Menyeberangi Laut, Melayani Kesehatan Warga di Pulau Karas
Jurnalis : Suwarni (Tzu Chi Batam), Fotografer : Agus (Tzu Chi Batam), Vincent (Tzu Ching Batam)
Salah satu peserta sedang melakukan pemeriksaan kesehatannya oleh tim medis TIMA Indonesia.
Pada Minggu, 30 Agustus 2026, hujan mengguyur Kota Batam sejak pukul 06.00 WIB. Namun, derasnya hujan tidak menyurutkan langkah para relawan Tzu Chi untuk menjalankan misi pelayanan dalam Baksos Degeneratif ke-2 di Pulau Karas.
Dengan semangat cinta kasih dan kepedulian, para relawan hadir memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Pulau Karas. Sebanyak 85 relawan, termasuk 31 relawan TIMA Indonesia memberikan pelayanan kepada 156 peserta. Dalam pelayanannya, para relawan dan tim medis juga melakukan kunjungan rumah untuk melakukan pengobatan secara langsung kepada warga yang sedang sakit dan tidak dapat datang ke lokasi baksos.
Menjawab kebutuhan masyarakat yang telah disampaikan sejak baksos pertama yang lalu, pada kegiatan kali ini pelayanan poli gigi untuk pertama kalinya hadir di Pulau Karas. Kehadiran layanan ini mendapat sambutan penuh sukacita dari warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, yang merasakan manfaat serta perhatian yang diberikan. Sebanyak 59 warga telah mendapatkan pemeriksaan, pencabutan dan perawatan gigi, hal itu menjadi wujud nyata kepedulian dalam membantu meningkatkan kesehatan masyarakat Pulau Karas.

Relawan TIMA Indonesia memberikan sosialisasi tentang pola makan sehat kepada masyarakat Pulau Karas yang hadir.

Fredy Buyung, salah satu pasien yang sedang memeriksa kondisi kesehatan giginya oleh tim medis.
Salah satu peserta, Fredy Buyung menceritakan pengalamannya saat pertama kali datang ke Baksos Degeneratif Tzu Chi untuk mencabut gigi. “Sudah puluhan tahun, sekitar 5-6 gigi saya berhasil dicabut oleh tim dokter, “, ucap Fredy Buyung. Ketika mengalami sakit gigi atau gusi bengkak, biasanya ia hanya mengandalkan getah–getah ke lubang giginya sebagai obat pereda nyeri, dan jampi-jampi untuk menghilangkan rasa sakit gigi.
Dalam hal tersebut tim medis berhasil melakukan tindakan pencabutan gigi berjalan lancar tanpa perdarahan berlebih. Fredy mengaku sangat bahagia atas pelayanan yang diterimanya dan berencana datang kembali bulan depan untuk kontrol, mencabut sisa giginya, serta memeriksakan kadar asam urat.
Peserta lainnya, Syamsiah, ia kembali datang untuk kunjungan keduanya di Baksos Degeneratif Tzu Chi setelah mengetahui adanya pelayanan ini dari tetangganya. “Setelah minum obat hipertensi yang diberikan Dokter saat kunjungan Baksos Degeneratif pertama pada tanggal 26 Juli 2026, tekanan darah saya mengalami penurunan. Sebelumnya tekanan darah 160/91 mmHg, kini menjadi 130/81 mmHg pada kunjungan kedua. Saya merasa senang karena kondisi tubuhnya menjadi lebih baik, badan terasa lebih segar dan tidak mudah lelah seperti sebelumnya,” kata Ibu Syamsiah.
Selain itu, Syamsiah juga merasakan penuh syukur berkat pelayanan pengobatan yang diterimanya. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas pelayanan yang diberikan oleh tim Baksos Degeneratif Tzu Chi. Para relawan sangat ramah, baik, dan melayani setiap pasien dengan penuh perhatian tanpa membedakan satu sama lain,” tambahnya.

Para peserta yang telah selesai melakukan pengobatan dengan tertib melakukan antrian pengambilan obat.
Kegiatan baksos itu juga menghadirkan pelayanan kesehatan gigi, drg. Tohap Wong, salah satu dokter yang hadir bebagi pengalamannya mengenai baksos tersebut, “Hadirnya poli gigi dalam Baksos Degeneratif di Pulau Karas merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan gigi masyarakat. Untuk pertama kalinya, pelayanan poli gigi tersedia di Pulau Karas, setelah banyak warga menyampaikan keluhan mengenai masalah gigi di Baksos Degeneratif pertama kali,” ujar Drg. Tohap Wong.
Beliau menjelaskan bahwa banyak warga mengalami masalah gigi akibat mungkin mengonsumsi air tadah hujan yang kandungan mineralnya terbatas, kurangnya pemahaman dalam merawat gigi, serta kebiasaan memilih mencabut gigi dibandingkan melakukan perawatan seperti menambal, sehingga dapat menyebabkan kehilangan gigi permanen. Kondisi ini semakin sulit karena belum adanya dokter gigi di Pulau Karas, sehingga warga harus menempuh perjalanan jauh melalui jalur laut sekitar 40-60 menit untuk menuju Puskesmas Galang yang membutuhkan waktu dan biaya.
Melalui pelayanan poli gigi ini, sebanyak 59 warga telah mendapatkan pemeriksaan dan perawatan gigi. drg. Tohap berharap masyarakat semakin peduli menjaga kesehatan gigi dan melakukan perawatan dengan baik.

drg. Tohap tampak fokus melakukan pemeriksaan gigi kepada salah satu peserta baksos degeneratif yang diadakan di Pulau Karas.
Melihat manfaat yang dirasakan warga, salah satu peserta, Amat, berharap baksos ini ke depannya dapat mengembangkan layanan tambahan seperti tindakan operasi benjolan dan penyuluhan kesehatan jika memungkinkan. “Baksos Degeneratif kali ini menyediakan pengobatan gratis untuk hipertensi, diabetes, dan kolesterol, serta menghadirkan layanan poli gigi pertama kali di baksos yang menjadi kebutuhan penting bagi warga Masyarakat,” ucap Amat.
Baksos Degeneratif ke-2 di Pulau Karas telah memberikan manfaat bagi warga yang mengalami keterbatasan biaya dan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan. Kehadiran layanan kesehatan dan poli gigi ymendapat sambutan baik dari masyarakat, hal ini menjadi wujud nyata kepedulian dalam membantu memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Semoga benih kebajikan melalui kegiatan ini terus berkembang, membawa kesehatan, harapan, dan kebahagiaan bagi masyarakat Pulau Karas.
Editor : Nur Al Fajar Rumsari
Artikel Terkait
Memberikan Kenyamanan Bagi Pasien
28 September 2016Kontrol terakhir pada Baksos Degeneratif di Cianjur
dilakukan pada 25 September 2016 yang terdiri dari 45 pasien. Kontrol ini
dilakukan secara rutin selama tiga bulan. Baksos
tersebut merupakan lanjutan dari baksos pertama pada 31 Juli 2016 dan baksos
kedua 28 Agustus 2016 lalu.
Baksos dan Penyuluhan Penyakit Degeneratif untuk Warga Cianjur
31 Agustus 2016Tzu Chi kembali menggelar baksos kesehatan
degeneratif di Cianjur. Jika pada baksos degeneratif yang pertama 31 Juli 2016
lalu berisi penyuluhan, baksos yang kedua ini (28 Agustus 2016) lebih kepada pengecekan kesehatan.
Baksos Kesehatan Degeneratif untuk Warga Duri Utara
29 Mei 2024Antusiasme warga Duri Utara terlihat jelas dengan hadirnya 414 orang Lansia yang memeriksakan kesehatannya. Selain pemeriksaan kesehatan juga dilakukan penyuluhan untuk menjaga kesehatan secara mandiri.







Sitemap