Memahami Makna Bulan Tujuh Lunar

Jurnalis : Mettayani (Tzu Chi Pekanbaru), Fotografer : Dok. Tzu Chi Pekanbaru

Relawan Tzu Chi Pekanbaru melaksanakan kegiatan “Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah” secara online melalui aplikasi Zoom.


Pada Minggu, 29 Agustus 2021 Tzu Chi Pekanbaru mengadakan kegiatan “Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah” secara online. Sudah hampir 2 tahun ini kita semua serasa terkukung dan tidak leluasa mengadakan kegiatan ini secara offline karena pandemi Covid-19. Namun semua ini tidaklah menjadi rintangan untuk melakukan kegiatan, karena masih bisa dilakukan secara online yang tidak mengurangi hikmatnya.

Bulan tujuh dalam penanggalan Lunar bagi sebagian besar orang yang masih memegang adat tradisi turun temurun akan menganggapnya sebagai bulan yang tidak baik atau bulan hantu. Dimana ada kepercayaan bahwa selama bulan tujuh, hantu-hantu mendapatkan kebebasan datang ke dunia manusia dan bergentayangan. Sehingga orang- orang akan menghindari untuk melakukan kegiatan penting seperti pesta pernikahan, peresmian toko, bepergian, dan lain-lain.

Bagi praktisi Buddhis yang sudah memahami ajaran Buddha secara benar akan menganggap bulan tujuh sebagai bulan yang penuh berkah. Mengapa demikian? Karena bulan tujuh adalah bulan penuh suka cita dimana Sang Buddha sangat bersuka cita karena murid-muridnya memperoleh pencapaian dalam Dharma. Disebut juga bulan penuh syukur dimana para anggota Sangha sangat bersyukur kepada Buddha yang telah membabarkan Dharma.

Anggota Sangha juga membimbing orang-orang untuk selalu bersyukur kepada Buddha, Dharma, Sangha, orang tua, dan semua makhluk serta segala sesuatu yang ada di dunia. Dan terakhir adalah bulan penuh bakti yakni berbakti kepada orang tua dan leluhur.

The Ha Hun (66) yang biasa dipanggil relawan dengan sebutan “Amaksharing tentang sembahyang dengan menu vegetarian di bulan tujuh dalam penanggalan Lunar.


Insan Tzu Chi Pekanbaru juga berusaha untuk memberikan pandangan yang benar tentang makna dari bulan tujuh yang sesungguhnya. Kegiatan “Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah” secara online ini pun diawali dengan Ceramah Master Cheng Yen yang membahas tentang The True Meaning of The Seventh Lunar Month (Makna Sesungguhnya dari Bulan tujuh Lunar).

Selanjutnya The Ha Hun (66) yang biasa dipanggil relawan dengan sebutan “Amak” adalah mama tercinta dari Liliana (48) yang berbagi pengalaman dalam kegiatan ini. Amak sendiri berjodoh dengan Tzu Chi di usia senja dan telah dilantik sebagai relawan Abu Putih pada tahun 2018. Sebelum pandemi, Amak sering bersumbangsih di bagian konsumsi, pembuatan kue bulan, dan banyak masakan Amak yang menjadi favorit relawan. Di masa pandemi, Amak juga mendapatkan berkah menjahit masker. Amak selalu berkegiatan Tzu Chi dengan hati penuh sukacita dan merasakan kehangatan cinta kasih keluarga besar Tzu Chi.

Pada kesempatan ini Amak berbagi pengalaman menjalankan pandangan yang benar yakni melakukan sembahyang dengan menu vegetarian dan tidak lagi membakar kertas sembahyang. Keputusan sembahyang vegetaris sudah dilakukan selama 7 tahun (sejak suami tercinta meninggal). Keputusan sembahyang vegetaris juga sempat mendapatkan pertentangan dari salah satu keluarga almarhum suami Amak. Amak yang sudah mulai memahami akan Buddha Dharma tetap berpegang teguh pada keputusannya yang juga didukung oleh anak-anak.

Ketika Amak memutuskan untuk tidak membakar kertas sembahyang, ada sedikit kegalauan dan ketakutan. Namun karena sering mendengar Ceramah Master Cheng Yen dan penjelasan teman-teman relawan di Tzu Chi serta dukungan Liliana, akhirnya Amak menetapkan hati untuk tidak membakar kertas sembahyang dan dana membeli kertas sembahyang ditabung di celengan untuk membantu orang lain. Ini adalah salah satu sikap Bodhisatwa lansia yang bijaksana dan welas asih. Bisa teguh membuat keputusan untuk menjalankan pandangan yang benar.

Mega Silvia Budaya adalah putri dari relawan Tzu Chi Pekanbaru, Tishe (Lutiana) menceritakan tentang keputusannya berbakti kepada orang tua ditengah kesibukan kuliahnya.


Selanjutnya para Bodhisatwa yang sudah menyelami Sutra Pertobatan melalui latihan isyarat tangan selama beberapa bulan ini memperagakan Isyarat Tangan Miao Yin (Bertobat Satu per Satu). Sebagai manusia awam tanpa kita sadari sering menciptakan karma lewat tubuh, ucapan dan pikiran. Sadar akan kesalahan yang dilakukan, maka kita harus bertobat secara terbuka dan bertekad tidak melakukan kesalahan yang diperbuat.

Bulan tujuh juga dikenal sebagai bulan penuh bakti. Pada kesempatan ini, Tzu Chi Pekanbaru mengundang dua orang anak muda untuk berbagi kepada para peserta apa wujud bakti yang telah mereka lakukan. Sharing mereka sungguh luar biasa dan menginspirasi sekaligus membuat para peserta yang mengikuti Zoom berdecak kagum.

Mega Silvia Budaya adalah putri tercinta dari relawan Tzu Chi Pekanbaru, Tishe (Lutiana) yang sedang menempuh Pendidikan di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Mega juga merupakan generasi pertama dari Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Pekanbaru. Ketika mamanya sakit dan butuh pendampingan, Mega tanpa ragu membuat keputusan untuk pulang ke Pekanbaru untuk merawat mamanya. Padahal saat itu lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan skripsi. Yang terpikir oleh Mega waktu itu hanyalah agar mamanya bisa sembuh dan kembali beraktivitas seperti biasa dengan tubuh yang sehat.

Karenanya penyelesaian skripsi menjadi tertunda setahun. Tapi Mega tidak menyesali keputusan yang diambil dan konsekuensinya. “Meskipun telat paling nggak Mega sudah melakukan kewajiban sebagai anak mama, dibanding skripsi tepat waktu tapi Mega nggak jaga mama, yang ada malah penyesalan seumur hidup,” ungkap Mega dengan wajah tersenyum.

Cleven, salah seorang mahasiswa di Jakarta yang harus pulang ke Pekanbaru akibat pandemi langsung mengurus akong-nya (kakek) yang sedang sakit dan merawatnya.


Masa-masa mendamping mama selama sakit memberikan banyak suka dan duka yang menempa Mega menjadi seorang gadis cantik yang bertanggung jawab, dewasa, bijaksana serta bisa mengambil keputusan yang tepat di saat yang tepat. Para relawan juga sangat bahagia dan bangga bagaimana Mega begitu telaten menjaga mama dari pengaturan makanan, obat-obatan, dan lain-lain. Kondisi juga mengasahnya menjadi lebih sabar dan dapat menahan emosi menghadapi persoalan agar tidak membuat mama khawatir.

Berbakti juga harus dilakukan kepada kakek dan nenek kita, karena tanpa mereka tidak akan ada orang tua kita dan juga tidak ada kita. seperti yang dilakukan Cleven, salah seorang mahasiswa Binus Jakarta yang harus pulang ke Pekanbaru akibat pandemi. Akong (kakek) dari Cleven sedang sakit dan butuh ada yang menjaga, membawa mandi ke kamar mandi, serta menyiapkan makan. Cleven mendapat tugas membawa akong ke kamar mandi untuk mandi.

Karena sebelumnya bersekolah di sekolah Katolik, ada satu ayat di Kitab Suci yang sangat menginspirasi Cleven dan diterapkan di dalam kehidupan yakni memberikan bantuan harus dengan segala ketulusan, tangan kanan memberi dan tangan kiri tidak tahu. Jadi melakukan kebajikan itu tidak perlu dipamerkan. Melakukan kebajikan harus dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan. Selama membantu Akong, kesabaran Cleven benar-benar diuji. Akong terkadang sering lupa sudah mandi dan masih minta dimandikan. Dengan sabar Cleven pun menjelaskan kepada akong. Sungguh merupakan anak muda yang penuh bakti, berhati mulia, dan memegang prinsip yang dapat dijadikan teladan.

Para peserta menyelami Sutra Pertobatan melalui Isyarat Tangan Miao Yin dan diikuti berbagai kalangan usia.


Para Bodhisatwa kemudian melanjutkan kegiatan dengan Isyarat Tangan Miao Yin (Berikrar Dengan Tulus) dimana peserta yang mengikuti dari berbagai kalangan usia, ada Bodhisatwa cilik dan dewasa.

Dewi sekeluarga sangat giat mengikuti kegiatan isyarat tangan. Dari peragaan isyarat tangan yang berasal dari Sutra Pertobatan Besar, menyadarkan Dewi akan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan menyatakan pertobatannya. Semoga Dewi dan keluarga bisa bersama-sama menapaki jalan Bodhisatwa yang tidak hanya mencerahkan diri sendiri tetapi juga mencerahkan orang lain.

Sebagai penutup dari acara “Doa Bersama Bulan Tujuh Penuh Berkah” dengan penuh hikmat para peserta mendengarkan Ceramah Master Cheng Yen dengan tema Menjaga Mulut Berlandaskan Welas Asih dan Kebijaksanaan. Karena mulut kita yang kecil, bisa menciptakan kebajikan dan juga bisa menciptakan karma buruk. Dengan harapan setiap orang dapat benar-benar menggunakan tubuh, ucapan dan pikiran pada hal yang benar dan bermanfaat.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Cara Istimewa Merayakan Bulan Tujuh Penuh Berkah

Cara Istimewa Merayakan Bulan Tujuh Penuh Berkah

12 September 2018
Menjadi juara dan mendapatkan hadiah bukanlah hal utama dalam lomba masak vegetarian yang digelar Tzu Chi Batam kali ini. Akan tetapi bagaimana kita mengenal bahwa vegetaris adalah suatu bentuk kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan kesehatan.
Bulan Tujuh Penuh Berkah

Bulan Tujuh Penuh Berkah

14 September 2018

Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun rutin mengajak setiap orang untuk bervegetaris selama satu bulan penuh pada Bulan Tujuh Penuh Berkah. Relawan menyediakan bekal makan pagi dan siang dalam berbagai variasi menu untuk memudahkan mereka dalam bervegetaris.

Keharmonisan Kelompok Cerminan Kesatuan Hati

Keharmonisan Kelompok Cerminan Kesatuan Hati

24 Agustus 2015 Sebanyak 148 orang dan tim pendukung menampilkan drama dalam acara Bulan Tujuh Penuh Berkah yang dilaksanakan di Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk pada 23 Agustus 2015. Drama yang dikemas secara menarik ini bercerita mengenai makna bulan tujuh dan pengenalan pelestarian lingkungan serta bervegetarian.
Kita harus bisa bersikap rendah hati, namun jangan sampai meremehkan diri sendiri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -