Perpaduan Budaya dan Misi Daur Ulang
Jurnalis : Henny Laurence (Tzu Chi Makassar), Fotografer : Arifin Tezen (Tzu Chi Makassar)| |
| ||
| Menurut penanggalan lunar Cap Go Meh jatuh pada hari Senin 6 Februari 2012, tapi panitia menetapkan arak-arakan tersebut diadakan sehari sebelumnya, yaitu hari Minggu yang merupakan hari libur agar tidak mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas perdagangan di daerah tersebut. Prosesi perayaan Cap Go Meh ini adalah perayaan ritual adat budaya masyarakat Tionghoa yang diadakan bersama dengan karnaval budaya dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Ribuan warga masyarakat menyaksikan arak-arakan ini, semua orang dari berbagai macam suku, agama, dan etnis berbaur menjadi satu mengikuti arak-arakan yang merupakan wujud persatuan dan kesatuan anak bangsa yang kaya akan keragaman budaya. Sebagai tempat manusia tinggal, kita wajib menjaga kelestarian bumi dan menyayanginya dengan cinta kasih. Dalam perayaan Cap Go Meh ini, para relawan juga turut ambil bagian atas misi pelestarian lingkungan. Berbekal semangat mengembangkan misi pelestarian lingkungan dan budaya humanis, sekitar 200 insan Tzu Chi Makassar mengambil bagian pada arak-arakan prosesi Cap Go Meh yang diadakan pada hari Minggu 5 Februari 2012 dimulai pada pukul 15.00 Wita hingga selesai.
Keterangan :
Prosesi Cap Go Meh dibagi dalam 2 kelompok besar, yakni kelompok budaya dan kelompok ritual. Yayasan Buddha Tzu Chi tergabung dalam kelompok budaya yang diikuti oleh 15 kelompok. Relawan sudah berkumpul mulai dari pukul 13.00, lalu diberi pengarahan .tentang pembagian tugas dan tanggung jawab yang diemban, sekitar pukul 14.00 sudah berada di tempat yang telah ditunjuk. Kelompok relawan berbaris rapi menampilkan spanduk kata-kata Perenungan Master Cheng Yen, peragaan bahasa isyarat tangan lagu Tzu Chi sepanjang perjalanan. Kelompok kebersihan yang diikuti oleh warga bedah kampung dengan berbekal sapu, sekop, pengki, drum sampah, dan kantong sampah beraktivitas sepanjang jalan pada kedua sisi jalan yang dilalui arak-arakan. Aktivitas dilakukan hingga pada malam hari setelah semua peserta arak-arakan dan penonton bubar. Selama relawan beraktivitas nampaknya memberi pengaruh kepada masyarakat dengan tidak sembarang membuang sampah, tapi membuang pada tempat-tempat sampah yang telah disediakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Sebagian sampah daur ulang yang di dapat diberikan kepada para pemulung yang ikut mengumpulkan barang-barang daur ulang. Wen A Shixiong, Wakil Koordinator kegiatan ini merasa bahagia karena insan Tzu Chi mendapat prioritas pada barisan. Ada peragaan isyarat tangan dan dapat memperkenalkan misi-misi Tzu Chi. Pratiwi Rusman, mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Tzu Chi yang juga ikut dalam rangkaian acara ini merasa sangat berkesan pada kegiatan yang dilakukan insan Tzu Chi dalam melakukan pelestarian lingkungan. Pesan sosial dari kegiatan ini adalah mengubah sampah menjadi emas dan emas menjadi cinta kasih yang menyebar ke seluruh dunia. “Pesan inilah yang sesungguhnya sangat menyentuh saya, tenyata masih ada segelintir umat manusia yang sangat memikirkan kepentingan umat lain yang masih membutuhkan cinta kasih yang begitu tulus, tanpa pamrih, dan tak membeda-bedakan suku, ras, dan agama. Harapan saya, semoga suatu saat nanti saya juga bisa menjadi bagian dari Yayasan Buddha Tzu Chi (menjadi relawan Tzu Chi-red) dengan suka cita dan keikhlasan berbagi cinta kasih terhadap orang lain. Semoga Yayasan Buddha Tzu Chi bisa menjadi icon sehingga bisa menginspirasi dan menumbuhkan semangat yang luar biasa terhadap seluruh umat manusia,” ucap Pratiwi Rusman. Ia pun menambahkan bahwa bila kita berbuat dengan hati penuh sukacita maka sesibuk apapun kita tetap tidak merasa melelahkan, justru sebaliknya, perasaan bahagialah yang timbul. | |||
Artikel Terkait
Harapan Bersama Datangnya Kursi Roda
10 November 2016Ho Nona adalah seorang wanita yang hidup sebatang kara di Bogor, Jawa Barat. Ia pergi meninggalkan tempat asalnya, Kota Pangkal Pinang untuk mencari sanak saudaranya di Kota Hujan. Namun sayang, ia tidak pernah menemukan saudara yang dicarinya dan kini ia menderita stroke sehingga tidak bisa berjalan dan berbicara.
Bahagianya Bisa Melihat Kembali
18 Oktober 2019Minggu, 13 Oktober 2019 Tzu Chi Lampung bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Mata Indonesia (Perdami) melaksanakan kegiatan bakti sosial kesehatan mata (operasi katarak). Sebanyak 94 pasien berhasil dioperasi dalam kegiatan ini.
Langkah Kecil Ita Ahyani
31 Oktober 2016Selama empat tahun gadis mungil itu hanya bisa duduk di kursi roda. Dua roda menjadi pengganti kedua kaki mungilnya untuk beraktivitas. Setelah menjalani pengobatan secara rutin, kaki-kaki mungil itu menjadi lebih kuat hingga sanggup menopang tubuhnya. Kini, gadis kecil itu, Ita Ahyani, sudah siap melangkah mengejar ketertinggalannya.








Sitemap