Keyakinan untuk Sembuh

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Hadi Pranoto
 
foto

* Kondisi Budi Salim sebelum dioperasi. Akibat penyakitnya ini, Budi terpaksa harus menunda dulu keinginannya untuk bersekolah. Tahun ini, Budi berencana untuk sekolah lagi.

Mungkin jika Safira, atau yang akrab dipanggil Wawa ini tidak terlalu menggubris omongan orang dan tetangga, mungkin ia tidak akan beberapa kali kehilangan uang dan ditipu orang-tabib atau shinse-yang mengaku bisa mengobati penyakit putranya. “Saya bingung, ada orang bilang kalau ditanganin Yayasan Buddha Tzu Chi, cuma dibantu separuh. Terus nanti bibir anak saya katanya bisa sobek. Ya, saya jelas takut dong!” kata Wawa mengenang. Padahal ia sudah beberapa kali mendapat panggilan melalui telepon dari pihak Yayasan Buddha Tzu Chi.

Tidak Terpengaruh Orang
Semuanya bermula ketika di tahun 2006, putra bungsu pasangan Wawa dan Lim Kim, Budi Salim (7) menderita tumor jinak di rahang. Awalnya benjolan itu terlihat kecil, namun seiring berjalannya waktu, benjolan itu pun membesar. Di tahun yang sama, Wawa dan suaminya membawa Budi ke RS Tarakan, namun karena pihak rumah sakit tidak sanggup menangani, maka disarankan untuk membawa Budi berobat ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dokter pun menyatakan jika Budi harus segera dioperasi. “Ini nggak cukup sekali, harus tiga kali operasi,” terang dokter.

Mendengar ini, nyali Wawa pun menciut. Seorang suster yang bersimpati padanya menyarankan untuk membuat Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). “Tapi gimana caranya? Karena bingung, akhirnya ya udah saya antepin (biarkan -red) aja,” kata Wawa. Benjolan itu pun makin membesar di rahang Budi, hingga akhirnya Wawa mencoba membawanya ke shinse (ahli pengobatan tradisional China). Tapi di sana Wawa diminta membayar sebesar Rp 100.000,- termasuk obat. “Saya duit dari mana?” ujar Wawa. Akhirnya Budi pun urung berobat.

Tidak lama, ada orang yang bersimpati dan mengajak Budi untuk berobat alternatif. “Semuanya ‘kakak’ itu yang bayar,” terang Wawa. Lebih dari tiga kali Budi berobat, dan hanya dikenai biaya obatnya saja. Namun menjelang pengobatan berikutnya, Ibu Iing—nama penolong itu—keburu pergi ke Australia karena suatu urusan. Kembali Wawa dan suaminya kehilangan harapan. Di saat itulah seorang tetangga menyarankannya untuk meminta bantuan pengobatan ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Seperti menemukan cahaya terang, Wawa pun segera mengurus surat keterangan tidak mampu dari RT dan RW sebagai syarat yang diminta Tzu Chi.

foto   foto

Ket : - Kondisi Budi Salim sekarang pascaoperasi. Setelah pulih, Budi berencana untuk bersekolah kembali. (kiri)
         - Wawa dan Budi di rumahnya. Budi telah menjalani tiga kali operasi pengangkatan tumor di rahangnya.
            (kanan)

Tapi, sewaktu pihak Yayasan Tzu Chi memanggil untuk tahap pengobatan, Wawa justru bergeming. Keyakinannya berubah lantaran beberapa orang tetangganya ‘memberitahu’ sesuatu yang merisaukan hatinya. “Mereka bilang kalau ditangani Tzu Chi cuma dibantu separuh, terus nanti bisa ditinggal di tengah jalan. Belum katanya nanti bibir anak saya bisa sobek. Lah, saya kan jadi takut!” kata Wawa. Akhirnya Wawa pun memilih untuk kembali ke pengobatan tradisional. “Saya ditipu sama dukunnya, uang pinjaman habis, eh anak saya tetap aja nggak sembuh,” sesal Wawa.

Akhirnya hati Wawa kembali tergerak untuk menghubungi Tzu Chi. “Kata orang, kalau Budi nggak segera dioperasi bisa meninggal,” kata Wawa. Melalui relawan Tzu Chi, Chandra Dharmali, Wawa pun memulai pengobatan di rumah sakit. Waktu itu, ‘kabar miring’ tentang Tzu Chi pun kembali sampai di telinganya. “Ah, ngapain dengerin orang. Dengerin mulut orang mah kagak ada habisnya,” tegur salah seorang kerabat menasehati, “Gue jamin, nggak usah khawatir masalah keuangan.” Keyakinan Wawa pun bertambah dan tekadnya sudah bulat untuk mengobati anaknya. Dukungan pun datang dari sang suami. “Ke sini nggak sembuh, ke sana nggak. Mending kita ke Buddha Tzu Chi aja!” tegas Lim Kim.

Keraguan yang Pupus
Pada tanggal 4 Desember 2007, setelah selama 1 bulan dirawat, Budi Salim pun menjalani operasi pengangkatan tumor di rahangnya yang pertama di RSCM. Disusul kemudian dengan operasi kedua pada tanggal 11 Desember, dan terakhir operasi ketiga pada tanggal 21 Februari 2008. Kondisi Budi pun kini sudah pulih—memasuki tahap penyembuhan luka—dan sudah bisa makan seperti biasa, meski masih yang lunak. “Dokter bilang platnya belum dipasang dulu, takut jebol. Nanti kalau sudah dewasa baru dipasang lagi,” kata Wawa mengulang penjelasan sang dokter.

foto   foto

Ket : - Kini Budi bisa bermain dan ceria kembali. Padahal, beberapa waktu sebelumnya nyawanya sempat
            terancam. (kiri)
         - Wawa bersama kedua anaknya, Budi dan Welly, di rumahnya. Di depan rumahnya ini, Wawa dan suaminya
            berjualan bakmi untuk menopang kebutuhan hidup sehari. (kanan)

Kini Budi pun sudah sembuh dan bisa kembali bermain seperti biasa. Banyak yang berubah dari Budi sekarang, dia tak lagi menutupi sebagian wajahnya kala berjalan ke tempat-tempat ramai. “Budi mau sekolah lagi,” katanya. Apa yang diyakini Wawa dan suaminya ternyata tidaklah sia-sia. Setelah Budi sembuh, segala kabar miring tentang Tzu Chi pun mendadak sirna, bahkan berbuah simpati. “Banyak orang bilang, ‘Bagus juga ya Buddha Tzu Chi bantunya sampai tuntas seperti ini.’ Saya juga berterima kasih banyak kepada Tzu Chi. Kalau nggak cepat-cepat ditangani, mungkin anak saya sekarang dah tinggal nama,” kata Wawa lirih, sambil menatap Budi yang tertawa ceria saat bersenda gurau dengan kakaknya.

 

Artikel Terkait

Menggalang Bodhisatwa Baru

Menggalang Bodhisatwa Baru

21 Maret 2014 Relawan Tzu Ching Pluit bersama dengan relawan komunitas Hu Ai Pluit mengadakan sosialisasi kepada mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Trisakti di Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Semangat Sosialisasi Waisak

Semangat Sosialisasi Waisak

28 April 2015
Kegiatan ini diadakan pukul 11:00 setelah kebaktian pagi dan diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari umat Wihara Satrya Dharma dan umat Cetya Bodhicita. Walaupun sudah sejak pagi melakukan kegiatan namun umat yang datang tetap mengikuti sosialisasi ini dengan semangat dan sepenuh hati mendengarkan penjelasan relawan.
Merayakan Imlek Bersama Bodhisatwa Cilik

Merayakan Imlek Bersama Bodhisatwa Cilik

08 Februari 2017

Pada Minggu, 05 Februari 2017, 92 Xiao Pu Sa (Bhodhisatwa Cilik) kelas lanjutan yang tergabung dalam Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi Medan merayakan Imlek bersama di Kantor Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan.

Cinta kasih tidak akan berkurang karena dibagikan, malah sebaliknya akan semakin tumbuh berkembang karena diteruskan kepada orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -