Pelatihan relawan abu putih terasa istimewa dengan hadirnya narasumber Desminar, komite Tzu Chi Batam, yang telah bergabung sejak 2009 dan membagikan pengalaman perjalanannya kepada para relawan.
Pelatihan relawan abu putih di Yayasan Buddha Tzu Chi bertujuan untuk membekali relawan dengan pemahaman yang benar mengenai visi, misi, serta filosofi organisasi, sekaligus memperkuat tekad dan komitmen dalam menjalankan kegiatan kemanusiaan. Melalui pelatihan ini, relawan dibimbing untuk menumbuhkan nilai cinta kasih, kebijaksanaan, dan sikap saling menghargai, serta membangun karakter yang disiplin dan mampu bekerja selaras dalam kebersamaan. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi sarana pengembangan diri agar relawan dapat menjalankan peran dengan penuh ketulusan, menjaga keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Pada Minggu, 26 April 2026, relawan Tzu Chi di Tanjung Balai Karimun mengadakan pelatihan relawan abu putih yang berlangsung dengan penuh makna ini. Kegiatan ini terasa istimewa dengan hadirnya narasumber, Desminar, seorang komite dari Tzu Chi Batam, yang telah bergabung sejak tahun 2009 saat masih duduk di bangku SMP dan resmi menjadi komite pada tahun 2024. Perjalanan panjangnya dalam menjalin jodoh dengan Tzu Chi menghadirkan banyak pengalaman berharga yang dibagikan kepada para relawan.
Dengan senyum ramah, Desminar membawakan materi kepada para relawan. Selama perjalanannya di Tzu Chi, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk berkembang, mulai dari membina Tzu Shao dan Tzu Ching hingga melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
Kehadiran Desminar bertujuan untuk menginspirasi para relawan, baik yang baru bergabung, yang sedang menapaki jenjang dari abu putih ke abu putih logo, maupun yang bersiap menuju komite. Melalui kisah dan pengalamannya, para relawan diharapkan semakin bertekad dalam mengemban tanggung jawab, menapaki jalan Bodhisatwa, serta terus menebarkan kebajikan demi mengurangi penderitaan di dunia.
Dalam sesi materi, Desminar mengangkat tema “Tradisi Keluarga Jing Si” (靜思家風), yang bermakna refleksi batin dan penataan keluarga. Ia menjelaskan bahwa nilai ini senantiasa diterapkan dalam Tzu Chi melalui pembelajaran untuk terus melakukan refleksi diri serta menata “keluarga besar” Tzu Chi agar semakin harmonis dan penuh kebajikan. Selain itu, ia juga membagikan sebuah kata perenungan yang dapat dijadikan pedoman dalam menapaki jalan Bodhisatwa, yaitu, “Satu hari tidak kerja, satu hari tidak makan,” yang mengandung makna pentingnya ketekunan, kemandirian, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dicontohkan melalui kehidupan para bhikuni di Taiwan yang setiap hari bekerja dengan tekun, mengolah hasil panen, dan memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
Di akhir materinya, Desminar menutup dengan kutipan perenungan dari Master, “Hidup yang benar adalah kehidupan yang sederhana, mandiri, bekerja dengan tulus, serta mempraktikkan Dharma ke dalam kehidupan sehari-hari dengan hati yang bersih.” Kutipan tersebut menjadi pengingat bagi para relawan untuk senantiasa menjaga ketulusan hati dalam setiap langkah pengabdian.
Ketua harian Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, Sukmawati bersama Desminar memberikan semangat kepada para relawan untuk terus mengemban tanggung jawab di Tzu Chi, serta menghadirkan manfaat bagi sesama dan diri sendiri.
Perjalanan panjang yang dijalani Desminar di Tzu Chi menjadi bukti bahwa setiap kesempatan merupakan ladang pembelajaran dan pertumbuhan diri. Berbagai tanggung jawab yang diembannya tidak hanya memperkaya pengalaman, tetapi juga membentuk ketangguhan, keterampilan, serta ketulusan dalam melayani. Semangat inilah yang ingin ia tularkan kepada para relawan agar terus melangkah dengan keyakinan dan tidak mudah goyah dalam menapaki jalan kebajikan.
Hal tersebut ia sampaikan melalui pengalaman pribadinya, “Selama 18 tahun saya di Tzu Chi, saya diberikan banyak kesempatan karena dipercaya sebagai penanggung jawab pelatihan. Saya juga membina muda-mudi tingkat SMA hingga mahasiswa, yaitu Tzu Shao dan Tzu Ching. Dalam dunia perkuliahan, saya pun dituntut untuk menjadi pembicara, dan di Tzu Chi saya mendapatkan ruang untuk melatih kemampuan tersebut. Mental, wawasan, dan komunikasi semuanya saya pelajari di sini. Jadi, apakah pernah merasa bosan? Saya rasa, rasa bosan itu sudah tertutupi oleh pengalaman yang saya dapatkan di sini,” ungkap Desminar.
Dalam dinamika berorganisasi, perbedaan pandangan dan tantangan dalam berinteraksi merupakan hal yang tidak terhindarkan. Namun, justru melalui proses inilah para relawan ditempa untuk semakin matang dalam bersikap dan bertindak. Desminar menekankan bahwa Tzu Chi bukan hanya tempat untuk berbuat kebajikan, tetapi juga menjadi ladang pembelajaran batin dalam melatih kesabaran, kerendahan hati, serta keterbukaan terhadap masukan. Ia mengajak para relawan untuk memaknai setiap perbedaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Ia mengungkapkan, “Di Tzu Chi terdapat begitu banyak orang, sehingga tentu ada yang tidak sejalan dengan kita. Kita mungkin saja dipandang kurang tepat di mata orang lain, tetapi justru di sinilah Tzu Chi menjadi ladang berkah, tempat kita belajar menahan diri dan menerima pendapat orang lain. Memang tidak mudah, apalagi ketika kita sudah berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap belum dapat diterima sepenuhnya. Ibarat sebuah gelas, jangan kita memenuhinya hingga 100 persen, sisakan ruang agar dapat diisi kembali. Demikian pula di Tzu Chi, kita perlu senantiasa terbuka dalam menerima masukan sebagai pelajaran dan pengalaman, agar kita dapat terus memperbaiki diri,” ungkap Desminar.
Lili Yanti membagikan pengalaman batinnya saat mulai memberanikan diri melangkah dan mengenal lebih dekat kegiatan Tzu Chi, sebagai awal perjalanan dalam menumbuhkan nilai kebajikan.
Sejalan dengan hal tersebut, pengalaman batin juga dirasakan oleh Lili Yanti, yang telah lama mengenal Tzu Chi dan memiliki ketertarikan terhadap nilai-nilai yang diajarkan, meskipun belum pernah terlibat langsung dalam kegiatan. Berbagai tanggung jawab keluarga sempat membuatnya ragu untuk melangkah. Namun, melalui pergulatan batin yang ia alami, tumbuh keberanian dalam dirinya untuk mulai mendekat dan hadir. Proses ini menjadi langkah awal baginya dalam menata waktu, menguatkan hati, serta menemukan ketenangan saat mulai mengenal lebih dekat lingkungan yang sarat dengan nilai kebajikan.
“Dulu saya banyak memikirkan orang tua karena tidak ada yang menjaga. Pekerjaan rumah dan pekerjaan pribadi juga banyak, jadi sering ragu dan takut tidak diizinkan, sampai akhirnya niat untuk datang pun batal. Waktu itu memang di rumah tidak ada yang bisa membantu, adik juga bekerja ke luar kota, dan kondisi orang tua sering kurang sehat,” ungkapnya.
Seiring dengan perubahan kondisi keluarga yang semakin membaik, perlahan tumbuh keyakinan dalam diri Lili Yanti untuk mulai melangkah. Dukungan situasi di rumah serta pengalaman pribadi yang sempat ia hadapi menjadi dorongan baginya untuk memberanikan diri hadir dan mengenal lebih dekat kegiatan yang selama ini ia perhatikan dari kejauhan. Momen tersebut menjadi titik awal baginya dalam membuka langkah, sekaligus merasakan secara langsung makna kebersamaan dan ketenangan batin.
“Sekarang adik sudah pulang dan bekerja di sini, orang tua juga sudah agak sehat, dan sudah ada yang membantu menjaga di rumah. Yang paling membuat saya akhirnya siap adalah saat menghadapi masalah pribadi yang membingungkan. Dari situ saya mulai berpikir kembali dan mencoba datang untuk ikut kebaktian. Pelan-pelan saya bisa mengatur waktu dan mulai hadir di berbagai kegiatan. Walaupun terkadang merasa lelah, tetapi hati saya merasa senang, lega, dan semua ini sangat berarti bagi saya,” ungkapnya.
Sebagai ungkapan terima kasih, relawan memberikan suvenir kepada Desminar atas kesediaannya meluangkan waktu untuk berbagi perjalanan dan pengalaman di Tzu Chi kepada para relawan.
Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa setiap langkah kecil dalam pelayanan memiliki makna yang besar ketika dilakukan dengan hati yang tulus. Melalui pembekalan nilai, pengalaman, dan refleksi yang dibagikan, para relawan diharapkan dapat terus menjaga semangat kebajikan dalam keseharian, memperkuat kebersamaan, serta melangkah dengan keyakinan di jalan Bodhisattva. Dengan demikian, semangat cinta kasih yang ditanamkan dalam pelatihan ini dapat terus hidup dan memberi manfaat bagi sesama.
Editor: Metta Wulandari