Membeli Kebijaksanaan

Jurnalis : Yogie Prasetyo (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun ), Fotografer : Yogie Prasetyo (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun )

foto
Dengan penuh antusias, para relawan menyimak diskusi bedah buku yang mereka ikuti.

Pada hari Sabtu, 08 Maret 2014,  relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun berkumpul di kantor penghubung untuk melaksanakan kegiatan rutin yaitu bedah buku. Tepatnya pukul 19.30 WIB kegiatan bedah buku ini dilaksanakan dan berakhir pada pukul 21.00 WIB.  Kegiatan seperti ini rutin dilakukan setiap dua minggu sekali. Seperti biasa sebelum kegiatan dimulai para relawan memberikan penghormatan kepada Buddha.

Pada kesempatan kali ini para relawan membahas tentang “Membeli Kebijaksanaan” (versi komik). Saat kegiatan dimulai salah satu relawan membacakan komik tersebut dan relawan lain dengan seksama mendengarkan. Pada bab tersebut mengisahkan tentang seorang kakek bijaksana yang tanpa pamrih. Setelah materi selesai dibacakan relawan bersama-sama memberikan masukan dan pendapat mengenai materi yang dibahas. Sebenarnya apa arti dan makna yang terkandung dalam sebuah kisah tersebut?

Setiap relawan dengan sepenuh hati dan penuh pengertian benar memberikan pendapatnya. Salah satunya Dwi Hariyanto Shixiong yang memberikan argumen tentang kisah tersebut. “Pengorbanan merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, karena setiap orang tidak mudah melakukan sebuah pengorbanan apalagi pengorbanan untuk orang lain. Namun lain halnya sang kakek dalam kisah tersebut dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih mengorbankan tanaga, pikiran, dan harta bendanya untuk menyelamatkan orang lain yang memerlukan bantuan,” ungkap Dwi Hariyanto Shixiong. Sebuah kebijaksanaan yang perlu untuk dicontoh. Dalam buku ini juga di tegaskan bahwa setiap saat sepenuh hati mendengarkan, mengamati dan berpikir barulah dalam keadaan darurat kita bisa membangkitkan kebijaksanaan untuk membatu diri sendiri dan orang lain.

Bab berikutnya membahas kisah tentang hukum karma sang kera. Materi ini mengisahkan beberapa ekor kera yang terlahir kembali di alam surga. Setelah para relawan membaca kisah tersebut dengan pengertian yang benar salah satu relawan memberikan argumennya. Salah satunya Jurman Shixiong yang terus berperan aktif dalam kegiatan bedah buku ini. “Kita seharusnya berhati-hati dan berpikir dulu ketika ingin berbicara, karena kita tidak akan pernah tahu ketika kita berbicara ada orang lain yang tersinggung dengan apa yang kita bicarakan,” ucap Jurman Shixiong.

foto  foto

Keterangan :

  • Dwi Hariyanto (tengah) memaparkan materi tentang kisah dalam komik dalam bedah buku (kiri).
  • Satu per satu para relawan membacakan isi buku yang akan didiskusikan bersama (kanan).

Karma akan selalu berbuah sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Maka dari itu berbicaralah dengan niat yang baik dan disertai dengan hati yang tulus dalam mengataknnya. Maka dengan hal yang demikian akan memberikan dampak yang positif bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Walaupun hanya ejekan tanpa maksud, orang yang melakukannya tetap akan menerima buah karma buruk. Kesalahpahaman antar manusia sering kali terjadi karena perkataan yang dikatakan tanpa dipikirkan dahulu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mengejek orang lain, apalagi menfitnah. Namun di saat berbicara haruslah dengan sepenuh hati.

foto  foto

Keterangan :

  • Puluhan relawan mengikuti kegiatan bedah buku di Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun pada hari Sabtu, 8 Maret 2014 (kiri).
  • Jurman (Kiri) memberikan sharing tentang yang dipahaminya setelah berdiskusi bersama pada bedah buku ini (kanan).

Banyak hal positif yang dapat diambil dalam pembahasan materi malam itu. Kesimpulan yang pertama, hendaknya kita dapat mecontoh sang kakek dalam memberikan bantuannya pada warga. Dengan bijaksana sang kakek mengorbankan tenaga, pikiran, dan harta benda yang dimiliki untuk orang lain tanpa pamrih. Seperti yang dikatakan oleh Master Cheng Yeng dalam kata perenungannya bahwa “Jika ingin meningkatkan kebijaksanaan, kita mesti membebaskan diri dari sifast kemelekatan dan keraguan”.Kesimpulan yang kedua, hendaknya kita berpikir dulu ketika ingin berbicara. Berbicaralah dengan niat yang baik dan penuh ketulusan karena semua perbuatan akan membuahkan hasil. Semoga dapat memberikan pengertian dan pemahaman yang positif bagi masing-masing individu. Kita ingat kata perenungan Master Cheng Yen, “Bertuturlah yang baik, berpikirlah yang baik dan lakukanlah perbuatan baik”.


Artikel Terkait

Suara Kasih: Berterima Kasih Kepada Tim Medis

Suara Kasih: Berterima Kasih Kepada Tim Medis

18 April 2012
Beberapa hari lalu, tepatnya pukul 16.38 sore waktu Taiwan, di Aceh, Indonesia, tiba-tiba terjadi guncangan yang sangat dahsyat, yaitu gempa berkekuatan 8,6 skala Richter. Saat mendapat kabar tersebut sekitar pukul 5 sore hari, saya merasa terkejut. Hati saya sungguh bagaikan ikut terguncang.
PAT 2022: Tekad Teguh Tak Tergoyahkan

PAT 2022: Tekad Teguh Tak Tergoyahkan

15 Desember 2022

Untuk tampil dalam Persamuhan Dharma, para penyelam Dharma menghabiskan waktu untuk latihan selama tujuh bulan. Di samping harus menghapal lirik, gerakan, dan formasi, juga dibutuhkan tekad dan niat yang kuat agar dapat terus latihan hingga hari persamuhan tiba. 

Mewariskan Cinta Kasih dan Rasa Syukur Melalui Pendidikan

Mewariskan Cinta Kasih dan Rasa Syukur Melalui Pendidikan

06 Januari 2015
Pada tanggal 7 Desember 2014,  Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen Tzu Chi Medan mengadakan acara gathering dengan orang tua murid. Melalui kelas pendidikan kata perenungan Master Cheng Yen ini, diharapkan dapat membentuk karakter dan kepribadian anak-anak menjadi lebih baik dan luhur.
Bekerja untuk hidup sangatlah menderita; hidup untuk bekerja amatlah menyenangkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -