Perpaduan Budaya dan Misi Daur Ulang

Jurnalis : Henny Laurence (Tzu Chi Makassar), Fotografer : Arifin Tezen (Tzu Chi Makassar)
 

foto Pada tanggal 5 Februari 2012, insan Tzu Chi Makassar ikut serta dalam perayaan Cap Go Meh di kota tersebut.

Minggu 5 Februari 2012 berlangsung perayaan Cap Go Meh di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ratusan warga Tionghoa dan masyarakat lainnya memadati jalan yang akan dilalui arak-arakan Cap Go Meh. Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Penghubung Makassar juga mengambil bagian dalam acara arak-arakan itu.

 

 

Menurut penanggalan lunar Cap Go Meh jatuh pada hari Senin 6 Februari 2012, tapi panitia menetapkan arak-arakan tersebut diadakan sehari sebelumnya, yaitu hari Minggu yang merupakan hari libur agar tidak mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas perdagangan di daerah tersebut.

Prosesi perayaan Cap Go Meh ini adalah perayaan ritual adat budaya masyarakat Tionghoa yang diadakan bersama dengan karnaval budaya dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Ribuan warga masyarakat menyaksikan arak-arakan ini, semua orang dari berbagai macam suku, agama, dan etnis berbaur menjadi satu mengikuti arak-arakan yang merupakan wujud persatuan dan kesatuan anak bangsa yang kaya akan keragaman budaya.

Sebagai tempat manusia tinggal, kita wajib menjaga kelestarian bumi dan menyayanginya dengan cinta kasih. Dalam perayaan Cap Go Meh ini, para relawan juga turut ambil bagian atas misi pelestarian lingkungan. Berbekal semangat mengembangkan misi pelestarian lingkungan dan budaya humanis, sekitar 200 insan Tzu Chi Makassar mengambil bagian pada arak-arakan prosesi Cap Go Meh yang diadakan pada hari Minggu 5 Februari 2012 dimulai pada pukul 15.00 Wita hingga selesai.

Keterangan :

  • Relawan Tzu Chi melakukan arak-arakan sambil memeragakan isyarat tangan yang merupakan budaya humanis Tzu Chi.

Prosesi Cap Go Meh dibagi dalam 2 kelompok besar, yakni kelompok budaya dan kelompok ritual. Yayasan Buddha Tzu Chi tergabung dalam kelompok budaya yang diikuti oleh 15 kelompok. Relawan sudah berkumpul mulai dari pukul 13.00, lalu diberi pengarahan .tentang pembagian tugas dan tanggung jawab yang diemban, sekitar pukul 14.00 sudah berada di tempat yang telah ditunjuk. Kelompok relawan berbaris rapi menampilkan spanduk kata-kata Perenungan Master Cheng Yen, peragaan bahasa isyarat tangan lagu Tzu Chi sepanjang perjalanan.

Kelompok kebersihan yang diikuti oleh warga bedah kampung dengan berbekal sapu, sekop, pengki, drum sampah, dan kantong sampah beraktivitas sepanjang jalan pada kedua sisi jalan yang dilalui arak-arakan. Aktivitas dilakukan hingga pada malam hari setelah semua peserta arak-arakan dan penonton bubar. Selama relawan beraktivitas nampaknya memberi pengaruh kepada masyarakat dengan tidak sembarang membuang sampah, tapi membuang pada tempat-tempat sampah yang telah disediakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Sebagian sampah daur ulang yang di dapat diberikan kepada para pemulung yang ikut mengumpulkan barang-barang daur ulang.

Wen A Shixiong, Wakil Koordinator kegiatan ini merasa bahagia karena insan Tzu Chi mendapat prioritas pada barisan. Ada peragaan isyarat tangan dan dapat memperkenalkan misi-misi Tzu Chi. Pratiwi Rusman, mahasiswa yang mendapatkan  beasiswa dari Tzu Chi yang juga ikut dalam rangkaian acara ini merasa sangat berkesan pada kegiatan yang dilakukan insan Tzu Chi dalam melakukan pelestarian lingkungan.

Pesan sosial dari kegiatan ini adalah mengubah sampah menjadi emas dan emas menjadi cinta kasih yang menyebar ke seluruh dunia. “Pesan inilah yang sesungguhnya sangat menyentuh saya, tenyata masih ada segelintir umat manusia yang sangat memikirkan kepentingan umat lain yang masih membutuhkan cinta kasih yang begitu tulus, tanpa pamrih, dan tak membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Harapan saya, semoga suatu saat nanti saya juga bisa menjadi bagian dari Yayasan Buddha Tzu Chi (menjadi relawan Tzu Chi-red) dengan suka cita dan keikhlasan berbagi cinta kasih terhadap orang lain. Semoga Yayasan Buddha Tzu Chi bisa menjadi icon sehingga bisa menginspirasi dan menumbuhkan semangat yang luar biasa terhadap seluruh umat manusia,” ucap Pratiwi Rusman. Ia pun menambahkan bahwa bila kita berbuat dengan hati penuh sukacita maka sesibuk apapun kita tetap tidak merasa melelahkan, justru sebaliknya, perasaan bahagialah yang timbul.

  
 
 

Artikel Terkait

Tzu Chi Tanjung Balai Karimun Hadirkan Kebahagiaan Jelang Idul Fitri

Tzu Chi Tanjung Balai Karimun Hadirkan Kebahagiaan Jelang Idul Fitri

07 April 2025

Menjelang Idul Fitri, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun membagikan paket Lebaran kepada 21 penerima bantuan Tzu Chi. Acara diisi dengan sharing dari penerima bantuan Bapak Zulfan dan Muhammad.

Merayakan Waisak di Rumah Sakit

Merayakan Waisak di Rumah Sakit

18 Mei 2011
Kegiatan ini sendiri baru pertama kali dilakukan oleh relawan Tzu Chi di Indonesia. “Awalnya saya melihat dari tayangan DAAI TV tentang relawan Tzu Chi Malaysia yang membawa rupang Buddha ke warga yang tidak bisa merayakan Waisak karena sakit, lalu saya terpikir untuk mencoba melakukannya di Indonesia,” terang Rosaline.
Berbagi Kasih di Tahun Baru Imlek

Berbagi Kasih di Tahun Baru Imlek

03 Maret 2015 Pada Tahun Baru Imlek yang kali ini jatuh pada 19 Februari 2015, nampaknya tidak semua warga Tionghoa dapat merayakan bersama keluarganya. Seperti yang dialami oleh opa dan oma di Panti Werdha Yayasan Kasih Mulia Sejahtera, Bogor.
Orang yang mau mengaku salah dan memperbaikinya dengan rendah hati, akan mampu meningkatkan kebijaksanaannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -