Membina Pola Asuh dan Budi Pekerti yang Baik Sejak Dini

Jurnalis : Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan), Fotografer : Kamin, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan)

Anak-anak Kelas Kata Perenungan mengikuti Kelas Tata Krama. Yanny bersama relawan pendamping lainya mendampingi anak-anak didik  dengan peragaan relawan pendidik dan praktik langsung.

Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban) tahun ajaran 2025 telah selesai dan memasuki tahun ajaran baru pascaliburan Imlek. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pertemuan perdana tahun ajaran 2026 diisi dengan Parenting Class bagi orang tua murid dan Kelas Tata Krama bagi murid pada Minggu, 8 Maret 2026, di Depo Pelestarian Lingkungan Mandala, Medan. Sebanyak 27 relawan, 46 murid beserta orang tua, dan sembilan peserta umum menghadiri kegiatan ini.

Cuaca cerah mengiringi kedatangan murid-murid bersama orang tua di Depo Mandala. Mereka disambut oleh relawan dengan penuh sukacita. Sejak pertemuan terakhir pada Gathering Akhir Tahun, 14 Desember 2025 lalu, wajah-wajah gemas para murid tampak semakin ceria. Terdapat penambahan 12 murid dari tahun ajaran sebelumnya. Orang tua murid dan peserta umum diarahkan ke lantai tiga, sedangkan para murid mengikuti kegiatan di lantai dua.

Yessica, yang memandu acara, menyapa para peserta dengan penuh semangat. Acara diawali dengan penjelasan program pembelajaran Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen dan materi yang akan diajarkan selama satu tahun ke depan oleh Phei Yin, Koordinator Kelas Kata Perenungan.

Tujuan kegiatan ini adalah agar para orang tua memahami, mendukung, dan menjalin kerja sama dengan relawan pendidik. Program dan materi yang diberikan meliputi Parenting Class untuk orang tua, Kelas Tata Krama untuk anak-anak, pendidikan sehari-hari (keterampilan hidup, keterampilan sosial dasar, pengembangan kemandirian, dan disiplin), pendidikan karakter (kejujuran, disiplin, kerja sama, empati, dan rasa hormat), pendidikan jiwa kehidupan (pengembangan aspek batin dan emosional untuk memahami makna kehidupan, empati, dan rasa syukur), serta pendidikan pelestarian lingkungan (kesadaran lingkungan, pengelolaan sampah dan kreativitas, serta konservasi air dan energi).

Anak-anak diajarkan budaya humanis Tzu Chi dalam etika berpakaian, berjalan, duduk, menempati meja makan dan sikap saat makan melalui praktik langsung.

Parenting Class
Parenting Class berlangsung di lantai tiga dan diikuti oleh orang tua murid serta peserta umum. Program ini memberikan pemahaman kepada orang tua dan pendidik tentang pentingnya membangun fondasi pengasuhan yang kuat sejak dini, sekaligus memperkuat hubungan antara orang tua dan anak melalui komunikasi yang efektif, pemahaman perkembangan psikologis anak, serta strategi pengasuhan yang positif.

Selain itu, kegiatan ini membantu orang tua mengenali berbagai tantangan dalam proses pengasuhan serta memberikan solusi praktis untuk mengatasinya. “Dengan adanya Parenting Class, diharapkan orang tua mampu menjadi mitra utama dalam mendukung pertumbuhan karakter dan kecerdasan anak, serta menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan kondusif bagi pembelajaran,” ungkap Fenny Deliani, koordinator kegiatan.

Parenting Class kali ini menghadirkan Hermiaty Honggo, C.Ht., C.T., seorang profesional hypnotherapist (ahli terapi dengan metode hipnosis) sekaligus trainer bersertifikasi di bidang parenting (pengasuhan dan pendidikan anak).

Dengan tema “Membangun Fondasi Pengasuhan yang Kuat Sejak Dini”, Hermiaty menjelaskan pengaruh pengalaman masa kecil, baik yang menyenangkan maupun tidak, selama enam tahun pertama kehidupan (0–6 tahun) terhadap perkembangan anak di masa depan, termasuk kemampuan kognitif, sosial, emosional, dan fisik.

Ia juga memaparkan peran pikiran bawah sadar dalam menyerap informasi berupa pemikiran, perkataan, perilaku, dan kebiasaan melalui lima jalur, yaitu figur otoritas (orang tua dan guru), emosi (suasana hati), repetisi (pengulangan), identifikasi (apa yang dilihat dan ditiru anak), serta relaksasi pikiran (kondisi hipnosis). Pikiran bawah sadar inilah yang memengaruhi apa yang anak pikirkan, katakan, dan lakukan selama masa pertumbuhannya.

Hermiaty Honggo, C.Ht.®, C.T., seorang profesional hypnotherapist (ahli terapi dengan metode hipnosis) dan trainer dalam bidang parenting menjelaskan tentang pengaruh pengalaman masa kecil sangat berpengaruh terhadap kemampuan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak.

Hermiaty menekankan pentingnya membangun interaksi dengan anak, menciptakan rasa aman, serta memastikan anak merasa dicintai melalui fondasi bahasa yang kuat, bahasa kasih, dan disiplin. Bahasa kasih meliputi sentuhan fisik (pelukan, belaian, bergandengan tangan), afirmasi (kata-kata pujian atau dukungan), pelayanan, waktu berkualitas, serta pemberian hadiah. Disiplin yang baik dan tepat juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan hidup anak.

Guna menciptakan rasa aman dalam diri anak, Hermiaty menegaskan pentingnya memenuhi “tangki kasih” anak agar tidak berkembang menjadi pribadi bermasalah. Hal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh, seperti overprotective (terlalu melindungi), overpermissive (terlalu membebaskan), overdemanding (terlalu menuntut), rejection (sering menolak keinginan anak), serta delegated care atau menyerahkan pengasuhan kepada orang lain. “Pohon yang menjulang tinggi bermula dari akar yang dirawat dengan hati. Jangan hanya membangun rumah untuk anak, bangunlah fondasi di dalam diri mereka,” pesan Hermiaty mengakhiri materi.

Para peserta juga diajak menyelami ceramah Master Cheng Yen melalui tayangan video berjudul Cinta Kasih yang Bertolak Belakang. Tayangan tersebut mengisahkan hubungan seorang ayah dan anak laki-lakinya yang saling mengasihi, namun tidak pernah mengungkapkan perasaan dengan jujur.

Sang anak kerap melakukan hal yang berlawanan dengan perkataan ayahnya sebagai bentuk keinginan untuk menunjukkan kemandirian. Hingga suatu hari, sang ayah meninggal dunia karena sakit. Sang anak diliputi penyesalan karena tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara jujur. Ia terus menyalahkan diri hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal di samping makam ayahnya.

Pesan dalam kisah ini sejalan dengan materi yang disampaikan Hermiaty, yakni pentingnya hubungan yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak. “Dalam kehidupan sehari-hari, cinta kasih hendaknya sering diungkapkan untuk mendekatkan hati. Kejujuran sangat penting, jangan hanya dipendam atau ditunjukkan dengan sikap yang bertolak belakang. Kejujuran adalah bagian penting dalam pelatihan diri,” tutur Hermiaty mengutip nasihat Master Cheng Yen.

Kelas Tata Krama
Di lantai dua, murid-murid mengikuti Kelas Tata Krama yang dibawakan oleh Yanny. Dalam kelas ini, mereka mempelajari nilai-nilai budi pekerti luhur sebagai dasar pembentukan karakter. Pembelajaran ini berlandaskan prinsip moral universal Tzu Chi, seperti rasa hormat, kesopanan, kerendahan hati, dan welas asih.

Yanny Koordinator Materi Kelas Kata Perenungan menyampaikan apresiasinya atas antusiasme orang tua murid dan relawan mengikuti Parenting Class. Yanny mengajak para orang tua untuk mendorong dan memotivasi anak-anak untuk terus belajar supaya dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik dan berkontribusi bagi masyarakat.

Kelas ini juga memperkenalkan budaya humanis Tzu Chi kepada murid baru sekaligus menjadi pengingat bagi murid lama. Melalui pembelajaran yang konsisten, diharapkan terbentuk kebiasaan baik yang berkelanjutan serta karakter yang mencerminkan nilai kemanusiaan universal, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Pembelajaran yang Positif
Rani (45), salah satu orang tua peserta, merasakan manfaat besar dari Parenting Class. “Acara seperti ini sangat baik dan bermanfaat, terutama bagi orang tua yang menghadapi tantangan dalam mengasuh anak. Kebetulan salah satu anak saya sedang dalam masa pubertas. Kegiatan ini membantu saya memahami kebutuhan anak serta pola asuh yang sesuai dengan karakternya,” tutur Rani.

Menurut Rani, pola asuh otoriter pada masa lalu tidak lagi relevan dengan generasi saat ini. Orang tua perlu membangun hubungan yang lebih dekat sebagai teman sekaligus tetap berperan sebagai pemimpin yang memberi arahan dan teladan. “Semoga semakin banyak orang tua yang menyadari pentingnya Parenting Class sehingga hubungan dalam keluarga menjadi lebih harmonis,” tambahnya.

Phei Yin Koordinator Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban), menyampaikan informasi tentang program Kelas Kata Perenungan selama setahun ke depan dan materi yang diajarkan sepanjang tahun ajaran 2026.

Yanny, Koordinator Materi Kelas Kata Perenungan, mengungkapkan apresiasinya atas partisipasi orang tua dan relawan. Ia berterima kasih atas dukungan yang telah diberikan selama ini dalam mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana dan berakhlak.

Yanny juga mengajak para orang tua untuk terus mendorong dan memotivasi anak-anak agar berkembang menjadi pribadi yang lebih baik serta mampu berkontribusi bagi masyarakat. “Saya berharap semua peserta mendapatkan manfaat dari Parenting Class ini, sehingga dapat menjadi orang tua yang lebih baik dan menciptakan keluarga yang berlandaskan cinta kasih. Anak-anak pun diharapkan dapat menerapkan apa yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Yanny.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Mempraktikkan Bahasa Kasih dalam Perayaan Hari Ibu

Mempraktikkan Bahasa Kasih dalam Perayaan Hari Ibu

18 Desember 2024

Kelas Budi Pekerti di He Qi Pusat selalu memberikan materi yang bermakna bagi para muridnya. Kali ini anak-anak belajar merangkai bunga sekaligus merayakan Hari Ibu. Sementara para orang tua belajar tentang parenting.

Semangat dalam Menimba Ilmu

Semangat dalam Menimba Ilmu

01 Juli 2015 Banyak berbuat hal baik adalah cara untuk membalas budi orang tua. Dengan demikian, anak-anak dituntun untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja dan dimana saja, demikian juga terhadap orang tua. Sikap seperti ini bisa tumbuh jika anak memiliki budi pekerti yang baik. Melihat pentingnya budi pekerti pada anak sejak dini, maka Yayasan Buddha Tzu Chi Tanjung Balai Karimun secara rutin mengadakan kegiatan kelas budi pekerti. Pada bulan ini merupakan kelas yang terakhir tahun ajaran 2014-2015. 
Menanamkan Sifat Murah Hati pada Anak-anak

Menanamkan Sifat Murah Hati pada Anak-anak

12 September 2019

Setiap orang memiliki sifat baik, tetapi tidak semua orang dapat mengembangkan sifat baiknya, jika tidak ada niat untuk melakukannya. Itulah salah satu inti materi yang diajarkan dalam Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, Minggu, 8 September 2019.

Melatih diri adalah membina karakter serta memperbaiki perilaku.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -