Relawan Tzu Chi Bandung mempersipkan plastik bekas dan peralatan lainnya untuk membuat lampion serta bunga dari plastik bekas. Dengan membuat kreasi dari barang bekas pakai membuat siswa-siswi menjadi antusias.
Misi pelestarian lingkungan adalah salah satu misi yang terus dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan memberikan sosialisai dan pendidikkan tentang pelestarian lingkungan, terutama untuk generasi muda yang kelak memegang tongkat estafet peradaban. Langkah tersebut dijalankan oleh Tzu Chi Bandung dengan melaksanakan program sosialisasi pelestarian lingkungan yang dikemas dalam bentuk pembelajaran interaktif, inspiratif, dan menyenangkan pada Selasa, 9 Desember 2025.
Kali ini, kegiatan berlangsung di Sekolah Menengah Pertama Badan Pendidikan Kristen (SMP BPK) Penabur Holis Bandung. Di sana para relawan Tzu Chi Bandung tidak hanya memberikan materi edukasi pelestarian lingkungan, tetapi juga mengajak para siswa untuk berkreasi dengan membuat lampion dan kerajinan bunga hias dari plastik bekas.
Relawan Tzu Chi Bandung saat memberikan sosialisasi tentang pelestarian lingkungan kepada siswa-siswi SMP BPK Penabur Holis Bandung.
Tjiong Jue Fung relawan Tzu Chi Bandung, mempraktikkan cara membuat lampion dari plastic bekas kepada siswa-siswi.
Tjiong Jue Fung relawan Tzu Chi Bandung, menuturkan bahwa pada kegiatan ini siswa-siswi SMP BPK Holis sangat antusias karena mereka dapat belajar tengtang pelestarian lingkungan sambil berkreasi dengan penuh suka cita.
“Hari ini kita melakukan sosialisasi pelestarian lingkungan di sekolah SMP BPK Holis dengan membuat kreasi-kreasi dari barang bekas. Kebetulan anak-anak sangat antusias sekali. Kerjasama dengan SMP BPK ini dimulai dari donor darah dan sekarang kita lebih mengenalkan tentang misi-misi Tzu Chi di antaranya darah PL ini,” ujar Tjiong Jue Fung.
Kegiatan yang penuh antusiasme ini bukan hanya sekadar penjelasan singkat mengenai pemahaman pelestarian lingkungan, melainkan membuat karya yang menanamkan nilai cinta bumi melalui pemahaman, pengalaman langsung, serta kreativitas yang diolah dari barang-barang sederhana. Para siswa-siswi belajar melihat “nilai baru” dari sesuatu yang sering dianggap tidak berguna. Siswa-siswi dan relawan bersama-sama menciptakan produk kreatif yang bukan hanya mempercantik lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi simbol kesadaran baru akan pentingnya menjaga bumi bersama.
Shanon Geraldine Susanto murid kelas delapan SMP BPK Penabur Holis sangat antusias mengikuti kegiaatan ini.
Yansen Kepala SMP BPK Penabur Holis Bandung, turut berpartisipasi membuat kreasi dari barang bekas bersama siswa-siswinya. Ia juga turut mengapresiasi kegiatan yang penuh manfaat ini.
Shanon Geraldine Susanto murid kelas delapan SMP PBP Penabur Holis yang dulunya jarang untuk mendaur ulang barang bekas pakai, saat kegiatan berlangsung ia merasa tertarik dengan proses-proses saat membuat kreasi dari barang bekas pakai.
“Aku jarang banget me-reuse barang-barang bekas, dan ternyata aku baru nyadar bahwa ternyata banyak banget yang bisa dipakai dari barang-barang bekas bisa menjadi treasure. Salah satunya ini, gantungan ini. Aku bikin ini dari barang-barang bekas. Jadi ini kain percanya dilipat-lipat, terus dijahit,” cerita Shanon Geraldine Susanto.
Dengan hangat, salah satu relawan Tzu Chi Bandung mendampingi para siswa saat membuat kreasi dari plastik bekas pakai.
Yansen Kepala Sekolah SMP BPK Penabur Holis Bandung menyambut baik atas terselengaranya kegiatan ini, serta berharap siswa-siswinya bisa menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan sejak remaja.
“Kegiatan ini memang ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran para siswa-siswi mengenai pentingnya pelestarian lingkungan. Saya mengharapkan ada kesadaran dari siswa-siswi kita untuk bisa mereka peduli akan lingkungan. Kita mulai dari sekarang, mulai mereka dari SMP dididik untuk melestarikan lingkungan,” tegas Yansen.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Tzu Chi Bandung untuk mendorong masyarakat terutama generasi muda agar lebih peduli terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Diharapkan siswa-siswi dapat mulai membangun kebiasaan baru seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tempat minum sendiri, serta memilah sampah di rumah maupun di sekolah.
Editor: Fikhri Fathoni