Ketulusan Yang Mengubah Segalanya

Jurnalis : Nining Tanuria (Tzu Chi Biak), Fotografer : Hadi Pranoto, Nining Tanuria (Tzu Chi Biak)

foto
Relawan bersama dengan seorang warga di Tikala Baru yang rumahnya akan dibersihkan.

25 Februari 2014, kembali kami relawan Tzu Chi menjejakkan kaki di tanah Manado. Berjumlah 16 dari total 53 relawan yang berpartisipasi, rombongan pertama tiba di Manado dengan suka cita dan penuh keakraban.

 

 

Misi yang kami bawa kali ini sebagai relawan Yayasan Buddha Tzu Chi ada dua: pertama, menyelesaikan  tugas membagi kompor gas yang belum sempat terbagi di bantuan bencana tahap kedua. Misi yang kedua, adalah menggalang hati relawan lokal Manado, yang diharapkan dapat menjadi cikal bakal kantor penghubung Tzu Chi di Manado. Misi menggalang hati ini juga bersinergi dengan kegiatan  yang  dipusatkan  di Kelurahan Tikala Baru.

Cerita mengenai Tikala Baru, adalah cerita tentang kekuatan cinta  kasih. Seperti yang disharingkan oleh Rudi shixiong pada saat sosialisasi relawan, pada awalnya masyarakat menyambut uluran tangan kami dengan beraneka ragam sikap. Mulai dengan sikap yang ragu karena belum menangkap inti dari bantuan Tzu Chi, perlahan-lahan berubah seiring kedekatan antara relawan dan masyarakat.

Like shigu dan Lynda shigu yang khusus datang untuk mentransfer pesan Master Cheng Yen, turut berbaur dan turun kelapangan bekerja bersama. Tanpa kenal lelah, Like shigu tak putus-putusnya mengingatkan bahwa kedatangan kami di Manado ini bukan hanya sekedar memberikan bantuan. Tapi ada hal lain yang jauh lebih dalam dari itu, yaitu bagaimana kami dapat mengajak masyarakat sama-sama mengerti kekuatan cinta kasih sebagai satu keluarga. Konsep TigaTiada (Tiada yang tak kukasihi, tiada yang tak kupercaya, dan tiada yang tak kumaafkan)dari Master Cheng Yen pun senantiasa kami dengungkan dalam tiap kesempatan.

Selama tiga hari melakukan program Solidaritas dan Kerja Bakti pada saat tahap ke-2 dan ditambah tiga hari lagi bersama melakukan pengecatan, pembersihan gorong-gorong dan masak bersama, banyak kenangan indah yang dialami bersama relawan dan warga Tikala Baru.

Bahkan ada momen mengharukan ketika relawan bersama-sama membantu sebuah keluarga yang tinggal dekat lokasi pembagian kompor. Ketika relawan Christine shijie dan Supriyadi shixiong akhirnya berhasil setelah  berjuang selama hampir satu jam untuk menghubungi keluarga sang ibu yang berada di Taiwan, luar biasa kebahagiaan yang terpancar dari wajah semua orang. Para relawan pun rela menambah satu hari untuk bergotong royong membantu membersihkan rumah keluarga ini.

foto   foto

Keterangan :

  • Beberapa relawan sedang membersihkan rumah warga di Tikala Baru yang penuh dengan lumpur (kiri).
  • Pada Sabtu malam 1 Maret 2014, relawan dan warga berkumpul bersama dib alai Kelurahan Tikala Baru untuk acara ramah tamah (kanan).

Kedekatan antara relawan Tzu Chi luar kota, relawan lokal Manado, dan masyarakat Tikala Baru sangat terasa. Mulai dari lagu-lagu yang dinyanyikan, interaksi dengan perangkat desa, dan keakraban di kantor kelurahan dan dapur umum, meninggalkan banyak kesan mendalam bagi semua yang terlibat.

Banyak Kreativitas  Tercipta
Lagu menyayat hati yang dibawakan oleh Andi Musi, adalah wujud kepiluan yang hadir bersama suaranya yang merdu. Dua lagu yang tercipta oleh Jerry Moses Mamesah, merupakan kado yang indah bagi relawan Tzu Chi dan masyarakat Tikala Baru. Juga ada 48 jenis masakan vegetarian yang lezat adalah bukti cinta kasih dari para ibu yang meneteskan air mata ketika malam perpisahan tiba.

Dari kelurahan yang kecil ini, kami sama-sama belajar tentang bagaimana ketulusan dapat mengubah banyak hal. Dari keraguan menjadi kepercayaan, dari kepercayaan menjadi kepedulian, dari kepedulian menjadi kasih sayang. Torang samua basudara, biarlah slogan ini menjadi nyata dalam kehidupan kita semua. Kesedihan sudah berlalu, saatnya Manado bangkit kembali dengan ketulusan cinta kasih yang telah dipraktekkan bersama selama beberapa hari di tempat ini.

Tentu saja, kami sebagai relawan pun pulang dengan satu harapan dan doa. Agar jejak yang kami tinggalkan tidak berlalu begitu saja, namun dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat yang kami tinggalkan. Benih cinta kasih sudah ditanam, tinggal ketulusan jualah yang harus menyirami benih tersebut. Agar berakar kuat dan tumbuh dengan sempurna, berbuah kebajikan, menjadi perpanjangan tangan Master Cheng Yen di tanah Manado.

Berawal dengan kepiluan, namun berakhir dengan suka cita. Inilah buah dari ketulusan hati. Seperti yang tertuang dalam puisi seorang relawan di bawah ini:

Kita baru saja menyaksikan air mata kesedihan
Dari anak-anak negeri yang tanah kelahirannya
Telah terkoyak bencana….

Kita baru saja mendengar lantunan kepiluan
Dari sebuah hati
Yang kenangannya akan dego-dego telah hilang,
Di bawa air, dihanyutkan….

Kita baru sajaberjalan beriringan melewati duka itu..
Dengan sekop di tangan kanan,
semangat di setiap langkah,
dan kepingan kepedulian di setiap ujung jari…

Bersenandung doa agar kesedihan tak lagi merundung,
Merajut upaya agar semangat tak hanyut terbawa,
Menggenggam cinta di setiap hati.

Ketulusan yang bening,
Membawa suka cita,
Menatap esok,
Menentramkan dada…

Manado, Februari 2014
Rudi Suryana


Artikel Terkait

Pendidikan Budi Pekerti yang Didasari Cinta Kasih

Pendidikan Budi Pekerti yang Didasari Cinta Kasih

01 April 2015 Hari itu, 1 Maret 2015 dipilih untuk menjadi momen perkenalan perdana kelas Qin Zi Ban di tahun ajaran 2015 sekaligus melakukan ramah tamah perayaan imlek karena suasana hari raya imlek masih terasa hangat.
Banjir Jakarta: Belajar Menaklukkan Diri

Banjir Jakarta: Belajar Menaklukkan Diri

23 Januari 2013 Selama di perjalanan, Hok Lay terus memastikan kepada Muzakir kalau situasi di lapangan nanti tidak akan menjadi ricuh. Tapi Muzakir yang sedari tadi berkoordinasi dengan warganya melalui telepon selular memastikan kalau semuanya akan aman dan keselamatan relawan pun terjamin
Peduli Lingkungan dengan Daur Ulang

Peduli Lingkungan dengan Daur Ulang

01 November 2017
Didasari dengan hati yang tulus dan peduli terhadap kebersihan lingkungan, relawan Tzu Chi Bandung melaksanakan kegiatan pemilahan sampah daur ulang pada tanggal 29 Oktober 2017.
Cemberut dan tersenyum, keduanya adalah ekspresi. Mengapa tidak memilih tersenyum saja?
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -