Menggali Pesan Kehidupan dalam Bedah Buku Membeli Kebijaksanaan
Jurnalis : Yanti Yunita (Tzu Chi Medan), Fotografer : Lim Hung Jeng,Wennie Tjan (Tzu Chi Medan)
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Medan Jati, Hu Ai Perintis mengadakan kegiatan Bedah Buku Master Cheng Yen berjudul “Membeli Kebijaksanaan”.
Setiap buku menyimpan cahaya kebijaksanaan. Saat kita membuka halaman demi halaman, sesungguhnya kita sedang membuka ruang dalam hati untuk belajar, bertumbuh dan memahami kehidupan dengan lebih bijak. Mengingat pentingnya untuk belajar dan bertumbuh bersama, relawan dari He Qi Medan Jati, komunitas Hu Ai Perintis mengadakan kegiatan Bedah Buku Master Cheng Yen berjudul “Membeli Kebijaksanaan” yang diadakan di Jingsi Books & Café Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 60 relawan pada Jumat, 5 Juni 2026.
Kegiatan ini menjadi sangat Istimewa karena merupakan awal pembukaan kelas bedah buku yang sempat terhenti beberapa waktu belakangan. Antusias peserta untuk mengikuti kegiatan bedah buku juga terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti kelas bedah buku ini.
Acara dibuka oleh MC, Pieter Sulistio, yang memperkenalkan sekilas tentang kegiatan bedah buku dan memperkenalkan dua orang narasumber yaitu Sani Husiana dan Juliana Suwanto. Pieter Sulistio menyampaikan bahwa buku Membeli Kebijaksanaan karya Master Cheng Yen mengajak pembaca untuk merenungkan makna kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kisah-kisah sederhana yang sarat makna, buku ini menyampaikan bahwa kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh secara instan, melainkan hasil dari pembelajaran, perenungan, dan praktik nyata dalam menjalani kehidupan. Dalam kegiatan bedah buku ini, peserta diajak untuk memahami lebih dalam pesan-pesan Dharma yang terkandung dalam setiap kisah.

Shu Tjeng menyampaikan mengenai kegiatan bedah buku.

Siti salah satu peserta yang ikut berbagi dalam kegiatan bedah buku.
Pada kesempatan ini, narasumber membacakan cerita mengenai “Burung Berkepala Kembar”.
Cerita burung berkepala kembar mengisahkan seekor burung yang memiliki dua kepala tetapi hanya satu tubuh. Suatu hari, salah satu kepala memakan buah yang lezat tanpa berbagi dengan kepala lainnya, sehingga menimbulkan rasa marah dan dendam. Ketika kemudian menemukan buah beracun, kepala yang sakit hati sengaja memakannya untuk membalas perlakuan tersebut, tanpa menyadari bahwa mereka berbagi tubuh yang sama. Akibatnya, racun itu membunuh seluruh burung.
Kisah ini mengajarkan bahwa egoisme, kemarahan, dan dendam tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat menghancurkan diri sendiri.
Salah satu Narasumber, Sani Husiana menyampaikan bahwa, “Penderitaan bukan berasal dari orang lain, melainkan dari batin yang dipenuhi prasangka, ego, dan kebencian. Dalam setiap orang berada dalam satu tubuh yang sama. Karena itu, menjaga keharmonisan dan mengendalikan emosi adalah bagian penting dari praktik kehidupan. Perbedaan karakter dan pandangan tidak seharusnya melahirkan kebencian, melainkan kesempatan untuk melatih kesabaran dan ketulusan hati,” ungkap Sani.
Narasumber lainnya, Juliana Suwanto menambahkan, “Dalam kehidupan ini yang paling sulit dikontrol adalah pikiran manusia, hanya dengan melatih diri sepenuh hati, bersedia bekerja keras untuk melenyapkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan batin, barulah kita dapat melenyapkan noda batin. Melatih diri haruslah mengandalkan diri sendiri dengan mengorbankan ego, keserakahan, dan keterikatan demi memperoleh pemahaman yang lebih bijaksana terhadap kehidupan.”

drg. Mellisa Sim, M.Kes, M.Biomed berbagi kesan mengenai kegiatan bedah buku.
Setelah penyampaian materi, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi kesan batin (sharing). Shu Tjeng, salah satu peserta menyampaikan bahwa, “Melalui kegiatan bedah buku ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai isi buku, tetapi juga diajak untuk merefleksikan diri. Dengan demikian, kebijaksanaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.”
Siti, peserta lainnya mengungkapkan bahwa, “Dalam kegiatan sehari-hari di Tzu Chi kita berlatih mengasah diri menjadi permata, melatih diri dan kebijaksanaan. Setiap peristiwa, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan, sesungguhnya merupakan guru yang memberikan pelajaran berharga. Kebijaksanaan lahir ketika seseorang mampu mengambil hikmah dari pengalaman tersebut dan menggunakannya sebagai bekal untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.”
Peserta lainnya, drg. Mellisa Sim, M.Kes , M.Biomed berbagi kesan batin bahwa dari cerita burung kembar ini, beliau mengambil pelajaran mengenai menjaga keharmonisan dan mengendalikan emosi adalah bagian penting dari praktik kehidupan. “Dahulu saya sewaktu muda sangat sibuk dengan pekerjaan saya, bisa dibilang tidak puya waktu dan selalu bekerja. Sekarang saat sudah pensiun, saya bersyukur bisa banyak belajar terutama tentang berterima kasih, menghormati orang lain, tahu berpuas diri,” ujar Mellisa.

Suasana Kelas Bedah Buku “Membeli Kebijaksanaan” di Jingsi Books & Café Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan.
Master Cheng Yen sering menekankan pentingnya menjaga hati yang penuh welas asih. Dalam kehidupan yang semakin kompleks, manusia sering kali terjebak dalam kesibukan dan kepentingan pribadi. Melalui ajaran Dharma, pembaca diajak untuk membuka hati terhadap penderitaan sesama, mengembangkan empati, dan menjadikan kebaikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya Bedah buku ini juga mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kepemilikan materi. Banyak orang menghabiskan waktu untuk mengejar kekayaan dan kesuksesan, namun melupakan ketenangan batin. Hati yang bersyukur, pikiran yang jernih, dan sikap hidup yang sederhana justru menjadi sumber kebahagiaan yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Semakin bijaksana seseorang menjalani hidup, semakin besar pula manfaat yang dapat ia berikan bagi dunia di sekitarnya.
Editor: Metta Wulandari
Artikel Terkait
Bedah Buku: Antibodi Batin
23 Oktober 2015 “Inspirasi dari Para Relawan Abu Putih Menjadi Biru Putih” menjadi tema dalam kegiatan Bedah Buku yang diadakan komunitas relawan He Qi Pusat. Bertempat di Gedung ITC Lt. 6 Mangga Dua, kegiatan ini diikuti sebanyak 36 orang relawan.
Aktif di Pelestarian Lingkungan, Aktif juga di Bedah Buku
14 September 2016Sebagai upaya untuk terus menghidupkan Kegiatan bedah buku dan Pelestarian Lingkungan, relawan Tzu Chi Komunitas Kebonjeruk 1 menggelar gathering. Bedah buku memberikan inspirasi bagi seseorang untuk konsisten melakukan pelestarian lingkungan dan bentuk kebaikan lainnya.







Sitemap