Menumbuhkan Tanggung Jawab dan Manajemen Waktu Sejak Dini

Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat), Fotografer : Rosy Velly Salim, Deddy, Efendi Wijaya (He Qi Pusat)

Aurora Putri Mandala, saat mengikut kegiatan belajar di Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi yang diadakan oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat.

Kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat berlangsung pada Minggu, 8 Februari 2026. Rintik hujan yang turun sejak pagi, menemani kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB. Sebanyak 24 relawan Tzu Chi mendampingi tujuh murid Tzu Shao Ban (TSB), tujuh murid Qing Zi Ban (QZB) besar, empat murid QZB kecil, serta tujuh orang tua murid yang turut hadir.

Pada pertemuan kali ini, kelas QZB mengangkat tema memahami makna tanggung jawab. Tujuan dari pembelajaran ini agar murid menjadi pribadi yang mandiri, mampu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, melaksanakan tugas dengan baik, serta tidak lalai dalam menjalankan kewajiban.

Suasana kelas Bimbingan Budi Pekerti Tzu Chi hari itu dipenuhi semangat belajar yang penuh makna. Melalui tema manajemen waktu, para murid diajak untuk memahami bagaimana mengatur prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah bekal sederhana, namun berdampak besar bagi tumbuh kembang mereka.

Salah satu relawan Tzu Chi, Adi Koko, memberikan materi perkenalan celengan cinta kasih Tzu Chi kepada murid-murid Kelas Bimbingan Budi Pekerti.

Sementara itu di kelas TSB, murid-murid mendapatkan tema manajemen waktu. Selain mengikuti materi utama, mereka juga diperkenalkan pada kebiasaan baik yang dapat dimulai dari hal kecil, salah satunya dengan celengan bambu untuk melatih kebiasaan menabung sekaligus berbagi kepada yang membutuhkan.

Sesi permainan dilakukan dengan membagi murid ke dalam dua kelompok untuk berdiskusi. Setiap kelompok kemudian maju ke depan untuk menyampaikan hasil diskusinya. Aurora Putri Mandala (13) membagikan pengalamannya setelah mengikuti pembelajaran hari ini.

“Hari ini belajar mengenai manajemen waktu, bertanggung jawab dalam waktu sendiri, jadi tanggung jawab dalam memisahkan waktunya belajar, waktunya bermain, waktunya tidur, waktunya makan. Contoh yang saya sudah terapkan, pertama waktu bangun tidur beres-beres kamar tidur, setelahnya mandi, atau makan dahulu, gosok gigi, menata buku.” ungkap Aurora.

Ia dan teman-temannya sepakat menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama. Baginya, kesehatan menjadi fondasi dari segala aktivitas. “Kalau kita sakit, kita jadi tidak semangat dan hanya bisa berbaring. Jadi kita perlu menjaga kesehatan, seperti tidur lebih awal, makan buah-buahan, makan empat sehat lima sempurna, dan olahraga,” ujarnya.

Murid-murid QZB berlatih menyanyikan lagu yang berjudul Ibu Pertiwi untuk tampil di PAT He Qi Jakarta Barat 3.

Setelah kesehatan, belajar menjadi prioritas kedua. Aurora menyadari bahwa melalui belajar, seseorang dapat memperoleh banyak ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. Ia bahkan membagikan pengalaman sederhana saat belajar memasak telur ceplok.

“Dulu saya takut minyaknya muncrat. Tapi setelah mencoba, ternyata bisa dan rasanya enak. Awalnya butuh waktu lima menit, tapi setelah beberapa kali mencoba, jadi lebih cepat karena sudah tahu tekniknya,” katanya sambil tersenyum.

Pengalaman kecil tersebut mengajarkan bahwa keberanian untuk mencoba adalah awal dari kemampuan. Proses belajar yang berulang akan membentuk keterampilan dan kepercayaan diri.

Maria Fintje (kanan) bersama Vera (kiri) sedang mempraktikkan cara melipat kertas angpao menjadi prakarya cantik bernuansa imlek.

Prioritas ketiga yang dipilih adalah keluarga. Aurora menyadari bahwa pendidikan dan usaha yang dilakukan hari ini akan bermuara pada kemampuan untuk membahagiakan keluarga di masa depan. Sementara itu, hobi menjadi prioritas keempat. Bagi Aurora, hobi tetap penting sebagai sarana menyeimbangkan kehidupan, namun tidak boleh mengalahkan tanggung jawab utama.

Di penghujung kelas, para murid QZB dan TSB mempersiapkan penampilan untuk acara Pemberkahan Akhir Tahun (PAT) He Qi Jakarta Barat 3. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh, menyanyikan lagu Ibu Pertiwi dengan penuh penghayatan.

Hanayumi Shnjilim (10) turut berbagi pengalaman kesehariannya dalam menjalankan tanggung jawab. “Melipat baju terasa mudah karena sudah terbiasa. Itu memang tugas sehari-hari, seperti mencuci piring dan menyiapkan buku,” ujarnya.

Salah satu relawan Tzu Chi dengan penuh cinta kasih mendamping Hanayumi Shnjilim, salah satu murid Kelas Bimbingan Budi Pekerti.

Kebiasaan sederhana tersebut perlahan menumbuhkan kemandirian dalam diri anak. Rutinitas yang dilakukan dengan konsisten bukan hanya melatih keterampilan, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, tanggung jawab, dan percaya diri.

Maria Fintje, relawan Tzu Chi yang menjadi pembina kelas, menyampaikan rasa syukurnya atas kebersamaan yang terjalin. “Semuanya berkat kerja sama para Da Ai Papa dan Mama yang dengan tulus mendampingi anak-anak agar dapat tampil maksimal di kegiatan PAT He Qi Jakarta Barat 3,” ujarnya.

Meski waktu persiapan terbatas, semangat kebersamaan mampu menghadirkan hasil yang membanggakan. Ia juga bersyukur atas talenta yang dimiliki para murid, yang semakin memperindah penampilan mereka. “Semoga melalui proses ini, kita semua dapat menumbuhkan benih kebajikan, belajar bersama, dan melangkah di jalan Bodhisatwa dengan penuh sukacita,” tutupnya.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Mengenggam Jalinan Jodoh Baik di Hari Ayah

Mengenggam Jalinan Jodoh Baik di Hari Ayah

15 September 2014 "One thing to do, three words for you, I love you, Mom and Dad. Family is the best, remember family, always love your family”. Begitulah ungkapan yang dibacakan oleh salah seorang Ayah dengan terharu. Ungkapan ini ditulis oleh anaknya dalam sebuah album foto yang diberikan sebagai kejutan memperingati Hari Ayah
Keceriaan Menyiapkan Makan Siang

Keceriaan Menyiapkan Makan Siang

30 Maret 2016

Kelas budi pekerti Qin Zi Ban yang menjadi pertemuan ke sembilan setiap bulannya diadakan pada 20 Maret 2016. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 18 anak. Selain memberikan materi tentang pola hidup sehat, anak-anak juga diajak langsung mempraktikannya dengan memberikan pelayanan menyiapkan makanan untuk santap bersama. Mereka lakukan dengan sukacita.

Memberi Perhatian Terhadap Sesama

Memberi Perhatian Terhadap Sesama

31 Juli 2018
Untuk melatih empati anak-anak terhadap kekurangan fisik orang lain, Kelas Budi Pekerti Qing Zhe Ban mengambil tema “memberi perhatian terhadap sesama”. Ada 31 anak yang mengikuti kelas yang diselenggarakan di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng Gedung B lantai 5, Minggu 22 Juli 2018 ini.
Setiap manusia pada dasarnya berhati Bodhisatwa, juga memiliki semangat dan kekuatan yang sama dengan Bodhisatwa.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -