Aditia Saputra hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman di bidang konten digital dan menyampaikan bahwa video yang ‘hidup’ mampu menyampaikan rasa, makna, dan nilai dari setiap momen relawan.
Di balik setiap momen pelayanan, tersimpan kisah kebaikan yang sederhana namun bermakna. Melalui layar handphone, momen-momen tersebut tidak hanya direkam, tetapi juga dihidupkan kembali agar dapat menyentuh lebih banyak hati. Dari sinilah, perjalanan belajar para relawan dalam merangkai video kilas balik dimulai.
Sebagai upaya meningkatkan kemampuan relawan dalam mendokumentasikan momen cinta kasih secara lebih hidup dan bermakna, Kelas Pembuatan Video Kilas Balik diselenggarakan oleh relawan He Qi Jakarta Barat 1, pada Minggu, 5 April 2026, di Aula lantai 4, Gedung B Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta dengan dukungan 4 panitia, berlangsung dalam suasana tertib, hangat, dan penuh semangat belajar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen dilanjutkan dengan penyampaian materi dan praktik langsung. Dalam suasana belajar yang hangat tersebut, Aditia Saputra hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman di bidang konten digital. Sebagai Digital Marketing di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi dan relawan sejak 2013, ia menjelaskan proses pembuatan video kilas balik menggunakan aplikasi CapCut, mulai dari pengambilan gambar hingga pengolahan video, agar setiap momen pelayanan dapat tersampaikan secara utuh dan bermakna.
Dalam pemaparannya, Aditia menyampaikan “video yang baik adalah video yang “hidup”, yaitu mampu menyampaikan rasa, makna, dan nilai dari setiap momen pelayanan.’’ Ia juga menjelaskan bahwa video kilas balik tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan kebaikan kepada masyarakat, sehingga proses pembuatannya perlu dilandasi kesadaran dan ketulusan agar mampu menyentuh hati.
Peserta menyimak penjelasan Aditia Saputra mengenai teknik mengolah video agar tetap menarik dan humanis melalui penyusunan alur yang runtut, pemilihan momen hangat, serta penggunaan elemen visual dan audio yang selaras.
Dalam sesi praktik, peserta diajak untuk langsung membuat video kilas balik dari kegiatan yang berlangsung pada hari itu, seperti kegiatan menyalurkan bantuan gan en hu dan kelas anak asuh. Melalui praktik ini, mereka belajar menangkap momen secara nyata di lapangan, mengolahnya menjadi rangkaian cerita, serta menumbuhkan kepekaan dalam melihat setiap detail kecil yang mengandung nilai kebaikan.
Dalam sesi lanjutan, peserta dibimbing memahami teknik pengolahan video agar tetap menarik dan humanis. Penyusunan alur yang runtut, pemilihan momen hangat seperti interaksi dan senyuman, penggunaan durasi yang tepat, serta pemanfaatan transisi sederhana, musik lembut, dan teks bermakna menjadi kunci dalam memperkuat pesan. Penggunaan warna natural dan suara asli turut menghadirkan kesan yang lebih dekat, jujur, dan menyentuh.
Melalui kegiatan ini, para peserta merasakan manfaat nyata dalam proses belajar. Yanti mengungkapkan “Saya merasa sangat terbantu karena mendapatkan pemahaman baru dalam membuat video yang lebih bermakna.”
Senada dengan itu, Yuni juga menyampaikan, “melalui kelas ini, saya ingin memperdalam teknik pengambilan video yang humanis khas Tzu Chi, meskipun sebelumnya saya sudah memiliki pengalaman.”
Koordinator kegiatan, Rachmat Sudarmanto, menyampaikan, “kelas ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga memperkuat kerja sama dan kreativitas relawan.” Ia menambahkan, “kegiatan ini adalah sarana untuk belajar bersama, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat dalam mendokumentasikan kisah-kisah kebaikan.”
Yanti merasa sangat terbantu karena mendapatkan pemahaman baru dalam membuat video yang lebih bermakna.
Sejalan dengan perenungan Master Cheng Yen tentang Zhen Shan Mei (kebenaran, kebajikan, dan keindahan), dimana setiap video yang dihasilkan diharapkan tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa pesan yang jujur dan penuh kebaikan. Dibalik layar handphone yang sederhana, lahirlah cerita-cerita yang mampu menyentuh hati dan menginspirasi banyak orang.
Pada akhirnya, setiap momen kebaikan yang direkam bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan, menjadi cahaya yang menggerakkan lebih banyak hati untuk turut berbuat baik.
Editor: Metta Wulandari