Kunjungan dan Perhatian untuk Nenek Juliwati

Jurnalis : Arimami Suryo A, Fotografer : Arimami Suryo A

Tim medis RS Cinta Kasih Tzu Chi dan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2 mengunjungi dan memeriksa kodisi Nenek Juliwati Mutiara (78) setelah tiga bulan pascaoperasi PHA D (ganti bonggol) kaki sebelah kanan.

Di usia senjanya, Nenek Juliwati Mutiara (78) masih giat untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Tapi sayang, semenjak pandemi dan karena adanya musibah, membuatnya harus berhenti menjadi guru bahasa Mandarin yang ia lakoni dengan berkeliling naik sepeda. Pascaterjatuh, Nenek Juliwati kini berusaha kembali belajar berjalan setelah mendapatkan penanganan medis di RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng.

Senin pagi, 11 April 2022 menjadi hari yang tidak akan dilupakan oleh Nenek Juliwati. Selesai anaknya memulung yang dilakukan malam hari, Nenek Juliwati berniat untuk membantu merapikan barang-barang daur ulang yang sudah terkumpul. Namun nahas, saat sedang merapikan tiba-tiba Nenek Juliwati terjatuh. Dengan susah payah, Lansia ini berusaha untuk bangkit, tapi terjatuh lagi hingga beberapa kali. Saat kejadian, anaknya sudah keluar dari rumah sehingga tidak mengetahui jika ibunya terjatuh.

Nenek Juliwati berusaha meminta tolong, tetapi karena hari belum begitu terang tak banyak orang yang lewat di depan rumahnya. Saat hari sudah mulai terang, barulah beberapa tetangga melihat dan membantu Nenek Juliwati untuk masuk ke dalam rumahnya. Setelah terjatuh, Nenek Juliwati kesulitan berjalan lagi, karena ada rasa sakit di bagian pangkal kaki kanannya.

Saat dirawat di RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, relawan Tzu Chi memberikan perhatian kepada Nenek Juliwati.

Menjadi memulung tentunya bukan menjadi keinginan Nenek Juliwati, tetapi hal tersebut ia lakoni karena tidak ada penghasilan lagi dari mengajar. Murid-muridnya menghentikan kegiatan kursus bahasa Mandarin karena Covid-19. Sejak 2020, Nenek Juliwati akhirnya ikut menjadi pemulung bersama salah satu anaknya yang memiliki kebutuhan khusus untuk bertahan hidup. Nenek Juliwati sendiri awalnya memiliki 3 orang anak, salah satu sudah meninggal dunia, ada yang pergi meninggalkan rumah, dan seorang anak yang kini tinggal dengannya.

Pascaterjatuh, Nenek Juliwati hanya bisa diam karena sudah sulit berjalan dan mendapatkan perawatan di rumah. Salah satu wihara yang berada di dekat rumahnya juga membantu Nenek Juliwati dengan mengirimkan bantuan logistik serta SDM untuk merawatnya. Karena kondisinya tak kunjung membaik, Nenek Juliwati kemudian dibawa ke RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng pada 8 Juni 2022 untuk memeriksakan kondisi kakinya.

Ternyata setelah dicek, dokter mendiagnosa ada kerusakan di bonggol kaki kanan Nenek Juliwati dan harus diganti dengan tindakan operasi. Karena kondisinya tidak mampu, kemudian kasus Nenek Juliwati diserahkan kepada relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2. Setelah disurvei oleh relawan Lenni Burhan, ternyata Nenek Juliwati memiliki BPJS.

Staf RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng begitu peduli dengan Nenek Juliwati. Bahkan sampai ikut mengatarnya pulang dengan ambulan setelah dirawat intesif pascaoperasi.

Setelah didiskusikan, penanganan medis yaitu operasi biayanya menggunakan bantuan asuransi BPJS, sedangkan biaya yang tidak dicover asuransi BPJS ditanggung oleh Tzu Chi. Selama dirawat di RS Cinta Kasih Tzu Chi, para perawat serta relawan pemerhati rumah sakit juga memberikan pendampingan serta perhatian kepada Nenek Juliwati.

Tiga bulan pascaoperasi PHA D (ganti bonggol) pada kaki sebelah kanan di RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, 14 Juni 2022, Nenek Juliwati Mutiara (78) kembali dijenguk oleh tim medis RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Kunjungan ke kediaman Nenek Juliwati di Jl. Ratu Flamboyan Timur 2, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Rabu, 3 Agustus 2022 ini juga didamping relawan Tzu Chi komunitas He Qi Barat 2.

Dalam kunjungan kali ini, tim medis RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng dan relawan melihat perkembangan Nenek Juliwati pascaoperasi. Saat dikunjungi, Nenek Juliwati tampak bersemangat karena banyak yang memberikan perhatian kepadanya. Setelah dicek tekanan darah dan suhu badan, dokter RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng kemudian melihat kemampuan Nenek Juliwati yang kini sudah bisa berjalan walaupun masih dengan alat bantu.

Setelah berada di rumah, relawan Tzu Chi juga kerap mengunjungi Nenek Juliwati untuk memberikan perhatian serta semangat untuk sembuh.

“Sudah lebih baik dari yang dulu, sudah bisa berjalan pakai kruk (alat bantu jalan). Kami berharap dia (Nenek Juliwati) bisa beraktivitas kembali, karena dia guru Mandarin yang mengajar dengan berkeliling naik sepeda. Secara umum kami mengecek kondisinya, secara khusus kami juga membantu psikisnya. Jadi kami mengobati bukan hanya penyakitnya, tapi psikisnya juga kami perbaiki,” jelas dr. Toto Suryana yang ikut dalam kunjungan.

Linna Burhan yang saat ini menjadi relawan pendamping Nenek Juliwati juga merasa senang melihat semangat dan perkembangannya. Dalam beberapa kesempatan kunjungan kasih, relawan juga membantu merawat dan membersihkan badan Nenek Juliwati di masa pemulihan.

“Saya sangat senang dan bahagia, nenek ini sangat bersemangat untuk bisa sembuh. Karena rumah saya lokasinya tidak jauh, pendampingan yang saya lakukan dalam berapa kesempatan adalah memberi perhatian, membersihkan badan, dan menyuapi makan saat awal-awal pulang dari RS. Saya berharap dia bisa sembuh dan mengajar kembali untuk menopang kebutuhan keluarga,” kata Linna Burhan saat mendamping tim medis dari RS Cinta Kasih Tzu Chi di rumah Nenek Juliwati.

Relawan pendamping Nenek Juliwati, Lenni Burhan (kanan) bersama relawan Tzu Chi lainnya membantu Nenek Juliwati latihan berjalan menggunakan kruk (alat bantu jalan).

Saking senangnya dikunjungi, Nenek Juliwati yang ingatannya masih sangat bagus kemudian menceritakan pengalaman masa mudanya dulu dengan bahasa Mandarin. Mendengar cerita-ceritanya diterjemahkan oleh relawan, tim medis RS Cinta Kasih Tzu Chi dan relawan Tzu Chi yang ikut dalam kunjungan ini tertawa dan salut dengan pengalaman Nenek Juliwati.

“Seneng dong, karena rame-rame. Perhatianlah, kalau datang (relawan Tzu Chi) bawa makanan. Trus bilang, ‘sabar ya nanti bisa sembuh kok’, saya kan hatinya jadi tenang juga. Saya mau sembuh dong, mau ngajar murid-murid lagi,” ungkap Nenek Juliwati bersemangat.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Berbagi Pengalaman, Berbagi Keceriaan

Berbagi Pengalaman, Berbagi Keceriaan

10 Agustus 2015

Sebanyak 19 muda-mudi Tzu Chi (Tzu Ching) Taiwan tiba di Indonesia pada Jumat, 7 Agustus 2015. Di Indonesia, para Tzu Ching ini berbagi pengalaman dengan Tzu Ching Indonesia, sekaligus mengenal budaya dan melihat jejak Misi Pendidikan Tzu Chi di Indonesia.

Kunjungan Kasih: Asa Untuk Oma Giok San dan Pak Agus

Kunjungan Kasih: Asa Untuk Oma Giok San dan Pak Agus

19 Maret 2015 Bapak Agus Suryadi kini telah satu setengah tahun menderita koma akibat kecelakaan motor yang menimpa dirinya. Tepatnya tanggal 31 Agustus 2013, ia dan Bu Mity sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Saat itu, motor yang dikendarainya menabrak tembok jalan layang karena menghindari mobil yang berlawanan arah di daerah Jembatan Tiga. Akibat kejadian itu, Bu Mity terpaksa berhenti bekerja untuk merawat suaminya dan putri mereka yang berusia dua tahun, Felliani.
Bahagia Dalam Perhatian

Bahagia Dalam Perhatian

06 Februari 2015 Bagi oma opa, berkumpul dengan relawan merupakan kebahagiaan bagai berkumpul kembali dalam satu keluarga besar. Mereka berharap bisa berkumpul kembali dengan lebih banyak relawan pada kunjungan berikutnya.
Bila kita selalu berbaik hati, maka setiap hari adalah hari yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -