Pasukan Biru Putih Hadir di RS Dustira

Jurnalis : Sinta Febriyani (Tzu Chi Bandung), Fotografer : Hendra Gusnadhy (Tzu Chi Bandung)
 
foto

Sebelum baksos kesehatan hernia dan katarak dilakukan, dilakukan screening di RS Dustira Cimahi.

Lima tahun lalu, ketika buah hatinya lahir, Nana sempat menanyakan kepada bidan desa yang membantu persalinan, kenapa alat kelamin putranya terlihat membengkak? Namun, bidan desa pun malah ikut keheranan dengan kondisi sang bayi. Ketika diperiksakan ke dokter umum, akhirnya Nana mengetahui bahwa putranya itu menderita hernia, dan menganjurkan agar Rio –nama sang bayi– menjalani pembedahan ketika usianya sudah cukup.

Bagi Orang yang Tidak Beruntung
Selasa, 26 Mei 2009, Tzu Chi Bandung bekerjasama dengan Kodam III/Siliwangi menyelenggarakan screening bagi calon pasien bakti sosial (baksos) kesehatan operasi hernia dan katarak bagi masyarakat yang tidak mampu di Rumah Sakit Dustira, Cimahi. Sebagian besar pasien yang mengikuti kegiatan ini adalah pasien yang sebelumnya pernah mengikuti baksos kesehatan Tzu Chi Bandung sepanjang tahun 2009. Operasi hernia dilaksanakan pada tanggal 27-28 Mei 2009, sedangkan operasi katarak dilaksanakan keesokan harinya tanggal 29 Mei 2009. Rencananya, di waktu mendatang, operasi yang serupa akan kembali digelar sebagai tindak lanjut kerjasama dengan Kodam III/Siliwangi dalam membantu masyarakat yang tidak mampu.

Proses screening yang dimulai sejak pukul 07.00 pagi itu diikuti oleh 31 calon pasien katarak dan 8 calon pasien hernia dengan melibatkan tenaga puluhan tenaga medis dari RS Dustira, Cimahi dan relawan Tzu Chi Bandung. Selain diperiksakan khusus di poliklinik mata dan bedah, para calon pasien itu pun mengikuti serangkaian pemeriksaan lainnya seperti laboratorium, radiologi, penyakit dalam, dan jantung. Dari hasil pemeriksaan itu, sebanyak 18 calon pasien operasi katarak dan 8 calon operasi hernia dinyatakan dapat menjalani operasi.

foto  foto

Ket : - Senyum kebahagiaan orangtua Rio setelah Rio selesai dioperasi dengan lancar. (kiri)
         - Relawan Tzu Chi menjelaskan aturan pemakaian obat kepada keluarga Dena setelah selesai dioperasi.
           (kanan)

“Kita melakukan bakti sosial untuk menolong masyarakat yang kurang mampu, khususnya dalam pengobatan. Sepanjang kawan-kawan, terutama dari Buddha Tzu Chi membantu, kita akan terus membantu masyarakat-masyarakat miskin yang tidak mampu, yang tidak beruntung. Seperti yang kita lihat (saat ini), ada (penderita) bibir sumbing, hernia, dan ada yang katarak,” tutur Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary yang menyambut baik terlaksananya bakti sosial ini dan menghimbau kepada semua pihak agar dapat bersumbangsih kepada masyarakat yang kurang mampu.

Terlepasnya Beban Para Orangtua
Tidak seperti para orangtua lainnya, mereka sering dilanda kecemasan ketika melihat buah hatinya bergerak terlalu lincah. Padahal, anak-anak seusia itu memang sedang masanya untuk bergerak aktif. Nana dan para orangtua yang anaknya menderita hernia, seringkali diliputi kecemasan ketika melihat buah hatinya meringis kesakitan ketika kecapekan atau salah mengkonsumsi makanan.

”Dulu, ketika saya sedang bertugas, saya mendapat informasi dari rumah bahwa anak saya sakit, ternyata hernianya sedang kambuh. Ketika pulang, saya tanya, ‘Tadi Rio makan apa?’ Ternyata anaknya menjawab ia makan nangka. Waktu itu saya lihat Rio sedang tersungkur-sungkur kesakitan dan kelihatan sekali hernianya bengkak hingga masuk ke dalam alat kelaminnya. Kalau sudah begitu, Rio biasanya jalannya miring,” terang ayah Rio.

foto  foto

Ket : - Para pasien menunggu giliran operasi katarak di RS Dustira Cimahi. (kiri)
         - Tim medis berjuang dengan sekuat tenaga melayani dengan tulus pasien yang dioperasi katarak. (kanan)

Senada dengan Nana, Aep pun kerap dilanda kecemasan ketika melihat Dena, putra bungsunya kesakitan. Sebenarnya hernia yang diderita Dena pernah hilang ketika usianya masih beberapa bulan, namun penyakit itu timbul kembali saat usia 2 tahun.

Menurut pria yang kesehariannya masih menganggur ini, kalau hernia Dena kambuh, ia dan istrinya hanya dapat membawa putranya itu ke tabib atau tukang urut saja. ”Biasanya anaknya kesakitan kalo abis lari-larian atau nangis. Maklum dia kan anak bungsu jadi agak rewel, gampang nangis. Sebenernya saya pengin bawa anak ke dokter, tapi nggak punya biaya. Sehari-hari aja masih ngandelin istri jualan bakso kecil-kecilan di depan rumah,” tutur Aep yang sedari proses screening hingga pulang, terus menemani putranya.

”Sekarang mah lega, udah plong. Nggak ada beban lagi. Saya tidak bisa ngucapinnya, saya terharu lihat Dena sudah dioperasi. (Saya ucapkan) banyak-banyak terima kasih pada semuanya,” tambah Aep.

foto  

Ket : - Selama jalannya proses screening hingga operasi selesai dan pasien dinyatakan boleh pulang, puluhan
           ”Pasukan Biru” (relawan Tzu Chi) dengan sigap terus membantu, mendampingi, dan menghibur para pasien
           dan keluarganya.

Selama jalannya proses screening hingga operasi selesai dan pasien dinyatakan boleh pulang, puluhan relawan Tzu Chi dengan sigap terus membantu, mendampingi, dan menghibur para pasien dan keluarganya.

Kejadian ini tenyata banyak memancing pertanyaan dari mereka yang melihat cara kerja relawan Tzu Chi. Sejumlah tenaga medis Rumah Sakit Dustira acap kali menyebut relawan Tzu Chi yang sedang bertugas sebagai ”Pasukan Biru”. Bahkan karyawan apotek rumah sakit langsung mendaftarkan diri menjadi relawan tzu Chi, ”Kalo ada baksos lagi, jangan lupa ajakin saya ya,” pintanya seraya tersenyum manis.

 

Artikel Terkait

Berakhir Happy Ending, Kisah Pendampingan Relawan Tzu Chi

Berakhir Happy Ending, Kisah Pendampingan Relawan Tzu Chi

24 Januari 2021

Bagai mengurai benang yang kusut. Begitulah gambaran dari tugas yang diemban Denasari dan tim relawan Tzu Chi di Bekasi saat mendampingi keluarga penerima bantuan Tzu Chi atas nama Nova. Nova mengalami pendarahan otak akibat jatuh dari lantai dua.

Peletakan Batu Pertama Bedah Rumah: Rumahku, Istanaku

Peletakan Batu Pertama Bedah Rumah: Rumahku, Istanaku

08 Juni 2015 Selama dua puluh dua tahun, berbagai kegiatan dilakukan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dalam mengemban Empat Misi Utama Tzu Chi di Indonesia. Salah satunya adalah dalam menangani kemiskinan baik dengan bantuan biaya hidup hingga penyediaan tempat tinggal yang layak huni.
Perayaan Waisak di Tzu Chi Biak

Perayaan Waisak di Tzu Chi Biak

25 Mei 2023

Relawan Tzu Chi Biak memperingati Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia bersama-sama secara serentak dengan beberapa kota di Indonesia pada 14 Mei 2023.

Kekuatan akan menjadi besar bila kebajikan dilakukan bersama-sama; berkah yang diperoleh akan menjadi besar pula.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -