Sambut Imlek, Relawan Tzu Chi Berbagi di Tiga Wihara Jakarta Utara

Jurnalis : Ritawati, The Hany, Nola Sumondakh, Vincent Salimputra (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Ritawati, Agus Hartono, Rifandi (He Qi Jakarta Utara 3)

Jok Khian menyampaikan sambutan di Cetiya She Hong Sam Shing, mengajak umat menyalakan semangat berbagi menjelang Imlek.

Menjelang Imlek 2026, relawan Tzu Chi komunitas Hu Ai Muara Karang menyalakan pelita cinta kasih di tiga titik kebajikan wilayah Penjaringan, Jakarta Utara. Dalam rentang 18 hingga 22 Januari 2026, sebanyak 255 paket cinta kasih disalurkan. Perjalanan ini dimulai dari Cetiya She Hong Sam Shing, berlanjut ke Vihara Dharma Kumala Bakti, dan ditutup di Vihara San Kauw Tian Hok Tek Bio.

Sore itu, Minggu 18 Januari 2026, Jok Khian menyampaikan pesan yang mengendap lama di hati para hadirin. “Sumbangan beras ini akan habis pada saatnya, namun cinta kasih dan rasa syukur yang terkandung di dalamnya akan berlangsung sepanjang masa. Dari lubuk hati kami yang terdalam, kami berharap berkah dan cinta kasih tanpa pamrih ini dapat mendampingi saudara-saudara melalui detik-detik dalam kehidupan ini.”

Kalimat tersebut mengalun lembut di ruang baktisala Cetiya She Hong Sam Shing. Bukan sekadar rangkaian sambutan, tetapi seperti nyala pelita pertama yang menandai dimulainya perjalanan berbagi. Sebuah perjalanan yang bukan hanya memindahkan paket dari satu tangan ke tangan lain, melainkan mengalirkan perhatian, rasa sepenanggungan, dan harapan.

Di tengah persiapan menyambut Tahun Baru Imlek, ketika banyak keluarga membersihkan altar, menata rumah, dan menyiapkan hidangan sederhana, para relawan pun menata langkah mereka. Seperti pada hari raya lainnya, perhatian kembali diarahkan kepada mereka yang membutuhkan. Kali ini, aliran cinta kasih menyapa tiga persinggahan, mempertemukan relawan dan umat dalam satu rangkaian kepedulian yang utuh.

Umat Cetiya She Hong Sam Shing menyimak sambutan dengan khidmat, sebagian tersenyum, sebagian terdiam dalam doa. Sebuah momen kebersamaan yang menyatukan hati.

Senja yang Mengawali Langkah di Cetiya She Hong Sam Shing
Minggu sore, sekitar pukul 17.00 WIB, lima relawan tiba di Cetiya She Hong Sam Shing. Senja yang perlahan meredup mengiringi persiapan 100 paket cinta kasih. Kupon dibagikan kepada pengurus cetiya untuk pendataan penerima, sementara umat mulai berdatangan mengikuti kebaktian rutin.

Usai kebaktian, rangkaian acara berjalan tertib. Sambutan pengurus vihara dan perwakilan Tzu Chi disampaikan, dilanjutkan pembacaan pesan Master. Penyerahan simbolis kemudian menjadi tanda dimulainya pembagian paket Imlek kepada para penerima.

Penyerahan simbolis paket cinta kasih di Cetiya She Hong Sam Shing antara relawan, pengurus vihara, dan beberapa umat. Senyum terpancar menunjukkan tanda kepedulian yang mengalir nyata.

Bagi Wijaya, pengurus Cetiya She Hong Sam Shing, sore itu meninggalkan kesan mendalam. “Yang paling terasa itu kebersamaannya. Umat dan relawan berkumpul, saling sapa, saling bantu. Suasananya hangat, seperti keluarga sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bantuan beras menjelang Imlek memberi ketenangan bagi banyak umat yang hidup sederhana. Salah satu cerita yang membekas datang dari seorang ibu penerima bantuan. Biasanya, menjelang Imlek ia kerap cemas memikirkan belanja dapur. Hari itu, senyumnya merekah karena satu beban menjelang tahun baru terasa berkurang.

“Berbagi di momen Imlek bukan hanya soal tahun baru,” ujar Wijaya. “Ini tentang memperbarui niat, mengingat kembali makna bersyukur dan peduli.” Ia menutup dengan pesan sederhana, “Terima kasih kepada relawan dan donatur. Semoga jalinan kebajikan ini terus berlanjut.”

Hujan yang Menyertai Keteguhan di Vihara Dharma Kumala Bakti
Dua hari berselang, Selasa malam, 20 Januari 2026, perjalanan berlanjut ke Vihara Dharma Kumala Bakti. Sejak sore, hujan membasahi jalanan dan halaman vihara. Namun cuaca tak menyurutkan langkah lima relawan yang membawa 60 paket cinta kasih.

Sekitar pukul 19.00 WIB, umat baru saja menyelesaikan sembahyang. Sebagian bersiap melanjutkan perjalanan ke rumah duka untuk membacakan parita penutupan peti. Suasana malam terasa hening, namun tetap hangat oleh kebersamaan.

Hany membacakan pesan Master didampingi Romo Ko Cing (kiri) di Vihara Dharma Kumala Bakti. Suaranya yang tenang membawa pesan welas asih langsung ke hati umat.

Acara diawali sambutan Romo Ko Cing, dilanjutkan pembacaan pesan Master oleh Hany. Bagi Hany, yang mengikuti rangkaian pembagian selama tiga hari, kegiatan ini bukan sekadar menjalankan peran relawan.

“Capek pasti ada, apalagi hujan dan jadwal malam. Tapi setiap lihat umat tersenyum waktu menerima paket, rasanya langsung terbayar,” tuturnya. Ia mengaku selalu teringat pesan Master tentang memberi dengan hati yang tulus. “Di sini saya belajar, berbagi itu bukan soal seberapa banyak yang kita bawa, tapi seberapa sungguh kita hadir untuk orang lain.”

Setelah penyerahan simbolis kepada enam penerima, pembagian paket dilakukan bergiliran. Kupon berpindah tangan, senyum saling bertukar, dan beras sepuluh kilogram menjadi bekal sederhana menyambut hari raya.

Dengan senyum hangat, Nola menyerahkan paket cinta kasih kepada salah satu umat Vihara Dharma Kumala Bakti.

Romo Ko Cing mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan tersebut. “Paket cinta kasih ini sangat membantu umat yang membutuhkan. Semoga relawan dan donatur selalu sehat, sejahtera, dan bahagia,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan para relawan. “Mereka datang tanpa pamrih, bekerja rapi, dan tetap sabar meski hujan turun. Itu yang membuat kegiatan ini berjalan dengan baik.” Menutup sambutannya, ia menyampaikan harapan sederhana, “Semoga kebaikan ini terus mengalir dan membawa berkah bagi banyak orang.”

Lim Tek Kiun, penerima paket di Vihara Dharma Kumala Bakti, berbagi cerita sederhana tentang makna bantuan menjelang Imlek.

Manfaat bantuan ini dirasakan langsung oleh Lim Tek Kiun. Ia tinggal bersama istri dan cucu, menjalani hari dengan pekerjaan serabutan. “Kalau mau Imlek, kami biasanya masak seadanya. Dengan bantuan ini, setidaknya kebutuhan dapur jadi lebih tenang,” katanya. Ia pun menambahkan, “Semoga para donatur selalu dimudahkan rezekinya.”

Cahaya yang Menutup Perjalanan di Wihara San Kauw Tian Hok Tek Bio
Persinggahan terakhir berlangsung pada Kamis malam, 22 Januari 2026, di Vihara San Kauw Tian Hok Tek Bio. Hujan yang turun seharian sempat membuat beberapa ruas jalan tergenang. Namun delapan relawan tetap hadir membawa 95 paket cinta kasih Imlek. Tambahan minyak goreng dua liter dari relawan Hendrawan melengkapi paket yang dibagikan.

Usai kebaktian, Romo Depri Gunawan membuka acara, dilanjutkan sambutan dari Agus Hartono selaku PIC serta pembacaan pesan Master oleh Nola.

Dewi menyerahkan paket cinta kasih kepada umat di Vihara San Kauw Tian Hok Tek Bio. Senyum di wajahnya menular, menciptakan kehangatan meski hujan gerimis di halaman vihara.

Selama tiga hari mendampingi pembagian, Nola menyimpan banyak kesan kecil yang membekas. “Ada umat yang datang pelan-pelan, ada yang langsung bilang terima kasih sambil tersenyum. Hal-hal sederhana seperti itu justru yang bikin hati hangat,” ujarnya. Baginya, kegiatan ini menjadi ruang untuk merawat batin. “Kita pulang mungkin lelah, tapi hati terasa lebih penuh. Itu yang bikin saya terus ingin ikut berbagi.”

Penyerahan simbolis menjadi awal alur distribusi. Hingga pukul 21.00 WIB, paket demi paket berpindah tangan dengan tertib dan lancar.

Romo Depri menyampaikan rasa terima kasihnya. “Kami bersyukur atas paket Imlek dari Tzu Chi dan para donatur. Semoga semua yang terlibat diberi kesehatan, dan jalinan jodoh kebajikan ini dapat terus berlanjut,” ujarnya.

Salah satu penerima bantuan, Yusmiati, menyambut paket dengan senyum hangat. Ia tinggal bersama anak, menantu, dan cucu. Sehari-hari ia mengurus rumah dan membantu usaha kecil keluarga. “Menjelang Imlek, yang saya siapkan biasanya sederhana saja. Yang penting bisa kumpul bersama,” tuturnya.

Saat menerima beras, ia merasa diperhatikan. “Seperti diingatkan bahwa masih banyak orang baik.” Ia pun berkata pelan, “Kalau kita berbagi, hati jadi lebih ringan.”

Romo Depri Gunawan menyampaikan apresiasi atas dukungan relawan dan donatur di Vihara San Kauw Tian Hok Tek Bio.

Menutup Perjalanan, Menyalakan Harapan
Dari senja di Cetiya She Hong Sam Shing, hujan di Vihara Dharma Kumala Bakti, hingga malam di San Kauw Tian Hok Tek Bio, perjalanan ini menunjukkan bahwa cinta kasih tidak terhalang cuaca, jarak, maupun perbedaan latar belakang. Ia bergerak dari ruang baktisala ke pelukan kehidupan sehari-hari, dari doa yang dilafalkan menjadi uluran tangan nyata, dari satu pelita kebajikan yang menyala menuju pelita berikutnya.

Ketika Imlek tiba dan lampion mulai menyala, paket beras mungkin akan habis seperti yang disampaikan oleh Jok Khian. Namun perhatian, rasa syukur, dan kebersamaan yang tumbuh sepanjang perjalanan ini akan tinggal lebih lama, hidup dalam ingatan tentang tangan-tangan yang saling menguatkan, serta keyakinan bahwa berbagi adalah cara paling tulus untuk menyambut tahun yang baru.

Editor: Khusnul Khotimah

Artikel Terkait

Cinta Kasih Bersemi di Wihara Sila Paramita

Cinta Kasih Bersemi di Wihara Sila Paramita

28 Januari 2026

Relawan Tzu Chi komunitas Xie li Jatinegara membagikan paket cinta kasih berupa beras 10 kg kepada umat Wihara Sila Paramita, di Jalan Cipinang Jaya No. 1, Jakarta, pada 22 Januari 2026.

Berbagi Berkah Imlek, Tzu Chi dan Vihara Fat Cu Kung Tebarkan Kehangatan

Berbagi Berkah Imlek, Tzu Chi dan Vihara Fat Cu Kung Tebarkan Kehangatan

27 Januari 2026

Menyambut Tahun Baru Imlek 2026, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia komunitas He Qi Jakarta Barat 3 berbagi paket Imlek bersama umat Vihara Fat Cu Kung dan warga sekitar Glodok.

Paket Imlek 2026: Menyalurkan Cinta Kasih Imlek di Vihara BBC dan Cetiya Bala Guna

Paket Imlek 2026: Menyalurkan Cinta Kasih Imlek di Vihara BBC dan Cetiya Bala Guna

21 Januari 2026
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1 membagikan 489 Paket Cinta Kasih Imlek 2026 di Vihara Bodhisatta Buddhis Center (BBC) dan Cetiya Bala Guna di Tangerang, Banten.
Ada tiga "tiada" di dunia ini, tiada orang yang tidak saya cintai, tiada orang yang tidak saya percayai, tiada orang yang tidak saya maafkan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -