Penampilan murid-murid Tzu Chi School yang membawakan lagu tentang persahabatan turut mewarnai Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025 yang digelar Tzu Chi Indonesia, Sabtu, 31 Januari 2026.
Di Tzu Chi, kebajikan tidak semata-mata perbuatan baik sesaat, melainkan jodoh panjang yang ditanam, dirawat, lalu diwariskan. Ada yang dari orang tua kepada anak, dari pasangan kepada pasangan, dari satu saudara kepada saudara lainnya. Semangat inilah yang terasa kuat dalam Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025 yang digelar Tzu Chi Indonesia pada Sabtu, 31 Januari 2026.
Tahun ini, sebanyak 148 relawan Indonesia dikukuhkan sebagai relawan komite. Di antara para relawan tersebut, sejumlah keluarga maju ke panggung dan berbagi kisah tentang bagaimana kebajikan tumbuh dan dijalani bersama dalam lingkup keluarga.
Keluarga Fennela, relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Jakarta Pusat, menjadi salah satu kisah yang menyentuh hati. Lima saudari kandung, yakni Christine, Jessica, Ratna, Pheilysia, dan Fennela, serta satu kakak ipar, Lia bersumbangsih bersama di Tzu Chi. Tahun 2025 menjadi momen penuh syukur ketika tiga di antaranya dikukuhkan sebagai relawan komite, yakni Fennela, Ratna, dan Christine.
Sebanyak 148 relawan komite maju ke panggung Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025 dan menjadi inspirasi para peserta Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025.
Tiga anggota keluarga Fennela dikukuhkan sebagai relawan komite, menandai komitmen berkelanjutan dalam jalan kebajikan.
Jodoh keluarga ini dengan Tzu Chi bermula dua dekade lalu. Fennela pertama kali mengenal Tzu Chi saat mengantar seorang anggota umat dari wihara mengajukan bantuan ke kantor Tzu Chi di ITC Mangga Dua. Di sanalah ia tersentuh oleh motto cinta kasih universal yang tidak hanya tertulis, tapi diwujudkan secara nyata. Langkah Fennela kemudian diikuti para saudari lainnya, satu demi satu.
Perjalanan kebajikan Fennela dan kakak keempatnya sempat terhenti karena fokus merawat orang tua yang sakit, sebuah wujud bakti yang juga diajarkan oleh Master Cheng Yen.
“Setelah papa meninggal, kami menjadikan orang tua kami sebagai komite kehormatan Tzu Chi, berharap papa dan mama bisa menjalin jodoh dengan Master Cheng Yen. Setelah mama meninggal, saya dan kakak keempat segera kembali ke Tzu Chi mengejar ketertinggalan kami, aktif di berbagai kegiatan dan berusaha untuk menggenggam semua kegiatan yang ada,” tutur Fennela.
Kini, selain aktif dalam misi amal, keluarga Fennela juga terus mengajak lebih banyak orang menumbuhkan welas asih, termasuk melalui pola hidup vegetaris, sebuah upaya sederhana yang mereka yakini mampu menanam benih kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan yang Menjaga Jodoh Kebajikan
Kisah kebersamaan dalam keluarga juga tampak jelas pada keluarga Ernie Lindawati. Jodoh keluarga ini dengan Tzu Chi dimulai dari sang suami, Zoneshen Ramli yang lebih dahulu menjadi relawan. Meski kini tidak lagi aktif, dukungan tulusnya terhadap Ernie, yang hingga kini sangat aktif berkegiatan, tak pernah surut.
Pada Pemberkahan Akhir Tahun ini, Zoneshen Ramli bersama Ernie dan kedua putri mereka, Adela dan Cherry dilantik sebagai komisaris kehormatan Tzu Chi. Pelantikan ini menandai keberlanjutan jodoh kebajikan keluarga mereka. Komisaris Kehormatan sendiri merupakan individu yang menyumbang dana sebesar NT$ 1 juta untuk mendukung keberlanjutan misi kemanusiaan Tzu Chi.
Sebanyak 11 komisaris kehormatan juga dikukuhkan pada Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025 ini.
Keluarga Ernie Lindawati turut dilantik sebagai Komisaris Kehormatan Tzu Chi, memperlihatkan kebersamaan keluarga dalam bersumbangsih.
Bagi sang suami, momen tersebut menghadirkan kebahagiaan tersendiri. “Saya sangat gembira punya kesempatan untuk sedikit bersumbangsih. Kami punya kesempatan yang baik untuk bisa satu keluarga di sini. Sebelumnya, pada tahun 2018, orang tua kami juga sudah mendapat kesempatan. Kali ini, semoga selanjutnya cucu kami juga punya kesempatan,” ungkapnya penuh harap.
Sukacita itu kian lengkap ketika kedua putri mereka turut dilantik. Bagi Cherry Ramli (33), pelantikan ini bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan generasi muda dalam bersumbangsih.
“Saya sangat bersyukur diberi kesempatan ini. Semoga ini baru titik awal bagi kami, generasi muda, dan ke depannya bisa lebih banyak lagi bersumbangsih,” ujarnya.
Cherry menegaskan bahwa esensi bersumbangsih tidak terletak pada besar kecilnya nominal. “Berapa pun nominalnya, dalam bentuk apa pun, asal bisa bersumbangsih. Sukacitanya itu jauh lebih besar daripada sekadar rasa senang biasa, itulah sukacita yang sesungguhnya.”
Nilai memberi yang ditanamkan sejak dini juga dirasakan kuat oleh Adela Ramli (29).
“Sejak kecil mama saya selalu berkata bahwa tangan menghadap ke bawah lebih baik daripada tangan menghadap ke atas,” tuturnya.
Di usia yang relatif muda, Adela merasa bersyukur karena orang tuanya memberi kesempatan untuk belajar memberi dan terlibat langsung dalam jalan kebajikan.
“Semoga ini menjadi awal dari sumbangsih-sumbangsih berikutnya, baik dalam bentuk materi maupun dalam bentuk yang lain.”
Semangat kebajikan yang tumbuh dalam dua keluarga tersebut kemudian menjelma menjadi kekuatan pelayanan kemanusiaan Tzu Chi yang lebih luas. Nilai yang sama tercermin dalam perjalanan Tzu Chi Hospital, sebagaimana dibagikan dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2025.
Kompas Kemanusiaan Tzu Chi Hospital dalam Pesan Akhir Tahun
Dalam paparannya, Direktur Umum Tzu Chi Hospital, Suriadi Huang, menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya berfokus pada pengembangan fasilitas dan teknologi medis, tetapi juga menjunjung tinggi penghargaan terhadap setiap kehidupan. Ia kembali mengingatkan dua pesan utama Master Cheng Yen yang menjadi pedoman insan medis Tzu Chi di seluruh dunia.
“Master Cheng Yen selalu mengingatkan kami dua hal. Pertama, memperlakukan pasien seperti keluarga. Kedua, membangun rumah sakit yang benar-benar menyelamatkan nyawa.”
Suriadi Huang menyampaikan pesan tentang fondasi nilai Tzu Chi Hospital dalam sesi Pemberkahan Akhir Tahun 2025, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan harus berakar pada penghormatan terhadap jiwa dan kehidupan.
Menurut Suriadi, pesan tersebut menjadi penuntun agar pelayanan kesehatan tetap berpijak pada nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi dan tantangan sistem kesehatan modern.
Untuk menunjukkan bagaimana nilai itu hadir dalam pengalaman nyata pasien, Suriadi membagikan testimoni Dean Lugisto, anak pasien yang mendampingi ibunya menjalani perawatan di Tzu Chi Hospital. Dalam unggahannya yang sempat viral, Dean menuliskan pengalamannya sebagai peserta BPJS.
“Dari dulu saya takut masuk rumah sakit ini. Soalnya saya tahu diri, saya nggak akan mampu bayar. Ternyata mereka juga menerima pasien BPJS.”
Dean menekankan bahwa yang paling membekas bukan hanya fasilitas, melainkan cara pasien diperlakukan dengan hormat.
“Para dokter, suster, dan staf adminnya menjaga harkat dan martabat saya dan mama dengan penuh empati. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya dan mama, kami nyaman di rumah sakit.”
Ia juga menyoroti kecepatan pelayanan di ruang gawat darurat. “Kurang dari 30 menit, oksigen sudah terpasang, cairan di paru terlihat jelas di monitor, kateter sudah jalan.”
Selain tenaga medis, kehadiran relawan turut memberi kesan mendalam. “Setiap hari ada relawan yang pakai rompi Tzu Chi datang menyapa kami dan memastikan mama dirawat dengan nyaman.”
Menurut Suriadi, testimoni tersebut kemudian ditulis ulang oleh belasan akun besar media sosial, menjangkau lebih dari 25 juta pengguna dan memperoleh lebih dari 570 ribu respons positif, hingga akhirnya menarik perhatian BPJS Kesehatan untuk melakukan liputan khusus terkait pelayanan peserta BPJS di Tzu Chi Hospital.
“Setelah itu saya langsung mengajak semua kepala bagian untuk duduk bersama. Kita diskusi: apa yang kita anggap sudah tercapai ini benar atau tidak, kekurangan apa yang belum kita sampaikan, dan hal apa lagi yang masih perlu kita benahi.”
Baginya, proses saling mengingatkan dan berani membuka kekurangan menjadi cara menjaga rumah sakit tetap rendah hati dan terus bergerak maju dalam pelayanan.
Dalam refleksi lain, Suriadi juga menyinggung persepsi publik di ruang digital. Ia menyebut bahwa ketika bertanya kepada kecerdasan buatan mengenai rumah sakit yang dikenal paling manusiawi di Indonesia, jawaban yang muncul kembali menunjuk pada Tzu Chi Hospital. Namun ia menegaskan bahwa pengakuan tersebut justru menjadi alarm untuk melakukan evaluasi lebih dalam.
Kepercayaan internasional pun mengalir. Tzu Chi Hospital resmi ditetapkan sebagai International Learning Center untuk robotic arthroplasty oleh CUVIS Joint, menjadikannya pusat pembelajaran internasional pertama di luar Korea. Penetapan ini memperkuat peran rumah sakit bukan hanya sebagai pusat pelayanan, tetapi juga sebagai ruang berbagi ilmu bagi dunia medis global.
Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi 2025 mempertemukan 2.332 peserta dalam semangat kebersamaan dan welas asih.
Di bidang robotika laparoskopi, ratusan tindakan berhasil dilakukan lintas disiplin, mulai dari bedah umum, kebidanan, hingga urologi. Hal ini membuka akses yang lebih luas terhadap prosedur minimal invasif yang lebih aman dan mempercepat pemulihan pasien.
Komitmen tersebut tercermin dalam capaian medis sepanjang 2025. Pada 14 April 2025, Tzu Chi Hospital mencatat tonggak penting sebagai rumah sakit dengan jumlah operasi robotik penggantian sendi lutut terbanyak di Indonesia. “Hingga saat ini, kami telah melakukan 400 operasi penggantian lutut dengan robotika.”
Pada layanan transplantasi sumsum tulang, Tzu Chi Hospital kembali mencatat sejarah. “Kami telah berhasil melakukan empat prosedur transplantasi sumsum tulang untuk pasien leukemia dan thalassemia. Ini yang pertama di Indonesia dan hingga saat ini paling sukses.”
Lebih dari prestasi teknologi, capaian ini membawa dimensi sosial yang kuat. Biaya layanan yang lebih terjangkau membuka kesempatan hidup bagi lebih banyak keluarga Indonesia yang sebelumnya terhalang keterbatasan ekonomi.
Komitmen kemanusiaan juga meluas ke tingkat regional. Sepanjang 2025, Tzu Chi Hospital melayani 25 prosedur terapi gen bagi anak-anak penderita Spinal Muscular Atrophy (SMA) dari berbagai negara Asia. Anak-anak yang sebelumnya tidak mampu duduk, mengangkat kepala, atau bergerak dengan normal, kini memperoleh peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Menatap tahun 2026, Suriadi turut membagikan arah pengembangan layanan, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam sistem kesehatan. Kunjungan manajemen ke iFLYTEK di Hefei menjadi bagian dari proses pembelajaran mengenai integrasi AI dalam pelayanan medis. Namun ia menegaskan bahwa teknologi harus tetap berpihak pada manusia. AI bukan untuk menggantikan empati, melainkan untuk memperkuat akurasi, efisiensi, dan mutu pelayanan agar tenaga medis dapat lebih fokus pada sentuhan kemanusiaan.
Menutup sesi Pemberkahan Akhir Tahun 2025, yang tertinggal bukan hanya deretan angka capaian atau kecanggihan teknologi, melainkan kesadaran bersama bahwa Tzu Chi Hospital terus melangkah dengan satu kompas nilai yang sama, yaitu memadukan ilmu pengetahuan dan welas asih.
Editor: Metta Wulandari