Menebar Benih di Cinara
Jurnalis : Apriyanto, Fotografer : Apriyanto
|
| ||
Kini 10 tahun telah berlalu dan pasir yang dahulu menghidupkan denyut nadi perekonomian penduduk Cinara pun telah habis dari tempatnya. Untuk menjaga agar roda perekonomian tetap berputar, penduduk dusun mulai mengalihkan perhatian mereka kepada sektor pertanian kembali. Mereka mulai kembali mengolah lahannya menjadi area pertanian. Kebutuhan Pangan Pondok Pesantren Sebab itu, Habib Saggaf lantas membeli lahan pertanian berupa sawah seluas 16,5 hektare di Dusun Cinara dan 5,5 hektare di Kelurahan Batujaya untuk diolah menjadi persawahan dengan harapan dapat berfungsi sebagai lumbung padi bagi Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman. “Karena tingginya kebutuhan pangan, maka Tzu Chi menyarankan agar Pesantren Nurul Iman bisa menanam padi sendiri agar bisa digunakan untuk jangka panjang,” jelas Prawoto, seorang ustaz dari Pesantren Nurul Iman.
Ket : - Setelah diungkep selama 2 malam, benih padi itu ditebar dan 18 hari kemudian siap untuk ditanam di sawah. (kiri) Program nan penuh harapan ini pun didukung sepenuhnya oleh Tzu Chi yang berkontribusi dalam penyediaan bibit dan manajemen pertanian. Untuk teknik pertaniannya sendiri, Tzu Chi lantas mengajak PT Sumber Alam Sutera (SAS) sebagai tenaga ahli yang memberikan pengarahan kepada para santri untuk mengolah lahan dan menanam padi dengan benar. Rizky Aditya Budiman, salah satu staf Sumber Alam Sutera yang bertugas sebagai koordinator pelatih lapangan mengatakan bahwa pengolahan lahan di Dusun Cinara memang membutuhkan teknik khusus. Selain tekstur tanahnya yang bersifat lempung dan berpasir, air tanah di daerah ini juga mengandung garam akibat adanya rembesan dari muara Serakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi. Di samping itu, sistem pengairan pun harus benar-benar diperhitungkan secara matang karena ada beberapa lokasi di area persawahan adalah bekas pertambangan pasir. Di sini, karena tanahnya merupakan bekas lahan pertambangan maka permukaannya cenderung lebih cekung dan membuat air terjebak di petak sawah serta sulit untuk mengalir. Untuk mengatasinya, Tzu Chi menyediakan beberapa mesin pompa untuk menyedot air di area yang berlebihan dan mengalirkannya ke area yang kekurangan. Menurut Rizky, lahan pertanian di Dusun Cinara memang sudah termasuk dalam lahan grade 3. Pada grade ini, lahan pertanian itu memiliki keterbatasan alami karena dipengaruhi oleh iklim dan letak geografis sehingga kisaran masa tanam menjadi relatif terbatas. Namun, keadaan ini tidak menyurutkan semangat relawan Tzu Chi dan para santri untuk menghasilkan padi unggulan dengan hasil panen yang berlimpah. Prawoto yang telah 3 bulan berkecimpung sebagai koordinator santri dalam pengolahan lahan menargetkan sedikitnya dalam 1 hektare akan menghasilkan 8 ton gabah. Karena itu, aspek teknik dan pengolahan lahan menjadi kunci utama keberhasilan program ini. Maka agar mendapatkan hasil yang maksimal relawan Tzu Chi bersama dengan para santri pun mengolah benih padi dengan sedemikian rupa sesuai dengan prosedur yang diberikan oleh Sumber Alam Sutera. Pengerjaan dimulai dengan pembajakan tanah secara periodik, pemupukan tanah dengan pupuk Nitrogen-Fosfor-Kalium(NPK) sebanyak 30g/m², membuat pematang sawah selebar 1,5 m, dan penyemprotan herbisida pra tumbuh 3 – 4 hari sebelum penyemaian benih. Setelah semua tahapan itu, tahap berikutnya adalah pengeraman benih selama 2 hari hingga menjadi kecambah dan siap untuk disemai.
Ket : - Melalui program tanam padi ini Winarso (No 2 dari kiri) berharap kelak para santri bisa mandiri dalam mengolah lahan mereka. (kiri). Maka pada Sabtu, 20 Maret 2010, saat benih siap disemai sebanyak 12 santri yang bertugas di lapangan sudah mulai menebar benih ke lahan yang dikhususkan untuk pesemaian. Rencananya, dalam 18 hari ke depan adalah waktunya penanaman padi di sawah. Pada masa inilah, partisipasi dari banyak relawan Tzu Chi, para santri, dan warga setempat sangat diharapkan untuk mensukseskan target yang hendak dicapai. “Nanti pada saat nandur (tanam padi) akan dibutuhkan banyak relawan untuk menanam padi,” ujar Winarso relawan Tzu Chi. Menurutnya lagi, selama pengolahan lahan ini Tzu Chi juga telah melibatkan beberapa warga setempat untuk menggarap sawah, dengan maksud agar masyarakat di sekitar juga turut merasakan manfaat dari program yang Tzu Chi jalankan di dusun itu. Lebih lanjut Winarso juga berharap program tanam padi ini bisa membangun kemandirian para santri, sehingga mereka mampu menghasilkan produk sendiri yang dapat digunakan untuk keperluan pesantren. “Diharapkan mereka nantinya bisa lebih mandiri karena dengan tersedianya lahan, mereka bisa mengolahnya, dan menghasilkan produk yang produktif,” katanya. | |||
Artikel Terkait
Kamp Humanis DAAI TV: Merekatkan Kembali Kebersamaan
06 September 2022Setelah sempat dilaksanakan secara online selama 2 tahun karena pandemi Covid-19, Kamp Humanis DAAI TV (Organization Culture Training) kembali diadakan di tahun 2022 ini secara offline.
Suara kasih : Giat Menciptakan Berkah
09 Maret 2012 Meski kehidupannya tak begitu berada, namun hatinya penuh dengan cinta kasih. Dia selalu berbagi tentang Tzu Chi dan menginspirasi setiap orang yang ditemuinya. Dia tak pernah absen mengikuti setiap kegiatan Tzu Chi.
Wujud Kepedulian untuk Menjaga Kesehatan dan Kebahagiaan di Usia Senja
26 Juni 2026He Qi Jakarta Pusat menggelar Baksos Kesehatan Lansia bagi 252 peserta. Kegiatan ini menghadirkan pemeriksaan kesehatan, penyuluhan, dan pelayanan medis.








Sitemap