Menjadi Mata dan Telinga Master Cheng Yen

Jurnalis : Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Aris Widjaja (He Qi Jakarta Barat 4)

Bukan sekadar merekam apa yang tampak di luar (Outside), Stephen Ang mengajak para relawan dokumentasi untuk menyelami "sisi dalam" (Inside) sebuah peristiwa.

Waktu boleh saja melarutkan jejak langkah, namun selembar foto sanggup menjaga denyut kebaikan tetap terasa nyata melampaui zaman. Semangat untuk merawat setiap benih kebajikan agar tetap abadi inilah yang melahirkan suasana penuh inspirasi di Ruang Meeting Besar, Lantai 1 Gedung DAAI, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Sebanyak 52 relawan lintas misi berkumpul dalam pelatihan yang digelar oleh komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan He Qi Jakarta Barat 4 untuk menyelami filosofi dokumentasi melalui pelatihan bertajuk "Mengabadikan Momen, Menyampaikan Makna".

Hadir sebagai pemateri, Stephen Ang, seorang relawan Zhen Shan Mei senior yang telah mendedikasikan lebih dari 15 tahun perjalanannya sejak tahun 2010. Bagi Stephen, kamera bukan sekadar alat pengambil gambar, melainkan sarana untuk menyimpan bukti nyata tentang keindahan kasih sayang manusia agar terus menyapa sekaligus menginspirasi jiwa-jiwa di masa depan. Melalui semangat Ren Ren Zhen Shan Mei, ia menekankan bahwa pintu dokumentasi sejatinya terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin menjadi perpanjangan mata dan telinga Master Cheng Yen dalam merekam jejak ketulusan di lapangan.

Dalam filosofinya, Stephen menjelaskan bahwa setiap karya dokumentasi Tzu Chi memiliki dua lapisan yang tak terpisahkan: sisi luar (outside) yang menampilkan aksi fisik yang tertangkap mata, dan sisi dalam (inside) yang menyimpan denyut perasaan serta inti makna di balik peristiwa tersebut. Melalui pemahaman ini, relawan Zhen Shan Mei dilatih untuk tidak sekadar memotret, melainkan menyatu dengan keadaan. “Kita harus bisa melihat lebih teliti dan merasakan lebih dalam agar bisa menangkap apa yang sesungguhnya bersemayam di hati orang-orang yang kita foto,” jelasnya.

Para relawan dari berbagai komunitas He Qi menyimak dengan penuh kesungguhan hati saat Stephen Ang memaparkan filosofi dokumentasi Tzu Chi di Ruang Meeting Besar Gedung DAAI.

Ketajaman visi ini sesungguhnya berakar pada kejernihan batin sang pemotret. Stephen mengibaratkan jendela bidik (viewfinder) kamera sebagai ruang meditasi hening, tempat seorang relawan belajar mengabaikan gangguan di sekeliling demi menjalin ikatan intim dengan momen yang sedang diabadikan. Fokus mendalam inilah yang ia yakini mampu melahirkan foto yang memiliki "jiwa" dan kelak menjadi "baterai" penyemangat saat niat awal pengabdian seorang relawan mulai goyah.

Lebih dari sekadar teknik, dokumentasi Tzu Chi menjadi saksi atas luwesnya Budaya Humanis dalam merangkul perbedaan melalui prinsip toleransi dan pengertian (San Jie Bao Rong). Selama belasan tahun, Stephen menyaksikan betapa organisasi ini sangat menghargai jati diri setiap individunya, mulai dari relawan Muslim yang tetap bersahaja dengan jilbabnya, pemberian ruang kenyamanan berpakaian bagi relawan yang sedang hamil, hingga penghormatan terhadap identitas pribadi seperti janggut atau rambut panjang selama tetap bergerak dalam koridor kebenaran.

Jalan kebaikan ini terbukti tidak bersifat kaku, sebagaimana terekam dalam ingatan Stephen tentang momen kuat saat para ibu rumah tangga bahu-membahu mendorong bus yang terperosok lumpur demi menjalankan tugas sosial. Di mata Master Cheng Yen, kesulitan tersebut bukanlah sekadar hambatan, melainkan potret nyata para relawan yang sedang bersama-sama menuliskan sejarah kebajikan melalui peluh dan ketulusan hati.

Menemukan Jiwa di Balik Lensa

Indira Margarita, relawan Tzu Ching Bandung yang berlatar belakang pendidikan DKV, menyadari bahwa dokumentasi Tzu Chi bukan sekadar soal komposisi dan keindahan visual. Melalui pelatihan ini, ia belajar mengasah mata hati untuk menangkap rasa dan emosi yang sering kali muncul secara spontan. 

Pemaparan Stephen mengenai dimensi inside ini kemudian memberi pandangan baru bagi para peserta, salah satunya Indira Margarita (19). Relawan Tzu Ching Bandung berlatar belakang pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) ini awalnya memiliki standar kaku mengenai sebuah citra. "Biasanya dari sudut pandang DKV saya lebih fokus pada komposisi, estetika, dan bagaimana foto terlihat menarik secara visual. Namun di sini saya sadar dokumentasi juga tentang menangkap makna, emosi, dan nilai dari sebuah momen," ungkap Indira.

Indira teringat pengalamannya saat mendokumentasikan pembagian takjil Ramadhan di Bandung. "Dokumentasi perlu dibuat dengan perasaan. Saya berusaha menangkap momen yang memiliki rasa, supaya orang bukan cuma melihat kegiatannya, tapi bisa merasakan suasana kemanusiaan di dalamnya. Saat itu, melihat ekspresi bahagia warga memberikan rasa puas dan haru yang jauh lebih membekas secara emosional dibanding hasil fotonya sendiri," tuturnya.

Melalui pelatihan ini, Lusy Lauren (kiri) semakin memantapkan niat untuk menggunakan dokumentasi sebagai sarana menunjukkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada rasa syukur dan kekuatan untuk tetap tegar yang patut dijadikan teladan.

Langkah untuk merasakan situasi ini pun diamini oleh Lusy Lauren, Koordinator Bidang Amal Hu Ai Kelapa Gading. Bagi Lusy yang sering mendampingi penerima bantuan, dokumentasi adalah jembatan empati. "Tantangannya adalah merasakan jeritan hati mereka atau penderitaannya yang begitu dalam. Kita harus benar-benar hadir dan menjiwai situasi pilu maupun haru tersebut," jelas Lusy.

Kedalaman empati tersebut dirasakan nyata oleh Fanggela Hartono, relawan Zhen Shan Mei dari He Qi Tangerang, saat melakukan survei kasus. Ia tertegun mendengar warga yang hanya mampu membeli minyak goreng seukuran gelas plastik seharga Rp5.000 setiap hendak memasak. "Saya speechless dan berusaha tenang walau dalam hati ingin menangis membandingkannya dengan kondisi keluarga saya," kenang Fanggela. Momen getir itulah yang menyadarkannya bahwa dokumentasi baru memiliki nyawa ketika relawan mampu menyelami penderitaan sesama.

Pencerahan batin ini kemudian mewujud dalam perubahan teknis. Fanggela kini lebih berani memotret jarak dekat demi merekam interaksi yang tulus. "Saya belajar untuk lebih sabar menunggu momen yang tepat karena tidak dapat diulang. Pada akhirnya, muncul rasa 'ternyata saya ada gunanya juga'," ungkapnya penuh semangat.

The Hany (kiri) dan Fanggela Hartono (kanan) saat berdiskusi di meja kelompok dalam sesi praktik dokumentasi. Meski berasal dari latar belakang misi yang berbeda, keduanya menyatukan hati untuk menangkap setiap butir kebajikan di lapangan.

Semangat belajar tanpa batas ini juga terpancar dari The Hany, Koordinator Bidang Pelestarian Lingkungan Hu Ai Muara Karang. Meski hanya bermodal ponsel sederhana, Hany tetap gigih mengabadikan kegiatan lingkungan agar bisa mengajak warga mengubah sampah menjadi emas. "Niat belajar jangan dibatasi alat. Yang utama adalah bagaimana hati kita hadir untuk menyampaikan nilai positif relawan," tuturnya penuh syukur.

Segala teknik dan kejernihan batin ini bermuara pada pelatihan diri, sebagaimana ditegaskan oleh Youmi, Koordinator Bidang Budaya Humanis Hu Ai Pluit. Youmi menekankan bahwa proses dokumentasi membutuhkan konsentrasi penuh dan penghormatan tinggi terhadap martabat manusia di atas keinginan untuk sekadar diterima oleh editor. "Sebuah foto bukan hanya untuk tertarik dilihat, sehingga melupakan norma-norma kesopanan, tetapi harus mengandung nilai kemanusiaan dengan tidak menampilkan kekurangan dari narasumber. Di Tzu Chi, kita ada minta izin dulu, kita tidak menampilkan langsung wajah narasumber, dan tidak mencegat pandangan orang lain saat bertugas," tegas Youmi.

Bagi Youmi, menjadi relawan dokumentasi adalah tanggung jawab batin yang besar untuk mewariskan sejarah cinta kasih. "Kualitas yang paling penting dibangun adalah perhatian yang dalam, sukacita, empati, dan bertanggung jawab," pungkasnya.

Bagi Youmi (memegang ponsel), proses dokumentasi adalah bentuk Xiu Xing (pelatihan diri) yang membutuhkan konsentrasi batin dan fokus sepenuhnya pada keadaan.

Pelatihan hari itu akhirnya meninggalkan pesan yang mengakar kuat di batin para peserta bahwa setiap dokumentasi merupakan salah satu cara terbaik untuk mencintai sesama manusia. Menjadi bagian dari tim Zhen Shan Mei berarti bersedia melatih hati untuk menangkap binar cahaya kebajikan dan memastikannya tidak hilang ditelan zaman.

Sebagaimana pesan Master Cheng Yen, “Sejarah merupakan akumulasi daripada setiap momen yang berlalu, jadi genggamlah setiap momen yang ada untuk menciptakan sejarah.” Melalui hati yang peka dan lensa yang jujur, sejarah cinta kasih hari ini kini telah siap untuk diwariskan dengan penuh kebanggaan kepada dunia serta generasi masa depan.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Belajar Bersumbangsih Melalui Hasil Karya

Belajar Bersumbangsih Melalui Hasil Karya

25 April 2016
Henry menjelaskan peranan relawan Zhen Shan Mei yang amat penting dalam keluarga besar Tzu Chi. Sebab melalui penulisan dan foto relawan Zhen Shan Mei, Master Cheng Yen menjadi tahu tentang keadaan dunia ini. Relawan Zhen Shan Mei bagaikan mata dan telinga beliau.
Pelatihan Zhen Shan Mei: Setiap Sejarah

Pelatihan Zhen Shan Mei: Setiap Sejarah

26 Februari 2014 Pelatihan ini dimaksudkan agar terbentuknya satu tim relawan Zhen Shan Mei di setiap Hu Ai  yang menguasai bidang foto, artikel, video, dan skrip video. Selain itu melalui pelatihan ini juga  diharapkan agar pencatatan dan dokumentasi sejarah Tzu Chi Indonesia menjadi semakin lengkap.
Saling Berbagi dan Berkembang

Saling Berbagi dan Berkembang

07 Juli 2025

Komunitas relawan Tzu Chi di He Qi Barat 1 dan Barat 2 mengadakan kelas Belajar Bersama dengan tema Meliput Jejak Bodhisatwa di Ruang Budaya Humanis Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat pada Minggu, 29 Juni 2025. Kegiatan dihadiri 26 peserta.

Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -