Menumbuhkan Welas Asih Setelah Menghirup Harumnya Dharma

Jurnalis : Wennie Lie (Tzu Chi Medan), Fotografer : Wennie Lie (Tzu Chi Medan)

Sani Husiana dan Sumida, dua narasumber Xun Fa Xiang (menghirup harumnya Dharma) memaparkan Kisah Master Cheng Yen setelah mereka sama-sama melihat kisah berjudul “Lahirnya Cinta Kasih & Welas Asih di Tengah Api Peperangan”.

Minggu, 26 Juli 2026,  kegiatan Xun Fa Xiang  (menghirup harumnya Dharma) dimulai di Jing Si Books & Café Jalan Perintis Kemerdekaan, Komplek Grand Jati Junction, Medan. Kegiatan kali ini merupakan kegiatan yang sangat Istimewa karena merupakan kegiatan perdana Xun Fa Xiang yang diadakan secara langsung di lokasi bertatap muka. Kegiatan tersebut sebelumnya pernah sempat terhenti dan baru sekarang berjalan kembali. Sebanyak 40 Relawan ikut serta dalam kegiatan Xun Fa Xiang ini.

Melalui tayangan video Kisah Master Cheng Yen yang berjudul “Lahirnya Cinta Kasih & Welas Asih di Tengah Api Peperangan”, relawan diajak menyelami kisah perjalanan kehidupan Master Cheng Yen, sebuah perjalanan hidup yang penuh rasa syukur dan welas asih. Peserta mendengar dengan seksama, seolah ikut menyelami setiap langkah kehidupan Master. 

Dua narasumber yaitu Sani Husiana dan Sumida dihadirkan untuk menjelaskan intisari dari cerita dalam Video. Sani Husiana dan Sumida yang merupakan Ketua dan Wakil Ketua Hu Ai Perintis, bercerita mengenai kisah hidup Master Cheng Yen yang tidak mudah. Master Cheng Yen Lahir pada tahun 1937 di Qingshui, Taiwan. Master merupakan anak kelima dari sebelas bersaudara dan diadopsi oleh paman dan bibinya sejak berumur empat tahun.

Sebanyak 40 relawan mendengarkan dengan khidmat dan khusuk. Kegiatan kali ini merupakan kegiatan yang sangat Istimewa karena merupakan kegiatan perdana Xun Fa Xiang yang diadakan secara langsung di lokasi bertatap muka.

“Sejak kecil beliau dididik dengan sopan santun, hormat kepada orang tua, dan belajar dari guru sekolahnya yaitu Tamagawa Harue, seorang wanita Jepang yang anggun mengajar dengan keteladanan. Nilai inilah yang menjadi budaya Tzu Chi yang berpakaian rapi, bersikap santun, dan menghormati setiap orang,” ujar Sumida.

Narasumber lainnya Sani Husiana menambahkan, “Sejak muda, Master Cheng Yen mengajak banyak orang membina diri dan berbuat baik. Beliau percaya bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi sesama. Tanpa memelihara kebencian atau dendam, beliau mengabdikan hidup untuk menanam kebajikan. Tekadnya sederhana namun mendalam yaitu selama masih ada hati yang perlu disucikan dan penderitaan yang perlu diringankan, perjuangan cinta kasih tidak akan pernah berhenti.”

Sani Husiana juga melanjutkan, “Saat ibu angkatnya sakit parah, Master Cheng Yen berikrar bahwa jika beliau sembuh tanpa operasi, ia akan menjalani hidup sebagai vegetarian. Janji tersebut ditepati dan dijalankan sepanjang hayat, menjadi wujud nyata ketulusan, rasa syukur, dan welas asih.”

Bagi Master Cheng Yen, vegetarian bukan sekadar pola makan, melainkan latihan memperluas cinta kasih kepada semua makhluk hidup. Setiap kehidupan memiliki nilai yang sama dan patut dihormati.

Relawan Sumini di minta menjawab kuis dan sharing tentang apa yang didapatkan setelah kegiatan berlangsung.

Salah satu relawan Sumini, berbagi cerita jika beliau mau ikut mendengarkan lagi, supaya semakin mengenal Master dan tambah mengerti tentang Dharma. Supaya lebih mengerti tujuan dan tekad awal di Tzu Chi yakni untuk pelatihan diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Sani Husiana kembali mengingatkan dengan memahami riwayat Tzu Chi akan menjadi akar semangat, keyakinan dan arah bagi setiap relawan sehingga memiliki pemahaman yang sama terhadap misi dan mewariskan mazhab Tzu Chi.

Setiap perjalanan Dharma sejatinya bukan hanya untuk didengar, tetapi juga untuk dihayati dan diwujudkan dalam kehidupan. Kisah perjuangan Master Cheng Yen mengajarkan bahwa welas asih lahir dari hati yang mampu bersyukur, memaafkan, dan rela berkorban demi kebahagiaan makhluk hidup. Ketika nilai-nilai tersebut terus dipraktikkan, sekecil apa pun perbuatan baik yang dilakukan akan menjadi benih kebajikan yang membawa kehangatan bagi banyak orang. Semoga harumnya Dharma yang telah dihirup dalam kegiatan Xun Fa Xiang ini terus menyertai setiap langkah relawan, menguatkan tekad untuk menebarkan cinta kasih tanpa membeda-bedakan, serta menghadirkan kedamaian di mana pun berada. Seperti yang diungkapkan oleh Master Cheng Yen, "Dengan hati yang dipenuhi cinta kasih, dunia akan dipenuhi keindahan. Dengan hati yang dipenuhi welas asih, penderitaan akan berkurang."

Doa Bersama sebagai penutup Xun Fa Xiang.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Menghirup Keharuman Dharma

Menghirup Keharuman Dharma

25 Juli 2014

Bagi Master Cheng Yen, memberikan untaian Dharma merupakan satu cara beliau untuk berterima kasih pada insan Tzu Chi di seluruh dunia yang telah berkontribusi dan menyebarkan cinta kasih. Maka dari itu diharapkan seluruh insan Tzu Chi dapat ikut serta mendengarkan ceramah Master.

Mendalami Dharma, Menguatkan Kebajikan

Mendalami Dharma, Menguatkan Kebajikan

05 Februari 2025

Relawan Tzu Chi dari Komunitas He Qi Barat 1 menyaksikan tayangan program Lentera Kehidupan Dharma Master Cheng Yen di DAAI TV dengan tema “Menyucikan hati manusia dan memutar Roda Dharma."

Ketika Dharma Mengajarkan Cara Mengikhlaskan dan Bergerak Maju

Ketika Dharma Mengajarkan Cara Mengikhlaskan dan Bergerak Maju

14 Agustus 2025

Kegiatan Xun Fa Xiang (Menghirup Harumnya Dharma) digelar di Ruang Budaya Humanis, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Sebanyak 48 relawan hadir mendengarkan materi “Membangun Tekad untuk Melenyapkan Belenggu”.

Jangan menganggap remeh diri sendiri, karena setiap orang memiliki potensi yang tidak terhingga.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -