Para peserta tampak bersemangat untuk mengikuti kegiatan pelatihan Abu Puti Ke-4 di kantor Tzu Chi Pekanbaru.
“Untuk mencari jawaban atas makna kehidupan, caranya ada pada pemahaman terhadap apa yang telah dilakukan dalam kehidupan.”
Kata Perenungan Master Cheng Yen
Ketika waktu berjalan begitu cepat, tak terasa perjalanan Cinta Kasih Tzu Chi tahun ini sudah memasuki usia 60 tahun. Pada Minggu, 30 Agustus 2026, Tzu Chi Pekanbaru kembali mengadakan Pelatihan Abu Putih Ke-4 di kantor Tzu Chi Pekanbaru dengan tema “Tzu Chi 60 tahun Silsilah Dharma Terus Berkelanjutan”
Meskipun pada hari itu sejumlah kegiatan Ulambana berlangsung di beberapa vihara, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan antusiasme para relawan untuk untuk tetap hadir mengikuti pelatihan.
Kegiatan pelatihan kali ini, durasinya lebih panjang dari jam 08.00 – 15.00 WIB dengan diisi lima materi yang disampaikan yaitu Jangan Lupakan Tekad Awal, Selamanya Mengingat Ikrar Agung, Perisai Pelindung Insan Tzu Chi, Semangat Bodhisatwa, Mengembangkan Hati Yang Welas Asih dengan Bervegetarian dan talk show dengan tema Menginventarisasikan Kehidupan.
Penyampaian materi dengan tema tersebut diharapkan dapat memperkuat tekad dan keyakinan para relawan, sekaligus memotivasi mereka untuk terus melangkah di jalan Bodhisatwa. Guru yang telah dipilih dan jalan Bodhisatwa yang telah ditapaki merupakan satu jalinan jodoh yang terjalin dari kehidupan ke kehidupan, yang perlu digenggam erat dan dijalani dengan tekun agar misi Tzu Chi bisa diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu relawan, Evelyn memnadu acara kegiatan pelatihan dengan penuh khidmat.
Agar misi Tzu Chi bisa diwariskan dari generasi ke generasi, Dalam kegiatan itu, dipandu langsung oleh relawan Tzu Chi, Evelyn. Ia bergabung dengan Tzu Chi saat mengikuti kelas Budi Pekerti. Namun, perjalanan tersebut sempat terhenti selama kurang lebih tujuh tahun karena melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja di Jakarta. Jalinan jodoh dengan Tzu Chi kembali terajut ketika ia memutuskan pulang ke Pekanbaru. Kepulangannya seolah mempertemukannya kembali dengan keluarga Tzu Chi, sekaligus menjadi harapan baru bagi lahirnya generasi penerus yang akan melanjutkan jejak kebajikan.
“Tidak peduli menghadapi kesulitan sebesar apa pun, enam kata ini akan selalu muncul dalam benak saya, yakni ‘Demi Ajaran Buddha, Demi Semua Makhluk’,” Inilah salah satu kutipan dari ceramah Master Cheng Yen, di mana kita bisa melihat betapa teguhnya Master memegang amanah dari gurunya, Master Yin Shun. Dari dulu hingga sekarang, hal tersebut tidak pernah berubah. Sejarah 30 ibu rumah tangga dan kekuatan 50 sen yang menjadi cikal bakal berdirinya Tzu Chi. Hal ini disampaikan oleh Wismina dalam materi bertema “Jangan Lupakan Tekad Awal, Selamanya Mengingat Ikrar Agung.” Diharapkan kita bisa menghargai jalinan jodoh Tzu Chi dan senantiasa tekun dan bersemangat. Dari kehidupan ke kehidupan, senantiasa meneruskan jalinan jodoh.

Penyampaian materi Jalan Bodhisatwa disampaikan oleh Lina, relawan Tzu Chi Pekanbaru.
Sungguh beruntung Insan Tzu Chi, selain dibekali dengan Dharma, kita juga dibekali oleh Master dengan 10 Sila Tzu Chi dimana 5 sila berasal dari Panca Sila Buddhis dan 5 Sila lagi disiapkan Master untuk melindungi kita agar tidak melakukan pelanggaran sila melalui tubuh, ucapan dan pikiran. Hal itu, menjadi perisai pelindung, dalam penyampaian materi itu dibawakan oleh Lina Violin dengan penuh kelembutan.
Sebelum mengenal Tzu Chi, istilah Bodhisatwa lebih identik dengan Dewi Kuan Im atau Avalokitesvara, dengan welas asihnya untuk menolong makhluk yang menderita. Setelah bergabung di Tzu Chi, kita mengetahui bahwa insan Tzu Chi juga disebut Bodhisatwa. Selanjutnya, Lina Lecin yang akan memaparkan materi “Semangat Bodhisatwa” dalam materi yang disampaikan, Master mengatakan, “Sebenarnya, Bodhisatwa yang paling manjur adalah yang bisa berjalan, bisa makan, bisa berbicara, bisa bekerja, yang akan muncul ketika ada makhluk yang menderita untuk memberikan pertolongan. Itulah Bodhisatwa yang sesungguhnya.”
Suasana hangat dalam sesi Talk Show yang dipandu oleh Metta menghadirkan 2 narasumber Linda dan Lili yang berbagi pengalaman mereka dalam menapaki jalan Bodhisatwa.
Salah satu relawan Tzu Chi, Mariana, merasakan mendapatkan berkah membawakan materi vegetarian dengan mengajak peserta untuk merenungkan makna yang terkandung dari sepiring makanan yang kita makan. Dengan ciri khas saat menyampaikan materi yang mudah dipahami, peserta merasakan suasana yang berbeda dan mengundang decak kagum. Tzu Chi Pekanbaru punya Mutiara yang potensi untuk dikembangkan dan membutuhkan insan-insan berpotensi untuk memajukan Tzu Chi.
Hidup akan menjadi bermakna kalau kita bisa memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain dengan bagaimana kita bisa menginventarisasikan kehidupan di Jalan Bodhisatwa. Topik ini dibahas di Talk Show yang dipandu oleh Metta dengan nara sumber dari wakil He Qi Pekanbaru yakni Linda dan Lili. Perjalanan cinta kasih mereka, lika-liku yang dihadapi dalam menapaki jalan Bodhisatwa dan semangat pantang menyerah dalam memegang tanggung jawab demi kemajuan Tzu Chi menjadi motivasi bagi relawan untuk lebih yakin menapaki jalan bodhisatwa.
Beberapa tanggapan positif dari peserta pelatihan disampaikan. Salah satunya disampaikan oleh Athing, peserta yang bertekad untuk menjadi komite. Awalnya, ia merasa tidak akan bisa bertahan lama di Tzu Chi, tetapi ternyata kehangatan dan mitra bajik membuatnya tetap bertahan dan semakin bertekad untuk segera menjadi murid Master yang sesungguhnya. “Saya menyadari begitu banyak mitra bajik di sekitar saya yang membuat saya akhirnya masih di Tzu Chi dan tidak terasa saya mau menjadi komite di tahun 2027,” ucap Athing.
Penampilan Shou Yu dibawakan relawan Tzu Chi dengan lagu “Sheng Sheng Shi Shi Duo Zai Pu Ti Zhong” yang artinya Hidup Dalam semangat Bodhicitta.
Sementara peserta lainnya, Boby memperoleh berbagai pelajaran dari pelatihan ini. Beliau mengatakan, “Pelatihan ini membuat saya semakin memahami bahwa pelatihan diri ada dalam kehidupan sehari-hari. Belajar bersyukur, menghargai berkah, menghormati kehidupan, dan mengubah pemahaman menjadi tindakan nyata. Semoga saya dapat terus belajar dan bertumbuh di jalan Bodhisatwa.” tuturnya.
Dalam kegiatan ini para peserta juga merasakan banyak manfaat yang didapat, serta menjadi sarana introspeksi diri untuk menjadi sosok individu yang lebih baik dan peduli terhadap sesama, sekaligus memantapkan langkah di jalan Bodhisatwa.
Semoga semua insan Tzu Chi dapat menjadi mata dan telinga Master yang dapat mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan dan menyeberangkan semua makhluk ke pantai kebahagiaan. Tetap Teguh menapaki jalan bodhisattva dari kehidupan ke kehidupan seperti makna yang terkandung di Shou Yu dengan lagu hidup dalam semangat Bodhicitta.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari