Pelatihan Relawan Abu Putih: Berawal dari Niat hingga Menghadirkan Cinta Kasih

Jurnalis : Sphatika Winursita (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Jok Khian, Erlina Wang, Henny Yohannes (He Qi Jakarta Utara 3)
Sebanyak 47 peserta termasuk mentor, serta 32 panitia hadir dengan penuh sukacita untuk kembali mendalami Misi Tzu Chi dalam kegiatan pelatihan relawan.

Tzu Chi Internasional memasuki usia ke-60 tahun, sekaligus Master Cheng Yen merayakan ulang tahunnya yang ke-90 pada 2026 ini. Momen spesial tersebut diperingati melalui prosesi Waisak yang khidmat di Lapangan Teratai Tzu Chi Center PIK beberapa minggu lalu, serta pembentukan formasi barisan bertuliskan Mo Wang Chu Xin, yang memiliki arti “jangan melupakan tekad awal para relawan saat bergabung dengan Tzu Chi dan menjalani semangat Bodhisatwa.”

Semangat inilah yang turut menjadi harapan Jok Khian, Ketua He Qi Jakarta Utara 3 dan juga bagi para relawan di komunitasnya. Nilai tersebut dituangkan dalam Pelatihan Relawan Abu Putih ke-3 yang diselenggarakan pada Minggu, 24 Mei 2026, di Exhibition Hall Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara. Sebanyak 47 peserta termasuk mentor, serta 32 panitia hadir dengan penuh sukacita untuk kembali mendalami Misi Tzu Chi.

Setiap orang yang bergabung menjadi relawan tentu memiliki niat yang sama, yaitu menebar kebajikan. Namun, langkah tersebut perlu dijalani selaras dengan filosofi Tzu Chi yang dicanangkan oleh Master Cheng Yen sebagai pendirinya.

Dalam video ceramah Master Cheng Yen telah yang disiapkan, Master Cheng Yen bercerita bahwa pada awal berdirinya Tzu Chi, dirinya bersama para murid hidup dalam keterbatasan dan menghadapi banyak kesulitan, bahkan harus melakukan pekerjaan kasar untuk bertahan hidup. Dari perjalanan itulah lahir nilai kemandirian yang terus dipegang teguh hingga kini.

Seperti ajaran yang kerap Master Cheng Yen sampaikan, “Satu hari tidak bekerja, satu hari tidak makan.” Meski kini Tzu Chi telah berkembang besar dan menjangkau berbagai belahan dunia, semangat kemandirian tetap dijaga. Para Biksuni di Jing Si, Hualien, bahkan telah menjalankan lebih dari 30 jenis pekerjaan. Nilai inilah yang perlu diadaptasi oleh para relawan, yakni membina diri melalui praktik nyata, lalu menuangkannya dalam empat Misi Tzu Chi: Pendidikan, Kesehatan, Pelestarian Lingkungan, dan Budaya humanis.

Danny Wangsaputra, mendapatkan seragam kegiatan Tzu Chi setelah megikuti serangkaian kegiatan pelatihan.

Danny Wangsaputra (37), salah satu peserta pelatihan, bercerita jalinan jodoh dengan Tzu Chi yang berawal dari keraguan hatinya. Namun, setelah membaca salah satu kutipan ceramah Master Cheng Yen, ia lalu memantapkan hatinya untuk bergabung dalam barisan relawan Tzu Chi.

"Saya sudah mengenal Tzu Chi dari lama, karena namanya sudah cukup dikenal, tapi dulu saya masih takut karena masih merasa belum bisa atau belum sanggup. Tetapi, Guru Dharma saya di wihara pernah membaca kutipan ceramah Master Cheng Yen, yang menyebutkan untuk datanglah dengan apa adanya, jalan sudah menunggu kamu. Jadi itu yang membuat saya termotivasi untuk mencoba ikut menjadi relawan Tzu Chi,” ungkap Danny Wangsaputra.

Ferdiansyah (tengah), salah satu peserta pelatihan relawan, ia mengaku termotivasi dengan cinta kasih yang diterapkan Tzu Chi yang memantapkan hatinya bergabung dalam barisan relawan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ferdiansyah (21), seorang karyawan swasta yang ingin bergabung dalam barisan relawan Tzu Chi. Baginya, cinta kasih yang diterapkan Tzu Chi membuat Ferdiansyah kagum dan termotivasi.

“Saya tertarik bergabung dengan Tzu Chi karena nilai-nilai yang diajarkan sangat sejalan dengan apa yang saya pelajari dalam ajaran Buddha, yaitu mengembangkan welas asih dan membantu sesama tanpa membedakan latar belakang. Saya melihat Tzu Chi tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi juga mewujudkannya melalui tindakan nyata. Karena itu, saya ingin belajar dan ikut berkontribusi dalam kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Ferdiansyah.

Mendalami Misi Tzu Chi
Misi amal menjadi awal perjalanan Tzu Chi dalam meringankan penderitaan sesama. Ricky Thanadi, relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Pluit, mengenang kisah haru Satria Mandala Putra, salah satu penerima bantuan yang berjuang melawan gagal ginjal.

Relawan Tzu Chi menganggap para penerima bantuan sebagai guru dalam kehidupan sehingga relawan dan penerima bantuan sama-sama berterima kasih. Ini bukan karena relawan Tzu Chi menginginkan penerima bantuan untuk berterima kasih kepada Tzu Chi atas bantuannya, tetapi para relawan berterima kasih kepada para penerima bantuan karena telah mengizinkan mereka hadir di tengah-tengah mereka, melihat secara langsung penderitaan mereka.

Selain mendalami materi tentang Misi Tzu Chi, para peserta juga diajak untuk memperagakan isyarat tangan yang merupakan salah satu Budaya Humanis Tzu Chi.

Pendidikan menjadi salah satu pilar penting dalam peradaban, sejalan dengan Misi Tzu Chi yang menghadirkan harapan bagi generasi melalui pendidikan yang layak. Ritawati, Ketua Misi Pendidikan He Qi Jakarta Utara 3, menjelaskan bahwa misi ini erat kaitannya dengan bidang kesehatan. Setelah membangun rumah sakit di Hualien pada 1986, Tzu Chi mendirikan perguruan tinggi keperawatan tiga tahun kemudian untuk mencetak tenaga medis lokal. Dari sana, Misi Pendidikan Tzu Chi berkembang menjadi pendidikan formal dari tingkat TK hingga perguruan tinggi. Di Indonesia, langkah ini juga diawali dengan berdirinya Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, dan hingga kini telah berkembang menjadi 37 sekolah di berbagai wilayah.

Berlandaskan filosofi pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan, Misi Pendidikan Tzu Chi yaitu mendidik perilaku penuh tata krama, membina akhlak yang mulia, mewariskan jalan kebenaran, dan membimbing ke arah yang benar. Dengan demikian, Misi Pendidikan Tzu Chi tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk pribadi yang humanis, peduli, dan bermanfaat bagi sesama.

Bernadeta Santhi, yang telah berkarya bersama DAAI TV sejak 2007, turut berperan dalam menyebarkan nilai tersebut melalui tayangan yang mengangkat kisah inspiratif dan kebutuhan masyarakat.

Budaya Humanis menjadi salah satu nilai penting yang terus dijalankan Tzu Chi melalui berbagai program kemanusiaan. Bernadeta Santhi, yang telah berkarya bersama DAAI TV sejak 2007 dan menjadi Produser Program sejak 2012, turut berperan dalam menyebarkan nilai tersebut melalui tayangan yang mengangkat kisah inspiratif dan kebutuhan masyarakat.

Salah satu wujud nyatanya terlihat dalam pembangunan Jembatan Hasan Hasanuddin di Desa Mata Kapore, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Tayangan mengenai kondisi masyarakat setempat berhasil mengetuk hati banyak pihak untuk ikut membantu. Dari kepedulian itu, lahirlah jembatan berikutnya, yakni Jembatan Cinta Kasih, yang kembali dibangun di wilayah Sumba Barat Daya.

Melalui kisah ini, DAAI TV menunjukkan bahwa membangun jembatan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga secara batin. DAAI TV hadir sebagai penghubung yang merajut kasih, harapan, dan kepedulian antarsesama, sejalan dengan Misi Budaya Humanis Tzu Chi dalam menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Bachtiar Loka, relawan Tzu Chi, menjelaskan bahwa sejak 1990, Tzu Chi telah menggerakkan masyarakat untuk menjaga bumi melalui kebiasaan sederhana yang membangun kesadaran bahwa setiap tindakan manusia berdampak pada lingkungan.

Pelestarian Lingkungan bukan sekadar wacana, tetapi tanggung jawab bersama yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Bachtiar Loka, relawan Tzu Chi, menjelaskan bahwa sejak 1990, Tzu Chi telah menggerakkan masyarakat untuk menjaga bumi melalui kebiasaan sederhana yang membangun kesadaran bahwa setiap tindakan manusia berdampak pada lingkungan.

Melalui kampanye “Satu Hari Lima Kebajikan”, Tzu Chi mengajak seluruh relawan maupun masyarakat memulai perubahan dari diri sendiri, seperti hemat air, hemat listrik, membawa alat makan sendiri, menggunakan transportasi efektif, serta menerapkan pola makan vegetarian. Langkah sederhana ini diharapkan mampu menciptakan gaya hidup yang lebih sehat, hemat, dan penuh welas asih terhadap lingkungan.

Variaty, salah satu relawan Tzu Chi yang bertugas pada kegiatan pelatihan ini, berharap para peserta dapat menjalankan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai yang paling saya harapkan dapat diterapkan adalah semangat pelestarian lingkungan dan menjalankan Lima Kebajikan Tzu Chi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mempraktikkannya secara konsisten, kita dapat membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitar,” ucap Variaty.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Bersama Mendalami Dharma

Bersama Mendalami Dharma

24 April 2014

Kita semua memiliki jalinan jodoh yang sedemikian besarnya sehingga bisa bergabung dalam Tzu Chi dan memiliki kesempatan untuk mendengarkan Dharma.

Semakin Mantap Bersumbangsih Bersama Tzu Chi

Semakin Mantap Bersumbangsih Bersama Tzu Chi

26 Juli 2023

Minggu pagi itu, Aula Jing Si Bandung sudah ramai dengan kegembiraan para relawan yang mengikuti Pelatihan Abu Putih kedua. Pelatihan ini dihadiri 84 relawan. 

Tekun Melatih Diri dan Mengenal Lebih Dekat Misi Kesehatan Tzu Chi

Tekun Melatih Diri dan Mengenal Lebih Dekat Misi Kesehatan Tzu Chi

13 Juli 2022

Relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Barat 1 melakukan Pelatihan Abu Putih pada Minggu 10 Juli 2022, di Xi She Ting, Tzu Chi Center, Pantai Indah Kapuk, ada 59 relawan Tzu Chi mengikuti pelatihan ini.

Hadiah paling berharga di dunia yang fana ini adalah memaafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -