Relawan Tzu Chi Pekanbaru komunitas Xie Li Dumai menyelenggarakan acara peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi yang bertepatan dengan peringatan 60 Tahun berdirinya Tzu Chi di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Dunia Damai.
Pada Sabtu, 23 Mei 2026 relawan Tzu Chi Pekanbaru komunitas Xie Li Dumai menyelenggarakan acara peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi (Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia) yang bertepatan dengan peringatan 60 Tahun berdirinya Tzu Chi. Kegiatan yang berlangsung di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Dunia Damai ini dihadiri oleh 79 relawan dan tamu undangan yang mengikuti prosesi Waisak serta 13 pasangan ibu dan anak yang mengikuti prosesi basuh kaki dan penyuguhan teh.
Persiapan kegiatan telah dilakukan sejak satu bulan sebelumnya. Bahkan hingga sehari menjelang acara, para relawan masih bekerja dari siang hingga tengah malam untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan. Keterbatasan jumlah relawan tidak menyurutkan semangat mereka. Bahkan saat pemadaman listrik berskala luas melanda Pulau Sumatera pada malam sebelum acara, para relawan tetap melanjutkan persiapan dengan saling bahu-membahu hingga seluruh kebutuhan kegiatan dapat diselesaikan tepat waktu.
Selain perayaan Waisak, dalam kegiatan ini juga diadakan perayaan Hari Ibu melalui prosesi basuh kaki dan penyuguhan teh.
Tantangan kembali hadir pada hari pelaksanaan. Menjelang dimulainya acara, hujan lebat membuat lokasi doa bersama yang semula berada di lapangan harus segera dipindahkan ke dalam gedung depo. Berkat kerja sama relawan, dukungan para tamu yang telah hadir, serta penggunaan generator cadangan, seluruh rangkaian kegiatan tetap dapat berlangsung dengan baik.
"Perasaan saya sangat campur aduk hari ini. Senang karena acara yang selama ini direncanakan akhirnya selesai, tetapi juga sedih karena banyak hal yang terjadi di luar prediksi. Tahun lalu perayaan Waisak juga dilaksanakan di lapangan dengan cuaca yang sangat baik dan berjalan lancar, sehingga kami cukup percaya diri. Namun kenyataannya tahun ini berbeda. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kami untuk mempersiapkan lebih banyak kemungkinan, termasuk faktor cuaca. Saya juga berharap melalui kegiatan ini semakin banyak relawan yang bergabung sehingga kegiatan-kegiatan mendatang dapat berjalan lebih baik lagi," ungkap Sindy, koordinator kegiatan.
Seluruh peserta peringatan Tiga Hari Besar Tzu Chi di Kota Dumai diajak untuk menikmati hidangan vegetarian.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi pemandian rupang Buddha yang diikuti oleh 79 peserta yang terdiri dari relawan dan tamu. Setelah itu, para peserta menikmati jamuan makan malam vegetarian sebelum mengikuti perayaan Hari Ibu melalui prosesi basuh kaki dan penyuguhan teh. Momen tersebut menjadi bagian yang paling menyentuh bagi banyak peserta. Melalui prosesi basuh kaki ini, anak-anak menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada orang tua atas kasih sayang serta pengorbanan yang telah diberikan selama ini.
"Perasaan saya sangat terharu. Anak-anak sekarang sudah besar dan masing-masing memiliki kesibukan, begitu juga kami sebagai orang tua, sehingga kadang komunikasi menjadi berkurang. Kalau membantu pekerjaan rumah memang sering, tetapi mencuci kaki saya belum pernah. Ini pertama kalinya anak saya membasuh kaki saya, jadi saya sangat terharu. Tahun lalu saya juga mengikuti acara Waisak di sini, tetapi belum ada kegiatan basuh kaki. Saya sangat senang bisa mengikuti acara ini," ujar Safrina, salah satu ibu peserta prosesi basuh kaki.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, suasana hangat masih terasa di area depo. Para tamu menikmati makan malam di lapangan yang sebelumnya telah dikeringkan oleh para relawan. Di setiap meja, lilin-lilin kecil dinyalakan sehingga menciptakan suasana yang hangat dan menenangkan.
Beberapa keluarga yang mengikuti prosesi basuh kaki dan penyuguhan teh juga mengabadikan momen Hari Ibu Internasional.
Saat berkeliling dari meja ke meja untuk menyampaikan rasa terima kasih sekaligus permohonan maaf atas berbagai ketidaknyamanan yang terjadi selama acara, salah seorang tamu justru memberikan tanggapan yang tak terduga."Suasana seperti ini sangat susah didapat, lho. Kami malah suka karena benar-benar mengesankan," ujarnya.
Ucapan sederhana tersebut menjadi pengingat bagi para relawan bahwa nilai terpenting dari sebuah kegiatan bukanlah kesempurnaan acara, melainkan ketulusan hati yang hadir di dalamnya. Berbagai tantangan yang muncul sepanjang hari justru memperlihatkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan saling mendukung antara relawan dan tamu yang hadir.
Di tengah berbagai keterbatasan, perayaan Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, Hari Tzu Chi Sedunia, serta peringatan 60 Tahun Tzu Chi tetap berlangsung dengan penuh sukacita dan makna. Apa yang tersisa setelah acara berakhir bukan hanya kenangan akan sebuah perayaan, melainkan rasa syukur karena begitu banyak hati yang bersedia hadir, membantu, dan bertumbuh bersama.
Editor: Arimami Suryo A