Kunjungan Tzu Chi Malaysia: Menggali Lebih Dalam

Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati

Kunjungan tim pendidikan

Tim pendidikan Tzu Chi Malaysia berkunjung ke sekolah Tzu Chi Indonesia untuk mempelajari secara keseluruhan persiapan-persiapan yang dilakukan dalam mendirikan sebuah sekolah. Misalnya saja persiapan tenaga pendidik dan staf, sistem, prosedur, hingga kurikulum yang diterapkan.

Selama tiga hari, 14-16 Maret 2016, Tzu Chi Indonesia kedatangan 31 tamu dari Tzu Chi Malaysia yang terdiri dari 28 orang yang tergabung dalam tim pendidikan dan 3 dokter. Latar belakangnya, Tzu Chi Malaysia sedang merencanakan pembangunan sekolah internasional untuk tingkat sekolah dasar dan menengah yang rencananya akan dimulai dua tahun mendatang.

“Di Malaysia baru Tzu Chi baru ada taman kanak-kanak untuk usia empat hingga enam tahun. Di Indonesia, Tzu Chi memiliki taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, sistem pendidikannya lebih lengkap. Jadi sekarang Tzu Chi Malaysia ingin mulai merencanakan pendidikan untuk tingkat sekolah dasar  dan menengah yang serupa dengan sekolah internasional Tzu Chi,” kata Ketua Rombongan Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia, Sio Kee Hong di sela-sela diskusi bersama Tim Pendidikan Tzu Chi Indonesia.

Selain melakukan observasi ke kelas dan fasilitas sekolah, Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia juga mempelajari persiapan-persiapan yang dilakukan untuk mendirikan sebuah sekolah. Misalnya saja persiapan tenaga pendidik dan staf, sistem, prosedur, hingga kurikulum yang diterapkan. “Dalam proses kunjungan resmi ini, selain melihat hardware fasilitas sekolah, kita juga melihat software sekolah, termasuk semangat, nilai-nilai budi pekerti, dan lain-lain,” ujar Sie Kee Hong yang juga merupakan Deputy Chief Executive Officer Kantor Cabang Selangor, Malaysia ini. “Pengalaman ini dapat dibawa pulang bagi kami untuk membuat standar sekolah dan pendidikan seperti yang diharapkan Master Cheng Yen yaitu dapat mendidik murid dengan pemahaman akademik dan nilai budi pekerti yang baik,” sambungnya.

Kunjungan tim pendidikan

Selain diskusi dengan para tenaga pendidik Sekolah Tzu Chi Indonesia, anggota Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia juga berinteraksi langsung dengan anak-anak selama kunjungannya pada 14-16 Maret 2016.

Lai Sin Siang, salah satu peserta kunjungan yang nantinya akan bertanggung jawab menjadi Kepala Sekolah Tzu Chi di Malaka, Malaysia ini memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk terus menggali informasi dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan selama diskusi. “Banyak sharing yang sangat bermanfaat untuk kita. Seperti bagaimana mengoordinir sebuah sistem pengajaran untuk sekolah dari semua aspek untuk menjadikan sekolah dengan konsep dan filosofi Tzu Chi yang baik,” ujar Lai Sin Siang dengan logat melayunya yang kental.

Lebih lanjut, mantan kepala sekolah di salah satu sekolah menengah di Malaysia ini mengaku banyak hal yang bisa dipelajari dari sistem pendidikan yang diterapkan oleh Sekolah Tzu Chi Indonesia. “Kita akan menerapkan sistem yang dijalankan sekolah ini. Sebab, sekolah ini mengutamakan pendidikan moral. Selepas ini, kami akan melihat kembali untuk membangun sekolah dengan sistem terbaik yang sesuai di Malaysia dengan semangat filosofi Tzu Chi,” tuturnya.

Kunjungan tim pendidikan

Ketua Rombongan Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia, Sio Kee Hong mengaku selain melihat hardware sekolah juga melihat software yang nantinya akan dipersiapkan untuk mendirikan sekolah bertaraf internasional di Malaysia.

Dalam kunjungannya ini, Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia bukan hanya mempelajari sistem pendidikan Sekolah Tzu Chi Indonesia yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara saja, namun mereka juga mengunjungi Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi di Cengkareng, Jakarta Barat. Lai Sin Siang mengaku tersentuh dengan kisah sejarah berdirinya sekolah tersebut. “Saya terharu pada hari pertama sampai (di Indonesia -red) yang memberikan satu pandangan yang luas. Sebab, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi dibangun pada masa yang sulit dan ditujukan untuk memberikan pendidikan bagi penduduk di sana,” ungkap Lai Sin Siang. Dia menambahkan bahwa Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi mampu memberikan pengaruh yang baik karena tidak membeda-bedakan murid maupun orang tua berdasarkan agama, suku, atau ras.

Kunjungan tim pendidikan

Lai Sin Siang (kanan) melambaikan tangannya kepada murid-murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng yang tengah menyambut rombongan di gerbang sekolah.

Saling Berbagi, Saling Belajar

Direktur Sekolah Tzu Chi Indonesia, Sudino Lim mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia merupakan langkah yang tepat dalam merencanakan persiapan mendirikan sekolah. “Tahap ini masih tahap persiapan karena masih dua tahun lagi. Ini momen yang tepat untuk melakukan studi banding, ke arah mana sekolah yang akan kita dirikan,” ujarnya. Menerima kunjungan dari pihak lain bukan berarti tidak memperoleh ilmu baru dari mereka, justru sekolah Tzu Chi Indonesia juga banyak belajar hal-hal baru. Terlebih mereka adalah kepala sekolah dan guru yang memiliki latar belakang pendidikan mengelola pendidikan yang cukup dalam. “Dari kunjungan ini, kita dapat masukan-masukan bahwa beberapa hal seperti menjalankan sekolah harus seperti ini dan itu. Tentu hal-hal baik kita tampung. Inisiatif baik selalu kita pikirkan untuk kemajuan sekolah,” ungkap pria yang akrab disapa Lim ini.

Kunjungan tim pendidikan

Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia juga melakukan observasi pada saat jam makan siang.

Senada dengan itu, Tinnie Tiolani, relawan pendidikan Sekolah Tzu Chi Indonesia juga mengaku banyak hal yang bisa saling berbagi antara tim pendidikan dari Malaysia dengan Indonesia. “Ini kesempatan baik karena dengan saling berbagi, saling cari pengalaman apa yang bisa ditingkatkan bisa menjadi suatu proses untuk menjadi lebih memajukan pendidikan khususnya di Malaysia dan Indonesia,” ujar Cennie, sapaan karibnya. 

Kunjungan tim pendidikan

Sudino Lim, Direktur Sekolah Tzu Chi Indonesia memberikan sambutan kepada 31 rombongan dari Tim Pendidikan Tzu Chi Malaysia.

Cennie pun terkesan dengan relawan dari Malaysia yang datang ke Indonesia dengan berpikiran terbuka sementara pendidikan Tzu Chi di Malaysia juga memiliki budaya humanis yang sangat kuat. “Pada point ini, kita juga belajar dari para relawan dan guru Malaysia. Namun begitu juga dengan mereka belajar lebih lagi bagaimana penerapan budaya humanis di negara lain, karena Indonesia (dengan Malaysia –red) secara kultur dan budaya agak berdekatan,” ucapnya.


Artikel Terkait

Hanya orang yang menghargai dirinya sendiri, yang mempunyai keberanian untuk bersikap rendah hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -