Pintu Biru yang Membuka Harapan Baru

Jurnalis : Emmy Kuswandari (Tzu Chi Cabang Sinar Mas), Fotografer : Surono, Rizko Ramadhan S (Tzu Chi Cabang Sinar Mas)
Suhendra Wiriadinata, Elim Sritaba, dan Rully Armando, relawan Tzu Chi yang turut mengecat bagian rumah Anyo dan Osih.

“Bersyukur adalah sumber kebahagiaan. Dengan hati penuh cinta kasih, kita dapat meringankan beban sesama dan menumbuhkan harapan baru.”
(Kata Perenungan Master Cheng Yen)

Raut bahagia tak lepas dari wajah Anyo dan Osih saat relawan berkunjung ke rumah mereka di Desa Salembaran, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu, 27 Juni 2026. Rumah yang dulu tampak memprihatinkan kini telah berdiri lebih bersih, kokoh, dan tertata.

Anyo tinggal bersama keluarganya di rumah tersebut. Ia memiliki tujuh anak. Lima anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, sementara dua anak lainnya masih tinggal bersamanya. Salah satu anaknya sudah bekerja di sebuah pabrik, sedangkan anak bungsunya masih duduk di kelas 2 SMA. Sejak lama Anyo berpisah dengan suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia berjualan nasi uduk dan pecel di depan rumah.

Di rumah yang sama, tinggal pula Osih, adik ipar Anyo. Osih juga menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal dunia. Ia memiliki empat anak, tiga di antaranya masih sekolah dan satu masih balita. Sehari-hari Osih juga berjualan makanan, berbagi tempat dengan Anyo di halaman depan rumah.

Sudah lama rumah itu berada dalam kondisi memprihatinkan. Beberapa bagian atap rusak dan terbuka, sehingga tidak sepenuhnya melindungi penghuni rumah dari panas dan hujan. Struktur bangunan tampak rapuh, sejumlah bagian rumah sudah lapuk, dan ruang tinggal terasa kurang sehat untuk aktivitas keluarga sehari-hari. Hingga akhirnya, keluarga Anyo dan Osih berjodoh dengan Tzu Chi Indonesia untuk membangun ulang rumahnya.

Penyerahan kunci rumah secara simbolis dari relawan Tzu Chi kepada Anyo dan Osih, sebagai tanda selesainya pembangunan rumah mereka.

Setelah selesai dibangun oleh Tzu Chi Indonesia, rumah Anyo berdiri kokoh serta cerah dengan cat baru yang menghiasi.

Di rumah baru hasil pembangunan dari Tzu Chi, rasa syukur itu tampak dari lantai yang selalu Anyo rawat, dari senyum yang tak henti muncul, dan dari ucapan terima kasih yang terus ia sampaikan kepada para relawan. Bagi Anyo, rumah ini bukan hanya tempat tinggal baru. Rumah ini adalah harapan yang akhirnya menjadi nyata.

Sejak rumahnya selesai dibangun, Anyo hampir selalu menjaga rumahnya tetap bersih. Ia kerap mengepel lantai, merapikan sudut-sudut rumah, dan memperlakukan rumah itu dengan penuh kasih. Bukan karena rumahnya kotor, tetapi karena ia merasa rumah tersebut begitu berharga. Setiap bagian rumah seperti mengingatkannya pada kebaikan banyak orang yang hadir untuk membantu keluarganya.

Rasa bahagia itu juga dirasakan oleh keluarga yang tinggal bersamanya. Keponakan Anyo tampak sangat senang melihat perubahan rumah mereka. Anak-anak pun terlihat lebih ceria. Mereka kini memiliki ruang yang lebih bersih, terang, dan nyaman untuk bermain, beristirahat, serta belajar. Rumah yang dulu terasa penuh keterbatasan kini menjadi tempat yang memberi rasa aman bagi keluarga.

Setelah proses pembangunan selesai, rumah Anyo dan Osih berubah menjadi lebih bersih, kokoh, dan tertata. Dinding kayu yang sebelumnya kusam dan usang kini tampak rapi dengan warna putih yang memberi kesan terang dan lapang. Pintu serta jendela berwarna biru menghadirkan suasana segar. Bagian depan rumah juga menjadi lebih nyaman, dengan pencahayaan yang baik dan ruang yang lebih layak untuk digunakan keluarga.

Di halaman depan rumah inilah Anyo dan Osih akan kembali berdagang nasi uduk dan lauk pauk setiap hari. Dari usaha sederhana itu, hidup mereka terus bergulir. Dari tempat yang sama pula, keduanya berjuang membesarkan anak-anak dan menjaga keluarga tetap bertahan.

Kondisi rumah Anyo sebelum dibangun oleh Tzu Chi Indonesia. Dahulu, rumah Anyo kondisinya sudah tidak layak huni.

Beberapa bagian rumah Anyo atapnya sudah bolong sehingga air hujan dapat membanjiri ruangan.

Pada hari yang sama pula, kegiatan serah terima rumah dilaksanakan. Sebanyak 12 relawan hadir bersama keluarga Anyo dan Osih. Suasana hangat terasa sejak relawan tiba. Rumah yang baru selesai diperbaiki itu menjadi saksi pertemuan antara rasa syukur, kepedulian, dan harapan.

Salah satu momen yang paling mengharukan adalah saat kunci rumah diserahkan kepada keluarga. Kunci itu bukan sekadar tanda bahwa pembangunan telah selesai. Kunci itu menjadi simbol kepercayaan, tanggung jawab, dan awal baru bagi keluarga Anyo dan Osih.

“Dijaga yang baik ya, mudah-mudahan berkah mengalir dan semua disehatkan. Dagangannya juga jadi ladang berkah untuk orang lain juga,” ujar Suhendra Wiriadinata, Pembina Tzu Chi APP, kepada keluarga Anyo dan Osih.

Pesan itu disampaikan dengan penuh perhatian. Rumah yang telah dibangun diharapkan dapat dijaga dengan baik. Lebih dari itu, rumah ini diharapkan benar-benar menjadi tempat tinggal yang membawa manfaat bagi keluarga, terutama bagi anak-anak yang akan tumbuh di dalamnya.

“Di rumah ini mengalir kebaikan dari banyak orang. Mudah-mudahan Ibu Anyo dan Ibu Osih bisa melakukan hal yang sama,” tambah Elim Sritaba, Pembina Tzu Chi APP.

Bagi anak-anak, rumah yang sehat dan nyaman memiliki arti besar. Di rumah inilah mereka dapat beristirahat dengan lebih tenang, belajar dengan lebih baik, dan tumbuh dengan perasaan aman. Dari rumah yang layak, keluarga memiliki kesempatan lebih besar untuk menata kehidupan ke depan.

Selain dibantu perbaikan rumah, relawan Tzu Chi juga memberikan bantuan tas untuk keperluan sekolah anak Anyo.

Kebahagiaan Anyo tak dapat ia sembunyikan. Bantuan yang diterima keluarganya bukan hanya berupa rumah yang lebih layak, tetapi juga perhatian bagi anak-anaknya.

“Ya itu saya terima kasih sama Buddha Tzu Chi. Rumah saya dibedah semuanya, anak saya dibagi buku, tas, semua, beras tuh makasih saya sebelumnya sama Buddha Tzu Chi sama relawannya semua dah saya terima kasih,” ucap Anyo bahagia.

Rasa syukur yang sama juga dirasakan Osih. Setelah sekian lama tinggal di rumah yang bocor dan kerap membuat keluarga tidak nyaman saat hujan turun, kini ia bisa bernapas lebih lega.

“Untuk relawan Tzu Chi terima kasih banyak sudah dibantu, alhamdulillah saya sangat bersyukur anak saya senang banget, alhamdulilah udah gak keujanan lagi, gak bocor lagi, gak kebanjiran lagi. Alhamdulilah sangat beryukur banget,” ujar Osih.

Kegiatan bedah rumah ini menjadi wujud nyata misi amal Tzu Chi APP dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Melalui rumah yang telah dibangun, dua keluarga kini memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih sehat, lebih aman, dan lebih bermartabat.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Program Bebenah Kampung Tzu Chi Tahap ke-4 di Kamal Muara: Dimulainya Proses Pembongkaran Rumah

Program Bebenah Kampung Tzu Chi Tahap ke-4 di Kamal Muara: Dimulainya Proses Pembongkaran Rumah

30 Oktober 2023

Relawan Tzu Chi, karyawan Tzu Chi Hospital, dan siswa dari Tzu Chi School yang jumlahnya sekitar 93 orang ikut membantu proses pembongkaran rumah dalam Program Bebenah Kampung Tzu Chi tahap ke-4 di Kamal Muara.

Program Bedah Rumah Tzu Chi di Sukabumi Dimulai

Program Bedah Rumah Tzu Chi di Sukabumi Dimulai

08 Januari 2024
Tzu Chi Indonesia mulai menjalankan program bedah rumah di Kota Sukabumi, Jawa Barat. Ada tiga unit rumah yang mulai dibangun kembali.  
Memberi Harapan dan Teladan

Memberi Harapan dan Teladan

28 Oktober 2019

Bantuan program bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, Jakarta Utara kini telah berjalan tiga bulan dan  mencapai tahap finishing. Sebanyak 35 guru dan murid Tzu Chi School bersama 34 relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 1 dan Utara 2 bersatu hati melakukan 3 kegiatan bersama pada Minggu, 27 Oktober 2019, mulai dari pengecatan hingga pelestarian lingkungan.

Mampu melayani orang lain lebih beruntung daripada harus dilayani.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -