Rantai Kebaikan Tzu Chi yang Tak Putus

Jurnalis : Khusnul Khotimah, Fotografer : Khusnul Khotimah, Arimami Suryo A
Suasana hangat yang penuh kekeluargaan terasa sepanjang kunjungan Umi (kiri), pada Jumat 9 Januari 2026 lalu, meski diliputi kisah perjuangan dan pemulihan.

Ketika menerima informasi bahwa Ayen Rita terserang stroke, Umi Komariatun dan sang suami, Zulkifli, terhenyak. Sosok relawan Tzu Chi yang begitu dekat dengan mereka dan pernah membantu melewati masa-masa sulit itu kini mengalami kelumpuhan pada sebelah tubuhnya. Sulit bagi keduanya membayangkan Ayen yang gesit, solutif, dan sangat peduli itu kini kondisinya jauh berbeda.

Tak menunggu lama, Umi dan Zulkifli pun menjenguk Ayen. Kunjungan itu bertepatan dengan ulang tahun Ayen ke-60 di tahun 2024. Sejak itu, Umi dan Zulkifli berusaha meluangkan waktu menjenguknya.

Siang itu Kamis 9 Januari 2026, Umi dan Zulkifli untuk yang kelima kalinya menjenguk Ayen di rumahnya, di kawasan Jelambar, Jakarta Barat. Keduanya datang bersama Ritawati dan Jok Khian, relawan Tzu Chi yang juga mendampingi Umi pascaoperasi.

“Titik balik hidup saya itu pas sakit, bertemu dengan Ci Ayen sebagai relawan, juga Yayasan Buddha Tzu Chi. Ci Ayen enggak akan bisa saya lupakan seumur hidup. Beliau orang pertama yang datang survei ke rumah saya. Secara enggak langsung saya anggap beliau sebagai jembatan pertolongan. Karena bantuan dari Tzu Chi, saya bisa diobati,” tutur Umi.

Pada tahun 2021, Tzu Chi membantu pembiayaan operasi Gamma Knife yang dijalani Umi di RSCM, Jakarta. Umi saat itu berjuang melawan arteriovenous malformation (AVM), kelainan langka pada pembuluh darah otak yang berisiko fatal. Untuk menekan risiko perdarahan berulang, Umi menjalani prosedur Gamma Knife, yakni terapi radiasi berpresisi tinggi yang memerlukan biaya besar yang tak ditanggung BPJS.

“Saya itu baru ketemu Umi dua kali loh padahal, saat pertama kali survei dan setelah dioperasi Gamma Knife. Saudara saja tidak serutin itu,” kata Ayen yang sangat terharu.

Dengan mata berkaca-kaca, Umi mengenang masa paling berat dalam hidupnya. Rasa sakit di kepala datang setiap hari disertai kejang yang tak bisa ia kendalikan. Tubuhnya bergerak sendiri, tidur pun nyaris mustahil. Umi merasa sangat tak berdaya dan hanya bisa bertahan di tengah sakit yang luar biasa.

“Kalau ingat masa itu saya selalu menangis,” ujar Umi lirih.

Pertemuan keduanya selalu menjadi pengingat bahwa kebaikan tak pernah sia-sia, selalu kembali dalam bentuk yang tak terduga.

Zulkifli, sang suami, juga masih ingat betul masa-masa mencekam itu. Dokter menyampaikan dua pilihan, operasi konvensional dengan risiko sangat tinggi, atau prosedur Gamma Knife yang lebih aman tetapi biayanya besar. Zulkifli yang bekerja sebagai karyawan swasta tak punya kemampuan itu. Di tengah kebuntuan, pengajuan bantuan kepada Tzu Chi akhirnya disetujui.

“Saya hanya ada satu kalimat saat itu, kok masih ada di kolong langit ini orang baik yang setulus itu, masalahnya biayanya besar sekali. Saya kayak mimpi,” ujarnya.  

Pengajuan bantuan tersebut dimohonkan pada Mei 2021. Relawan datang melakukan survei beberapa hari kemudian dan tak lama setelah itu keputusan diambil. Dalam waktu sekitar tiga bulan, Umi sudah bisa menjalani prosedur Gamma Knife pada Agustus 2021.

Hasilnya perlahan terlihat. Kelainan di otak Umi semakin mengecil, hingga akhirnya dinyatakan hilang sepenuhnya. Meski penyakit itu meninggalkan dampak pada saraf kaki sehingga Umi masih belum dapat berjalan tegak, namun kejang telah hilang dan kondisi wajah yang sempat berubah kembali normal.

“Yang paling utama terima kasih banyak untuk Yayasan Buddha Tzu Chi, terutama Master Cheng Yen. Saya tuh berharap banget bisa mengucapkan ini secara langsung kepada beliau. Karena di saat itu penderitaan saya luar biasa. Setelah dibantu operasi gamma knife, Alhamdulillah sekarang saya bisa ke mana-mana dan hidup normal lagi. Jadi saya tidak akan bisa lupa,” ujar Umi.

Rasa syukur itu kemudian juga diwujudkan dengan tekad membalas kebaikan Tzu Chi. Karena kondisi Umi belum memungkinkan, sang suami, Zulkifli menggantikannya dengan menjadi relawan Tzu Chi untuk membantu sesama.

“Sudah dalam proses. Saya sudah sosialisasi, tinggal ikut training. Karena istri saya dulu dibantu, sekarang kami harus bantu orang juga. Prinsip saya balas budi itu dibawa sampai mati. Jadi saya tukar dengan tenaga saya,” ujar Zulkifli mantap.

Rindu pada Kegiatan Kerelawanan
Melihat perkembangan Umi sekarang, Ayen sungguh bahagia. Kepada Umi dan Zulkifli, Ayen menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Kunjungan dan kepedulian mereka sangat berarti.

“Saya sangat terharu, karena kepedulian kalian membuat saya merasa kita awalnya tidak saling kenal, kita bisa menjadi dekat seperti keluarga. Doa kalian juga membuat saya lebih semangat untuk sembuh,” ujar Ayen.

Stroke yang dialami Ayen sejak April 2024 memang mengubah banyak hal dalam hidupnya. Penyebabnya adalah tekanan darah tinggi. Padahal sebelumnya, hasil pemeriksaan menunjukkan tensinya masih dalam batas normal, hanya sedikit di atas angka aman.

Dokter menyebut kondisinya sebagai prakolesterol. Selama dua bulan sebelum stroke itu, Ayen rutin mengonsumsi obat, namun belum sempat melakukan kontrol lanjutan.

Ritawati dan Jok Khian turut mendampingi Umi dan Zulkifli mengunjungi Ayen. Keduanya menyaksikan jalinan kebaikan yang terus berlanjut.

Peristiwa bermula ketika Ayen sedang berlibur di Yogyakarta bersama anak dan cucunya. Seusai mandi, tangannya mendadak terasa lemas. Ia bersandar di dinding kamar mandi yang licin, lalu perlahan merosot ke lantai. Ia tidak terjatuh, hanya tidak mampu berdiri kembali.

Dengan sisa tenaga, Ayen memanggil cucunya untuk mengambilkan ponsel dan menelepon anaknya yang saat itu sedang keluar mencari makanan. Ketika mereka kembali, Ayen sudah tergeletak di lantai kamar mandi. Ia pun segera dibawa ke rumah sakit.

Ayen dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Beruntung, dokter yang menanganinya mengenal Dokter Gunawan di Tzu Chi Hospital di PIK, Jakarta, sehingga komunikasi medis dapat dilakukan dengan cepat. Karena kondisinya darurat, penanganan bisa langsung dilakukan dengan menggunakan BPJS.

Di Yogyakarta, Ayen menjalani operasi karena pendarahan di otaknya terus melebar. Setelah operasi di Yogyakarta, Ayen langsung dipindahkan ke Tzu Chi Hospital dan menjalani perawatan intensif selama dua pekan. Di sana, ia kembali menjalani operasi kedua untuk memperbaiki tempurung kepalanya.

Hingga kini, Ayen masih menjalani kontrol rutin di dua rumah sakit. Di Tzu Chi Hospital, ia kontrol untuk penyakit dalam dan bedah saraf. Sementara di RSCM, ia menjalani penanganan batu ginjal yang ditemukan saat ia sering mengalami mual. Batu ginjal tersebut bukan komplikasi dari stroke, melainkan temuan lain selama proses pemeriksaan.

Untuk pemulihan, Ayen menjalani fisioterapi dan akupuntur secara rutin. Prosesnya tidak mudah dan membutuhkan kesabaran. Meski masih menjalani pemulihan, kerinduan Ayen pada aktivitas kerelawanan tak surut.

Ayen telah menjadi relawan Tzu Chi sejak tahun 2008. Selama belasan tahun terlibat, ia merasa banyak belajar hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia pahami.

“Saya banyak belajar. Dari yang tadinya tidak tahu apa-apa, jadi paham soal pengobatan, BPJS, surat-surat rujukan, prosedur rumah sakit. Jadi tahu harus bagaimana membantu orang,” katanya.

Pengalaman itu semakin lengkap ketika Ayen juga pernah bekerja selama sembilan tahun sebagai staf Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di bagian Bakti Amal. Baginya, menolong orang lain menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Ada kepuasan batin saat melihat seseorang yang semula datang dengan kesulitan, kemudian perlahan pulih dan bangkit kembali.

Ayen saat mengunjungi Umi pascaoperasi pada medio 19 Agustus 2021. Ayen mengajarkan Zulkifli cara memijat yang benar, yang bisa ia praktikkan pada Umi di rumah.

Tak ada yang diharapkan Umi dan Zulkifli selain agar Ayen lekas pulih dan kembali sehat.

“Semoga lekas sembuh, sehat kembali seperti dulu, jadi bisa aktif lagi membantu orang. Jangan putus asa ya Ci Ayen sayang...,” kata Umi sembari memeluk Ayen.

“Kami tuh beranggapan kalau bisa, relawan itu harus sehat semua. Saya selalu berdoa begitu. Tugas mereka kan banyak, membantu orang. Kalau relawan sakit, nanti bagaimana bisa bantu orang lain? jadi kami selalu doakan relawan itu selalu sehat,” tambah Zulkifli.

Ritawati dan Jok Khian, yang turut menemani keduanya mengunjungi Ayen mengaku sangat terharu menyaksikan jalinan jodoh penerima bantuan Tzu Chi dengan para relawan Tzu Chi tersebut.

“Saya benar-benar terharu. Tidak pernah terpikir bahwa orang yang pernah kita dampingi mendoakan kita setulus itu,” tutur Ritawati.

“Memang apa yang kami lakukan sebagai relawan sebenarnya kami tidak pernah punya maksud apapun, karena kita melakukannya tanpa pamrih. Kalau penerima bantuan mendoakan kami, saya rasa itu bonus, jadi kami syukuri,” sambung Jok Khian.

Dari kisah Umi ini, Jok Khian benar-benar merasakan apa yang sering disampaikan Master Cheng Yen bahwa menolong orang lain dengan niat awal yang murni adalah awal dari rangkaian kebaikan yang terus berlanjut.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Anak-Anak Saung Tawon

Anak-Anak Saung Tawon

03 Maret 2015 Saat ini sudah dibangun dua saung yaitu Saung belajar dan Saung baca  juga dilengkapi dengan fasilitas WC dan jalan setapak.
Kisah Maitri yang mengalami Ambiguous Genitalia

Kisah Maitri yang mengalami Ambiguous Genitalia

26 November 2020

Maitri Dhamma Visakha Chandra (3), bocah asal desa Kedung Waringin, Kecamatan Kedung Waringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memiliki alat kelamin yang terlahir tidak sempurna. Awal lahir Maitri dinyatakan terlahir sebagai perempuan. 

Kasih Sayang Ibu Menjadi Kekuatan untuk Yus Rosim

Kasih Sayang Ibu Menjadi Kekuatan untuk Yus Rosim

30 Januari 2024

Keinginan untuk sembuh dan membantu ekonomi keluarga menjadi tekad Yus Rosim untuk sembuh dari tumor di otaknya. Pendampingan sang ibu juga menjadi kekuatan tak ternilai untuknya.

Bertuturlah dengan kata yang baik, berpikirlah dengan niat yang baik, lakukanlah perbuatan yang baik.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -