Relawan Xie Li Senen menyiapkan spanduk “Titik Kumpul Daur Ulang Depo Xie Li Senen” sebagai penanda dimulainya kembali kegiatan Pelestarian Lingkungan di Krekot, Jakarta Pusat.
Minggu, 16 Agustus 2026, sebanyak 10 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat, Xie Li Senen, berkumpul di rumah Sufiani, Jl. Krekot Bundaran IV. Rumah tersebut kini kembali menjadi titik kumpul kegiatan Pelestarian Lingkungan (PL) Xie Li Senen, sekaligus tempat memilah dan menerima barang-barang daur ulang dari warga sekitar.
Sebenarnya, rumah Sufiani bukanlah tempat yang baru bagi kegiatan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Sejak beberapa tahun lalu, rumah ini pernah menjadi Depo PL He Qi Pusat. Seiring berjalannya waktu, kegiatan di Depo Krekot tidak lagi berjalan karena telah tersedia Depo Pangeran Jayakarta yang menjadi salah satu titik kegiatan daur ulang. Meski demikian, Depo Krekot tidak benar-benar berhenti menerima barang daur ulang. Warga sekitar masih sesekali datang untuk menyumbangkan barang-barang yang sudah tidak terpakai, meskipun jumlahnya tidak sebanyak dahulu.
Kini, setelah sekian lama, relawan komunitas Xie Li Senen kembali berkegiatan di Krekot. Bagi mereka, kesempatan ini menjadi sebuah ladang berkah untuk menghidupkan kembali titik pilah daur ulang sekaligus menjalin jodoh baik dengan warga sekitar.
Krekot dipilih bukan tanpa alasan. Sebagian warga telah mengenal Tzu Chi dan masih mengingat rumah tersebut sebagai tempat menerima barang-barang daur ulang. Kenangan itu menjadi pintu bagi relawan untuk kembali menyapa warga dan mengenalkan bahwa kegiatan Pelestarian Lingkungan kini kembali hadir.
Pheilysia (kiri), Ketua PIC Pelestarian Lingkungan Xie Li Senen, menerima sumbangan barang daur ulang dari salah seorang warga. Sumbangan tersebut menjadi barang daur ulang pertama yang diterima setelah kegiatan di titik kumpul Krekot kembali diaktifkan pada Agustus 2026.
Mardhiana (kiri), Wakil Koordinator Pelestarian Lingkungan, memberikan pengarahan kepada Kevin dan relawan lainnya mengenai cara memilah barang daur ulang dengan benar. Botol plastik, majalah, kertas berwarna, dan kertas putih dipisahkan ke dalam wadah yang berbeda agar memiliki nilai jual yang lebih baik.
Kegiatan ini bukan hanya tentang memilah botol plastik, kardus, kertas, atau barang bekas lainnya, sebaliknya relawan juga ingin mengajak warga memahami bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih memiliki nilai. Barang-barang tersebut dapat dikumpulkan, dipilah, kemudian dijual untuk mendukung kegiatan amal Tzu Chi dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, ketika warga menyumbangkan barang daur ulang, mereka tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga turut menanam benih kebajikan.
Semangat untuk menghidupkan kembali Depo PL Krekot pun mulai dirasakan warga. Pheilysia, PIC Pelestarian Lingkungan, dengan penuh semangat menyampaikan kepada salah seorang warga bahwa sejak Agustus 2026, relawan kembali melakukan kegiatan di depo tersebut. Warga juga dapat menyumbangkan barang-barang daur ulang setiap hari.
Kabar tersebut rupanya menyentuh hati warga tersebut. Ia langsung memberikan sejumlah kardus berukuran besar yang dimilikinya. Ia juga mengatakan akan mengumpulkan botol-botol dan barang lain yang sudah tidak terpakai untuk kemudian disumbangkan kepada Tzu Chi.
Delia, relawan yang baru bergabung dengan Tzu Chi, dengan tenang memilah barang-barang berbahan kertas dalam kegiatan Pelestarian Lingkungan di Krekot. Meski baru pertama kali mengikuti kegiatan ini, Delia turut membantu dengan tekun dan tanpa ragu menangani barang-barang daur ulang yang terkumpul.
Pheilysia menjelaskan bahwa barang-barang yang diterima nantinya akan dijual dan hasilnya digunakan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Mendengar penjelasan tersebut, warga itu pun memahami bahwa barang yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat menjadi bagian dari kebajikan.
Bagi relawan kembang, kegiatan di Krekot juga menjadi kesempatan untuk belajar. Kevin, salah seorang relawan kembang, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan Pelestarian Lingkungan. “Beberapa kali ikut kegiatan, tapi saya belum pernah ikut Pelestarian Lingkungan. Apa yang harus dikerjakan, belajar yang baru lagi hari ini,” ujarnya.
Melihat Kevin yang masih belajar, Mardhiana, Wakil Koordinator Pelestarian Lingkungan, menjelaskan cara memilah barang daur ulang. Botol plastik, majalah, kertas berwarna, hingga kertas putih perlu dipisahkan dan dirapikan ke dalam wadah yang berbeda karena masing-masing memiliki nilai jual yang berbeda.
Dengan tekun, Kevin bersama relawan lainnya mengikuti arahan tersebut. Mereka belajar bahwa dalam kegiatan daur ulang, ketelitian dan kerapian juga menjadi bagian penting. Barang-barang yang terlihat sederhana ternyata perlu dipilah dengan benar agar dapat memberikan nilai yang lebih baik.
Di antara para relawan, Delia juga tampak tanpa ragu memasukkan berbagai barang daur ulang ke dalam karung. Meski sebagian barang dalam kondisi kotor dan kurang nyaman untuk disentuh, ia tetap melakukannya dengan tenang. Sosoknya yang pendiam namun rajin membuatnya terus membantu pekerjaan yang ada tanpa banyak bicara.
Sukacita para relawan Xie Li Senen saat bersama-sama melakukan kegiatan Pelestarian Lingkungan di Krekot. Melalui kegiatan ini, relawan tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga kembali menjalin jodoh baik dengan warga sekitar melalui kebiasaan memilah dan menyumbangkan barang daur ulang.
Kebersamaan terlihat sepanjang kegiatan. Para relawan saling menjaga hati, menebarkan senyuman, dan tetap bersikap sopan ketika melakukan pekerjaan. Bagi mereka, memilah barang daur ulang bukanlah pekerjaan yang hina, meskipun harus berhadapan dengan barang-barang yang kotor, bau, atau tidak lagi menarik untuk digunakan.
Justru melalui pekerjaan sederhana tersebut, relawan memberikan contoh nyata kepada warga sekitar. Ketika warga melihat relawan dengan sukarela menyentuh dan memilah barang-barang bekas, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari diri sendiri dan dari rumah masing-masing.
Kembalinya kegiatan Pelestarian Lingkungan di Krekot menjadi lebih dari sekadar mengaktifkan kembali sebuah titik pilah. Tempat ini menjadi jembatan bagi relawan untuk kembali menjalin jodoh baik dengan warga yang pernah mengenal Tzu Chi sekaligus membuka kesempatan bagi warga yang belum mengenalnya.
Dengan adanya titik pilah yang kembali aktif, warga tidak perlu khawatir barang-barang daur ulang dari rumah mereka berakhir menjadi sampah. Barang tersebut dapat dikumpulkan dan disumbangkan untuk menjadi berkah bagi sesama.
Dari sebuah rumah di Krekot, sebuah ladang berkah kembali dibuka. Semoga semakin banyak warga yang tergerak untuk menyisihkan barang yang tidak lagi digunakan, menjaga kebersihan lingkungan, sekaligus mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi kebajikan bagi orang lain.
Editor: Metta Wulandari