Pemberkahan Akhir Tahun 2025: Tekad Awal yang Terus Menyala
Jurnalis : Khusnul Khotimah , Fotografer : Arimami S.A, Fikhri Fathoni, Kasun (He Qi Jakarta Utara 2) Ryanto Budiputra (He Qi Tangerang)
Dentuman genderang Himne Ajaran Jing Si menggema di Aula Jing Si, Tzu Chi Center PIK, membuka Pemberkahan Akhir Tahun 2025 dengan suasana khidmat dan penuh makna, Sabtu, 31 Januari 2026.
Waktu seolah berhenti sejenak ketika dentuman genderang Himne Ajaran Jing Si menggema di Aula Jing Si, Tzu Chi Center PIK, Sabtu 31 Januari 2026. Penampilan guru dan murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi membuka Pemberkahan Akhir Tahun 2025 dengan irama yang tegas dan ritmis, seakan mengajak 2.332 peserta menata batin untuk memasuki rangkaian acara yang sarat makna selama tiga jam ke depan.
Pemberkahan Akhir Tahun merupakan momentum tahunan yang penuh refleksi, rasa syukur, dan ungkapan terima kasih atas perjalanan welas asih yang telah ditempuh Tzu Chi sepanjang tahun. Acara ini dihadiri para relawan, donatur, serta staf badan misi Tzu Chi Indonesia yang selama ini menjadi penggerak utama misi kemanusiaan.
Mengusung tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu”, Pemberkahan Akhir Tahun kali ini mengajak seluruh peserta menengok kembali awal mula berdirinya Tzu Chi enam puluh tahun lalu. Berawal dari donasi kecil yang tulus kemudian bertumbuh menjadi kekuatan besar bagi kemanusiaan. Pesan ini mengingatkan bahwa kebajikan sekecil apa pun memiliki daya yang luar biasa jika dilakukan secara konsisten dan dilandasi niat yang murni.

Isyarat tangan tentang celengan bambu ditampilkan dengan apik oleh murid-murid Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi.

Empat relawan Tzu Chi Medan, dari kiri: Shu Tjeng, Sylvia, Steel Edwin, Lukman berbagi pengalaman penanganan bencana banjir di Sumatera dan Aceh.
Rangkaian acara berlangsung variatif dan menyentuh. Dekorasi panggung bernuansa bunga merah yang anggun menciptakan suasana khidmat sekaligus menyegarkan. Salah satu sesi yang paling menggugah adalah sesi berbagi pengalaman bantuan bencana banjir di Sumatera dan Aceh.
Empat relawan Tzu Chi Medan yakni Lukman, Steel Edwin, Shu Tjeng, dan Sylvia membagikan kisah mereka dan tim relawan Tzu Chi Medan menghadapi kondisi lapangan yang penuh tantangan. Keterbatasan air bersih, medan berlumpur, hingga perjuangan menyiapkan makanan dengan fasilitas yang minim menjadi bagian dari realitas yang mereka hadapi saat menyalurkan bantuan bagi masyarakat.
Meski demikian, relawan Tzu Chi dari Medan, Aceh, dan Padang tetap bergerak sepenuh hati, tanpa mengenal lelah, demi meringankan penderitaan para korban bencana. Semangat kebersamaan dan ketulusan menjadi kekuatan utama dalam setiap langkah pelayanan.

Isyarat tangan berjudul Mo Wang ditampilkan para relawan dengan penuh wibawa, mengingatkan para relawan untuk menjaga tekad awal.

Dalam ceramahnya, Master Cheng Yen berpesan kepada para relawan agar jangan meremehkan kebajikan atau niat baik yang kecil karena dengan adanya niat baik yang kecil itulah Tzu Chi bisa ada sampai hari ini.
Tahun ini juga menjadi catatan istimewa dalam perjalanan Tzu Chi Indonesia. Sebanyak 148 relawan Indonesia dilantik sebagai relawan komite di Hualien, Taiwan, langsung oleh Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi. Jumlah ini menjadi yang terbanyak sepanjang sejarah Tzu Chi Indonesia. Dalam sesi berbagi, beberapa keluarga relawan yang seluruh anggotanya bersumbangsih di Tzu Chi turut menyampaikan kisah mereka, menghadirkan inspirasi dan memperkuat tekad para relawan yang hadir.
Pesan Master Cheng Yen kembali ditegaskan bahwa mewariskan semangat Tzu Chi adalah tanggung jawab bersama. Meski telah berusia 60 tahun, semangat awal dari celengan bambu, bermula dari donasi 50 sen yang penuh ketulusan, harus terus dijaga dan dihidupi.
Dalam pesan cinta kasihnya, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh relawan, donatur, staf badan misi, atas dedikasi yang telah diberikan sepanjang tahun. Pemberkahan Akhir Tahun menjadi ruang yang berharga untuk berkumpul, bersyukur, dan saling menguatkan.

Sebanyak 2.332 peserta yang terdiri dari relawan, donatur, dan staf badan misi Tzu Chi Indonesia mengikuti acara dengan penuh kekhusyukan.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, menyampaikan pesan cinta kasih dan harapan agar semangat awal celengan bambu terus diwariskan kepada generasi muda.

Para peserta menerima angpao berkah Master Cheng Yen dengan hati yang penuh syukur.
Memasuki tahun yang baru, harapan pun disematkan: mewariskan nilai-nilai Tzu Chi kepada lebih banyak generasi muda, membina kader-kader penerus, serta melangkah dengan tekad yang semakin mantap, agar semakin banyak insan yang dapat terbantu.
“Dalam tahun yang baru ini, kita harus mewariskan dan membina lebih banyak anak muda. Tzu Chi Indonesia sudah 30-an tahun, kita melihat baik staf badan misi atau relawan yang bertugas dlm fungsionaris banyak mengalami kemajuan dan bersedia mengemban tanggung jawab. Semoga Tzu Chi Indonesia bisa melangkah dengan langkah yang besar dan mantap. Dengan demikian, barulah kita bisa membantu lebih banyak orang,”pungkasnya.
Editor: Hadi Pranoto
Artikel Terkait
Tekad untuk Tidak Menciptakan Karma Buruk
27 Januari 2021Relawan Tzu Chi Pekanbaru menyelami dan memeragakan Sutra Pertobatan Air Samadhi pada acara Pemberkahan Akhir Tahun 2020, Minggu, 24 Januari 2021.
Wujud Syukur dalam Pemberkahan Akhir Tahun
02 Februari 2024Tzu Chi Pekanbaru menggelar acara tahunan yakni Pemberkahan Akhir Tahun sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada relawan, donatur dan masyarakat yang dengan penuh cinta kasih mendukung Tzu Chi sehingga misi-misi Tzu Chi bisa berjalan dengan baik.
Pemberkahan Akhir Tahun 2017: Kehidupan yang Bahagia
28 Januari 2018Kisah perjuangan Atta Shixiong dalam melepas kebiasaan buruknya: merokok dan berjudi. Ujian kembali menghampiri ketika ia divonis dokter mengidap tumor di kepala. Selepas dari ujian tersebut, tekadnya semakin besar untuk terus melangkah di jalan Tzu Chi.







Sitemap