Mengawali Langkah Kebajikan, Menumbuhkan Ketulusan Melalui Pelatihan Abu Putih ke-3

Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan), Fotografer : Vincent Horison (Tzu Chi Medan)

Willey Elot MC membuka acara pelatihan Abu Putih ke-3. Willey menghadirkan berbagai materi inspiratif mengenai sejarah berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi, keteladanan Master Cheng Yen, misi pelestarian lingkungan, filosofi Zhen Shan Mei, hingga sesi berbagi pengalaman dari para relawan senior.

Menjadi relawan bukan sekadar mengenakan seragam atau hadir dalam sebuah kegiatan sosial. Di balik setiap aksi kemanusiaan, terdapat proses pembelajaran yang panjang untuk memahami kebutuhan sesama, menghargai setiap kehidupan, serta melayani dengan empati dan ketulusan. Karena itulah, pelatihan menjadi langkah awal yang penting dalam perjalanan seorang relawan.

Semangat tersebut mewarnai Pelatihan Abu Putih ke-3 Tahun 2026 yang diselenggarakan pada Minggu, 28 Juni 2026, di Gedung Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan, Jalan Cemara, Medan. Kegiatan ini diikuti sekitar 175 peserta yang terdiri atas 92 peserta pelatihan, 68 panitia, dan 15 mentor.

Pelatihan dipandu oleh Willey Eliot dan menghadirkan berbagai materi inspiratif mengenai sejarah berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi, keteladanan Master Cheng Yen, misi pelestarian lingkungan, filosofi Zhen Shan Mei, hingga sesi berbagi pengalaman dari para relawan senior. Selain itu, peserta juga diajak menceritakan perjalanan awal mereka berjodoh dengan Tzu Chi.

Materi tentang keteladanan Master Cheng Yen disampaikan oleh Shu Tjeng. Ia mengisahkan kehidupan sederhana Master Cheng Yen dan para bhiksu-bhiksuni yang tidak menerima persembahan pribadi.

"Master Cheng Yen dan para bhiksu-bhiksuni hidup dengan sederhana. Prinsipnya adalah sehari tidak bekerja, sehari tidak makan. Jika ada masyarakat yang ingin memberikan persembahan, Master akan meminta agar persembahan tersebut disumbangkan melalui Yayasan Buddha Tzu Chi," ujar Shu Tjeng.

Relawan mendengar materi dengan saksama dan penuh suka cita dalam melatih diri untuk berbuat kebajikan di jalan Tzu Chi.

Shu Tjeng menyampaikan materi mengenai keteladanan Master Cheng Yen. Shu Tjeng menyampaikan bahwa menolong sesama bukan tentang menjadi orang yang paling mampu, tetapi tentang kesediaan membuka hati dan hadir dengan ketulusan bagi mereka yang membutuhkan.

Melalui materi tersebut, peserta diajak memahami bahwa menolong sesama bukan tentang menjadi orang yang paling mampu, tetapi tentang kesediaan membuka hati dan hadir dengan ketulusan bagi mereka yang membutuhkan.

Pelatihan juga menghadirkan materi mengenai Misi Pelestarian Lingkungan yang disampaikan oleh Budi Dharmawan. Budi menjelaskan bahwa pelestarian lingkungan dalam Tzu Chi bukan hanya berkaitan dengan pengelolaan sampah, tetapi juga dengan menjaga agar nilai-nilai kebajikan tetap hidup dan berkembang.

"Pelestarian tidak hanya berarti mempertahankan apa yang telah ada, tetapi juga meneruskan semangat cinta kasih, rasa syukur, saling menghormati, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama. Dengan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman dalam berpikir, berbicara, dan bertindak, kita ikut menjaga warisan kebajikan agar tetap bermanfaat bagi generasi mendatang," ungkap Budi.

Lebih dari sekadar tempat belajar, pelatihan ini juga menjadi ruang bertumbuhnya persaudaraan. Orang-orang yang sebelumnya belum saling mengenal dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni menghadirkan manfaat bagi sesama. Dari kebersamaan itulah tumbuh rasa saling percaya, saling mendukung, dan semangat gotong royong yang kelak akan terus dibawa dalam pelayanan kemanusiaan.

Materi budaya humanis dibawakan oleh Gunawan Halim, relawan Zhen Shan Mei yang berpengalaman di bidang fotografi, videografi, dan penulisan artikel.

Gunawan menjelaskan bahwa Zhen Shan Mei memiliki makna Zhen (Benar), Shan (Bajik), dan Mei (Indah). Relawan Zhen Shan Mei tidak hanya mendokumentasikan kegiatan, tetapi juga mengabadikan kisah-kisah inspiratif agar nilai kemanusiaan dapat terus diwariskan.

"Tugas relawan Zhen Shan Mei bukan sekadar mengambil gambar atau menulis berita, tetapi merekam jejak cinta kasih agar dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang," ujar Gunawan.

Ia juga mengutip pesan Master Cheng Yen, "Semua orang adalah relawan Zhen Shan Mei" (Ren Ren Shi Zhen Shan Mei), yang mengingatkan bahwa setiap orang dapat menjadi penyebar kebajikan melalui cara masing-masing, baik dengan menulis, memotret, merekam video, maupun membagikan kisah-kisah inspiratif kepada orang lain.

Siti (kiri) dan Imelda (kanan) adalah relawan senior yang bercerita tentang kisah menjadi relawan Tzu Chi. Siti mengisahkan awal perjalanannya mengenal Tzu Chi melalui tayangan drama di DAAI TV berjudul Ketika Gladiol Bersemi. Sedangkan Imelda mulai mengenal Tzu Chi sebagai donatur pada tahun 2004 dan dilantik menjadi relawan Komite Tzu Chi pada 2016.

Pelatihan semakin menarik melalui sesi berbagi pengalaman bersama dua relawan senior, Siti dan Imelda. Siti mengisahkan awal perjalanannya mengenal Tzu Chi melalui tayangan drama di DAAI TV berjudul Ketika Gladiol Bersemi. Ketertarikannya mendorong dirinya untuk mengikuti kegiatan Waisak Tzu Chi Medan dan sosialisasi relawan. Pertemuan dengan Master Cheng Yen di Hualien, Taiwan pada 2016 juga menjadi titik balik yang menguatkan tekadnya untuk menjalani pola hidup vegetarian dan terus berkarya di jalan Tzu Chi.

Selama menjadi relawan, Siti telah mengemban berbagai tanggung jawab, mulai dari Ketua Xie Li, Ketua Hu Ai, hingga kini dipercaya menjadi Wakil He Qi.

"Saya selalu berusaha memegang teguh pesan Master Cheng Yen untuk menjaga keharmonisan, berlapang dada, tekun mendengarkan Dharma, serta menghargai waktu dan kesempatan untuk mengisi hidup dengan hal-hal yang bermakna," tutur Siti.

Kisah lain datang dari Imelda yang mulai mengenal Tzu Chi sebagai donatur pada tahun 2004. Awalnya, Imelda mengira relawan Tzu Chi hanya diperuntukkan bagi orang-orang berkecukupan. Namun, pandangannya berubah ketika menyaksikan ketulusan relawan Tzu Chi membersihkan parit di Rumah Susun Sukaramai pada 2006.

Di sanalah Imelda bertemu dengan Lim Ik Ju yang membimbingnya untuk bergabung menjadi relawan di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Mandala. Sejak menerima seragam Abu Putih pada 2006, komitmen Imelda terus bertumbuh hingga dilantik sebagai relawan Biru Putih pada 2011 dan menjadi relawan Komite Tzu Chi pada 2016.

"Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan para mitra bajik. Dulu saya berpikir relawan Tzu Chi hanya untuk orang kaya, tetapi ternyata semua bekerja dengan tulus tanpa memandang status ekonomi," ungkap Imelda.

Erni Lestari Handayani, ibu dari Abidzar Akbar, mengalami hipoplasia mandibula, kelainan langka yang menyebabkan rahang bawah tidak berkembang sempurna. Erni merasakan pendampingan dan perhatian penuh kasih dari para relawan dan tim medis TIMA, baik di Medan maupun di Jakarta, hingga Abidzar menjalani beberapa kali operasi.

Salah satu yang menyentuh hati: hadir Erni Lestari Handayani, peserta pelatihan Abu Putih, membagikan kisah hidupnya. Putranya, Abidzar Akbar, mengalami hipoplasia mandibula, kelainan langka yang menyebabkan rahang bawah tidak berkembang sempurna.

Melalui bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi, Abidzar telah menjalani beberapa kali operasi. Selama proses pengobatan, Erni merasakan pendampingan penuh kasih dari para relawan, baik di Medan maupun di Jakarta.

"Para relawan selalu memberi semangat kepada kami. Sebagai seorang ibu, saya tidak pernah membayangkan harus menghadapi proses operasi berkali-kali pada anak saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada relawan, dokter, yayasan, dan semua pihak yang telah membantu. Mudah-mudahan saya juga bisa membantu orang lain dengan menjadi relawan Tzu Chi," ungkap Erni dengan haru.

Pelatihan Abu Putih menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menyalakan cahaya kebaikan. Sebagaimana pesan Master Cheng Yen, seseorang tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk mulai berbuat baik. Kebaikan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan hati yang tulus.

Karena ketika satu orang menyalakan cahaya kasih, cahaya itu akan menerangi orang lain, lalu terus menyebar tanpa henti. Nilai inilah yang menjadi fondasi setiap relawan dalam menapaki jalan kemanusiaan dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Asah Empati Rajut Silaturahmi

Asah Empati Rajut Silaturahmi

31 Maret 2022

Relawan Tzu Chi Medan komunitas Hu Ai Cemara menggelar ramah tamah antar sesama relawan. Dalam kegiatan yang diikuti oleh 20 relawan ini juga di isi dengan sharing pengalaman dari para relawan.

Menumbuhkan Semangat, Bersukacita Menjadi Bodhisatwa

Menumbuhkan Semangat, Bersukacita Menjadi Bodhisatwa

01 April 2022

Master Cheng Yen sering berkata bahwa ketika kita sambil berjalan, hendaknya kita sambil membentangkan jalan agar orang-orang di belakang kita, bisa mengikuti kita berjalan di jalan Bodhisatwa.

Keunggulan dalam Perhatian yang Menyeluruh

Keunggulan dalam Perhatian yang Menyeluruh

13 April 2021

Demi mendalami misi kesehatan dan memberikan pelayanan berbudaya humanis yang maksimal di Tzu Chi Hospital nantinya, relawan kembali mendapatkan training secara berkala. Training Relawan Pemerhati Rumah Sakit ke-8 dilaksanakan pada Minggu 4 April 2021 melalui aplikasi Zoom dan diikuti oleh 627 peserta.

Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -