Para hadirin tampak antusias menantikan dimulainya Pemberkahan Awal Tahun di Kantor Tzu Chi Lampung. Tamu undangan dengan tertib mengisi daftar hadir sebelum memasuki ruang acara.
Masih dalam semangat perayaan Tahun Baru Imlek, Tzu Chi Lampung kembali mengadakan Kegiatan Pemberkahan Awal Tahun (PAT) 2026. Acara yang rutin diadakan setiap tahun ini menjadi momentum bagi para relawan Tzu Chi Lampung untuk berkumpul, menyatukan tekad, semangat, dan doa bersama dalam menyambut tahun 2026.
Mengusung Tema, “Jangan Lupakan Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung Silsilah dan Mazhab Tzu Chi”, acara ini berlangsung di Kantor Tzu Chi Lampung pada 22 Februari 2026. Ada 250 peserta yang terdiri dari tamu undangan, relawan, staf, dan donatur hadir dalam acara penuh makna ini.
Acara dimulai dengan pemutaran video kilas balik kegiatan Tzu Chi Internasional, Tzu Chi Indonesia dan Tzu Chi Lampung 2025. Video ini menampilkan jejak langkah kemanusiaan insan Tzu Chi dari 68 negara, termasuk Indonesia. Dalam tayangan video tersebut, terlihat bagaimana para relawan di seluruh dunia dan relawan Tzu Chi Lampung bersatu hati untuk membantu korban bencana alam, mengadakan bakti sosial, membangun rumah sakit, sekolah dan rumah warga yang kurang layak, serta menyebarkan cinta kasih dan kebajikan.
Pemberkahan Awal Tahun 2026 di Tzu Chi Lampung dibuka oleh Lis Linggar Ningsih selaku pembawa acara.
Setelah pemutaran video, acara dibawakan oleh MC, Lis Linggar Ningsih, yang juga merupakan Wakil Ketua dan Fungsionaris Bidang Kegiatan Tzu Chi Lampung. Ia memberkenalkan tentang Tzu Chi. Apa itu Tzu Chi? “Tzu” berarti “Cinta Kasih” dan “Chi” berarti “Memberi Bantuan”. Secara harfiah Tzu Chi berarti memberi dengan cinta kasih.
Tzu Chi merupakan lembaga sosial kemanusiaan yang didirikan oleh Master Cheng Yen pada tahun 1966 dan berpusat di Hualien, Taiwan. Tzu Chi hingga saat ini telah tersebar ke 68 negara di dunia dan telah memberikan bantuan ke lebih dari 139 negara tanpa memandang suku, ras, dan agama, dan berprinsip pada cinta kasih universal.
“Sementara di Lampung sendiri, Tzu Chi sudah berdiri sejak tahun 2002, artinya hingga saat ini Tzu Chi lampung sudah berdiri selama 24 tahun. Kami sudah banyak sekali mengadakan baksos besar dan juga membantu orang-orang yang membutuhkan. Baksos besar seperti katarak, hernia, baksos degeneratif dan pembagian bantuan beras dan lainnya. Bantuan yang diberikan ke pasien yang mengajukan sesuai dengan permintaan, seperti pembuatan kaki palsu, kursi roda, bantuan biaya hidup, pampers, biaya transportasi dan masih banyak lainnya,” ungkap Lis Linggar Ningsih.
Alesius Bunawan, Ketua Tzu Chi Lampung, menyampaikan pesan cinta kasih dan ucapan terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung visi dan misi kemanusiaan Tzu Chi.
Alesius Bunawan, Ketua Tzu Chi Lampung, mengingatkan bahwa kehidupan manusia bagaikan seekor ikan dalam akuarium yang bocor, terus berkurang seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu ia mengajak semua pihak untuk memanfaatkan hidup dengan berbuat baik.
“Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita semua dapat berkumpul di gedung Tzu Chi dalam keadaan sehat. Kami mengucapkan gan en, terima kasih, kepada seluruh relawan dan donatur yang telah memberikan waktu, tenaga, serta donasi untuk mendukung berbagai kegiatan Tzu Chi,” ujarnya.
Tujuh relawan Abu Putih menampilkan isyarat tangan lagu “Ren Jian You Ai” dengan penuh semangat.
Kegiatan ini dimeriahkan dengan penampilan isyarat tangan berjudul “Ren Jian You Ai” berarti “Cinta masih ada di dunia ini”. Yang dibawakan oleh tujuh relawan, sebagai ungkapan syukur kepada Master Cheng Yen.
Salah satu sesi yang paling menyentuh dalam acara ini adalah sharing pengalaman relawan. Ermina, seorang relawan komite yang beragama Islam dan telah menyandang gelar hajjah (orang yang menjalankan ibadah haji ke Mekkah), membagikan kisah perjalanannya bersama Tzu Chi.
“Saya pertama kali diajak oleh Shixiong Akam pada saat baksos pembagian beras tahun 2005. Saat saya dilantik di Taiwan, saya sempat merasa bingung ketika ingin salat. Saya akhirnya mojok sendiri karena tidak tahu apakah boleh salat di sana atau tidak. Namun, tiba-tiba seorang Bikkhuni datang menghampiri saya dan berkata dalam bahasa Mandarin, ‘Kamu ingin beribadah kepada Tuhan, kan? Silakan salat di sini, tempat ini bersih.’ Sejak itu, saya merasa semakin nyaman dan bersemangat mengikuti kegiatan Tzu Chi,” ceritanya dengan mata berkaca-kaca.
Nining Riati Ningsih membagikan kisah perjalanannya bergabung dengan Tzu Chi Lampung. Hatinya tergerak setelah menerima bantuan operasi mata dan menyaksikan langsung cinta kasih para relawan dalam berbuat kebajikan.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Nining Riati Ningsih, seorang relawan Abu Putih. Ia mengungkapkan bahwa awal mula mengenal Tzu Chi berasal dari sepupu suaminya, Mawardi, yang dahulu aktif mengikuti kegiatan Tzu Chi. Sejak saat itu sebenarnya ia sudah tertarik untuk bergabung, namun merasa ragu dan takut untuk mengajukan diri.
Beberapa tahun kemudian, ia mendapat informasi bahwa Tzu Chi Lampung akan mengadakan bakti sosial katarak pada tahun 2023. Karena memiliki penyakit mata, ia pun menghubungi Asih dan mendaftarkan diri sebagai pasien pterygium. Pada Desember 2023, Tzu Chi Lampung menggelar bakti sosial kesehatan mata di Rumah Sakit Budi Medika, dan saat itulah ia menjalani operasi.
Di sana ia melihat banyak relawan yang dengan tulus mendampingi para pasien. Ia merasa bersyukur dan bahagia karena penglihatannya kembali seperti semula. Pada tahun 2024, ia kembali berpartisipasi dalam kegiatan donor darah yang diadakan Tzu Chi Lampung. Setelah selesai mendonor, seorang relawan menghampirinya dan mengajak berbincang mengenai kegiatan Tzu Chi. Ia merasa sangat senang ketika diajak bergabung menjadi bagian dari barisan relawan.
“Alhamdulillah sampai saat ini saya menjadi relawan Tzu Chi. Semoga tahun demi tahun saya bisa mengikuti kegiatan Tzu Chi terus dan semoga barisan Tzu Chi semakin banyak dan maju," ungkapnya.
Misi Amal menjadi fondasi utama dalam gerakan kemanusiaan Tzu Chi, sebagaimana tercermin dalam kisah Oma Suryati, salah satu penerima bantuan dari Tzu Chi Lampung.
Oma Suryati berbagi kisah jalinan jodohnya bersama Tzu Chi yang menginspirasi banyak orang.
Oma Suryati hidup seorang diri di rumah kontrakan yang telah enam bulan menunggak pembayaran sewa. Sehari-hari ia berjualan susu kacang dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan makan. Pada 18 April 2025, Oma mengalami kecelakaan tertabrak sepeda motor yang mengakibatkan tangan kanannya patah. Pengemudi yang menabraknya memang bertanggung jawab, namun hanya membawa Oma ke tukang urut.
Melihat kondisi tersebut, Ketua RT setempat kemudian mengajukan permohonan bantuan biaya hidup dan sewa kontrakan Oma Suryati kepada Yayasan Buddha Tzu Chi. Keesokan harinya, tim survei Xie Li Tanjung Karang meninjau langsung kondisi tempat tinggal dan keadaan ekonomi Oma. Saat relawan tiba, mereka mendapati kondisi Oma yang sangat memprihatinkan.
Pada 23 April 2025, relawan membawa Oma untuk melakukan rontgen. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tangan kanannya benar-benar mengalami patah tulang. Relawan kemudian mendampingi Oma berkonsultasi dengan dokter di Rumah Sakit Bumi Waras, yang menyarankan tindakan operasi. Keesokan harinya, relawan kembali melakukan pendampingan hingga operasi terlaksana.
Pada 11 Juni 2025, relawan kembali mendampingi Oma ke rumah sakit untuk melepas jahitan, dan hasilnya luka operasi menunjukkan perkembangan yang baik. Oma merasa sangat bersyukur karena sejak awal pengobatan hingga masa pemulihan, ia selalu didampingi oleh relawan Tzu Chi, yakni Lita Jonathan, Anna Suryana, Anggraini, dan Anita Friatnie.
Selain membantu biaya pengobatan, Tzu Chi juga membayarkan sewa rumah Oma Suryati selama satu tahun serta memberikan bantuan biaya hidup bulanan sebesar lima ratus ribu rupiah.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada relawan Tzu Chi yang sudah membantu saya membayarkan sewa rumah, pengobatan tangan saya yang patah dan biaya hidup saya sehari-hari,” ungkapnya dengan terharu.
Selain Oma Suryati, Tzu Chi juga mendampingi Shakila Alika Putri, penerima bantuan terlama sejak tahun 2022. Shakila menderita bibir sumbing atau celah langit-langit sejak lahir. Saat relawan pertama kali melakukan survei, usia Shakila baru 13 bulan dengan berat badan hanya 6 kilogram dan belum pernah menjalani pengobatan.
Shakila Alika Putri turut membagikan kisah kebersamaannya dengan Tzu Chi yang membawa harapan baru bagi dirinya dan keluarga.
Pada 16 Juli 2022, orang tua Shakila mengajukan bantuan susu formula (SGM) kepada Tzu Chi Lampung setelah mengenal Tzu Chi melalui Eka, salah satu relawan. Shakila membutuhkan asupan susu formula sekitar 2.000 gram per bulan untuk membantu meningkatkan berat badannya.
Pada 27 Juli 2022, Shakila dikonsultasikan ke dr. Boby, dokter bedah plastik, serta dokter spesialis anak. Dokter menyarankan agar berat badan Shakila ditingkatkan terlebih dahulu sebelum tindakan operasi dapat dilakukan.
Setelah melalui proses pendampingan dan pemenuhan gizi, pada 1 Desember 2023, saat berusia dua setengah tahun, Shakila akhirnya menjalani operasi bibir sumbing untuk merapatkan celah di langit-langit mulutnya. Operasi berjalan lancar dan sang ibu merasa sangat bahagia melihat anak ketiganya dapat melewati prosedur tersebut dengan baik.
Sebagai penjual jus keliling, sementara suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, ibu Shakila mengaku sangat terbantu dengan adanya bakti sosial kesehatan yang diadakan Tzu Chi. Ia mengungkapkan kebahagiaannya karena kini Shakila sudah dapat makan dengan lebih baik dan minum tanpa tersedak.
“Saya merasa bahagia melihat anak sudah bisa makan dengan baik dan minum juga sudah tidak tersedak. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Buddha Tzu Chi yang telah membantu susu untuk anak saya,” ungkapnya penuh syukur.
Pembagian angpau berkah dari Master Cheng Yen kepada relawan dan donatur yang telah mendukung misi kemanusiaan dalam Pemberkahan Awal Tahun 2026.
Di penghujung acara, seluruh relawan dan tamu undangan bersama-sama menyanyikan lagu Doa Cinta dan Damai dalam suasana yang khidmat dan penuh kehangatan. Doa dilantunkan dengan tulus, memohon kedamaian serta kebahagiaan bagi semua makhluk di dunia.
Sebagai simbol berkah dan harapan baik di tahun yang baru, para tamu undangan dan relawan menerima angpau berkah dari Master Cheng Yen yang dibagikan langsung oleh Alesius Bunawan dan Ali Kuku. Semoga semangat cinta kasih yang ditanamkan dalam acara ini terus tumbuh, menginspirasi semakin banyak orang untuk menebarkan kebaikan di tahun yang baru.
Editor: Khusnul Khotimah