Viona Angelia menjelaskan Replikasi Griya Jing Si yang berada di lantai 4 kepada peserta untuk menekuni semangat Master Cheng Yen membangun Tzu Chi dari gubuk kecil hingga sekarang.
“Warisan kebajikan dan cinta kasih merupakan pusaka yang tidak ternilai harganya.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)
Melatih diri bukanlah proses yang dapat ditempuh dalam waktu singkat. Diperlukan ketekunan, konsistensi, dan semangat untuk terus belajar agar dapat menumbuhkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat itulah yang kembali dihidupkan dalam Training Abu Putih ke-3 He Qi Tangerang bertema Menyebarkan Kebajikan dan Mewariskan Cinta Kasih yang diikuti 115 relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Tangerang pada Minggu, 28 Juni 2026, di Xi She Ting, Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk (PIK). Pelatihan ini juga didukung oleh 40 panitia serta dua perwakilan He Xin.
Pelatihan dibuka oleh Cun Meng dengan materi Wariskan Sebuah Dunia yang Bersih. Relawan senior yang telah bergabung sejak 2008 ini mengajak peserta untuk menyadari pentingnya pelestarian lingkungan sebagai upaya mencegah dampak perubahan iklim, seperti banjir, tanah longsor, dan kebakaran hutan.
Ia mengingatkan relawan untuk menerapkan prinsip 5R, yaitu Rethink (berpikir ulang sebelum membeli), Reduce (mengurangi penggunaan plastik), Reuse (memperpanjang usia barang), Repair (memperbaiki barang), dan Recycle (mendaur ulang barang).
Cun Meng juga mengajak relawan untuk membawa barang-barang yang masih dapat didaur ulang dan mempunyai nilai ekonomi, seperti gelas plastik, kertas, kaleng aluminium, botol kaca, barang elektronik, dan pakaian layak pakai ke Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan. Saat ini, komunitas Tangerang telah memiliki lima titik pilah, yaitu di Gading Serpong, Alam Sutera, Modernland, Citra Raya, dan Serang.
Mengenal Rumah Sendiri melalui Tur Jing Si
Salah satu rangkaian pelatihan yang menarik perhatian peserta adalah Tur Jing Si. Relawan dibagi ke dalam empat kelompok, ditambah satu kelompok khusus bagi peserta dengan mobilitas terbatas.
Di lantai pertama, peserta diajak mengenal Relief Perjalanan Hidup Manusia, Misi Tzu Chi, serta Perumpamaan Kereta Lembu Putih. Pada area lobi juga terdapat simbol delapan daun Bodhi yang melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Peserta kemudian mengunjungi Exhibition Hall yang menampilkan perjalanan Master Cheng Yen mendirikan Tzu Chi hingga perkembangan berbagai misi kemanusiaan Tzu Chi di Indonesia.
Di area Jing Si Living, relawan diperkenalkan pada keseharian Master Cheng Yen dan para shifu, mulai pukul 04.00 pagi hingga pukul 22.00 malam. Melalui area ini, peserta diajak memahami bahwa disiplin, kesederhanaan, dan ketekunan merupakan bagian dari praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari.

Relawan menampilkan Shou Yu (Isyarat Tangan) berjudul Ren Ren Zuo Huan Bao (Setiap Orang Melakukan Pelestarian Lingkungan) dengan tujuan mengajak melestarikan Bumi demi anak dan cucu kita.
Perjalanan berlanjut ke lantai dua, tempat berdirinya Fu Hui Ting, ruang kebaktian dengan tiga rupang Bodhisattva yang melambangkan keteguhan, kebijaksanaan, dan welas asih. Di tempat ini juga terdapat pintu tembaga berukir 31 kata perenungan Master Cheng Yen serta kutipan dari Sutra Makna Tanpa Batas.
Pada lantai tiga, peserta diperkenalkan dengan ajaran Jing Si yang mendorong setiap orang untuk terjun langsung ke masyarakat agar dapat merasakan kehidupan sesama dan menumbuhkan welas asih dari pengalaman nyata. Area ini juga dilengkapi dengan Guo Yi Ting, auditorium internasional yang mampu menampung sekitar 600 orang.
Nuansa berbeda terasa di lantai empat. Di sana terdapat Jiang Jing Tang, ruang pembabaran Dharma dengan Rupang Buddha Yang Maha Sadar di Alam Semesta. Di belakangnya terpasang mozaik karya seniman Korea Utara yang menggambarkan bumi dan alam semesta.
Relawan juga mengunjungi replika pondok Master Cheng Yen yang menjadi simbol bahwa sebuah gerakan besar dapat berawal dari tekad kecil yang tulus dan teguh. Pintu belakang pondok yang dibuat lebih rendah menjadi pengingat agar setiap insan senantiasa menjaga kerendahan hati.
Menumbuhkan Budaya Humanis
Elvivianny (tengah) mengajak relawan untuk melakukan gerakan positif: Say good words, have good thoughts, and do good deeds.
Untuk membangkitkan semangat peserta, relawan Pelestarian Lingkungan menampilkan isyarat tangan Ren Ren Zuo Huan Bao atau Setiap Orang Melakukan Pelestarian Lingkungan. Penampilan ini mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga Bumi demi generasi mendatang.
Materi budaya humanis disampaikan oleh Dessy. Ia mengutip kata perenungan Master Cheng Yen, "Indahnya satu kesatuan ada pada pengendalian diri yang baik dari setiap individu."
Dessy menjelaskan bahwa ketentuan dalam berseragam dan berpenampilan bukanlah bentuk pembatasan, melainkan cerminan kesederhanaan, kerapian, dan penghormatan terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Peserta juga diajak memahami pentingnya etika dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan kata perenungan Master Cheng Yen, "Kalau kebiasaan buruk dapat dibentuk, semestinya juga bisa dihapuskan", relawan didorong untuk terus belajar memperbaiki diri sedikit demi sedikit.
Mengingat Kebajikan yang Telah Ditanamkan
Dalam pelatihan ini, diputar pula video penghormatan kepada almarhum Daniel Sulaiman, relawan senior di Misi Amal yang berpulang pada 30 Mei 2026.
Melalui video tersebut, peserta kembali diingatkan tentang ketulusan almarhum Daniel dalam mendampingi penerima bantuan. Salah satu pesan yang membekas adalah pentingnya kunjungan kasih untuk terus memberi semangat kepada mereka yang membutuhkan.
Sylvia Kurniawan, istri dari Daniel Sulaiman, saat menceritakan awal mula jalinan jodoh mereka dengan Tzu Chi yang bermula pada tahun 2007 dan kisah 3 penerima bantuan yang disurvei oleh almarhum.
"Kita kasih semangat untuk hari ke depannya. Setiap ada waktu, kita kunjungi," demikian pesan yang pernah disampaikan almarhum Daniel.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan berbuat baik tidak boleh ditunda, karena waktu adalah anugerah yang sangat berharga.
Pelatihan Abu Putih 3 ini juga diwarnai dengan pelantikan lima orang shi xiong dan delapan orang shi jie yang diiringi lagu Xiang Shi Dou. Salah satu penggalan liriknya, xiao xiao hong dou guang chai wu bi, mengandung makna bahwa sebutir kacang merah yang kecil pun dapat memancarkan cahaya yang terang, sebagaimana setiap orang memiliki potensi untuk menebarkan manfaat bagi sesama.
Menjadi Inspirasi bagi Orang Lain
Ketua He Qi Tangerang, Lily Santoso, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh relawan yang telah mengikuti pelatihan dan mengajak relawan baru untuk terus menjaga semangat awal dalam menapaki jalan Tzu Chi.
(kiri ke kanan) Fransiska, Rika dan Redy memberikan pesan dan kesannya setelah mengikuti Training Abu Putih 3. Lily Santoso, menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh relawan yang telah mengikuti pelatihan dan mengajak relawan baru.
Semangat tersebut juga dirasakan Fransiska (26), relawan yang aktif mengajak keluarga untuk mengenal Tzu Chi.
"Hari ini seru dan membuat saya semakin semangat berkegiatan karena bisa bertemu banyak relawan yang menginspirasi. Sepupu saya juga ikut hadir karena tertarik setelah mendengar cerita saya tentang kegiatan Tzu Chi," ujar Fransiska.
Bagi Redy Tjoe (33), pengalaman mengikuti Training Abu Putih untuk pertama kalinya memberikan kesan mendalam.
"Acaranya sangat bagus dan inspiratif. Kita harus menjadi inspirator karena Tzu Chi berkembang besar berkat Master Cheng Yen yang berhasil menginspirasi banyak orang," ungkap Redy.
Hal senada disampaikan Rika Silviyanti (26). "Saya sangat senang karena pelatihan ini membantu menumbuhkan nilai-nilai kebajikan untuk bersama-sama menjalankan misi Master Cheng Yen," ucap Rika.
Melalui Training Abu Putih ke-3, para relawan tidak hanya memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai Tzu Chi, tetapi juga kembali meneguhkan tekad untuk terus menebarkan kebajikan. Sebab cinta kasih yang diwariskan dari satu hati ke hati lainnya akan terus bertumbuh dan menjadi kekuatan untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat.
Relawan Sheng Huo Zhu (Konsumsi) mempersiapkan makanan untuk konsumsi relawan dan peserta training selama acara berlangsung.
Editor: Anand Yahya