Merawat dan Memupuk Jalinan Jodoh di Kampung Simpak

Jurnalis : Yuliawati Yohanda (He Qi Tangerang) , Fotografer : Yuliawati Yohanda, Edi Sheen (He Qi Tangerang)
Para relawan Tzu Chi dari Komunitas He Qi Tangerang tampak bersiap menyambut kedatangan warga Kampung Simpak untuk memeriksakan kesehatan mereka.

Minggu pagi yang cerah di musim penghujan, para relawan Tzu Chi dari Komunitas He Qi Tangerang sudah bergegas menuju Kampung Simpak di Desa Jagabaya, Kecamatan Parung Panjang yang merupakan desa binaan Tzu Chi. Para relawan kembali datang untuk mengadakan penuangan dan sosialisasi celengan bambu serta bakti sosial kesehatan umum. 

Kegiatan pada Minggu 6 November 2022 ini digelar di Wihara Dharma Mulia dan berjalan lancar. Masyarakat sekitar pun sangat antusias. Tak hanya itu saja, para relawan di Misi Pendidikan juga memberikan kelas budi pekerti pada para siswa SMB (Sekolah Minggu Buddha) di sana.

Baksos Kesehatan pun telah dimulai, warga mengantre dengan duduk santai.

Ibu Tom Moi mendengarkan pengarahan tentang waktu minum obat dan vitamin yang ia terima.

Ibu Tom Moi (73) datang bersama delapan orang tetangganya dengan menyewa sebuah mobil angkot. Ia langsung menuju lokasi penuangan celengan bambu di sebelah Wihara Dharma Mulia. Wajah Ibu Tom Moi semringah usai menuangkan celengannya.

Ia lalu melangkahkan kaki menuju lokasi bakti sosial kesehatan. Ia memeriksakan diri dan menyampaikan keluhannya yakni sakit kepala dan pegal linu. Dokter dari TIMA Indonesia pun memeriksanya. Rupanya sakit kepala yang dialami Ibu Tom Moi disebabkan tekanan darahnya tinggi. Ia pun diberikan edukasi tentang pola makan dan pola hidup sehat, serta diberikan obat penurun tekanan darah tinggi.

“Senang dapat berbagi walaupun tak seberapa, dan senang mendapat pemeriksaaan dan obat serta vitamin gratis,” katanya bersyukur. Ibu Tom Moi berharap bisa terus sehat supaya bisa menikmati hidup bersama kedua anaknya, cucu-cucunya dan kelima cicitnya.

Pasien lainnya adalah Ibu Aria (58) yang mengeluhkan sakit di bagian tangan dan dengkul serta pegal-pegal seluruh sendi. Dokter menganjurkannya agar rajin berolahraga ringan. Ia kemudian diberikan beberapa butir vitamin B.

Tampak seorang relawan membantu seorang pasien berjalan.

Ibu Sisip menerima kedatangan relawan dan dokter yang memeriksa kakinya di rumahnya.

Pada kesempatan ini, tim medis juga datang langsung ke rumah pasien yang tak leluasa bergerak, salah satunya Ibu Sisip (75). Kaki ibu Sisip sakit akibat jatuh telentang 11 bulan yang lalu.

“Karena kaget, kirain kambing peliharaan hilang di pekarangan halaman depan rumah,” cerita Bu Sisip polos sambil menyeka air matanya.  

Titin, anak perempuannya menjelaskan bahwa sang ibu sudah diperiksa dokter bedah syaraf dan didiagnosa tulang belakang geser dan syaraf kejepit. “Tapi karena usia yang sudah sepuh dan ada riwayat penyakit jantung dan sudah pasang ring serta diabetes sehingga riskan untuk melakukan tindakan operasi,” kata Titin.

Dokter Yanto, dari TIMA Indonesia pun menganjurkan Titin untuk membawa ibunya ke rumah sakit lagi untuk dilakukan fisioterapi rutin agar otot kaki kirinya tidak semakin mengecil. Dengan fisioterapi rutin, lambat laun akan bisa berjalan lagi.

Sorot mata bahagia dari salah satu warga usai menuangkan celengan bambunya.

Eva, selaku Koordinator Baksos Kesehatan Umum bersyukur bakti sosial berjalan lancar. “Semoga ke depannya para relawan Tangerang dapat menggarap ladang berkah dengan mengunjungi rumah-rumah pasien yang tidak leluasa bergerak atau berjalan menuju ke posko Baksos Kesehatan,” katanya.

Koordinator di penuangan celengan bambu, Tjai Ing juga diliputi haru melihat ketulusan warga yang menuangkan celengan mereka. “Sangat terharu melihat penduduk setempat memberi sumbangan dengan tulus dan tanpa pamrih. Perekonomian di sana kan menengah ke bawah,” ujar Tjai Ing.

Kelas Budi Pekerti berlangsung seru.

Sementara itu para relawan di Misi Pendidikan juga dengan hati gembira dapat memberikan materi budi pekerti kepada para siswa SMB (Sekolah Minggu Buddha) untuk yang pertama kalinya di Kampung Simpak.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-143: Harapan Hidup yang Telah Lama Hilang Kini Sudah Kembali

Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-143: Harapan Hidup yang Telah Lama Hilang Kini Sudah Kembali

02 Juli 2024

Tak cuma Yopi yang akhirnya terbebas dari belenggu katarak. Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi ke-143 ini berhasil mengobati 87 pasien yang terdiri dari 83 pasien katarak dan 4 pasien pterygium.

Baksos Kesehatan Tzu Chi Indonesia di Serambi Mekah

Baksos Kesehatan Tzu Chi Indonesia di Serambi Mekah

08 Januari 2025
Yayasan Buddha Tzu Chi, bekerja sama dengan TNI AD Iskandar Muda, menggelar Baksos Kesehatan ke-146 dalam rangka memperingati 20 tahun pascabencana tsunami Aceh. Kegiatan digelar pada tanggal 14-25 Desember 2024.
Menguatkan akar Tzu Chi di Manado

Menguatkan akar Tzu Chi di Manado

05 Juni 2014

Memasuki hari kedua baksos kesehatan Tzu chi di Manado, jumlah pasien yang datang pun semakin bertambah. Hari itu sekitar lebih kurang 140 pasien datang untuk mengobati penyakit katarak yang menimpa mereka.

Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -