Menjalin Silaturahmi di Bulan Suci Ramadhan

Jurnalis : Yuliati, Fotografer : Yuliati

Tim medis Tzu Chi dan karyawan RSKB bersama-sama mengadakan acara buka puasa bersama pada tanggal 12 Juli 2014. Peserta yang hadir pun menuangkan celengan bambu Tzu Chi yang dimilikinya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan spesial bagi umat Islam, dimana selama sebulan penuh diwajibkan untuk membina dirinya menjadi insan yang lebih baik. Baik pembinaan diri dalam hal menahan makan dan minun mapun pembinaan pada pikiran, ucapan, dan tindakan. Begitu juga pada bulan suci ini, setiap tahunnya tim medis Tzu Chi menggelar acara buka puasa bersama. Kali ini, pada tanggal 12 Juli 2014, Tzu Chi Intenational Medical Asosiation (TIMA) bersama karyawan Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng bersama-sama mengadakan acara tersebut di kantin Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Satu persatu tim medis Tzu Chi maupun dari RSKB dengan penuh semangat dan gembira datang mengikuti acara ini baik yang berpuasa maupun yang tidak. “Walaupun tidak semuanya Muslim, acara ini untuk menjalin silaturahmi,” ungkap drg. Laksmi Widiyastuti, koordinator kegiatan. Semangat dan sukacita juga ditunjukkan saat penuangan celengan bambu Tzu Chi dari para dokter yang membawa. Selain itu, pada kesempatan ini juga diberikan sosialisasi xiang ji fan (nasi instan Jing Si) kepada 150 peserta yang hadir.

Dalam acara ini juga ada sosialisasi nasi instan Jing Si (Xiang Xi Fan) yang disampaikan oleh Sudarno, salah satu relawan Tzu Chi.

Saling Mendekatkan Diri

Salah satu peserta buka puasa bersama, drg. Harijono Soegeng Hartono, seorang non Muslim datang bersama sang istri dengan penuh sukacita. Sejak bergabung di tim medis Tzu Chi pada tahun 2012, ia selalu mendukung kegiatan Tzu Chi. “Saya melihat (Yayasan) Buddha Tzu Chi itu tanpa pamrih dalam bekerja,” katanya. Ia juga senang bisa mengikuti kegiatan baksos-baksos kesehatan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Dokter Harijono mengaku kegiatan buka bersama ini sangat bagus diadakan bersama-sama. “Akan menjalin persaudaraan lintas agama, karena mendekatkan kita bisa lebih tahu antar agama,” ucap dokter gigi ini. Bahkan lebih dari itu, ia juga berharap agar kegiatan buka puasa bersama ini bisa berkelanjutan. “Kalau bisa nggak berhenti di sini dan acaranya lebih variatif lagi, mungkin ada bedug untuk (pertanda) memulai buka puasa,” kata drg. Harijono.

Satu persatu peserta mengambil makan yang telah disediakan secara bergantian. Mereka pun menikmati buka bersama dengan penuh sikacita.

Demikian juga disampaikan oleh drg. RR. Prabanthy Ayuthaya yang mengaku bahwa Tzu Chi telah menyediakan ladang dan ia yang mencangkul. Sejak tahun 2003 merapatkan barisan Tzu Chi sebagai tim medis, ia sering ikut baksos-baksos kesehatan yang diadakan Tzu Chi. Bahkan sudah lebih kurang lima tahun, ia menjadi vegetaris dan di tahun ini sudah mulai vegan. “Vegan baru tahun ini. Kebetulan keluarga saya banyak yang meninggal akibat kanker termasuk abang saya. Saya tahu kalau daging merah memicu kanker jadi saya vegan,” aku Dokter Ayu, sapaan akrabnya.

Dokter Harjono Soegeng Hartono (kacamata) bersama istrinya, drg. Patricia Megawati (kanan) menghadiri acara buka puasa bersama di kantin Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

Melihat banyak dokter dan relawan non Muslim yang terlibat pada kegiatan ini, Dokter Ayu mengatakan bahwa inilah keunikan di Tzu Chi. “Tzu Chi itu memang lintas agama, lintas budaya, lintas ras. Siapa saja kita tolong. Hal ini yang bikin (saya) betah di Tzu Chi,” ungkapnya. bahkan pada kesempatan ini, ia juga menuangkan celengan bambu Tzu Chinya yang diletakkan di kantor dan rumahnya.

Kebersamaan dalam keberagaman inilah yang membuat saling mentoleransi masing-masing peserta. Dengan penuh sukacita, mereka menikmati buka puasa bersama dalam satu keluarga.

Dokter RR. Prabanthy Ayuthaya (jilbab), kurang lebih lima tahun telah menjadi seorang vegetaris, bahkan pada tahun ini telah vegan demi kesehatannya.

 


Artikel Terkait

Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -