Relawan Tzu Chi Batam melakukan pendampingan kepada salah satu warga Kepulauan Anambas yang akan mengikuti proses screening awal.
Bulan 8 tanggal 15 penanggalan imlek merupakan saat dimana Etnis Tiong Hoa berkumpul dengan keluarga untuk bersama-sama menikmati Kue Bulan dan malam kebersamaan. Namun, beberapa relawan Tzu Chi Batam memilih untuk memanfaatkan momen istimewa ini dengan menjangkau masyarakat yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan operasi katarak di Kepuluan Anambas, Riau.
Kali ini, lima relawan Tzu Chi bersama seorang dokter dari RS Budi Kemuliaan berangkat menuju Desa Tarempa, Anambas, untuk melakukan screening bagi masyarakat yang membutuhkan pengobatan katarak. Perjalanan panjang itu ditempuh dengan pesawat selama sekitar 1 jam 15 menit, kemudian dilanjutkan perjalanan laut selama dua jam.
Setibanya di pelabuhan, para relawan segera menuju Pasar Desa, tempat pelaksanaan screening awal bakti sosial operasi katarak Tzu Chi. Di sana, warga yang telah datang menjalani pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi mata serta memastikan kelayakan mereka mengikuti operasi katarak.
Untuk tiba di lokasi kegiatan, para relawan Tzu Chi bersama tim medis dan TIMA Indonesia menempuh perjalanan udara, darat dan laut selama kurang lebih 6 jam.
Salah satu tim medis TIMA Indonesia memberikan pengarahan kepada peserta dalam proses pendaftaran yang berlangsung tertib di Desa Tarempa, Pulau Siantan, Kepulauan Anambas. Peserta yang dinyatakan lolos screening selanjutnya akan menjalani operasi katarak dalam kegiatan bakti sosial kesehatan di Kota Batam.
Pada Sabtu, 26 September 2026, sejak pukul 06.00 WIB, para relawan telah disibukkan dengan berbagai persiapan di lapangan. Bendera dipasang, meja dan kursi ditata, sementara peralatan medis disiapkan untuk mendukung proses pemeriksaan awal yang sudah dijadwalkan dan dimulai pukul 08.00 WIB, saat itu warga yang hendak memeriksakan mata telah berdatangan sejak pukul 07.00 WIB.
Setelah pengarahan singkat dari anggota TIMA Indonesia, kegiatan pun dimulai. Satu per satu peserta menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai tahap pertama untuk memastikan kondisi mereka sebelum mengikuti proses selanjutnya.
Di area pengecekan kesehatan, Ariesti Fri Sastijq, A.Md. Kep, perawat dari Puskesmas Tarempa, terus melakukan pengecekan berat badan, tensi dan gula darah kepada para calon peserta baksos. Risti (sapaan akrabnya) merupakan petugas yang dipercaya puskesmas untuk mensosialisasikan baksos sekaligus penghubung untuk para pasien di Anambas.
“Awalnya, saat menerima tanggung jawab ini, saya agak bingung karena sebelumnya belum pernah melakukannya. Tapi, setelah bertanya kepada para relawan senior dan mencari informasi, akhirnya saya tahu kegiatan ini merupakan bakti sosial katarak bagi warga yang kurang mampu,” ungkap Risti mengenai respons awalnya saat dipercaya menjadi penghubung antara relawan dan masyarakat.
“Perasaannya lega kegiatan sudah selesai. Saya juga senang bisa membantu banyak warga yang kurang mampu mendapatkan pemeriksaan mata,” tambahnya.
Salah satu dokter dari RS. Budi Kemuliaan Batam, dr. Nany Kustyah Sp. M sedang melakukan pemeriksaan mata kepada salah satu warga Kepulauan Anambas.
Berbeda dengan screening awal luar pulau sebelumnya, kali ini Tzu Chi juga melibatkan dokter spesialis mata dari rumah sakit yang telah bekerja sama yakni RS. Budi Kemuliaan Batam.
“Sebagai wilayah yang saat ini tidak ada fasilitas kesehatan mata, kunjungan kita memang sangat berguna sekali untuk melihat selain katarak apakah ada penyakit-penyakit yang lain. Dari pemeriksaan kita tadi didapatkan memang hampir 80% adalah katarak yang belum tertangani. Sisanya adalah penyakit sistemik seperti retinopati atau optikneuropati,” tutur dr. Nany Kustyah Sp. M.
Banyak warga dengan kadar gula dan tensi tinggi menyebabkan diantara 77 pasien yang menjalankan screening awal, hanya 21 pasien yang berhasil lolos screening. Beberapa pasien juga diharapkan untuk melakukan kontrol kesehatan dan kembali melalukan pengecekan kesehatan di Puskesmas sebelum nantinya diberangkatkan ke Kota Batam.
“Untuk daerah Anambas cukup jauh untuk sampai ke Batam. Diharapkan dengan diadakan screening awal, kita benar-benar mendapatkan pasien yang pasti akan mendapatkan tindakan operasi mengingat biaya perjalanan yang cukup jauh sehingga bisa bisa mengakomodir lebih baik lagi.” ujar dr. Nany Kustyah Sp. M.
Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, turut meninjau proses screening warga sekaligus menyampaikan apresiasi kepada Tzu Chi.
Kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat dukungan anggota PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa), para perawat dan dokter dari Puskesmas Tarempa, serta petugas dari Dinas Perhubungan. Di tengah proses pemeriksaan, Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, turut menyempatkan diri meninjau kegiatan. Ia mengapresiasi upaya relawan Tzu Chi Batam dalam menghadirkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayahnya.
“Saya Aneng, Bupati Kepulauan Anambas, mengucapkan ribuan terima kasih kepada Tzu Chi Kepulauan Riau dan Tzu Chi Pusat di Jakarta. Saat berbincang dengan warga, ada beberapa orang yang saya tanya, dulu dia sudah pernah operasi satu matanya dan sangat bagus dan sangat terang, maka sekarang dia ulang lagi. Dan membawa keluarganya untuk operasi mata katarak lagi,” ucapnya.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau. Kondisi geografis ini membuat penyediaan akses dan layanan kesehatan di wilayah terpencil menjadi tantangan yang perlu terus diupayakan dan diperbaiki. Sebagai yayasan kemanusiaan yang salah satu misinya berfokus pada kesehatan, Tzu Chi berkomitmen untuk terus hadir melayani masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah dan pulau-pulau yang sulit dijangkau.
Bagi para relawan Tzu Chi, setiap kesempatan untuk menjangkau pelosok negeri bukan sekadar perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan sebuah kesempatan untuk menggenggam tangan mereka yang membutuhkan dan menghadirkan harapan melalui pelayanan kesehatan.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari