Masih Ingin Berbuat Untuk Orang Lain

Jurnalis : Eillen (Tzu Chi Timur), Fotografer : Eillen (He Qi Timur)
 
foto

* Lie Hai Yong menyambut gembira kedatangan relawan Tzu Chi. Keceriaan di wajahnya tidak menampakkan penderitaan yang dialaminya karena tumor di saluran indung telurnya.

Hidup adalah sebuah perjalanan; ketika lahir kita naik kereta api ekspres dan menuju ke tujuan yang tak terhindarkan yaitu kematian. Pemandangannya terus berubah, dan satu-satunya hal bermakna yang dapat kita lakukan adalah menjadi baik dan penuh kasih sayang kepada sesama penumpang.
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Pukul 12.00 siang, tanggal 8 April 2009, matahari tepat berada di atas kepala saat para relawan Tzu Chi tiba di rumah Lie Hai Yong (53) di kawasan Ciledug, Jakarta Selatan. “Silahkan masuk, Shijie-Shijie…,” sambut Hai Yong dengan gembira. Tubuhnya tampak kurus, berlawanan dengan perut yang membesar. Ia berjalan keluar dengan untuk menyambut kami. Hai Yong merupakan salah satu relawan Tzu Chi daerah Kelapa Gading yang termasuk sudah senior. Ia bergabung dengan Tzu Chi sejak tahun 1999, namun kondisi kesehatannya membuat Hai Yong terpaksa berhenti sementara dari kegiatan Tzu Chi.

Ketegaran Hati dan Keikhlasan
“Awalnya saya merasa seperti ada bola yang cukup keras di dalam perut saya,” begitulah Hai Yong memulai cerita tentang penyakit yang dideritanya. Ia mulai merasakan ada yang tidak wajar dalam perutnya sejak perayaan Waisak tahun lalu (bulan Mei 2008 –red). Maka ia pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan dengan USG namun saat itu dokter tidak menemukan apa-apa. Hai Yong pun tidak terpikir ada sesuatu yang membahayakan dalam tubuhnya saat itu.

Sebelumnya pada tahun 2000 yang lalu, Hai Yong pernah memiliki kista di rahimnya. Saat itu keluarga dan kerabatnya menyarankan untuk mengoperasi dan mengangkat kista tersebut. Dengan bermodal tekad dan keinginan untuk sembuh, ia menjalankan operasi pengangkatan kista beserta rahimnya seorang diri, tanpa ditemani keluarga dan kerabatnya. Hai Yong tidak ingin merepotkan mereka. Lima hari pascaoperasi, ia kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan kembali kondisi kesehatannya dan dokter mengatakan kondisi sudah baik.

Pada bulan November 2008, perutnya semakin membesar. Maka ia kembali pergi ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya. Dokter mengatakan ada cairan dan myom yang bersarang di saluran indung telurnya. Untuk lebih meyakinkan, dokter pun merujuk Hai Yong untuk memeriksakan keluhannya ke RS Kanker Dharmais dan menyarankan untuk CT scan dan USG 4 Dimensi. Setelah berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan, barulah jelas bahwa Hai Yong mengidap kanker di saluran indung telurnya. Dokter yang menangani penyakitnya menyarankan Hai Yong untuk segera dioperasi. Namun karena alasan keuangan Hai Yong menundanya.

Kanker yang bersarang di tubuhnya membuat bobot tubuhnya turun dari 56 kilogram menjadi 40 kilogram dalam waktu tiga bulan. Selama kurun waktu tiga bulan tersebut memang nafsu makan Hai Yong menurun drastis. Ia tidak berselera dan perutnya terasa mual bila terisi makanan. Hanya buah-buahan yang bisa ia konsumsi. “Saya tetap berusaha untuk makan nasi, walaupun harus sampai muntah,” jelasnya. Menjelang malam pun tidak dirasa nyaman baginya. “Setiap malam saya hanya tidur satu jam,” tutur Hai Yong. Napas yang sesak dan perut yang terasa sakit membuatnya sulit terlelap.

“Saya tidak pernah mengeluh, saya tidak pernah menangis, dan saya juga tidak pernah menyesal,” kata-kata itu terucap dari bibir Hai Yong dengan lantang dan lugas. Sikap tegar dan kuat pun ditunjukkannya agar orang lain yang melihatnya tidak iba dan kasihan. “Saya merasa ini memang karma yang harus saya jalani dan tidak bisa saya hindari. Apa yang terjadi pada hidup saya, saya jalani dengan perasaan ikhlas. Jadi untuk apa saya bersedih, untuk apa saya mengeluh, hanya akan membuat orang-orang di sekitar saya mengkhawatirkan saya dan menjadi repot karena keluhan saya,” tuturnya pada 8 relawan yang datang berkunjung hari itu.

Hai Yong merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Kehidupan masa kecil ia lalui dengan bahagia. Ayah dan ibunya cukup memberikannya kasih sayang. Selepas pendidikan SMP, ia tidak lagi melanjutkan sekolah ke jenjang SMU, melainkan lebih tertarik membantu usaha ayahnya yang bergerak di bidang material (toko bangunan -red) di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Setelah Ayahnya meninggal pada tahun 2002, ibunya menyusul pada tahun 2004, praktis usaha yang telah ayahnya rintis harus ia kembangkan seorang diri. Karena kesibukannya itu pula, hingga kini Hai Yong belum menikah.

foto  foto

Ket : - Hai Yong mengembalikan bantuan yang diterima dari Tzu Chi untuk biaya pengobatannya. Ia memutuskan
           untuk tidak menjalani operasi. “Uang ini bisa dipakai untuk orang yang lebih membutuhkan,” katanya. (kiri)
         - Hai Yong ingin segera aktif kembali menjadi relawan Tzu Chi. Ia ingin memanfaatkan waktu yang
           masih dimiliki untuk berbuat kebajikan. Relawan Tzu Chi berdoa bersama untuk kesembuhannya. (kanan)

Permohonan bantuan pengobatan Tzu Chi
Setelah sakit, ia tidak lagi sibuk mengurusi usahanya. Adiknya memintanya untuk pindah ke rumahnya di daerah Ciledug, Jakarta Selatan agar dapat menemaninya. Untuk biaya pengobatannya, selain menggunakan tabungannya sendiri, Hai Yong juga dibantu oleh saudara-saudaranya.

Setelah mendengarkan penjelasan dokter yang mengharuskan operasi untuk mengangkat tumor di saluran indung telurnya, Hai Yong segera menanyakan prosedur permohonan bantuan pengobatan Tzu Chi. Setelah mendapat informasi yang lengkap, ia pun mendaftar untuk mendapatkan bantuan pengobatan. Tidak menunggu lama, bantuan pun segera disetujui.

Namun sewaktu berdiskusi dengan keluarga dan kerabatnya, mereka menyarankan agar Hai Yong tidak menjalani operasi mengingat kondisi tubuhnya yang lemah dan resiko yang akan terjadi setelah operasi. Hai Yong tidak semerta-merta mengikuti saran dari keluarga dan teman-temannya, ia mencari informasi dengan banyak membaca buku dan media lainnya untuk menunjang keputusan yang akan diambil.

Dengan penuh kesadaran akan kondisi tubuhnya dan keikhlasan di dalam hati, ia pun memutuskan untuk tidak menjalankan operasi. Ia sadar bahwa tumor yang ada di dalam perutnya sudah besar dan bila dilakukan operasi pengangkatan akan membahayakan nyawa. Selain itu ia memikirkan biaya yang akan dikeluarkan sangatlah besar. Sehingga ia memutuskan untuk menjalani kehidupan ini dengan membawa tumor yang ada dalam tubuhnya. Permohonan bantuan pengobatan Tzu Chi yang telah disetujui pun dikembalikannya kembali. “Saya ingin uang yang awalnya direncanakan oleh Tzu Chi untuk biaya operasi saya bisa dipakai untuk orang lain yang lebih membutuhkan, mungkin akan lebih berarti,” ucapnya dengan senyum mengembang. Ia berharap dengan kondisi tubuhnya yang sekarang ini, ia masih bisa membantu orang lain dan berbuat kebajikan. “Malah saya ingin berdana,” tuturnya, dengan rasa terharu para relawan menganggukkan kepala.

Saat ditanya apakah masih ingin aktif di kegiatan Tzu Chi, dengan rona wajah yang penuh semangat Hai Yong mengatakan, “Mau… kalau saya bisa jalan jauh dan bisa ngompreng, saya pasti sudah berangkat. Cuma kondisi saya nggak memungkinkan. Untuk naik kendaraan saja saya tidak bisa, angkat kaki juga tidak bisa.” Para relawan yang kagum dengan semangat Hai Yong sempat menanyakan apa alasannya. Hai Yong menjawab, “Saya hanya ingin berbuat baik dan saya masih ingin berbuat sesuatu untuk orang lain. Masih banyak orang lain yang butuh pertolongan kita. Tapi apa daya, saya belum bisa berbuat banyak. Kalau saya sembuh, saya pasti maju lagi.”

Di akhir kunjungan, Hai Yong berpesan untuk sesama penderita sepertinya untuk dapat tegar dan kuat menjalani kehidupan ini, karena hidup ini hanya sementara. Pergunakan waktu kita sebaik mungkin dengan berbuat kebajikan, menolong sesama dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan selama ini. Semoga Hai Yong Shijie dapat lekas sembuh dan bergabung kembali bersama Tzu Chi menjalankan misi kemanusiaan.

 

Artikel Terkait

Kamp Humanis DAAI TV 2018:

Kamp Humanis DAAI TV 2018: "Tidak Ada Kolam Lumpur, Tidak Ada Teratai"

12 Maret 2018
Kamp Humanis DAAI TV 2018 hari ketiga menghadirkan pemirsa DAAI TV. Mereka diundang untuk sharing pengalaman di mana hidup mereka berubah menjadi lebih baik karena mendapatkan inspirasi dari tayangan-tayangan DAAI TV.
Hari Peduli Sampah Nasional 2024

Hari Peduli Sampah Nasional 2024

01 Maret 2024

Sebanyak 8 orang relawan Tzu Chi Pekanbaru memanfaatkan momen Peringatan Hari Sampah Nasional 2024 untuk mengisi materi peduli sampah di SMA Dharma Loka Pekanbaru.

Semua Demi Mama

Semua Demi Mama

14 Maret 2014 Yessa dan ibunya menerima celengan bambu yang diberikan oleh relawan Tzu Chi. menurut Hok Chun melalui celangan bambu inilah kasih yang kecil menjadi besar.
Hanya dengan mengenal puas dan tahu bersyukur, kehidupan manusia akan bisa berbahagia.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -