Penggarap Lahan Batin Murid

Jurnalis : Ivana, Fotografer : Ivana
 
foto

Di akhir tahun ajaran, Sekolah Cinta Kasih melepas para murid yang duduk di kelas 6 SD, kelas 3 SMP, dan kelas 3 SMK. Para murid telah dididik dalam segi akademik maupun non akademik serta ditanamkan nilai-nilai budi pekerti dalam diri mereka.

Hati setiap murid seperti sepetak sawah, dan guru adalah petani yang menggarap lahan batin tersebut agar tanaman yang baik tumbuh subur hingga memberi hasil yang bermanfaat bagi semua orang.

“Dia meluangkan waktunya demi murid-muridnya untuk meraih prestasi. Sebelum sekolah dia melatih saya, pagi-pagi dia sudah ada, berdiri di lapangan. Sepulang sekolah setelah mengajar, dia juga melatih saya. Begitu besar jasa-jasanya,” tutur Oman Setiawan menggetarkan. Ahmad Damanhuri berusaha menahan jatuhnya air mata hingga matanya tampak berkaca-kaca.

Tekad untuk Mengabdi
Ahmad Damanhuri sudah biasa bangun pagi. Pertama-tama ia akan menjalankan shalat Subuh, lalu mandi. Pukul 5 ia sudah siap di lapangan bola yang hanya berjarak 2 blok dari rumahnya. Di lapangan ini setiap pagi ia melatih murid-muridnya berolahraga atletik. Sembari melatih ia mengamati bilamana ada bakat yang dapat dikembangkan. Dua tahun lalu, ia pun selalu bangun sepagi ini. Tapi jangankan berharap dapat menghirup udara segar dengan berolahraga, sebaliknya ia harus segera menghadapi polusi kota sepanjang perjalanan menuju sekolah tempatnya mengajar dari rumahnya di Bogor. Malam pun ia baru sampai di rumah pukul setengah 10. “Saya sedih, punya keinginan kapan ya saya bisa bekerja yang deket dengan rumah, bisa deket dengan keluarga,” katanya berbagi cerita.

Menjawab keinginannya, Ahmad melihat iklan lowongan mengajar di Kompas. Lamaran kerja membawanya ke Sekolah Cinta Kasih Cengkareng, Jakarta Barat. Ia sangat girang mengetahui di sekolah ini guru mendapat tempat tinggal yang lokasinya satu komplek dengan sekolah. Dalam rasa syukurnya, Ahmad berjanji pada dirinya sendiri, “Kalo saya diterima, waktu yang tadinya dibuang untuk perjalanan jauh, akan saya sumbangkan untuk murid-murid.”

Ahmad mengajar bidang studi komputer, namun ia sangat mencintai olahraga atletik. Sewaktu bersekolah dulu, ia mencetak prestasi cemerlang dalam bidang ini. Prestasinya dalam atletik juga memuluskan jalannya untuk masuk perguruan tinggi tanpa tes serta sempat bergabung dalam klub atletik. Namun karena tidak ada pembimbing, perjalanan Ahmad terhenti di tengah jalan karena berbagai hambatan. Maka, sejak mengajar di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Ahmad mulai membangun kebiasaan melatih atletik di lapangan setiap pagi dan sore di luar jam sekolah.

Suatu pagi, Oman Setiawan murid kelas 2 SMK mendatanginya. “Pak, saya mau coba lari,” kata Oman. Ahmad menjawab dengan bertanya, “Bisa kamu, Man?” Sebetulnya Ahmad lebih memprioritaskan bimbingan untuk murid SMP dan kelas 1 SMK, sebab waktu mereka lebih memungkinkan untuk berlatih. Tapi melihat Oman bersungguh-sungguh, dibiarkannya ikut latihan.

foto  foto

Ket : - Tahun ini, 295 murid dari SD sampai SMK akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan sebagian akan
           memasuki dunia kerja. Para siswa dengan khidmat dan rapi memasuki ruang acara pelepasan. (kiri)
         - Keberhasilan pendidikan membutuhkan 3 pilar: murid, guru, dan orangtua murid. Dalam acara ini, para
           orangtua ikut mengikuti acara pelepasan. Ibu-ibu yang kebanyakan hadir mengenakan pakaian terbaik
           mereka sebagai wujud rasa sayang pada anaknya. (kanan)

Keteladanan Seorang Guru
“Kata-kata Pak Ahmad yang saya ingat itu, ‘Kalo pengen pinter kamu harus belajar tiap hari. Lari juga sama, kalo kamu mau bisa lari kamu harus latihan tiap hari’,” kata Oman. Saat mulai berlatih, Oman sedang menjalani praktik kerja di daerah Pantai Indah Kapuk. Demi mengikuti pesan dari Ahmad, ia sering pulang dari tempat praktik kerjanya ke Perumahan Cinta Kasih dengan berlari. Waktu lari selama 25 sampai 30 menit itu dianggapnya sebagai latihan. Perlahan, Ahmad melihat Oman berbakat dan cepat berkembang.

Ada pepatah terkenal yang berbunyi “Practice make perfect” (latihan membuat apa yang kita lakukan jadi sempurna), Oman mengikuti 9 lomba atletik dan meraih prestasi di kesemuanya. “Pertama di Kecamatan Cengkareng, dia juara 1, lalu di Jakarta Barat juara 2, sampe akhirnya di tingkat nasional yang diikuti 25 ribu murid atlet dapat juara harapan 2. Di seleksi kejurnas dapat juara 2,” terselip nada bangga dalam suara Ahmad. Namun bagi Oman, bukan latihan yang membuatnya berhasil melainkan kehadiran sang guru yang mendampinginya berlatih jauh lebih penting. Maka dalam sharing di acara pelepasannya dari SMK Cinta Kasih, Oman menyampaikan, “Yang berkesan di Sekolah Cinta Kasih ini, saya mengenal seorang guru. Beliau menemani saya dalam berlatih. Guru ini selalu ada di samping saya untuk melatih saya. Guru ini Pak Ahmad.” Tepuk tangan menggema. Beberapa hadirin mengusap air mata.

“Menurut saya, Pak Ahmad itu rela memperjuangin buat murid-muridnya untuk berprestasi. Walaupun susah juga dia usahain supaya bisa. Saya ingin lanjutkan ke UNJ (Universitas Negeri Jakarta –red), ambil bidang olahraga, dan jadi guru olahraga. Dan ingin menjadi seperti Pak Ahmad,” ungkap jujur Oman.

foto  foto

Ket : - Oman Setiawan menceritakan kesan mendalam yang didapatnya selama di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi.
           Ia sangat berterima kasih kepada Ahmad, guru yang melatihnya hingga meraih prestasi di bidang olahraga
           atletik. (kiri)
         - Sejak diterima mengajar di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi, Ahmad sangat bersyukur karena memiliki waktu
           lebih banyak untuk bersama dengan keluarga. Ia bertekad untuk mengabdikan waktu luang yang dimilikinya
           bagi murid-murid. (kanan)

Empat Peran, Empat Pesan
Bersama dengan Oman, dua murid SMP Cinta Kasih dan SMK Cinta Kasih juga bercerita tentang pengalaman dan kesan mereka selama bersekolah. Mereka adalah Nurul dan Siti Juwariah. Momen ini hadir dalam acara Pelepasan Siswa SD, SMP, dan SMK Cinta Kasih tanggal 13 Juni 2009 di Ruang Serbaguna RSKB Cinta Kasih Tzu Chi. Acara ini digelar bagi 56 murid SD, 59 murid SMP, dan 42 murid SMK yang memasuki masa akhir mereka di jenjang masing-masing.

Zaenah Mawardi mewakili para guru memberikan pesan penutup, ”Hari ini kami mengatakan ‘pelepasan’, bukan ‘perpisahan’. Karena kita tidak berpisah, tapi kami akan melepas kalian ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Anak-anak yang ibu sayangi, hari ini kami sebagai guru akan menyampaikan 4 pesan fungsi kami sebagai guru, pertama sebagai pengajar, kedua sebagai pendidik, ketiga sebagai pelatih, dan keempat sebagai sahabat.” Ia melanjutkan pesan-pesan kepada para murid untuk terus mengembangkan kemampuan mereka di bidang akademik maupun nonakademik, memegang nilai-nilai budi pekerti yang pernah diajarkan, dan meminta para murid untuk tetap mengingat kenangan yang pernah dijalin bersama.

foto  foto

Ket : - Guru memiliki 4 peran salah satunya sebagai sahabat. Untuk menghantar para murid ke jenjang
           selanjutnya, para guru mementaskan lagu dan isyarat tangan Cheng Zhang yang berarti "tumbuh dewasa".
           (kiri)
         - Sebidang petak sawah dalam batin para murid membutuhkan keberadaan para guru untuk menggarapnya.
           Di tangan mereka masa depan dunia yang lebih baik dirancang dan diwujudkan. (kanan)

Tahun ini merupakan pertama kali SMK Cinta Kasih melepas muridnya. Sugeng, wali murid kelas 3 menyampaikan bahwa sekolah masih terus membenahi agar kurikulum yang diberikan dapat memenuhi tuntutan dunia kerja. Sebagian dari murid yang sudah tamat akan meneruskan ke bangku kuliah, namun tidak sedikit yang memilih langsung bekerja. Franky O. Widjaja, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Wiyata yang menaungi Sekolah Cinta Kasih menenangkan, “Kebahagiaan ini tidak hanya cukup dengan demikian. Murid yang mengatakan lulus SMK yang mau melanjutkan sekolah dan berprestasi baik, tapi kurang biaya, bisa mengajukan beasiswa. Yayasan akan meninjau dan mempertimbangkan.“ Sementara bagi yang akan bekerja, para relawan berjanji turut membantu agar para murid lebih mudah memperoleh pekerjaan. “Kita adalah satu keluarga besar Tzu Chi,” ujar Franky lagi menegaskan.

 

Artikel Terkait

Kita ini Satu Keluarga

Kita ini Satu Keluarga

24 Februari 2014 Sementara perwakilan Yayasan Buddha Tzu Chi, Sofian mengatakan hibah lahan tersebut merupakan bentuk kepedulian Yayasan Buddha Tzu Chi terhadap penderitaan pengungsi Gunung Sinabung dan sesama manusia.
Menyambut Tahun Baru di Lapas

Menyambut Tahun Baru di Lapas

05 Januari 2017
Sabtu, 31 Desember 2016, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun melakukan baksos di Lapas Karimun untuk pertama kalinya. Kegiatan baksos tersebut bertujuan untuk menyambut pergantian tahun sekaligus menambah kehangatan dan rasa kekeluargaan bagi para warga binaan rutan.
Menjalin Cinta Kasih Menyambut Imlek 2023

Menjalin Cinta Kasih Menyambut Imlek 2023

09 Januari 2023

Jelang perayaan Imlek 2023, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membagikan 90 paket Imlek kepada umat Wihara Khema, Pecah Kulit, Jakarta Barat terutama warga prasejahtera yang akan merayakan Tahun Baru Imlek.

Kita hendaknya bisa menyadari, menghargai, dan terus menanam berkah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -