Menjangkau Pelosok Pulau, Membuka Harapan bagi Penderita Katarak

Jurnalis : Supardi (Tzu Chi Batam), Fotografer : Supardi (Tzu Chi Batam)

Salah satu Tim Medis TIMA Indonesia memeriksa kesehatan mata warga yang menjadi peserta Skrining Baksos Kesehatan untuk tindakan operasi katarak.

Untuk menjangkau pasien dari pulau terpencil, kegiatan Skrining Awal Baksos Kesehatan di luar pulau dilaksanakan oleh relawan Tzu Chi Batam, pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Kegiatan skrining awal ini bertempat di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Satu hari sebelumnya, 10 relawan Tzu Chi dan 2 tenaga medis dari Rumah Sakit Budi Kemuliaan menempuh perjalanan laut selama 5 jam dari Pelabuhan Punggur, Pulau Batam menuju Pelabuhan Jagoh, Dabo Singkep.

Bagi dr. Ezra Margareth Sp. M., salah satu tenaga medis yang mengikuti kegiatan, kunjungan keluar pulau bukan hal baru ataupun asing karena melayani pasien bagi dirinya bukan hanya profesi melainkan sebuah pengabdian.

“Pasien yang membutuhkan tidak bisa keluar kota karena usia lanjut. Kita sebagai dokter spesialis mata perlu datang berkolaborasi untuk menyediakan fasilitas kesehatan di daerah-daerah terpencil tersebut. Pengabdian yang perlu dilakukan sebagai dokter terutama dokter spesialis mata. Bila memang dibutuhkan pengabdian kita ke luar pulau atau keluar kota, kita akan menjangkau pasien yang membutuhkan,” tutur dr. Ezra Margareth.

Sosialisasi Perdana Tzu Chi
Walau Tzu Chi telah mengkoordinasi mengenai skrining awal baksos sebanyak empat kali di Dabo Singkep, namun pengetahuan warga dan sukarelawan setempat terhadap Tzu Chi masih sangat terbatas. Oleh sebab itu, malam sebelum diadakan skrining, Tzu Chi Batam terlebih dahulu mengadakan kegiatan Sosialisasi Tzu Chi dengan dr. Elly sebagai pembicara tunggal.

Relawan Tzu Chi memberikan sosialisasi dan pengenalan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kepada warga Dabo Singkep.

“Kita tahu bahwa di Tzu Chi untuk melakukan amal, kita selalu langsung. Kita mau langsung supaya cepat dan juga tepat. Kita tahu batas geografi kita jauh sehingga kita berharap dengan adanya relawan setempat, bisa menjadi mata dan tangan Tzu Chi untuk melihat lingkungannya. Seandainya ada yang benar-benar membutuhkan, bisa ada yang datang langsung, melihat langsung sesuai prosedur kita,” terang dr. Elly, relawan Komite Tzu Chi Batam.

Semangat berbagi tidak diukur dari seberapa besar materi yang dimiliki, melainkan dari ketulusan hati untuk membantu sesama. Melalui filosofi Celengan Bambu Tzu Chi, Master Cheng Yen mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat kebajikan, bahkan melalui donasi kecil yang dilakukan dengan penuh cinta kasih. Pesan inilah yang disampaikan dr. Elly dalam kegiatan sosialisasi Tzu Chi, sekaligus mengajak masyarakat memahami bahwa tujuan utama gerakan Celengan Bambu bukan sekadar menggalang dana, tetapi juga menggalang hati dan membangkitkan kepedulian terhadap sesama.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini kita ingin melakukan amal, kita perlu dana. Di sini kita menjelaskan semangatnya Master yaitu semangat Celengan Bambu Tzu Chi. Di sini jangan menganggap bahwa untuk menjadi seorang donatur, kita harus benar-benar mampu, kita harus mengeluarkan uang banyak, tapi yang penting ialah kita menggalang hati. Master Cheng Yen percaya setiap orang memiliki cinta kasih yang perlu dibangkitkan sehingga bisa melakukan hal-hal baik,” jelas dr. Elly.

Salah satu relawan Tzu Chi, dr. Elly, berharap Semangat Celengan Bambu dapat hadir di tengah warga Dabo Singkep, sehingga lebih banyak pasien dari warga Dabo Singkep dan pulau terpencil sekitar dapat terbantu.

Salah satu warga Dabo Singkep, Ibu Vica mengungkapkan bahwa awalnya ia mengira Yayasan Buddha Tzu Chi hanya diperuntukkan bagi umat Buddha. Namun, setelah mengikuti sosialisasi, pandangannya berubah. Ia memahami bahwa Tzu Chi merupakan organisasi kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai cinta kasih universal tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

“Awalnya saya pikir, Yayasan Tzu Chi ini khusus untuk Buddha. Ternyata setelah disosialisasikan, ternyata ras, agama, dan golongan tidak dibeda-bedakan. Jadi saya merasa terpanggil, kebetulan saya katolik. Di Katolik kita juga diajarkan untuk mengasihi,” ucap Ibu Vica.

Skrining Awal Baksos Dimulai
Kegiatan Skrining Awal Baksos Kesehatan untuk tindakan operasi katarak diselenggarakan dari pukul 08.00-12.00 WIB di gedung Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), Kabupaten Lingga. Sebelum skrining dimulai, dr. Elly dan dr. Ezra terlebih dahulu menjelaskan alur pemeriksaan dan hal yang perlu diperhatikan selama skrining kepada sepuluh tenaga kesehatan dari puskesmas.

“Dengan senang hati kita membantu, mendukung dan mensukseskan karena memang ini adalah kegiatan bakti sosial. Tim-tim kita juga, tenaga kesehatan baik itu dokter maupun perawat yang terlibat dalam kegiatan ini, mereka senang dan memang sepenuh hati membantu,” kata Kadiskesppkb Kab. Lingga, dr. Bukit TR Gultom MM.

Salah satu warga Dabo Singkep, Ibu Vica, turut berperan mensukseskan skrining baksos ini setelah mengenal Tzu Chi yang merupakan organisasi kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai cinta kasih universal tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan.

Dokter Bukit TR Gultom MM, Kadiskesppkb Kab. Lingga (topi putih), berharap Tzu Chi dapat menghadirkan baksos operasi di Lingga agar lebih banyak warganya di pulau kecil sekitar berpeluang mendapatkan pengobatan.

Baru 30 menit sejak dimulainya skrining, kursi antrian pendaftaran telah dipenuhi dengan pasien dan pendamping. Dengan dibantu sukarelawan yang sebagian besar adalah anggota PSMTI kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan terarah.

Salah satu Kepala Desa setempat, Ryan, bersama tiga warganya rela menempuh perjalanan panjang demi mengikuti kegiatan skrining operasi katarak. Mereka berangkat dari kampung sejak pukul 04.00 pagi menggunakan perahu pompong menuju Sei Buluh, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil hingga tiba di lokasi kegiatan sekitar pukul 08.30. Perjalanan tersebut ditempuh dengan penuh harapan agar ketiga warganya dapat memperoleh penanganan medis untuk mengatasi gangguan penglihatan yang dialami.

“Kami dari pulau berangkat tadi subuh. Dari kampung berangkat sekitar jam 4, lewat pompong sampai ke Sei. Buluh lalu naik mobil ke lokasi acara. Sekitar jam 8.30 sampai,” ungkap Kades Ryan.

Salah satu Kepala Desa, Ryan (berkacamata) mendampingi tiga warganya untuk mengikuti Skrining Baksos Kesehatan untuk tindakan operasi katarak.

Ryan juga menyambut baik kegiatan bakti sosial operasi katarak yang nantinya akan dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Ia juga menilai kegiatan baksos nanti akan membawa harapan baru bagi masyarakat di desanya. Terlebih, tiga warga yang didampinginya mengalami gangguan penglihatan hingga tidak dapat melihat. Ia berharap melalui kegiatan ini, ketiganya memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengobatan dan kembali melihat, sehingga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik dan mandiri.

“Yang pasti saya melihat dengan adanya kegiatan operasi katarak ini. Itu menumbuhan harapan bagi masyarakat kami. Dengan adanya kegiatan ini masyarakat kami dapat melihat. Tiga orang yang saya bawa dari kampung keadaannya tidak bisa melihat,” ucap syukur Kades Ryan.

Di antara 107 calon peserta baksos yang mengikuti skrining terdapat 36 peserta yang lolos pengecekan kesehatan dan 8 yang masih perlu kontrol ulang. Pasien yang lolos skrining akan dibawa ke Kota Batam pada tanggal 15 Oktober 2026 untuk mengikuti kembali Skrining Baksos Operasi Katarak pada 17-18 Oktober 2026, di Aula Jing Si Batam.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Operasi Katarak untuk Masyarakat Desa Tumbang Jutuh dan Desa Rabambang

Operasi Katarak untuk Masyarakat Desa Tumbang Jutuh dan Desa Rabambang

07 Juli 2025

Perjalanan empat jam ditempuh relawan Tzu Chi dari Xie Li Gunung Mas untuk membantu operasi katarak bagi 14 orang pasien di Klinik Mata Isen Mulang, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Penantian yang Berbuah Manis

Penantian yang Berbuah Manis

02 September 2015

Penantian Muhammad Muslim untuk mendapatkan pengobatan pada matanya menjadi kenyataan saat insan Tzu Chi mengadakan Bakti Sosial Katarak gratis bekerja sama dengan Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) pada Minggu, 23 Agustus 2015 di Priangan Medical Center, Jl. Nana Rohana No. 37, Bandung.

Kembali Melihat Terang, Kembali Mengajar Mengaji

Kembali Melihat Terang, Kembali Mengajar Mengaji

04 September 2026

Penglihatan Siti Khodijah berangsur membaik setelah menjalani operasi katarak yang digelar Tzu Chi di Pekanbaru. Usai menjalani kontrol kedua, Siti kini dapat kembali mengajar mengaji di rumahnya dengan lebih nyaman.

Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -