PAT 2025: Kisah Himpunan Tetesan Kebajikan

Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Jakarta Utara 4), Fotografer : Hadi Kurniawan, Suyanti Samad, Umar Irawan (He Qi Jakarta Utara 4)
Keluarga Roi dan Linda menyampaikan rasa terima kasih atas pendampingan dan dukungan yang diberikan Tzu Chi selama masa sulit yang mereka jalani.

Kelapa Gading menjadi saksi lahirnya perjalanan Tzu Chi Indonesia. Dari kawasan inilah, lebih dari tiga dekade lalu, benih welas asih mulai ditanam. Berawal dari kepedulian beberapa istri pengusaha Taiwan yang melihat langsung penderitaan masyarakat Indonesia, kegiatan amal pun dimulai dengan cara yang sederhana.

“Awalnya dilakukan dengan cara yang polos, tetapi penuh nyali dan menerobos berbagai kesulitan, hingga akhirnya bisa berkembang seperti hari ini,” ujar Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, yang hadir bersama Chia Wen Yu, relawan senior Tzu Chi untuk memberikan dukungan kepada relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 4.

Sebagai saksi sejarah perjalanan Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei mengenang kembali perubahan yang terjadi setelah puluhan tahun berlalu. Ia melihat Kelapa Gading yang dulu menjadi titik awal, kini berkembang pesat dengan semakin banyak relawan yang bergabung. Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan relawan baru di wilayah ini menjadi penguat semangat untuk terus melangkah. “Kelapa Gading harus tetap giat dan rajin, semoga ke depannya dapat menjadi teladan bagi seluruh komunitas He Qi,” tambahnya.

Dari tekad awal yang sederhana inilah, perjalanan Tzu Chi Indonesia terus berlanjut hingga memasuki usia 33 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang dijalani dengan welas asih, kebersamaan, dan ketulusan insan Tzu Chi serta para donatur yang setia mendukung berbagai misi kemanusiaan.

Semangat tersebut pun kembali dihadirkan dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh komunitas He Qi Jakarta Utara 4 pada 1 Februari 2026 di Klub Kelapa Gading, Jakarta Utara. Momentum tahunan ini menjadi ruang syukur sekaligus ungkapan terima kasih kepada insan Tzu Chi dan para donatur yang telah menjadi penggerak utama misi kemanusiaan di Indonesia.

Mengusung tema “Jangan Lupakan Tekad Awal, Masa Celengan Bambu”, kegiatan ini mengajak semua pihak untuk kembali mengingat bahwa gerakan besar selalu berawal dari niat baik yang sederhana, sebuah semangat yang terus hidup sejak awal kelahirannya di Kelapa Gading.

Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, memberikan dukungan kepada insan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 4.

Tema tersebut kemudian dijabarkan lebih dalam melalui pemaparan Hendry Chayadi, yang mengajak seluruh insan Tzu Chi untuk kembali melihat semangat awal yang menjadi fondasi gerakan ini. Menurutnya, Masa Celengan Bambu bukan sekadar kenangan, melainkan pengingat bahwa setiap niat baik, sekecil apa pun, memiliki kekuatan untuk tumbuh dan membawa perubahan besar.

“Kita mengambil tema ini sebagai satu poin utama dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2025. Kita ingin mengajak semua orang untuk mengingat bahwa niat baik yang kecil pun bisa berdampak. Tzu Chi sendiri dimulai dari satu niat yang sederhana, hingga bisa berkembang seperti hari ini,” jelas Hendry.

Melalui momentum ini, Hendry juga mengajak insan Tzu Chi, para donatur, dan masyarakat untuk melihat kembali perjalanan Tzu Chi Indonesia selama satu tahun terakhir. Refleksi ini terutama menyentuh berbagai misi amal dan program bantuan yang telah dijalankan. “Walaupun program-program tersebut terlihat besar, sesungguhnya semuanya merupakan kumpulan dari tetes-tetes kebajikan banyak orang. Setiap bantuan dan misi besar selalu berawal dari niat baik setiap orang,” tambahnya.

Kesadaran inilah yang diharapkan dapat terus membangkitkan semangat kebajikan di hati setiap orang, agar dukungan terhadap misi-misi Tzu Chi senantiasa mengalir dan memberi manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.

Kehangatan Dalam Setiap Pendampingan
Rangkaian Pemberkahan Akhir Tahun 2025 juga diisi dengan berbagai sesi sharing yang menggambarkan makna nyata dari tekad awal dan semangat celengan bambu. Melalui kisah-kisah ini, para donatur dan insan Tzu Chi diajak melihat bagaimana niat baik yang dijalankan dengan ketulusan dapat menghadirkan dampak jangka panjang bagi kehidupan banyak orang.

Salah satu kisah yang dibagikan adalah pendampingan Tzu Chi kepada para penerima bantuan yang tidak berhenti ketika proses pengobatan selesai. Lebih dari itu, Tzu Chi membangun jalinan kekeluargaan yang terus terjaga hingga bertahun-tahun kemudian. Hal ini tergambar dalam kisah nyata perjuangan sepuluh tahun silam tentang Maxxon dan Maxxen yang dulu merupakan bayi kembar siam, kembali diangkat dan dibagikan kepada para donatur pada kesempatan tersebut.

Wie Sioeng (56), Ketua Koordinator Bidang Misi Amal He Xin 1, menjelaskan bahwa kisah ini merupakan wujud pendampingan Tzu Chi yang berlandaskan rasa kekeluargaan. Awalnya, kabar kehamilan anak kedua menjadi kebahagiaan besar bagi pasangan Roi dan Linda. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat ketika diketahui bahwa bayi yang dikandung Linda adalah kembar siam yang menyatu di bagian dada dan hati, sehingga memerlukan penanganan medis yang kompleks.

Wie Sioeng berbagi kisah tentang jalinan jodoh dan pendampingan bersama keluarga Maxxon dan Maxxen yang sudah dilakukan kurang lebih 10 tahun lalu.

“Ini adalah proses yang panjang dengan biaya medis yang sangat besar. Bukan hanya Tzu Chi, orang tua pun diliputi kegelisahan saat itu. Namun kami teringat perenungan Master, ‘Berkah diperoleh dari niat yang baik. Kekuatan didapat dari tekad yang kokoh.’ Dari situlah Tzu Chi Indonesia memutuskan untuk mendampingi kasus ini,” ungkap Yang Wie Sioeng.

Berangkat dari niat baik dan tekad yang kokoh, serta dukungan kecil dari hati setiap insan Tzu Chi, terhimpunlah kekuatan besar yang menumbuhkan harapan bagi kedua orang tua dan masa depan Maxxon dan Maxxen. Operasi pemisahan bayi kembar siam yang dilakukan di RS Harapan Kita pun menjadi salah satu momen penuh ketegangan dan doa.

“Tindakan operasi yang direncanakan selama 16 jam akhirnya berhasil diselesaikan dalam waktu 10 jam. Sebanyak 30 dokter spesialis dari berbagai rumah sakit besar di Indonesia serta 40 perawat profesional terlibat secara bergantian di ruang operasi,” jelasnya. Pada saat itu, insan Tzu Chi berupaya tetap tenang dan saling menguatkan agar orang tua mampu menanti proses operasi dengan tegar.

Perasaan haru, cemas, dan bahagia bercampur menjadi satu ketika dokter keluar dari ruang operasi dan menyampaikan bahwa operasi pemisahan berjalan dengan baik. Setelah itu, Maxxon dan Maxxen juga masih harus menjalani tindakan medis lanjutan, termasuk operasi bibir sumbing.

Pendampingan Tzu Chi tidak berhenti pada bantuan medis semata. Dukungan moral, kekuatan batin, serta kebersamaan terus diberikan kepada keluarga ini hingga hari ini. Dalam masa-masa penuh kebingungan dan kegelisahan, jalinan kekeluargaan dengan Tzu Chi menjadi sumber kekuatan yang mengantar Maxxon dan Maxxen tumbuh sehat dan penuh harapan. “Kerisauan perlahan berubah menjadi kebahagiaan. Satu niat baik dan satu tekad yang kokoh menjadi harapan bagi kedua anak ini,” tutup Yang Wie Sioeng.

Rasa syukur juga disampaikan oleh Linda, ibu dari Maxxon dan Maxxen. “Terima kasih atas jalinan jodoh baik ini dan dukungan Tzu Chi sejak awal hingga sekarang. Tanpa dukungan tersebut, mungkin saya tidak akan sekuat itu. Untuk para ibu di luar sana yang sedang menghadapi masa sulit bersama anaknya, tetaplah semangat dan kuat,” ujarnya.

Kini, sepuluh tahun berlalu, Maxxon dan Maxxen tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan ceria. Keduanya pun menyampaikan rasa terima kasih kepada sang ibu dan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah mendampingi perjalanan hidup mereka. “Terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi. Terima kasih papi dan mami sudah merawat kami,” ucap Maxxon dan Maxxen dengan polos.

Bersatu Hati untuk Sumatera dan Aceh
Sharing berikutnya mengangkat kisah duka dari bencana alam yang terjadi di penghujung November. Longsor di Aceh serta banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menghadirkan kesedihan mendalam, terutama karena terjadi menjelang akhir tahun yang seharusnya dipenuhi sukacita menyambut tahun baru.

“Ini tentu membuat hati kita semua terasa berat. Di saat banyak orang bersiap menyambut tahun baru, saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera justru menghadapi musibah,” ujar Andre, Kepala Departemen External Relation Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Melalui momentum ini, ia memperkenalkan program bantuan bertajuk “Bersatu Hati untuk Aceh dan Sumatera” yang dijalankan Tzu Chi untuk wilayah Aceh, dan Sumatera Utara.

Sebagai bentuk tanggap darurat, Tzu Chi menjalankan program bantuan jangka pendek, menengah, dan panjang. “Untuk jangka pendek, bantuan langsung disalurkan kepada masyarakat saat bencana terjadi, seperti selimut dan kebutuhan pokok lainnya pasca banjir,” jelas Andre.

Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, memberikan dukungan kepada insan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 4.

Di Aceh Tamiang, kondisi wilayah 20 hari pascabencana digambarkan seperti kota mati. Lumpur menutupi hampir seluruh area, aktivitas warga lumpuh, dan kehidupan nyaris berhenti. Insan Tzu Chi Medan terjun langsung melakukan pembersihan jalan dan tiga unit sekolah. Selain itu, banyak warga mengalami gangguan kesehatan seperti penyakit kulit, muntah, dan infeksi pasca banjir, sehingga Tzu Chi Medan mengadakan bakti sosial pengobatan secara rutin setiap dua minggu sekali sebagai bagian dari bantuan jangka pendek.

Sementara itu, bantuan jangka panjang difokuskan pada pembangunan kembali kehidupan warga terdampak. Program ini mencakup pembangunan jembatan serta 2.500 unit rumah hunian tetap, yang terdiri atas 1.000 unit di Aceh, 1.000 unit di Sumatera Utara, dan 500 unit di Padang, Sumatera Barat. “Momentum pertama pembangunan perumahan pascabencana ini dilakukan oleh Tzu Chi Indonesia. Semua terwujud berkat dukungan insan Tzu Chi, para donatur, dan masyarakat luas,” ungkap Andre.

Andre juga membagikan pengalamannya saat turun langsung ke lokasi bencana. Biasanya, ia hanya menerima laporan dari relawan dan media, namun kondisi di lapangan memberikan kesan yang jauh lebih mendalam. “Melihat langsung warga yang masih tinggal di tenda pada hari ke-20 pascabencana, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, serta kebingungan memulai hidup kembali karena rumah mereka telah hilang, membuat kami semakin menyadari betapa besar dampak bencana ini,” tuturnya.

Dalam penanganan bencana tersebut, koordinasi dilakukan secara langsung dan intensif. Liu Su Mei dan Sugianto Kusuma, bersama Mujianto selaku Ketua Tzu Chi Sumatera Utara, memimpin pertemuan awal pascabencana untuk merumuskan rencana bantuan jangka pendek, menengah, hingga panjang. “Untuk pembangunan hunian tetap, pertemuan rutin dilakukan baik secara daring maupun luring. Selama di lokasi, Aguan shixiong juga secara aktif memantau perkembangan persiapan pembangunan agar lokasi dapat dipersiapkan dengan baik,” tutup Andre.

Pada kesempatan tersebut, Tzu Chi Indonesia juga mengajak para donatur dan undangan yang hadir untuk turut berpartisipasi mendukung program “Bersatu Hati untuk Aceh dan Sumatera” melalui pemindaian barcode QRIS sebagai wujud kepedulian dan solidaritas bagi para korban bencana.

Tetap Mendukung Tzu Chi
Kehadiran para peserta dan donatur dari berbagai latar belakang menjadi cerminan panjangnya jalinan jodoh baik antara masyarakat dengan Tzu Chi Indonesia. Salah satunya adalah Steven (48), yang telah mengenal Tzu Chi sejak tahun 1996, saat masih berstatus mahasiswa.

Steven (paling kanan, kaos putih) menyampaikan pandangannya tentang peran Tzu Chi yang hadir lebih awal di lokasi bencana melalui berbagai kegiatan kemanusiaan.

“Waktu itu kami masih kuliah. Tzu Chi sudah ada di Kelapa Gading, masih ada Ibu Liu Su Mei. Kami mulai berdonasi, meski belum rutin. Biasanya kalau ada kegiatan, kami ikut donasi seperti hari ini, mengumpulkan koin ke dalam celengan dan menuangkannya di setiap kegiatan tahunan. Karena masih mahasiswa dan punya waktu, kalau ada acara kami juga ikut membantu,” tutur Steven.

Steven menilai kepercayaan terhadap Tzu Chi tumbuh dari konsistensi dalam aksi kemanusiaan. Ia melihat dan mendengar bahwa dalam setiap bencana, relawan Tzu Chi sering kali hadir lebih awal di lokasi. “Saya percaya dana di Tzu Chi. Alokasinya jelas,” tambahnya.

Bagi Steven yang rutin menghadiri Pemberkahan Akhir Tahun, angpau Tzu Chi memiliki makna tersendiri. Menurutnya, angpau tersebut berasal dari royalti penjualan buku Master Cheng Yen yang kemudian dibagikan kembali. “Dari hasil penjualan itu, Master ingin berbagi. Angpau ini mengingatkan kita pada makna berbagi yang sesungguhnya,” ujarnya.

Slogan “Dana Kecil Amal Besar” memberikan kesan mendalam bagi Lia Yuliana (tengah, baju hitam) tentang kekuatan niat baik yang terhimpun dari banyak orang.

Peserta lainnya, Lia Yuliana (48), juga memiliki perjalanan panjang bersama Tzu Chi. Ia terlibat sebagai relawan di awal perkembangan Tzu Chi di Kelapa Gading. Sejak tahun 2006, Lia aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk mempelajari isyarat tangan shou yu. Ketika kemudian berpindah domisili ke Gading Serpong, ia melanjutkan keterlibatannya melalui kegiatan pelestarian lingkungan.

Kesan mendalam Lia bermula saat mendengarkan penjelasan tentang misi amal dan pengenalan Tzu Chi oleh Jishou. Sejak saat itu, ia memutuskan menjadi donatur dan terus berdana hingga kini. Slogan “Dana Kecil Amal Besar” pun melekat kuat di hatinya.

“Dana sekecil apa pun di Tzu Chi bisa membawa manfaat besar bagi banyak orang. Angpau berkah seperti jalinan jodoh kita dengan Master Cheng Yen. Kita perlu menghargai berkah dan tetap bersemangat di Tzu Chi,” ungkap Lia, yang hadir bersama keluarga dan teman-teman alumni kampus.

Sementara itu, Fanny (36) mengenal Tzu Chi melalui DAAi TV. Pada Juni 2025, ia diajak oleh salah satu relawan untuk menjadi donatur dan langsung mengiyakan. “Tzu Chi membantu orang-orang yang kurang mampu. Kisah bayi kembar siam sangat menyentuh dan membuat saya terharu,” katanya. Fanny pun merasa bersyukur dapat menerima angpau Tzu Chi tahun ini dan berencana mengumpulkannya setiap tahun.

Menutup rangkaian kebersamaan tersebut, Rosida Kusuma, Ketua He Qi Jakarta Utara 4, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para donatur, masyarakat, serta insan Tzu Chi Indonesia atas dukungan dan kepercayaan yang telah diberikan.

“Semoga setiap kebajikan yang kita tanam bersama dapat tumbuh membawa berkah, kedamaian, dan keharmonisan. Semoga kebersamaan ini terus menghadirkan kehangatan dan inspirasi bagi kita semua,” ujarnya kepada 413 donatur dan tamu undangan yang hadir.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi Medan

Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi Medan

01 Februari 2011 Tanggal 23 Januari 2011, bertempat di Yang Lim Plaza lantai 5, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Perwakilan Medan mengadakan acara Pemberkahan Akhir Tahun 2010 yang dihadiri oleh 2.500 orang. Acara seperti ini juga dilaksanakan di semua penjuru dunia sebelum menyambut Tahun Baru Imlek.
Menyambut Gan En Hu ke Rumah Insan Tzu Chi

Menyambut Gan En Hu ke Rumah Insan Tzu Chi

17 Desember 2019

Sebanyak 308 penerima bantuan (gan en hu) mendapatkan pelayanan kesehatan dan bingkisan dari Tzu Chi Medan pada Minggu, 8 Desember 2019. Dalam kesempatan ini kunjungan ke Kantor Tzu Chi Medan ini, para gan en hu juga mengikuti sosialisasi Tzu Chi dan pelestarian lingkungan.

Perjalanan Penuh Cinta Kasih

Perjalanan Penuh Cinta Kasih

21 Januari 2016
Rombongan Relawan Tzu Chi Kantor Penghubung Pekanbaru kembali melakukan perjalanan penuh cinta kasih ke Kota Bagansiapiapi pada Jumat, 15 Januari 2016. Kali ini, bersama relawan setempat, insan Tzu Chi Pekanbaru melakukan berbagai kegiatan menebar dan memupuk cinta kasih di Bagansiapiapi.
Hakikat terpenting dari pendidikan adalah mewariskan cinta kasih dan hati yang penuh rasa syukur dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -