Senyum tulus Lestin Trisiati (kanan) saat menyapa warga Penjaringan, mengantarkan secercah harapan melalui selembar kupon Paket Cinta Kasih Lebaran.
Sebanyak 46 relawan dari komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Tzu Ching melakukan pembagian kupon bantuan di wilayah RW 013, 014, dan 015, Penjaringan, Jakarta Utara, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Para relawan mendatangi rumah warga secara langsung untuk memastikan data penerima bantuan serta membagikan kupon cinta kasih menjelang Lebaran. Bantuan kemudian disalurkan pada Minggu, 1 Maret 2026. Sebanyak 1.570 paket beras masing-masing seberat 10 kilogram dibagikan kepada keluarga di tiga wilayah RW tersebut. Program ini bertujuan membantu meringankan kebutuhan warga di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
Dalam proses pembagian bantuan tersebut, meski data warga sudah tergenggam erat, bagi Lestin Trisiati, langkah kaki menyusuri gang-gang RW 015 Penjaringan adalah sebuah panggilan nurani yang tak bisa diwakilkan. Sebagai relawan Zhen Shan Mei (dokumentasi), ia memandang tugasnya melampaui bidikan lensa. Ia dan relawan lainnya hadir untuk memastikan bahwa selembar kupon cinta kasih itu benar-benar mendarat di tangan mereka yang paling membutuhkan, seperti para lansia yang tinggal sebatang kara, janda, hingga anak yatim.
"Walaupun data sudah lengkap, kami tetap ingin datang sendiri menemui warga," tutur Lestin tulus. Baginya, mengetuk pintu rumah adalah bentuk penghormatan agar warga tidak perlu merasa sungkan atau lelah mengantre panjang hanya untuk didata. "Rasanya lebih manusiawi kalau kita yang datang menjemput mereka di rumahnya sendiri."
Pertemuan tatap muka ini seringkali menyingkap kondisi nyata yang tak terlihat oleh data. "Pas saya lihat mereka tersenyum senang, rasa capek keliling gang yang panas itu hilang begitu saja. Kami ingin paket Lebaran ini menjadi berkah bagi mereka yang mungkin selama ini jarang tersentuh bantuan," ungkapnya.
Penyerahan simbolis beras 10 kg menjadi tanda dimulainya aliran kasih bagi ribuan keluarga di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara.
Pendampingan dari pihak setempat pun menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran. Utami, Wakil Ketua RT 002/015, dengan telaten memandu tim relawan menyisir pintu-pintu rumah warga mulai dari RT 001 hingga RT 003. "Saya sangat bersyukur bisa mendampingi relawan Tzu Chi. Saya tunjukkan mana warga yang kondisinya memang sangat memprihatinkan agar bantuan ini tidak salah alamat," ungkap Utami. Baginya, melihat relawan mau bersusah payah menembus gang sempit demi warganya adalah pemandangan yang menyentuh hati.
Puncak dari jalinan kasih ini bermuara pada 1 Maret 2026. Area di depan Kantor Sekretariat RW 015 Penjaringan bertransformasi menjadi ruang penuh kehangatan, di mana 320 paket cinta kasih telah tersusun rapi. Meski jumlah bantuan cukup besar, gerak lincah para relawan bersama pengurus RT dan RW membuat suasana tetap terkendali.
Dengan senyum tulus, Chandra Haryanto menyerahkan paket beras kepada warga, menghadirkan kehangatan dan rasa persaudaraan di tengah lingkungan Penjaringan.
Sebagai koordinator relawan, Chandra Haryanto menyadari bahwa tantangan hari itu bukan sekadar mengelola luas tempat yang terbatas, melainkan menjaga martabat warga tetap terjaga dalam setiap antrean. "Kami arahkan warga untuk berbaris rapi dan tertib, jadi antreannya tetap lancar dan tidak berdesakan. Seluruh tim melayani dengan ramah, senyum tulus, dan ucapan Gan En. Kami ingin mereka merasa dihargai," jelas Chandra.
Melihat interaksi antara Tzu Ching dan warga lansia, hati Chandra pun tersentuh. "Saya lihat anak-anak muda ini melayani dengan sungguh-sungguh. Wajah mereka tidak menunjukkan rasa lelah, padahal cuaca cukup panas. Semangat mereka luar biasa, terutama saat membantu warga yang sudah lanjut usia," tambahnya.
Melalui bantuan ini, Chandra menitipkan pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas. "Di mana pun kita dilahirkan, kita semua adalah saudara tanpa harus ada hubungan darah. Rasa peduli itu tidak bisa dihalangi oleh apa pun. Semoga berkah ini bisa membantu meringankan beban saudara-saudara kita dari segala kesulitan."
Di sela keriuhan verifikasi kupon di depan Sekretariat RW 015, Davina Amelia, relawan Tzu Ching, tampak tenang menjalankan tugasnya. Baginya yang pernah terlibat pada tahun lalu, kembali ke Penjaringan adalah sebuah kerinduan untuk kembali memberi.
"Pas mendata kupon, aku nggak cuma lihat kertas, tapi lihat wajah-wajah warga. Rasanya senang bisa membantu prosesnya jadi lebih cepat supaya warga tidak kelamaan menunggu di bawah terik matahari," tutur Davina.
Meri, relawan Tzu Ching, membuktikan bahwa bahagia itu sederhana, cukup dengan melihat senyum tulus warga saat menerima bantuan di tengah terik matahari.
Di sudut lain, Meri, relawan Tzu Ching, sibuk menyalurkan paket ke tangan warga dengan binar mata yang ceria. Sebagai relawan yang baru pertama kali bergabung, ia menemukan makna kebahagiaan yang selama ini mungkin tersembunyi di balik tumpukan beras yang ia salurkan.
"Awalnya aku pikir bakal capek banget, tapi pas lihat senyum nenek-nenek pas terima beras, jujur capeknya langsung hilang. Aku jadi ingat pesan Master Cheng Yen, kalau kita harus bersyukur punya kesempatan buat bantu orang lain. Ternyata benar, bahagia itu simpel banget, sesimpel lihat orang lain bisa tersenyum tenang buat Lebaran nanti," ungkap Mery ceria.
Mery pun berharap lebih banyak lagi anak muda yang mau membuka hati untuk terjun langsung ke lapangan. "Buat teman-teman seumuranku, yuk jangan cuma main gadget saja. Sesekali coba ikut kegiatan begini. Rasanya nagih pas kita tahu kalau tenaga kita bisa bikin orang lain merasa punya keluarga. Master bilang anak muda itu tumpuan masa depan, jadi yuk kita mulai dari hal-hal kecil seperti ini," ajaknya dengan penuh semangat.
Saling Support Menebar kabahagiaan
Langkah para relawan di RW 015 Penjaringan disambut dengan tangan terbuka oleh Tedi, yang telah mengabdi sebagai Ketua RW selama 27 tahun. Pengalaman panjangnya membimbing warga membuat Tedi memahami betul arti bantuan ini. Bagi Tedi, kehadiran relawan bukan sekadar soal logistik, melainkan soal ketenangan batin bagi warganya. "Jujur saja, sekarang apa-apa mahal. Mau Lebaran begini, harga sembako di pasar naiknya nggak kira-kira. Buat warga saya, paket ini bukan cuma bantuan, tapi napas lega," ujar Tedi.
Tedi juga menaruh hormat pada cara para relawan melayani warganya. "Saya perhatikan anak-anak muda ini sopan-sopan. Melayani warga saya yang kadang susah diatur saja mereka tetap sabar dan senyum. Kolaborasi seperti ini penting sekali. Bukan cuma soal barangnya, tapi bikin warga merasa masih ada yang peduli. Itu yang bikin suasana di lingkungan sini jadi lebih adem dan rukun," tambahnya.
Senyum syukur Sudarsih (kanan), 74 tahun, saat didampingi putrinya, Utami (54), menerima bantuan yang sangat berarti bagi kebutuhan pangan sehari-hari mereka.
Pelayanan dari relawan tersebutlah yang akhirnya memberi kebahagiaan yang sama terpancar dari wajah-wajah penerima bantuan. Salah satunya Leni (52), warga RT 007/015, Penjaringan. Wajahnya berbunga-bungan saat memeluk paketnya.
"Rasanya plong, Dek. Senang banget bisa bawa pulang paket segini banyaknya. Tadi anak-anak mudanya yang bantu juga baik-baik dan ramah. Harapan saya, semoga para relawan dan donatur panjang umur, murah rezeki, dan sehat selalu supaya bisa terus bantu orang kecil seperti kami," ucap Leni tulus.
Nuansa bakti dan kasih sayang keluarga pun turut mewarnai hari itu. Utami (54), yang sebelumnya sibuk membantu relawan mendata warga, kini tampak telaten mendampingi ibunda tercintanya, Sudarsih (74). Bagi Sudarsih yang sudah puluhan tahun menetap di wilayah RT 002/015, Penjaringan, paket tersebut adalah rezeki yang sangat ia syukuri di masa tuanya.
"Sangat senang sekali, Nak. Ini sangat membantu buat makan sehari-hari. Apalagi sekarang harga di pasar sudah mulai mahal," ujar Sudarsih dengan suara pelan namun penuh syukur.
Utami, sebagai anak kedua dari empat bersaudara, mengamini ucapan ibunya. "Bantuan ini sangat meringankan beban dapur kami. Buat relawan yang sudah susah payah nyiapin ini semua, saya cuma bisa bilang terima kasih banyak. Semoga kebaikannya dibalas berkali-kali lipat oleh Tuhan," tambah Utami.
Muhammad Revaldo (18) menemani Nenek Kasni (69) mengambil paket beras, menghadirkan harapan baru bagi keluarga di bulan penuh berkah.
Tak hanya Utami, semangat berbakti juga terlihat pada Muhammad Revaldo (18). Siswa SMAN 111 Jakarta ini dengan telaten menggandeng neneknya, Kasni (69), warga RT 008/015, Penjaringan, untuk mengambil paket cinta kasih. Bagi Revaldo, membantu neneknya adalah kewajiban, apalagi paket beras tersebut sangat berarti untuk lima anggota keluarga yang tinggal di rumah mereka.
"Senang banget, bisa bantu nenek bawa paket ini. Isinya sangat membantu buat makan kami di rumah. Rencananya ya buat stok masak nanti," kata Kasni sambil tersenyum lebar. Revaldo yang mendampingi pun merasa bangga bisa membantu neneknya di tengah harga kebutuhan yang melambung. "Buat kakak-kakak relawan, terima kasih sudah peduli sama nenek saya dan warga di sini. Semoga berkah buat semuanya," tutup siswa SMAN 111 Jakarta tersebut singkat.
Di bawah langit Penjaringan hari itu, sekat-sekat perbedaan seolah luruh. Yang tersisa hanyalah tangan-tangan yang saling mengulurkan kasih dan hati yang saling mendoakan, membuktikan bahwa meski tak sedarah, mereka adalah keluarga di bawah satu kemanusiaan.
Editor: Metta Wulandari