoperasi katarak. Gadis yang pendiam dan pemalu ini akhirnya dapat bernapas lega karena salah satu kendalanya dalam menuntut ilmu telah tertangani. Selama menjalani pengobatan di Singkawang, Jong dan Intan menetap di rumah salah satu kerabatnya di Singkawang. “Kalau langsung pulang takutnya nanti ada apa-apa di jalan. Sudah jauh-jauh berobat nanti malah nggak ada hasilnya kan sayang,” kata Awaludin Tanamas, relawan Tzu Chi Jakarta yang masih teringat dengan Intan dan keluarganya. Awaludin pun berkesempatan memberi perhatian pada Intan.

foto  foto

Keterangan :

  • Karena merasa penglihatannya kembali terganggu, Intan yang duduk di bangku kelas 2 SMA ini pun akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti Baksos Kesehatan Tzu Chi. (kiri)
  • Ketua Tzu Chi Singkawang, Tetiono menyampaikan bahwa berkat adanya jalinan jodoh yang baik antara Tzu Chi dan masyarakat Singkawang, Tzu Chi pun kemudian melaksanakan baksos kesehatan untuk yang ketiga kalinya. (kanan)

Selain jalinan jodoh yang baik, upaya Jong untuk mencari kesembuhan bagi istri dan kedua anaknya memang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, keluarga yang tinggal di Desa Satong yang jaraknya 67 km dari Kabupaten Ketapang ini hidupnya sangat bersahaja dan terpencil. Untuk menuju Singkawang, jika menggunakan speed boat saja mereka harus menempuh perjalanan selama 6 jam. “kalau naik (kapal) Feri lebih lama lagi, jam 4 sore berangkat, jam 5 pagi baru sampai,” kata Jong. Karena ongkos naik speed boat yang cukup mahal –mencapai 200 ribu rupian – maka Jong memilih naik kapal Feri yang hanya bertarif Rp 45.000.  “Nanti pun masih harus naik mobil lagi sekitar 6 jam,” terangnya.

Penderitaan keluarga ini awalnya diketahui oleh Bong Fa Lin, relawan Tzu Chi Jakarta yang asal Ketapang. Setelah dilakukan survei maka diputuskan bahwa keluarga Jong Thian Kong memang layak untuk dibantu. Kini, istri dan anak Jong Thian Kong sudah dapat melihat dengan normal. Beban keluarga ini pun sedikit berkurang, apalagi ketiga anak laki-lakinya kini sudah bekerja, sebagai sopir dan buruh bangunan. “Kalau untuk makan sehari-hari kami cukuplah, ada dari hasil kebun dan juga anak-anak sudah kerja. Tetapi kalau untuk biaya operasi (katarak) kami masih belum mampu,” ungkap Jong saat menunggui Intan di depan ruang operasi. Kurang lebih menunggu hampir 2 jam, akhirnya Intan pun keluar dari ruang operasi. Mata kanan Intan berbalut perban. Dengan tertatih-tatih Intan berjalan menghampiri ayahnya dengan dibimbing dua relawan Tzu Chi.

Baksos yang Ketiga Kalinya di Singkawang
Keesokan paginya, Sabtu 30 Oktober 2010, pukul 09.00 WIB, Intan dengan ditemani ayahnya kembali datang ke RS Tentara untuk memeriksakan diri. “Gimana, sudah bisa lihat dengan jelas?” sapa Suster Suasana. Dengan lembut Intan pun mengangguk pelan. Di seberangnya, sang ayah berdiri menunggu dengan wajah bahagia. Rencananya, ayah dan anak ini akan kembali menginap dulu di rumah kerabatnya di Singkawang sebelum kembali pulang ke rumahnya di Ketapang.

foto  foto

Keterangan :

  • Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Liu Su Mei menyambut kedatangan Walikota Singkawang Hasan Karman dalam acara pembukaan Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-71 di RS Tentara Singkawang, Kalimantan Barat.  (kiri)
  • Relawan Tzu Chi Singkawang bersama anggota TNI bersama-sama memperagakan isyarat tangan dengan tema "Satu Keluarga" pada saat acara pembukaan Baksos kesehatan Tzu Chi ke-71 yang dilaksanakan di RS Tentara Singkawang, Kalimantan Barat. (kanan)

Tepat saat Intan memeriksakan kondisi matanya pascaoperasi, di halaman RS Tentara juga sedang berlangsung acara pembukaan Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-71. Baksos ini merupakan kerja sama antara Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan TNI (Kodam XII Tanjungpura) dalam rangka HUT TNI ke-65. Dalam baksos yang dilaksanakan dari tanggal 29-30 Oktober ini berhasil dioperasi sebanyak 164 pasien katarak, 45 pasien pterygium.  Dr. Andi, Kepala RS Tentara menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak, khususnya Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah mendukung kegiatan baksos ini. “Ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari sesama anak bangsa untuk meringankan beban mereka yang kurang mampu. Sudah sepantasnya kita yang mampu membantu yang kurang mampu,” katanya.

Sementara itu, Tetiono, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Singkawang menyampaikan rasa syukurnya karena sudah 3 kali ini Kota Singkawang menjadi tempat pelaksanaan Baksos Kesehatan Tzu Chi. “Ini tentunya merupakan jodoh yang baik, di mana kita dapat membantu sesama yang membutuhkan pertolongan,” kata Tetiono. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei yang datang bersama para relawan dari Jakarta lainnya. Dalam kesempatan itu Tetiono juga mengajak semua pihak untuk mau melakukan pelestarian lingkungan.

Dalam kesempatan ini hadir pula Walikota Singkawang Hasan Karman. Menurut walikota, sudah 3 kali baksos dilaksanakan di Singkawang, dan hal ini tentunya sempat memicu “kecemburuan” dari kota-kota lain di wilayah Kalimantan Barat. Menurutnya, ada beberapa faktor sehingga Singkawang menjadi pilihan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk melaksanakan baksos kesehatan. “Di Singkawang ada fasilitas rumah sakit dan sarana prasarana yang mendukung,” tegasnya.

Hasan Karman yang juga pernah berkunjung ke Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Jakarta ini menyambut baik dan mendorong kegiatan-kegiatan seperti ini ditambah intensitasnya. “Masyarakat kita masih banyak yang membutuhkan bantuan,” katanya, “ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga membutuhkan partisipasi banyak pihak, dan Tzu Chi adalah bagian dari kepedulian itu.” Dalam kesempatan itu, mewakili masyarakat Kita Singkawang, Hasan Karman menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas sumbangsih Tzu Chi ini, “Salam untuk Master Cheng Yen, kami masyarakat Kalbar (kalimantan Barat) sangat berterima kasih dengan adanya bakti sosial kesehatan ini.”

  
 

Artikel Terkait

Sosialisasi Tzu Chi untuk Warga Perumahan Cinta Kasih di Padang

Sosialisasi Tzu Chi untuk Warga Perumahan Cinta Kasih di Padang

21 November 2017

Kota Padang pagi itu (19/11/2017) sudah diguyur hujan. Meski begitu satu persatu relawan tampak berdatangan ke Kantor Tzu Chi Padang untuk mengikuti sosialisasi, mengenalkan kembali Tzu Chi pada warga yang tinggal di Perumahan Cinta Kasih.

Giat Menanamkan Pola Hidup Vegetarian

Giat Menanamkan Pola Hidup Vegetarian

03 November 2020
Relawan Tzu Chi Medan giat mengajak masyarakat sekitar untuk bisa hidup berdampingan dengan alam. Salah satunya dengan menjalankan pola makan yang sehat, yang baik bagi tubuh maupun untuk bumi, yaitu pola makan vegetarian. Salah satu bentuk ajakan ini melalui Festival Makanan vegetarian yang berlangsung dari tanggal 17-25 Oktober 2020. 
Bantuan AirAsia QZ8501: Berempati dengan Keluarga Korban

Bantuan AirAsia QZ8501: Berempati dengan Keluarga Korban

06 Januari 2015 Perhatian dan pendampingan relawan kepada keluarga korban merupakan bentuk kasih yang berdampak secara dua arah. Keluarga korban tidak hanya merasakan ketenangan dan ketabahan, tetapi relawan pun memetik banyak pelajaran dari kegiatan tersebut.
Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -